
Tuhan memang tak akan pernah memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hamba-Nya, dan badai tak selamanya mampu bertahan. Kita hanya perlu waktu untuk bersabar menjalani garis takdir yang terkadang mungkin terasa kejam.
Makin hari, kehidupan Ida pun mulai membaik, jika ia masih meneteskan airmata, itu hanya karena rasa syukurnya telah mampu melewati segala duka dan derita yang ia alami selama ini.
Meskipun Ida masih tetap bersikukuh untuk tinggal sendiri, namun Laili dan Fatimah yang masih tinggal satu kota dengannya masih terus mengunjungi. Setidaknya kunjungan mereka mampu mengenyahkan rasa sepi yang terkadang menyita pikiran Ida. Kehadiran cucu-cucunya, anak-anak Laili dan Fatimah menjadi suatu hiburan tersendiri sebagai pengusir sepinya.
Setahun sudah Salma menjalani tugasnya sebagai abdi negara. Setiap akhir pekan ia pun selalu pulang ke Bukittinggi untuk menjenguk amaknya. Bahkan tak jarang juga ia pulang di pertengahan minggu hanya sekadar bercerita tentang kesehariannya di tempat kerja.
"Lalu, kau sudah punya calon untuk jadi pendamping belum?" tanya Ida pada Salma dengan nada seolah menggoda anak gadisnya itu.
"Haha ... Belum ada yang pas di hati," kekeh Salma sambil memijat punggung Ida , ritual yang selalu ia lakukan saat pulang menemui amaknya, karena ia tau punggung itu pasti lelah karena telah menanggung beban yang begitu banyak selama bertahun-tahun.
"Kemarin ada lagi yang datang menemui amak. Seorang guru, katanya satu tempat kerja denganmu."
"Siapa, Mak?" tanya Salma, menghentikan gerakan yang sedang memijat punggung amaknya.
"Namanya Fauzi. Apa dia tidak ada bercerita padamu?"
"Amak tidak salah?" tanya Salma seolah tak percaya? Matanya terbelalak menegaskan rasa tak percaya yang tiba-tiba saja muncul.
"Sepertinya tidak, amak mendengar jelas saat dia mengenalkan diri," sahut Ida yakin, lalu memutar tubuhnya menghadap Salma.
"Amak tau tidak ... dia itu guru menyebalkan yang pernah aku ceritakan ketika awal masuk kerja dulu, amak ingat tidak?"
"Apakah orangnya tinggi kurus, putih?" Ida menyebut kan ciri-ciri pemuda tempo hari yang menemuinya.
"Kalau dari ciri-cirinya memang benar itu orangnya. Tapi kenapa tiba-tiba, padahal kalau di tempat kerja tak pernah menegurku."
"Haha ... Orang yang sedang jatuh cinta itu memang terkadang bersikap aneh, mungkin dia tidak ingin terlalu terlihat mendekatimu, karena tidak ingin teman-temannya yang lain tau."
__ADS_1
"Ya setidaknya jangan terlalu bersikap menyebalkan juga," sungut Salma.
"Haha ... Mungkin saja itu caranya agar bisa menarik perhatianmu," kekeh Ida.
"Tapi malah bikin kesal kan, Mak," gerutu Salma.
Ida hanya tergelak melihat wajah cemberut Salma.
"Sal, guru itu sudah pemuda ketiga yang menemui amak bulan ini, kau coba putuskanlah. Kau shalat istikharah, karena tak baik kalau sudah tiga orang yang berniat serius diabaikan begitu saja."
"Iya, Mak... Nanti aku shalat istikharah," sahut Salma kemudian.
"Ya ... Nah, kau istirahatlah, besok harus bangun pagi."
"Iya, Mak."
***
Satu bulan Salma berpikir, sampai akhirnya ketika akhir pekan itu ia pulang dan bercerita pada amaknya.
"Sepertinya hatiku lebih condong pada Uda Fauzi, Mak," ujar Salma setelah mereka selesai makan malam.
"Ya nanti kau katakanlah padanya," sahut Ida memandang wajah Salma. Memang dari awal pun hatinya juga telah terpaut pada pemuda yang berprofesi sebagai guru itu. Seolah menjawab doanya, hati Salma pun merasakan hal yang sama.
"Tapi bagaimana cara aku mengatakannya ya Mak," kekeh Salma tampak bingung. "Bahkan setelah ia datang menemui Amak pun sikapnya masih terlihat tak acuh. Aku sampai harus shalat istikharah berkali-kali untuk meyakinkan hatiku. Apa benar dia pria yang tepat."
