
Siang hari setelah zuhur, ungku Jorong datang kembali ke surau bersama seorang mantri, memeriksa kondisi kesehatan Ida. Ida dinyatakan terkena gejala tipes dan harus beristirahat penuh.
Setelah dua minggu beristirahat, Ida kembali menjalani rutinitasnya menjadi kurir penghantar pesan.
Siang itu, langit sudah mulai gelap. Terlihat awan seperti berat untuk bergerak ketika ditiup angin. Ida mempercepat langkahnya agar bisa sampai di surau sebelum hujan turun. Pematang sawah yang licin membuat kakinya terpeleset beberapa kali. Ketika ia hampir sampai di ujung sawah, tiba-tiba dari kejauhan ia melihat seorang pria berlari ke arahnya sambil berteriak, "Belanda!.... Belanda!!"
Tanpa berpikir panjang, Ida melompat ke arah tumpukan jerami kering yang berada di pinggir sawah, menutupi tubuhnya dengan tumpukan jerami. Tak berapa lama, ia mendengar suara langkah kaki pria yang tadi berteriak, diiringi suara letusan senapan.
Ida tak bergeming di dalam tumpukan jerami, berusaha untuk mengatur nafas dan menahan rasa gatal diakibatkan oleh jerami yang menggesek kulitnya.
Tiba-tiba Ida merasakan seperti ada benturan benda keras di kepalanya. Ida menahan diri untuk tidak berteriak, ketika ia sadar benda yang membentur kepalanya adalah sepatu Lars tentara Belanda yang terperosok ke sawah tempat Ida bersembunyi.
Degup jantung dan rasa sakit di kepala akibat terinjak oleh tentara Belanda tadi membuat pendengarannya berdenging.
Setelah agak lama, Ida mencoba menajamkan pendengarannya untuk memastikan apakah sudah aman untuk keluar dari tempat persembunyiannya.
Yakin tidak ada suara apapun, Ida perlahan keluar dari tumpukan jerami. Mengawasi area persawahan, sebelum ia benar-benar keluar dari persembunyiannya. Tak ada siapa pun yang terlihat di area persawahan itu. Ida keluar dari tumpukan jerami dan berjalan tergesa karena gerimis mulai turun.
Sesampainya di surau, Maryam keheranan melihat seluruh tubuh Ida penuh dengan lumpur.
"Kenapa kau Da?"
"Di jalan pulang, aku berpapasan dengan Belanda yang sedang mengejar seseorang, lalu aku melompat ke tumpukan jerami di sawah."
"Lalu kenapa keningmu berdarah?" tanya Maryam ketika melihat darah segar mengucur di kening Ida.
Ida mengusap keningnya.
"Ah! Pantas saja tadi aku pusing," ujar Ida.
"Kenapa itu?" tanya Maryam makin penasaran.
"Tadi ketika aku bersembunyi di dalam jerami, ada tentara Belanda yang terpeleset tepat di tempat aku bersembunyi, kakinya menginjak kepala ku," terang Ida.
__ADS_1
"Ya Allah, untung kau selamat Da."
"Iya, Alhamdulillah Yam. Aku mau mandi dulu ya, sudah seperti bau kerbau badan ku," kekeh Ida.
"Ya sudah, sana. Sebentar lagi magrib."
-------°°°°°---------
Suatu pagi di akhir bulan Juli, mereka dikejutkan oleh suara ledakan dan tembakan. Penghuni surau berlari keluar surau untuk melihat apa yang terjadi. Maryam terlebih dahulu sampai di pintu dan membuka pintu, ketika sebuah granat meledak tak jauh dari pintu surau. Maryam terpental ke belakang, terjerambab ke tubuh Ida yang baru turun dari tangga.
Beberapa serpihan ledakan granat menancap di tubuh Maryam. Tubuhnya bersimbah darah. Ida berusaha menarik Maryam ke bawah tangga, tempat mereka biasa bersembunyi.
"Niar! Ani! Bantu uni menarik Maryam!" jerit Ida.
Niar dan Ani yang baru turun bergegas menarik Maryam ke arah bawah tangga.
