MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 46


__ADS_3

Perjalanan yang mereka lewati menuju daerah timur Sumatera itu cukup menegangkan sekaligus menyenangkan bagi Ida. Jalanan yang berliku dan berbelok dengan beberapa tikungan tajam dan menanjak di daerah yang di sebut Kelok Sembilan cukup membuat Ida berdebar tatkala mobil yang mereka tumpangi seperti kepayahan untuk bergerak naik.


Ida menatap bagian atas jalan, tak kelihatan kendaraan yang akan turun, sehingga setiap kali mendekati tikungan, supir harus membunyikan klakson sebagai penanda bagi kendaraan yang akan turun untuk memperlambat laju kendaraannya. Beberapa kali mereka berpapasan dengan kendaraan yang akan turun, harus berhenti menunggu mereka melewati tikungan tajam yang menanjak.


Hutan-hutan di kiri dan kanan sepanjang perjalanan memberikan kesan magis sekaligus menenangkan, sedikit meredakan ketegangan yang Ida rasakan beberapa bulan terakhir. Kabut yang menutupi bagian atas tebing yang mereka lalui, menambah kesan dingin tempat itu. Anak-anak sudah terlelap, hanya Ida yang masih terjaga di kursi penumpang bagian belakang mobil.


"Kau masih bangun, Da?" Burhan yang duduk di bangku depan, samping supir melongok ke bagian belakang, tempat kursi penumpang.


"Masih."


"Kau tidak pusing, kan?"


"Tidak, melihat tempat seindah ini mana mungkin aku pusing."


"Haha, baru kali ini aku membawa penumpang perempuan yang bilang tempat ini indah, biasanya kalau tidak ketakutan, ya muntah," gelak supir di samping Burhan.


"Iya, amak sama ni Midah juga begitu," sahut Burhan, terkesima dengan kesenangan istrinya yang tak biasa.


"Itu hanya perbedaan selera," sahut Ida datar. Matanya kembali menatap keluar jendela mobil. Menikmati pemandangan surgawi yang seolah berlari menjauh.


Mata Ida mulai memberat, tatkala mobil melambat dan berhenti di pinggir jalan dengan tempat duduk yang bersisian jurang yang curam.


"Kenapa berhenti Tuan?" Ida tersentak dari kantuknya.


"Kita istirahat dulu. Bekal makanan yang kau siapkan tadi ada dimana, Da?" Burhan turun dari kursi penumpang bagian depan, membuka pintu penumpang belakang, mencari rantang makanan yang telah disiapkan Ida sebelum berangkat.


"Tolong Tuan gendong dulu Salma, biar aku ambil." Ida menyerahkan Salma yang ada di gendongannya ke tangan Burhan. Salma merengek pelan tatkala berpindah ke gendongan abaknya, kemudian langsung tertidur lagi setelah ditenangkan Burha.


Ida turun dari mobil membawa rantang di tangannya. Terkesima memandang pemandangan alam yang terpampang di hadapannya. Di bawah jurang terlihat kabut yang menutupi, bagian puncak bukit berderet di seberang jurang yang menganga, tampak seolah mengambang diatas kabut. Perpaduan warna alam yang sempurna dengan latar for indahnya biru langit yang sedikit berawan.


"Kalau cuaca sedang cerah, dari sini bisa terlihat selat Malaka," ujar Burhan yang sudah berdiri di samping Ida.


"Oh, Iya?" Ida mengalihkan pandangannya pada Burhan. Sosok Burhan yang berdiri disampingnya yang sedang menggendong Salma, serta pemandangan alam yang begitu menenangkan, seolah menjadi perpaduan sempurna di mata Ida.


"Anak-anak tidak terbangun ya?" Ida melirik ke arah mobil.


"Mereka masih tidur nyenyak."


"Oh, kalau begitu segeralah Tuan makan." Ida meletakkan wadah yang telah terisi nasi beserta lauknya ke bangku kecil yang ada di samping Burhan, mengambil Salma dari gendongan Burhan, kembali menikmati pemandangan.


