
Ida menghentikan gerakannya membenahi pakaian yang akan dimasukannya ke dalam sebuah tas, ketika mendengar suara ketukan di pintu.
"Ida." Terdengar suara amai di balik pintu.
"Iya, Mai." Ida melangkah ke pintu.
"Sudah selesai kau berbenah?" tanya amai ketika Ida membukakan pintu.
"Tinggal sedikit lagi, Mai."
"Kapan kau berangkat?" tanya amai sambil berjalan ke kursi yang ada di ruang tengah.
"Mungkin besok siang. Apakah tidak apa-apa Amai Ida tinggal lagi?" tanya Ida pelan menatap wajah amai yang makin renta.
Seluruh rambut yang menutupi kepala amai sudah memutih. Kelopak mata yang dulu membingkai sempurna matanya, kini tampak seolah tirai yang menutupi setengah manik matanya yang juga telah berubah kelabu.
Amai menarik daun sirih yang sedari tadi dikunyahnya, meletakkan di dalam wadah kecil yang terbuat dari tembaga yang ada di atas meja.
"Tidak usah kau pikirkan, Da. Sekarang kewajibanmu ikut kemana suamimu pergi. Kewajibanku sudah tuntas. Ada dan tiada kau, aku harus terus lanjutkan hidup sampai waktuku habis." Amai menyandarkan punggungnya yang makin membungkuk ke sandaran kursi dari kayu surian yang didudukinya.
"Iya, Mai. Lagi pula selama ini Ida juga jarang bersama Amai, ya," gelak Ida.
"Hahaha bukan begitu maksudku. Kita di dunia punya tugas masing-masing dengan batas waktu yang sudah ditentukan. Tugasku sudah selesai mengantarkanmu sampai menikah. Sekarang giliranmu melaksanakan tugasmu sebagai istri. Bukan kewajibanmu memikirkan bagaimana nanti aku melanjutkan hidupku, tak perlu kau pikirkan itu."
Ida tertegun mendengar penuturan amai. Mencoba mencerna maksud dari setiap kalimat yang disampaikan neneknya.
"Kapan Sutan Pamenan kembali dari Rengat, Da?" tanya amai kemudian.
Ida berpikir sejenak, siapa yang ditanyakan amainya. Kemudian ia tergelak,
"Haha, aku selalu lupa gelar Tuan Burhan, Mai. Kemungkinan nanti malam dia kembali."
"Kau ingat-ingatlah gelar suamimu," kekeh amai kemudian. Tangannya mengambil beberapa lembar daun sirih dari carano* menggulungnya dengan kapur sirih kemudian mulai mengunyah kembali gulungan sirih yang baru.
Sore itu Ida dan amai menghabiskan sore dengan saling bertukar kisah yang selama ini tak sempat mereka ceritakan.
Malam hari, ketika seluruh penghuni rumah sudah terlelap dalam tidurnya, Ida masih terjaga. Tatkala ia hendak mematikan lampu minyak yang terletak di meja kecil samping ranjangnya, ia mendengar suara ketukan di pintu rumah.
"Assalamualaikum, Da." Terdengar suara Burhan samar-samar di luar.
Ida bergegas keluar kamar, mengangkat palang kayu yang menutupi pintu, dan membuka pintu.
__ADS_1
"Waalaikum salam, Tuan," sapa Ida.
Dua bulan sudah ia berganti status menjadi istri Burhan Sutan Pamenan, namun masih saja ada rasa gugup ketika harus bersitatap dengan suaminya itu.
"Kau sudah hendak tidur?" tanya burhan melihat Ida yang telah menggerai rambutnya.
"Belum, Tuan. Aku menunggu Tuan pulang. Apakah Tuan mau aku buatkan minum?" tanya Ida masih terus menunduk.
"Ya," jawab Burhan singkat.
"Kalau begitu, aku tinggal ke belakang dulu," pamit Ida. Ia berlalu ketika melihat suaminya menjawab dengan anggukan dan berjalan masuk ke dalam kamar.
Sekembalinya, Ida membawakan segelas minuman yang asapnya masih mengepul di tangannya. Meletakkan minuman yang ia bawa di meja samping ranjang dengan perlahan.
"Kau sudah mengantuk, Da?" tanya Burhan.
"Belum, kenapakah Tuan bertanya demikian?" tanya Ida terheran.
"Aku hanya hendak berbincang-bincang denganmu," ujar Burhan menatap Ida.
