
Ketika semua penumpang pedati terlelap, sekonyong-konyong mereka dikagetkan goncangan dan suara derak pedati yang sangat keras.
"Astaghfirullah!! Bom!" teriak salah seorang penumpang pedati.
Ida tersentak dari tidurnya.
"Maaf, roda pedatinya terperosok lubang," ujar kusir pedati dari tempat duduknya.
"Ya Allah, saya pikir kita diserang," ujar salah seorang Ibu paruh baya yang duduk di depan Ida.
Seperti ibu yang duduk di depannya, Ida juga sempat mengira bunyi keras yang membuat pedati yang ditumpanginya goncang, karena serangan Belanda.
"Belanda tidak akan menyerang malam hari, mereka itu buta ayam," kekeh kusir pedati.
"Jangan takabur gitu Nyiak, nanti kita malah diserang," tegur penumpang lainnya.
Ida hanya menyimak percakapan para penumpang itu tanpa berniat ikut mengomentari percakapan diantara penumpang dan kusir itu.
Tidak lama berselang, pedati yang tadinya sempat ramai dengan perbincangan penumpangnya, kini kembali sepi. Entah mereka sudah kembali terlelap, atau sudah lelah berbincang.
Ida berusaha mengistirahatkan kembali matanya, tetapi pikirannya tidak mau ikut beristirahat. Teringat kembali percakapannya dengan pak Zain, "Kenapa saya yang dipilih untuk jadi kurir, Pak? Apa Bapak tidak takut saya akan mengacaukan misi?" tanya Ida.
"Memangnya kamu mau misi yang saya tugaskan padamu kacau?" pak Zain balik bertanya.
"Tentu saja tidak Pak, tapi... kan saya masih belum mengerti taktik sebagai kurir," kilah Ida.
"Setiap kurir yang ditugaskan, dulunya juga pemula sepetimu. Kamu tidak perlu khawatir berlebih, saya yakin kamu bisa."
"Bagaimana Bapak bisa seyakin itu?" tanya Ida masih belum puas dengan jawaban yang diberikan pak Zain.
"Karena kamu perempuan, perempuan tidak begitu dicurigai."
__ADS_1
"Tapi kan masih ada yang lain?" Ida masih penasaran.
"Ahaha. ... Sekarang kamu sudah mulai kritis ya. Baik ... kalau kamu masih penasaran, kenapa saya lebih memilihmu untuk jadi kurir dibanding teman-temanmu yang lain, karena kamu itu tidak terlalu banyak berbasa-basi seperti perempuan kebanyakan. Kamu itu
ditanya satu, jawabnya setengah. Jadi saya pikir cocoklah tugas ini saya serahkan ke kamu," terang pak Zain.
Ada sedikit rasa haru Ida rasakan saat itu. Ia yang selama ini merasa tidak berguna, tiba-tiba diberi tugas penting seperti itu membuatnya sedikit lebih hidup.
Ida membuka matanya, lelah ia mencoba untuk mengistirahatkan mata dan pikirannya. Diedarkannya pandangannya memperhatikan penumpang pedati yang sudah terlelap. Cahaya temaram dari petromak yang di gantung di dekat kusir sedikit mengurangi kelamnya jalan malam itu. Ida tidak tahu sudah berada di mana. Angin dingin yang masuk melalui celah tutup pedati seolah mengiris kulitnya yang tidak tertutup.
Waktu berjalan lambat. Entah berapa lama Ida terjaga sibuk menata pikiran nya. Khawatir tugas pertamanya gagal, membuat Ida Terjaga sepanjang malam. Hingga netranya menangkap bayangan fajar dari ufuk timur.
"Sudah ada yang terbangun?" Suara Inyiak Aro, kusir pedati memecah kesunyian di dalam pedati.
Ida tetap diam dalam duduknya, merasa tidak perlu menjawab pernyataan Inyiak Aro.
Tak berapa lama, laju pedati mulai melambat. Ida mengintip dari balik tirai penutup pedati. Ternyata mereka sudah sampai di pasar. Cahaya matahari pagi sudah mulai terang, memperlihatkan orang-orang yang sudah mulai ramai menata dagangannya. Di sudut lain, beberapa pedati juga menurunkan penumpang beserta muatannya.
"Nak. ... Bangun, kalau tidak bergegas nanti kau tidak kebagian tempat berjualan," ujar si ibu membangunkan Ida. Ibu tersebut mengira Ida masih terlelap dalam tidurnya, karena Ida menutupi wajahnya dengan caping.
