
Sepuluh bulan setelah perpindahan markas ke Palupuh, perjuangan mereka makin berat. Markas yang semula jauh dari jangkauan Belanda, pada akhirnya pertahanannya mampu ditembus musuh.
Pada masa-masa sulit itu, banyak laskar dan Tentara yang berjatuhan. Bukan hanya karena menjadi korban serangan Belanda, namun cadangan makanan dan obat-obatan yang makin menipis membuat kondisi kesehatan mereka makin menurun. Mereka terpaksa harus bertahan dengan kondisi cadangan logistik seadanya.
Suatu pagi, ketika Ida selesai menyiapkan ransum untuk mereka yang ada di markas, Rizal datang menemuinya.
"Kapan kau kembali?" sapa Ida.
Selama ini Rizal jarang ada di markas, ia lebih sering pergi bergerilya.
"Baru saja. Belanda makin waspada. Makin susah saja kita melancarkan serangan," cerita Rizal.
"Kau bersama Syamsyir?" tanya Ida karena ia tak melihat ada tanda-tanda kehadiran Syamsyir. Padahal selama ini mereka selalu bersama.
"Tidak, kau rindu?" goda Rizal dengan senyum jenaka.
"Apa tidak boleh aku bertanya?" balas Ida dengan muka cemberut.
"Haha tentu saja boleh. Kebetulan aku memang hendak menyampaikan titipan Syamsyir," ujar Rizal menyerahkan sebuah lipatan kertas.
"Apa ini?" tanya Ida memperhatikan kertas yang ia terima.
"Kau baca saja. Aku hendak menghadap pak Mahmud." Rizal berlalu meninggalkan Ida yang masih kebingungan dengan kertas yang ada di tangannya.
Tanpa menunggu lama, ia membuka lipatan kertas itu dan membacanya. Ternyata kertas itu adalah surat yang ditulis Syamsyir.
Bismillahirrahmanirrahim.
Assalamualaikum Da,
Maafkan jika aku lancang menulis surat ini untukmu. Aku hanya hendak menyampaikan apa yang selama ini aku rasa.
Setiap kali aku pergi meninggalkan markas, setiap itu pulalah hati ku tak tenang. Ada perasaan was-was hatimu akan dimiliki yang lain.
Untuk itu, izinkan aku meminta agar hatimu bisa aku miliki untukku saja. Agar tenang hati ini ketika aku tak berada di dekat kau Da.
Aku berharap kau memberikan jawaban agar terang apa yang tak terlihat dan jelas sikapku padamu kedepannya.
Tertanda,
Syamsyir
Ida tercenung setelah membaca surat dari Syamsyir. Sejujurnya ia merasakan perasaan yang sama, namun hatinya belum, siap ketika suatu waktu Syamsyir akan pergi meninggalkannya seperti Rasyid. Ia masih belum mampu mengobati dukanya kehilangan Rasyid.
"Da, apa kau mau menitipkan balasan surat Syamsyir padaku?" Rizal membuyarkan lamunan Ida.
"Apakah Tuan nanti akan bertemu Syamsyir lagi?"
"Ya aku juga tidak bisa menjanjikan akan bertemu lagi dengannya dalam waktu dekat. Tapi kalau bertemu lagi, akan aku serahkan suratmu pada Syamsyir," ujar Rizal.
"Kapan Tuan akan pergi?"
"Mungkin nanti malam aku akan berangkat lagi ke Bukittinggi. Jika kau mau menitipkan surat untuk Syamsyir, aku tunggu sampai magrib ya."
"Iya Tuan, terima kasih." Ida pergi meninggalkan Rizal.
Ida menuliskan balasan surat untuk Syamsyir.
Bismillahirrahmanirrahim.
AssalamualaikumTuan Syamsyir,
__ADS_1
Semoga ketika Tuan membaca surat ini, Tuan masih dalam keadaan sehat dan selalu dilindungi Allah.
Aku sudah membaca surat yang Tuan titipkan pada Rizal. Senang rasa hati atas perhatian yang Tuan berikan padaku. Bukan aku tak menyambut perasaan Tuan, tapi aku belum mampu membuka hatiku. Hatiku saat telah aku tautkan pada negeri ini.
Namun, jika sekiranya Allah memang menakdirkan kita untuk bersama, aku berharap masa itu adalah ketika negeri ini sudah bebas dari penjajah.
Demikian jawaban dariku, semoga Tuan bisa menerimanya dengan baik.
Aku selalu berdoa agar Allah segera menjawab doa kita untuk negeri ini. Agar kita bisa terbebas dari para penjajah ini.
Tertanda,
Rosidah
Sedikit lega ia rasakan setelah menulis surat balasan untuk Syamsyir. Setidaknya kalaupun nanti mereka tidak ditakdirkan untuk bersama, ia telah menyampaikan perasaannya yang jujur pada Syamsyir. Setidaknya nanti tak ada rasa sesal seperti yang ia rasakan dulu pada Rasyid.