"Kau katakan saja padanya kalau Amak menyuruhnya datang."
"Uhm ... Iya, nanti aku coba menyampaikan seperti itu," sahut Salma tampak masih berpikir.
__ADS_1
Seperti malam-malam sebelumnya, malam itu kembali mereka isi dengan segala cerita yang seperti tak pernah habisnya untuk mereka ceritakan. Tak pernah terpikir di benak Ida, untuk bisa sampai pada titik dimana ia dan anaknya bisa bercerita dengan iringan tawa. Ia ingat betapa dulu setiap malam, hanya cerita pilu yang mampu mereka bagi.
****
Hari dimana Salma akan memulai hidup barunya pun tiba. Walau jalan yang mereka tempuh untuk sampai pada titik itu tak begitu mudah, akhirnya tiba saat dimana Ida menyaksikan kembali Burhan duduk berhadap-hadapan dengan calon menantunya. Menggenggam erat tangan lelaki yang akan menjadi pendamping hidup anaknya. Sama seperti sebelum-sebelumnya, Burhan masih saja tidak mampu menguasai emosinya. Suaranya bergetar tatkala melafalkan ijab.
Tuntas sudah perjuangan Ida mengantarkan anak-anaknya pada takdir mereka masing-masing. Seolah tak percaya ia akhirnya mampu melalui semua peristiwa yang dulu pernah membuatnya kehilangan asa.
****
Salma melahirkan seorang anak perempuan satu tahun setelah pernikahannya, di tahun yang sama Fatimah dan Laili pun melahirkan anak perempuan. Kebahagiaan yang berlipat seolah membayar segala jerih yang Ida alami selama bertahun-tahun tatkala melihat kehidupan anak-anaknya.
Ida memutuskan untuk tinggal bersama Salma ketika masa cuti melahirkan Salma telah berakhir. Ia tak ingin cucunya diasuh oleh orang yang tak dikenal, pun tak ingin Salma mempekerjakan asisten rumah tangga yang akan membantunya di rumah.
"Kau kan mau menabung untuk membeli rumah, tenaga amak masih kuat, jadi tak perlu kau risau," tolak Ida setiap kali Salma mengutarakan kekhawatiran.
Seiring berjalannya waktu, setelah Salma melahirkan anak kedua, akhirnya ia mampu membangun rumah impiannya. Perasaan Ida terasa bagaikan diaduk tatkala melihat bangunan rumah seluas dua ratus meter yang berdiri diatas tanah empat ratus meter itu ditunjukkan Salma padanya. Tak pernah terlintas di pikiran Ida bahwa Salma mampu mewujudkan cita-citanya yang dulu terasa mustahil bagi mereka.
Lokasi rumah Salma memang agak jauh di pinggir kota, bahkan di sekitar rumah masih banyak pepohonan rimbun dan tanah milik penduduk setempat yang masih kosong.
"Tidak apa-apa ya Mak, agak jauh dari keramaian. Dana yang aku punya hanya cukup membeli tanah di tempat ini," ujar Salma ketika mereka baru menempati rumah tersebut.
"Tidak apa-apa, Sal. Amak bersyukur kamu sudah bisa mewujudkan mimpimu. Lagipula, amak nanti bisa bercocok tanam di sekitar sini." Ida memandangi sekitar rumah Salma, terbayang bagaimana ia akan menghabiskan hari di tempat itu. Tempat yang masih hijau dan asri, jauh dari segala kebisingan yang selama ini Ida alami.
Seperti mendapati jawaban dari doa-doa yang telah berlalu, Ida merasakan kebahagiaan yang tiba-tiba masuk ke dalam relung hatinya. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengenyahkan tumpukan duka yang dulu. Tumpukan perih yang ia rasakan selama ini serasa menguap begitu saja.
"Tuhan, terima kasih telah mengantarkan ku pada titik ini. Mohon izinkan aku menikmati masa senja ku dengan penuh kebahagiaan bersama anak-anakku," bisik Ida lirih.
Akan tiba masanya ketika badai berhenti, langit pun akan mempersembahkan warna terang yang menenangkan. Mereka yang mampu melewati masa badai, akan merasakan bagaimana ucapan syukur tak akan pernah cukup untuk diucapkan. Tiba masanya bagi Ida untuk menikmati segala asa yang dulu selalu ia panjatkan dalam setiap doa. Menikmati manisnya buah perjuangan.
__ADS_1