Wajah kedua gadis itu pias. Ida menyandarkan tubuh Maryam dan memeriksa luka Maryam. Ada serpihan granat yang besar tertancap tepat di bawah telinga kiri Maryam, sehingga membuat tubuh Maryam seolah bermandikan darah. Tubuh gadis itu menggigil seperti kedinginan.
"Yam, bertahan lah Yam!" Ida mulai terisak.
Sementara itu di luar surau, suara senjata api bersahut-sahutan, tembakan, ledakan dan suara teriakan membuat rasa panik yang Ida rasakan makin menjadi. Ia tak bisa merasakan denyut nadi Maryam.
"Uni!!!" Tangis Ani dan Niar pecah.
"Yam. ... Kau bisa dengar aku Yam?" Ida masih berusaha untuk membuat Maryam sadar.
Mereka tidak bisa melakukan apa-apa, suara ledakan dan tembakan di luar masih saja terdengar, entah berapa lama mereka menunggu di bawah tangga bersama jasad Maryam. Hingga cahaya matahari yang masuk ke dalam surau sudah tak lagi terlihat.
Suara tembakan mulai mereda, pintu surau terbuka dengan keras. Mereka menahan tangis yang tadi sempat pecah dengan membekap mulut.
"Anak-anak!" Wajah ungku Jorong muncul di bawah tangga tepat di mana mereka bersembunyi.
"Maryam terluka Ngku," tangis Ida kembali pecah ketika melihat ungku Jorong datang.
__ADS_1
Ungku Jorong memeriksa denyut nadi Maryam, lalu menggeleng pelan.
Luka yang di alami Maryam cukup parah sehingga mengakibatkan gadis itu kehilangan darah sangat banyak. Ida memeluk Maryam sambil terisak.
" Iyam, aku cuma mimpi kan Yam... Kau bangun lah Yam," isak Ida pilu.
Tak ada sahutan dari bibir Maryam. Tatapannya kosong. Tak ada lagi celoteh riang dari gadis itu seperti hari-hari sebelumnya.
"Kita harus cepat pergi dari sini, Belanda melakukan agresi militer, mereka mengerahkan semua kekuatan yang mereka punya untuk menghancurkan semua pos pertahanan kita," terang ungku Jorong dengan cepat.
"Lalu bagaimana dengan Maryam Ngku?" tanya Ida disela-sela tangisnya.
"Tidak ada waktu kita mengurus jenazahnya Da, kita harus mundur dulu. Belanda sudah mengepung tempat kita. Kita harus bergerak cepat berlindung ke hutan."
"Aku tidak mau meninggalkan Maryam, Ngku!" suara Ida meninggi.
"Ida, ini bukan saatnya memikirkan perasaan, satu nyawa yang selamat amat sangat berharga, ayolah kita pergi dari sini!" Ungku Jorong mulai gusar dengan sikap Ida yang keras kepala.
"Ani, Niar kalian keluar lah lebih dahulu, diluar ada Syamsir menunggu," perintah ungku Jorong.
Kedua gadis itu menarik tangan Ida, "Uni, ayolah kita pergi dari sini, nanti kalau keadaan sudah aman, kita kembali lagi," bujuk Niar.
"Iya Uni, uni Maryam pasti tidak ingin Uni terluka." Ani ikut serta membujuk Ida.
Akhirnya, dengan berat hati Ida terpaksa meninggalkan sahabatnya. Ida tidak mampu menahan sesak yang ia rasakan. Tangisnya pecah ketika mereka mulai berlari menuju hutan yang tak jauh dari belakang surau.
Ida memandangi sekeliling, beberapa petak sawah terbakar, warna jingga kobaran api begitu seras dengan warna semburat jingga di langit sore itu.
Pandangan Ida mengabur oleh air matanya yang tak mampu ia hentikan, sehingga ia terjerambab jatuh tersandung akar pohon yang mencuat di tanah. Ia meringis, merasakan ngilu di pergelangan kakinya. Ketika ia hendak berdiri, sepasang tangan kekar menariknya berdiri. Ia menoleh hendak mengucapkan terima kasih.
Seketika wajah Ida memucat ketika melihat pemilik wajah dari tangan yang menariknya berdiri.
"Ida?" Pria yang membantu Ida itu pun tak kalah terkejut ketika melihat wajah gadis yang ia tolong.
__ADS_1