"Semoga kalian selalu diberi keselamatan dan dilindungi Allah," ujar Ida ketika menyerahkan suratnya pada Rizal.
"Ya, semoga balasan suratmu bisa menjadi penyemangat Syamsyir." Senyum jenaka Rizal kembali terkembang.
Ida membalas senyum Rizal. Sahabat Syamsyir itu selalu saja menggodanya, bahkan sering kali membuatnya kesal. Kali ini Ida menyisipkan sebait doa dan harapan agar mereka yang sedang berjuang di luar sana diberi keselamatan ketika menghadapi musuh.
Sebulan kemudian, Ida dipindah tugaskan kembali ke kota Bukittinggi karena banyaknya Tentara yang terluka, membuat tenaga medis kewalahan. Ia hampir tak bisa beristirahat, hampir setiap hari puluhan Tentara yang terluka harus mereka rawat.
Suatu siang di hari Kamis tanggal dua puluh dua Desember 1949, ketika Ida selesai mengurus Tentara yang terluka, ia mendengar suara raungan sirine dari arah jam gadang. Tidak lama berselang, mobil penerangan berkeliling memberitahukan bahwa Belanda telah menyerah.
Seolah tak percaya, Ida berusaha mendengarkan kembali isi siaran yang di sampaikan oleh mobil penerangan itu. Setelah yakin indera pendengarannya tidak salah, serta melihat reaksi mereka yang berada di markas membuat Ida tak mampu menahan air matanya. Perjuangan dan doa mereka selama setahun akhirnya dijawab sudah. Negeri mereka dapat mereka miliki kembali
Ida menyungkur mengucapkan rasa syukurnya dengan sujud syukur. Tak henti-hentinya ia mengagungkan nama Allah. Air mata dan darah mereka yang telah pergi tak sia-sia.
Tak lama raungan sirine terdengar lagi. Lalu pada bunyi sirine yang ketiga, mereka menyaksikan rombongan barisan Tentara dan Tentara pelajar. Puncak kegembiraan mereka hari itu adalah ketika melihat upacara serah terima antara Belanda dengan Gubernur Sumatera tengah.
Ketika Ida kembali ke markas, riuh rendah suara kegembiraan Tentara yang dirawat masih terdengar. Ketika ia hendak kembali ke ruangannya, ia tertegun melihat sesosok pria yang berdiri di lorong.
"Ida ...." sapa pria itu.
"Tu ... Tuan Syamsyir?" tanya Ida memastikan pendengarannya tidak salah.
Pria itu berjalan mendekati. Ida terkesima melihat penampilan pria yang ada di hadapannya. Tubuh tegap pria itu dibalut pakaian militer, rambutnya yang biasa gondrong telah dipangkas dan disisir rapi. Rambut yang biasa menghuni dagunya pun telah dicukur bersih.
Hampir saja ia tak mengenali Syamsyir jika saja pria bermata almond itu tak menegurnya.
"Bagaimana kabarmu? Aku hendak menagih janji," ujar pria itu dengan senyum hangat terkembang di bibir tipisnya. Pria itu menunjukkan secarik kertas yang berlipat di genggamannya.
Ida tak mampu menjawab pertanyaan Syamsyir, tenggorokannya serasa tercekat, matanya memanas. Ia tak menyangka pria itu memegang janji yang pernah ia tulisan.
"Kenapa kau menangis? Apa aku salah?" tanya Syamsyir heran ketika melihat air mata gadis pujaannya.
"Hatiku terlalu bahagia, sehingga ia tumpah melalui mataku, Tuan," balas Ida terisak.
"Haha .... Aku pikir, ada yang salah sehingga membuatmu menangis," tawa Syamsyir pecah.
"Bisakah besok pagi kita berangkat ke kampungmu? Aku hendak memintamu pada keluargamu," lanjut Syamsyir.
"Baik, nanti saya akan meminta ijin kepala perawat untuk pulang besok," sahut Ida.
"Kalau begitu, kau beristirahat lah. Besok pagi aku jemput," ujar Syamsyir.
Sesuai janji, Syamsyir telah berdiri di depan mess. Pria itu mengenakan kemeja katun kuning gading dengan celana wol coklat. Lagi-lagi Ida terkesima melihat tampilan pria yang ada di hadapannya. Tampilan Syamsyir yang selama ini berantakan membuat Ida seolah tak percaya bahwa pria yang ada di hadapannya adalah pria yang sama, pria yang dua bulan lalu memintanya untuk ia miliki.
Mereka menaiki bus yang membawa beberapa orang Tentara yang hendak menuju Banuhampu. Rona bahagia terpancar pada wajah-wajah penumpang bus pagi itu. Wajah-wajah yang dipenuhi rasa rindu pada keluarga mereka.
