MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 24


__ADS_3

Ida membaca lambat-lambat surat dari Syamsyir. Menyesapi setiap kata dan kalimat yang ditulis pria itu.


*Bismillahirrahmanirrahim.


Assalamualaikum Ida,


Aku berharap kau masih bisa membaca suratku ini. Besar harapanku kau bisa melewati masa kritismu.


Berat lah rasa hatiku hendak menuliskan surat ini padamu. Tapi keadaan memaksaku.


Melihat kau terbaring dan tak jua terbangun membuatku berasa di dalam mimpi terburuk.


Dulu aku berpikir, melihatmu bersama laki-laki lain adalah mimpi terburukku, ternyata itu bukan lah apa-apa dibanding kenyataan yang aku hadapi saat ini.


Setelah berpikir berkali-kali, aku mengambil keputusan untuk mengakhiri saja kisah yang baru akan kita mulai ini. Bukan karena aku tak lagi sayang padamu, tapi karena aku tak sanggup melihatmu menderita seperti ini. Bukan aku hendak membuangmu, tapi aku hendak menyelamatkanmu.


Kita seakan berjalan di padang pasir, namun dengan congkaknya menantang matahari. Aku tak takut terbakar, yang aku takut kau yang terbakar. Aku tak takut mati, yang aku takutkan aku yang akan menyakitimu.


Telah banyak kisah pelajaran yang aku dapat dari para tetua, "Jika mau berumah tangga, restu keluarga adalah yang utama agar tenang hidupmu kelak."


Aku memikirkan tak hanya hubungan kita pada masa sekarang, tapi aku juga memikirkan masa yang akan datang. Ketakutan terbesarku adalah ketika nanti aku menemui ajalku terlebih dahulu, kau tak mempunyai tempat untuk kembali.


Berkaca dari pengalaman orangtuaku, aku adalah anak dari orangtua yang megedepankan perasaan tanpa memikirkan keluarga besar mereka. Ketika mereka tiada, tiada keluarga orangtua ku yang mau menerimaku. Aku tak ingin nanti anak-anak kita akan bernasib sama. Menjadi anak-anak yang tiada diakui keluarga orangtua mereka.


Bukan aku berprasangka buruk akan takdir Allah, tapi aku mencoba berpikir dengan akalku, bukan dengan emosi.


Beribu maaf aku pinta darimu Da, bukan aku hendak melarikan diri melepaskanmu begitu saja tanpa memperjuangkanmu. Tapi aku hanya tak ingin kau menjadi anak durhaka pada mereka yang telah susah payah membesarkanmu.


Sekali lagi, aku minta maaf. Hanya doa yang dapat aku panjatkan disetiap sujud malamku untuk keselamatan dan kebahagianmu. Bukankah kita butuh pengorbanan untuk sesuatu yang kita cintai. Aku mengorbankan perasaanku, agar kau bisa kembali pada lindungan keluargamu. Kembali pada orang-orang yang telah membesarkanmu dengan kasih sayang mereka. Hiduplah dengan bahagia Da, jangan kau sia-siakan pengorbananku.


Tertanda,


Syamsyir*


Ida terisak, tak mampu lagi menahan sesak di dadanya. Ingin rasanya ia kembali mencoba mengakhiri hidupnya. Namun, ia ingat pesan yang ditulis Syamsyir untuk tak menyia-nyiakan apa yang sudah dikorbankan pria itu.


"Ida ... Maafkan aku. ... Maaf. Aku tak mengira isi surat dari Syamsyir akan membuatmu malah jadi sedih," isak Ros berusaha menenangkan Ida.


Ida mengalami sesak nafas, luka dan tekanan di lehernya membuatnya kepayahan untuk bernafas. Ros berlari ke ruang perawat, memanggil rekannya yang sedang bertugas jaga. Ia mengutuki dirinya, kenapa ia harus menyerahkan surat dari Syamsyir ketika Ida baru saja siuman. Padahal ia tau kondisi Ida saat itu belum sepenuhnya stabil.


Setelah diberikan obat penenang, Ida tertidur. Ros bersyukur Ida tidak harus dipasangkan alat bantu nafasnya kembali.


"Kenapa bisa tiba-tiba sesak pasiennya Ros?" tanya rekannya.


"Ah. Tadi aku tertidur. Ketika terbangun dia sudah mengalami sesak nafas," jawab Ros berbohong. Namun hati kecilnya makin mengutuki dirinya.


Keesokan paginya, ketika Ida terbangun. Ia melihat Ros dengan dengan pakaian perawatnya. Rupanya pagi itu giliran Ros yang bertugas jaga.


" Pagi Da, maafkan aku ya," ujar Ros penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa Ros," tulis Ida.


"Kau mau coba makan dulu? Hari ini kau sudah dibolehkan untuk makan makanan yang agak padat. Nanti setelah makan aku bersihkan badanmu."