"Oh, iya Mak. ..." Ida mengangguk sopan.
"Kau anak siapa? Aku baru melihatmu," tanya si ibu menyelidik, karena ia merasa tidak mengenal Ida.
"Kemenakanku itu," sahut inyiak Aro dari kursi kusir.
"Oh, baru tau aku kau punya kemenakan, Nyiak. Kemenakanmu dari mana?" si ibu masih terus bertanya penasaran.
"Nanti kau telat menggelar daganganmu Mak, bergegaslah," potong inyiak Aro.
"Ah, iya.... Iya, kau bantulah aku menurunkan barang-barangku," cetus si ibu.
__ADS_1
Setelah penumpang lain dan barang dagangannya turun, inyiak Aro membantu Ida menurunkan keranjangnnya.
"Nah, kau pergilah ke ujung sana. Di situ ada uniang penjual kelapa, kau bilang saja mau meletakkan keranjangmu itu," terang inyiak Aro.
"Baik Nyiak," jawab Ida singkat.
Tanpa banyak membuang waktu, Ida berjalan ke arah yang ditunjukkan inyiak Aro. Menemukan dengan mudah tempat penjual kelapa yang dimaksud. Ia menyerahkan keranjang besarnya, dan menerima sebuah bungkusan yang diikat kain.
Tanpa banyak tanya, Ida kembali menyusuri pasar. Suasana pasar pagi itu tampak begitu ramai, tidak seperti yang Ida bayangkan, bahwa pasar akan sepi karena masih khawatir akan penyerangan dari Belanda.
Pantas saja pasar ini dijadikan tempat mereka bertukar kabar, karena tidak akan ada yang memperhatikan pengunjung pasar satu persatu. Bahkan opsir Belanda yang biasa berlalu-lalang juga tidak tampak.
Ida menepi ke sebuah surau yang terletak tidak begitu jauh dari pasar. Membersihkan dirinya, dan mengganti pakaiannya dengan pakaian yang sudah disiapkan. Ida berdecak kagum, ketika mengenakan pakaian yang telah disediakan. Baju kurung dengan bahan katun dan kain panjang motif "garundang mandi" melengkapinya. Ida mengambil lipatan kertas yang disertakan di antara pakaian tersebut, menyelipkannya kebagian kantong kecil yang ada dibawah ketiak baju tersebut.
Selesai dengan tugasnya, ia kembali ke tempat Inyiak Aro memarkirkan pedatinya. Menunggu sampai waktu kembali ke kampung di tepian hutan tempat mereka bersembunyi.
Tak terasa, matahari sudah mulai condong ke Barat. Para penumpang pedati sudah mulai berdatangan, memuat keranjang bawaannya yang terisi oleh barang barter mereka bertransaksi.
Perjalanan pulang tidak terasa begitu lama. Namun ketika sampai di kampung pinggir hutan, hari sudah gelap. Inyiak Aro mengantarkan Ida ke rumah salah seorang warga, yang merupakan salah seorang aktivis kala itu.
Ketika fajar mulai menyingsing, Ida meninggalkan rumah tempat ia beristirahat semalam. Berjalan dengan kewaspadaan penuh menuju jalan setapak hutan. Jalanan kampung masih sangat sepi, penduduknya masih betah diam di dalam rumah. Udara pagi itu cukup dingin, ida yang kala itu sudah berpakaian ala pencari kayu hutan dengan pakaian karung goninya, menggigil menahan udara dingin yang cukup mencucuk tulang.
Tak berapa jauh dari jalan masuk menuju hutan, Ida disambut Marwan, Rasyid dan Amir.
"Selamat datang kembali Nona!" seru Marwan dengan senyum terkembang.
Ida merasa lega, misi pertamanya berhasil.
"Apa ku bilang, Ida itu perempuan pintar. Tidak perlu kau risaukan," ujar Amir dengan nada menggoda ke arah Rasyid.
"Ah,... Ya," ujar Rasyid singkat.
__ADS_1
Matanya tak lepas memandang Ida. Ida hanya menunduk, salah tingkah dengan tatapan mata teduh Rasyid. Rasa hangat tempo hari yang ia rasakan di dalam dadanya mulai terasa kembali, mengalahkan rasa dingin udara hutan pagi itu.