__ADS_1
"Oh iya Tuan, bagaimana kabar Tuan Rizal? Aku tidak pernah bertemu lagi semenjak ia membawakan suratmu untukku," tanya Ida ketika ia teringat sahabat Syamsyir yang selalu membersamainya itu.
"Setelah ia memberikan suratmu, ia berangkat ke Padang. Aku belum mendapati kabar tentangnya lagi," sahut Syamsyir.
"Semoga dia baik-baik saja."
"Ya, aku juga berharap begitu. Tiga tahun semenjak pelatihan menjadi Tentara pelajar aku selalu bersama Rizal. Tinggal dia satu-satunya kawanku yang tersisa dari sepuluh orang yang waktu itu diutus untuk membantu laskar di Indarung," kenang Syamsyir.
Sesampainya di Kubang Putih, rumah amai masih tampak seperti biasa tak ada yang berubah dari bangunan itu. Hanya saja hari itu di rumah terlihat banyak orang. Dari suara gelak tawa yang terdengar, sepertinya mereka sedang kedatangan tamu.
"Assalamualaikum," ucap Ida ketika sampai di pintu.
"Waalaikum salam. Aaah, Ida kemenakanku!" seru Mak Dang.
"Mak Dang, kapan Mak Dang pulang?" sapa Ida sambil menyalami mamak nya penuh hormat.
"Aku baru sampai semalam," ujar Mak Dang dengan suara khas nya yang berat.
Di rumah itu juga sudah ada Mak Tuo, istri Mak Dang dan sepupu-sepupunya.
"Siapa itu yang datang bersamamu Da? Kenapa tak kau suruh masuk?" tanya Mak Dang ketika melihat seorang pria jangkung yang masih berdiri di pintu.
"Oh! Itu Syamsyir Mak. Tuan, maafkan aku lupa mempersilahkan kau masuk," ujar Ida gugup.
"Assalamualaikum, Engku," sapa Syamsyir menyalami Mak Dang takzim.
"Wah! Aku sampai lupa. Necis sekali penampilanmu! Mari duduk," ajak Mak Dang.
Setelah menyalami Mak Tuo dan sepupu-sepupunya, Ida meninggalkan Mak Dang dan Syamsyir, ia beranjak ke dapur mencari amai.
"Assalamualaikum Mai," sapa Ida ketika melihat amai sedang memotong lemang di balai bambu yang ada di dapur.
"Waalaikum salam. Ida!" seru amai, meletakkan lemang yang sedang ia potong lalu bangkit menyambut cucunya itu.
"Alhamdulillah kau pulang dengan selamat, Da," isak amai memeluk cucunya.
Baru saja Ida hendak berbicara dengan amai, ia mendengar suara Mak Dang berteriak,
"Kau hendak menghinakan keluarga kami, wahai anak muda? Berani-beraninya kau meminta kemenakanku seperti laki-laki tak tau adat." Muka Mak Dang merah padam.
Ida berlari ke ruang depan, melihat apa yang membuat Mak Dang nya marah besar.
"Kau Ida, tidakkah kau malu menjalin hubungan dengan laki-laki lain sementara kau sudah betunangan!" teriak Mak Dang ketika melihat Ida datang.
Wajah Syamsyir memerah, ia menoleh pada Ida seolah meminta penjelasan.
"Tunangan apa yang Mak Dang maksud? Aku tak mengerti," ujar Ida meminta penjelasan.
"Niniak Mamak sudah menentukan tanggal pernikahanmu dengan Burhan, keluarga kita sudah batuka tando* dengan keluarga Sutan Rajo Mudo," terang Mak Dang.
"Bagaimana bisa Mak? Sementara Ida tidak tau menau urusan yang menyangkut hidup Ida ini?" raung Ida.
"Kau memang perempuan yang tak tau adat! Harusnya kau bersyukur masih ada keluarga terhormat mau mengangkat kau jadi menantu!" teriak Mak Dang.
"Aku lebih baik mati daripada menikah dengan Burhan Mak," teriak Ida histeris.
Lalu ia berbalik, melihat amainya yang masih memegang pisau. Ida menyambar pisau yang ada di tangan amai lalu menyayat lehernya dengan pisau itu.
"Ida!" teriak Syamsyir diikuti teriakan histeris amai.
Ia merasakan tangan kokoh Syamsyir menahan badannya yang limbung. Suasana rumah yang tadinya suka cita berubah menjadi panik. Ida masih mendengar suara gaduh Mak Dang yang masih saja memaki Syamsyir. Suara Mak Tuo yang menenangkan suaminya. Sampai akhirnya telinganya berdenging dan semua menjadi gelap.
__ADS_1
*Batuka tando \= kesepakatan dua keluarga untuk menikahkan anak mereka yang ditandai dengan saling bertukar benda pusaka keluarga.