Ida mengangguk kecil lalu mencoba untuk menggeser posisi tidurnya.


"Kau jangan mengangkat kepalamu dulu da, lukamu masih belum kering benar."

__ADS_1


Selesai menyuapi dan membersihkan tubuh Ida, Ros pamit untuk mengurus pasien yang lain.


"Aku membawa buku untuk kau baca, biar kau tak bosan di kamar," ujar Ros meletakkan sebuah buku di meja kecil samping ranjang Ida.


"Terima kasih, Ros," tulis Ida.


"Ya, aku tinggal ya," sahut Ros tersenyum tipis.


Ida membalas dengan anggukan kecil. Ia mencoba untuk memejamkan matanya. Mencoba untuk menghilangkan setiap kata yang Syamsyir tulis pada suratnya. Mencoba untuk menerima kenyataan yang ada dihadapannya. Mencoba untuk berhenti bertanya kenapa Tuhan menuliskan takdirnya seperti itu.


------------°°°°°°°°---------------


Bulan kedua dirawat, alat trakeostomi yang menempel di leher Ida dilepas. Namun, ia masih belum bisa bicara. Kerusakan pita suara akibat sayatan di lehernya belum pulih. Ia masih harus menjalani terapi untuk mengembalikan fungsi pita suaranya.


Siang itu ketika Ida sedang membaca buku, Tini dan amai datang. Hari itu kali pertama amai menjenguknya semenjak ia mulai siuman.


"Amai," ucap Ida dengan gerakan bibir tanpa suara. Ada rasa haru yang ia rasakan ketika melihat amai datang dengan jalan tertatih.


Ia meletakkan buku yang sedang dibacanya di meja samping ranjang.


"Bagaimana kabarmu, Da?" Amai memeluk Ida begitu ia sampai di dekat Ida.


"Alhamdulillah sudah mulai membaik, Mai." Kali ini Ida menuliskannya, Tini membacakan buat amai.


"Alhamdulillah, syukurlah kau sudah membaik," sahut amai dengan suaranya yang parau.


Wajah amai makin terlihat tua dari terakhir kali Ida mengingatnya. Ada beban yang tampak bergelayut di matanya. Hati Ida terenyuh, bagaimana bisa ia sampai hati telah melukai hati perempuan yang telah susah payah membesarkannya.


Amai duduk di bangku kecil samping ranjang Ida. Mengusap pelan tangan cucunya.


"Da ...." ucap amai kemudian, lalu menarik nafas dalam.


"Kalau kau memang tidak menginginkan pernikahan ini, aku akan usahakan untuk membujuk ninik mamak untuk malipek tando*. Tak kuasa hatiku melihat kau seperti ini."


Amai menarik nafas panjang. Mata amai sudah terlihat basah. Ia menarik selendang coklat yang menutup rambutnya yang sudah memutih, lalu mengusap mata dengan ujung selendang.


Dengan berurai air mata, Ida menulis dengan cepat di buku kecilnya, lalu menyerahkan pada Tini. Tini membacakan,


"Tidak usah Mai. Ida sudah memberi banyak masalah pada Amai. Ida tidak ingin membuat Amai jadi bermasalah dengan ninik mamak."


"Tapi aku juga tak ingin kau tersiksa seumur hidupmu, hanya karena tak ingin mengecewakanku."


"Ida belum bisa membalas jasa Amai, mungkin dengan cara ini Ida bisa membalasnya, Mai." Ida menuliskan kembali.


"Umurku tidak akan lama, sementara jalan hidupmu masih panjang. Jangan karena tak ingin mengecewakanku, kau mengorbankan kebahagiaanmu."


"Setelah Ida pikirkan lagi, Amai melakukan ini juga untuk kebahagiaan Ida. Ida tak mau egois, membuat malu Amai dan mencoreng muka ninik mamak hanya karena memperturutkan ego Ida."


Amai terisak. Tubuhnya yang sudah bungkuk berguncang karena tangisnya.


"Terima kasih Da, kau sudah mau mengerti keadaan. Aku menyetujui untuk menikahkan kau dengan anak Sutan Rajo Mudo karena aku pikir kau pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari sekarang. Sudah cukuplah kau menderita karena aku tak mampu menghidupi kalian dengan baik."


Tini ikut terisak menyaksikan amai dan kakaknya akhirnya mampu belajar untuk saling mengalahkan ego masing-masing. Selama ini setiap kali kakaknya dinasehati, selalu saja berujung pada ke salah pahaman. Watak keduanya yang keras dan selalu merasa gengsi untuk saling mengakui kesalahan masing-masing membuat masalah yang mereka hadapi tak pernah menemui titik temu.


Untuk pertama kali Tini akhirnya merasakan kembali perasaan damai di antara mereka yang selama ini selalu saja bersitegang.