Selesai beristirahat dan mengisi perut, mereka kembali melanjutkan perjalanan. Perut yang kenyang, pemandangan yang Indah, serta hembusan angin sarat oksigen yang menyapu wajah, membuat Ida tak mampu menahan matanya untuk terus terbuka. Akhirnya Ida ikut terlelap bersama anak-anak.


Menjelang tengah malam, mereka sampai di tujuan. Mak Halimah menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Mana ini cucu andung ... Pasti lelah ya?" sapanya pada anak-anak. Anak-anak berhamburan ke pelukan neneknya, mak Halimah. Meski telah melewati perjalanan jauh, anak-anak tetap ceria ketika bertemu dengan neneknya.


"Im, lekas kau bantu Burhan mengeluarkan barang-barang dari mobil," perintah mak Halimah pada seorang pemuda tanggung yang turut menyambut kedatangan Ida.


"Iya, Mak." Pemuda itu bergegas mengeluarkan barang-barang bawaan Ida dan membawanya ke dalam rumah yang terbuat dari papan berdinding tinggi dengan atap berbentuk kerucut seluas tiga ratus meter.


Memasuki rumah, penciuman Ida disambut aroma masakan sarat rempah. Ruang depan rumah dipenuhi dandang dan panci besar yang berisi berbagai macam lauk pauk dagangan mak Halimah.


"Wah sudah beres masak ya, Mak?" tanya Ida.


"Iya, nanti jam dua amak berangkat ke pakan di Rengat bersama Burhan." Mak Halimah menuntun mereka ke ruang tengah.


Di ruang tengah berderet tiga kamar, di depan kamar bertumpuk berbagai macam bahan baku masakan yang masih tersimpan di dalam karung. Berbagai macam aroma rempah tercium dari ruang itu.


"Agak berantakan, Da. Anak-anak baru selesai memasak, belum dirapikan," ujar mak Halimah ketika melewati ruang tengah.


"Tidak apa-apa Mak, namanya juga orang dagang," sahut Ida memaklumi.


"Nah, ini kamar kalian." Mak Halimah membuka pintu kamar yang terletak di ujung ruang tengah.


Ida memasuki kamar seluas empat kali empat itu bersama anak-anak. Di dalam kamar sudah disediakan kasur yang digelar di samping tempat tidur besar yang terbuat dari besi tempa. Sebagian tas berisi pakai mereka sudah dijejerkan rapi di samping lemari besar yang terletak di pondok sebelah jendela kamar.


Ida baru saja menurunkan Salma dari gendongannya ke kasur kala Burhan masuk membawa sisa barang bawaan mereka. Laili dan Fatimah ikut berhamburan masuk bersamaan.


"Nah, kau istirahat lah. Aku harus membantu amak dulu memuat dagangan ke mobil. Ni Midah sepertinya masih tidur, jadi besok pagi saja kau ketemu Uni ya."


"Iya, nanti aku akan istirahat di jalan. Kau tidur lah. Anak-anak juga masih terlihat lelah," sahut Burhan seolah membaca kekhawatiran Ida.


"Ya, semoga perjalanan Tuan lancar," sahut Ida.


Ida mencoba untuk mengistirahatkan matanya ketika Burhan telah meninggalkan kamar. Ia melihat ke kasur bawah, anak-anaknya telah tertidur kembali setelah tadi sempat terbangun.


Tanpa menunggu lama, Ida pun ikut terlelap bersama anak-anak. Rasa lelah dan kantuk membuatnya tak lagi merisaukan apa yang akan terjadi esok hari.


Keesokan harinya Ida terbangun oleh suara Fatimah dan Laili yang berlarian di dalam kamar, Salma terbangun dan menangis kencang. Cahaya matahari masuk melalui celah papan dinding rumah yang tidak terlalu rapat. Tidak seperti di Payakumbuh, udara Teluk Kuantan terasa cukup panas bagi Ida yang terbiasa hidup di daerah dingin.


Ida membuka jendela, berniat mengurangi rasa pengab dalam kamar. Mata Ida sontak memicing tatkala mendapati perubahan cahaya dari kamar yang agak gelap menjadi terang menyilaukan.


"Amak, di sini gerah," rengek Fatimah.


"Itu karena Ima belum mandi," kekeh Ida, "Ayo keluar, kita cari mak tuo," ajak Ida pada kedua anaknya.


Ida keluar kamar, mendapati rumah masih saja sibuk oleh para pekerja yang bolak-balik mengambil bahan baku yang ada di ruang tengah.

__ADS_1


"Eh kakak sudah bangun? Kata encik Midah, kalau kakak lapar ambil saja di belakang. Encik Midah sedang ke pasar," sapa seorang gadis yang masih belia, Ida menaksir umurnya mungkin masih sekitar sembilan belas tahun.


"Aduh, maaf ya ... Aku kesiangan bangunnya. Adik siapa?"


"Nur, Kak," sahut gadis hitam manis dengan pembawaan luwes itu dengan senyum terkembang.


"Amak, lapar," rengek Fatimah yang masih berdiri di depan pintu.


"Ayo ikut sama bibi ... Boleh aku suapin Kak?" Nur meminta izin Ida ketika hendak membawa Fatimah.


"Nanti merepotkan mu, Nur," tolak Ida.


"Tidak kak, pekerjaanku sudah selesai," sahut gadis itu menggandeng Fatimah yang langsung mau mengikutinya.


"Terima kasih, Nur." Ida mengikuti Nur yang berjalan ke ruang belakang.


Ruang belakang ternyata cukup luas. Ruangan yang lebih rendah dari rumah utama itu dijadikan dapur, memuat dua tungku besar pada bagian pojok. Dapur terlihat sibuk, beberapa orang pekerja tengah sibuk mengurus masakan yang tengah terjerang di atas tungku. Tampah dan baskom berisi bumbu masakan berjejer tak jauh dari tungku.


"Nur, aku mau ke air. Bisa tunjukkan dimana?"


"Kakak keluar dulu disana, nanti di sebelah kanan ada bilik yang dipagari buluh," tunjuk Nur, "bayinya mau aku gantikan gendong dulu, Kak?" tanyanya ketika melihat Ida mengeratkan gendongan Salma pada bahu kanannya.


"Oh, apa kau tidak repot?"


"Tidak, mari sini aku gendong," tawar Nur.


Ida menyerahkan Salma pada Nur, ia bergegas ke bilik air, mengajak Fatimah dan Laili. Bilik air yang terdapat di bagian paling belakang itu berlantaikan batu-batu cadas yang disusun rapi diatas tanah, wadah air yang berbentuk tong terbuat dari plastik disusun rapi berjejer merapat ke dinding bilik. Selang-selang air, yang entah berasal dari mana, mengisi wadah air tersebut.


Baru saja Ida selesai makan, uni Midah masuk dapur.


"Eh, sudah bangun kau, Da."


"Sudah, maaf aku bangun siang uni," sesal Ida dengan nada sungkan.


"Tidak apa-apa, kau baru sampai, pasti lelah," sahut Midah sambil meletakkan beberapa barang di atas meja besar yang ada di dapur.


"Ada yang bisa aku bantu?" tanya Ida kemudian untuk mengurangi rasa tidak enak hatinya.


"Ya, nanti saja setelah anak-anak mulai terbiasa disini. Sekarang kau temani saja anak-anakmu, aku lihat Fatimah kurang bersemangat, tidak seperti biasa."


"Iya, dari tadi dia minta pulang ke Payakumbuh."


"Memang tidak semua anak-anak bisa menerima perubahan dengan cepat."

__ADS_1


"Iya, sepertinya begitu."


Perubahan ternyata tidak mudah diterima Laili dan Fatimah. Anak-anak membutuhkan waktu beberapa bulan sampai akhirnya bisa menerima tempat baru mereka. Sama halnya dengan anak-anak, banyak hal yang harus Ida pelajari dari kehidupan barunya, tinggal di tempat yang jauh lebih ramai dari rumahnya dahulu.


__ADS_2