"Aku membawa kan kau bubua cido, ku buatkan tadi pagi sebelum berangkat ke sini. Kau coba makan lah, supaya lekas kau sehat," ujar amai kemudian.

__ADS_1


Amai menyuruh Tini membukakan bungkusan yang ia bawa tadi lalu menyuapi Ida. Amai memandang wajah Ida dengan penuh kasih sayang, sesekali mengusap pipi cucunya.


" Kau makin kurus, Da. Sebegitu beratkah bagimu untuk menerima keadaan ini, sampai-sampai badan kau habis begini," ujar amai kemudian.


Ida hanya membalas dengan senyum getir. Walaupun lisannya mengungkapkan bahwa ia menerima apa yang sudah ditetapkan keluarganya, namun hatinya masih belum mampu benar-benar melepaskan apa yang sudah hadir di dalam hatinya.


Sore hari, amai pamit untuk kembali ke Kubang Putih. Tini ikut pulang. Ros meyakinkan amai untuk tak perlu risau meninggalkan Ida di rumah sakit, karena ia akan selalu mendampingi Ida.


"Aku juga di rumah sendirian, suamiku sedang di seberang. Lebih baik aku di sini saja menemanimu," ujar Ros.


---------------°°°°°°°°°°---------------


Setelah tiga bulan dirawat, kesehatan Ida mulai membaik. Ia sudah mulai bisa mengeluarkan suara walaupun belum bisa berbicara agak lama.


Bulan keempat, Ida sudah dibolehkan untuk pulang walaupun pita suaranya belum berfungsi normal.


"Ros ...." ujar Ida ketika sedang mengemasi barang-barangnya yang hendak dibawa pulang.


"Ya? Ada apa? " tanya Ros heran melihat Ida terdiam agak lama setelah memanggilnya.


"Aku boleh beratnya sesuatu?"


"Ya, tanyakan saja. Jika bisa aku jawab, aku berikan jawabannya."


"Setelah menitipkan surat padamu, kau tau Syamsyir kemana?" tanya Ida ragu-ragu.


"Ya. Dia ikut pelarian militer bersama Amir dan Rizal ke Jogja. Kenapa? Apa kau hendak membalas suratnya?" Ros duduk di dekat Ida, memperhatikan wajah sahabatnya.


"Menurutmu bagaimana Ros?" Ida mengangkat wajahnya menatap Ros. Ada air mata menggantung dipelupuk matanya.


"Menurutku, sebaiknya kau balas saja suratnya. Mengabarkan bahwa kau baik-baik saja. Terakhir kali Syamsyir ke sini, wajahnya amat sangat terpukul. Ia tak henti menyesali diri. Setidaknya suratmu bisa menjadi penawar rasa bersalahnya. Nanti biar aku kirim bersama surat yang akanku kirim buat Amir, " ungkap Ros.


Ida hanya membalas dengan anggukan kecil. Lalu menulis surat untuk Syamsyir.


*Bismillahirrahmanirrahim,


Assalamualaikum Tuan Syamsyir,


Bersama surat ini aku kirimkan doa dan pengharapan agar Tuan selalu diberi kesehatan dalam menjalani hari-hari Tuan.


Melalui surat ini juga aku ingin mengabarkan kalau kondisi kesehatanku sudah membaik, terima kasih atas doa yang Tuan hantarkan untukku.


Tuan, aku telah membaca surat yang Tuan titipkan. Hatiku terasa hancur, namun aku coba untuk mengerti alasan yang Tuan berikan.


Aku akan mencoba berlapang dada menerima takdirku ini jika itu yang Tuan inginkan.


Terima kasih atas segala perhatian yang Tuan curahkan. Aku berharap kedepannya kita bisa menjalani hidup masing-masing dengan bahagia.


Tertanda,


Rosidah*


Ida melipat suratnya dengan perasaan campur aduk. Ia mencoba mengatur nafasnya agar sesak yang menekan dadanya berkurang. Mendongakkan wajahnya, agar air mata yang telah bersarang di pelupuk mata tak tumpah.


"Kau lepaskan saja, Da. Tak usah kau tahan, hanya akan me nambah bebanmu saja," ujar Ros tatkala melihat Ida berusaha sekuat tenaga menahan tangisnya.


Tangis Ida pecah. Ros mendekat, memeluk Ida berusaha menenangkannya. Ia pun tak kuasa menahan tangis merasakan duka yang dirasakan sahabatnya.

__ADS_1


" Malang benar nasib kau, Da. Dua kali kau harus melepas orang terkasihmu dengan cara menyakitkan," ungkap Ros dalam hati.


*malipek tando \= istilah untuk membatalkan lamaran pernikahan yang sudah saling disepakati oleh kedua belah pihak keluarga mempelai. Biasanya pihak yang membatalkan harus membayar denda dengan membayarkan dua kali lipat dari pemberian yang sudah di sepakati.


__ADS_2