Sepasang matanya yang tajam menatap lekat wajah Ida yang masih saja menunduk.
"Iya, Tuan," sahut Ida. Ia duduk di samping Burhan.
"Tak mau kah kau menatap ku, Da?" Suara Burhan kembali memecah keheningan di antara mereka.
Perlahan Ida mengangkat wajahnya, menatap wajah pria yang telah menjadi suaminya. Cahaya temaram dari lampu minyak, membuat garis wajah Burhan dengan rahang yang kokoh, makin terlihat tegas.
"Aku hanya memastikan, bahwa kau tak membenciku." Suara Burhan yang dingin membuat suasana dinginnya malam makin terasa menusuk.
"Aku tidak pernah membenci Tuan, hanya saja selama ini aku tidak ingin bersama Tuan."
Burhan menghela nafasnya. Ia tak mengalihkan tatapannya dari wajah istrinya. Mencoba mencari sedikit jawaban dari sikap Ida yang seolah selalu menghindarinya.
"Kenapa?" ujarnya kemudian.
Ida meremas tangannya, mencoba untuk mencari kekuatan untuk menyampaikan apa yang ia rasa. Mencoba menata setiap kata yang akan disampaikan.
"Karena aku belum begitu mengenal Tuan, aku anak dari orang melarat. Aku takut nantinya hanya akan jadi permainan saja bagi Tuan," ujarnya kemudian.
"Hahaha, jadi itu yang membuatmu nekat mengakhiri hidupmu, kau takut akan hidup sengsara denganku, Da?" Kali ini Burhan tertawa mendengar jawaban jujur istrinya.
__ADS_1
Ketegangan yang tadi bergelayut di wajahnya perlahan sirna.
"Aku hanya merasa tertekan dengan keputusan keluargaku," ujar Ida lirih.
"Aku seolah tak diberi pilihan,"lanjutnya.
Burhan tercenung, menyesapi setiap kata yang keluar dari bibir istrinya. Kemudian ia merengkuh tubuh istrinya berusaha sedikit memberi ketenangan pada perempuan yang telah ia nikahi.
"Aku tak bisa menjanjikan kau akan hidup senang denganku, Da. Tapi setidaknya kau beri aku kesempatan untuk membuktikan segala ketakutanmu tak beralasan," ucapnya.
Ida bergeming, tak tau bagaimana harus menanggapi apa yang diucapkan Burhan padanya. Mencoba untuk menenangkan perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya.
"Sudah selesai kau membenahi barangmu yang akan kau bawa besok?" tanya Burhan setelah jeda beberapa saat.
"Sudah, Tuan." Ida menarik dirinya dari dekapan Burhan.
"Kalau begitu, marilah kita istirahat dulu."
Tak menunggu lama, Ida terlelap begitu mudahnya. Perasaannya terasa ringan. Setidaknya untuk saat ini, segala prasangka yang selama ini selalu membuatnya khawatir bisa ia tepiskan sesaat.
☘️☘️☘️
Sore setelah shalat ashar, Ida dan Burhan berpamitan dengan amai dan Tini. Kembali meninggalkan rumah yang pernah ia anggap seperti neraka dunia. Namun kali ini ada sedikit perasaan berat yang ia rasakan. Terlebih melihat tubuh amai yang kian membungkuk. Sebuah kayu panjang yang dulu pernah amai gunakan untuk memukul kaki Ida ketika amai sedang marah, sekarang beralih fungsi untuk menahan tubuhnya.
"Ida pamit, Mai," ujarnya memeluk amai.
"Cantik sekali kau hari ini, Da," kekeh amai mengabaikan Ida yang tampak menahan air yang sudah menggantung di pelupuk matanya.
Amai menepuk-nepuk tangan Ida. Memperhatikan cucunya yang hari itu mengenakan baju kurung kuning dengan kain batik coklat serta selendang senada menutupi rambutnya yang digelung rapi.
"Kami pamit, Mai." Burhan menyalami amai.
"Ya, tolong jaga cucuku ya, Sutan," ujar amai dengan suaranya yang parau. Mata kelabunya mengerjap-ngerjap seolah ingin menyapu setitik sedih yang menggantung disana.
"Iya, Mai," sahut Burhan.
"Ayo, Da," ajak Burhan ketika barang bawaan Ida selesai ia muat ke atas bendi.
Bendi yang mereka tumpangi bergerak perlahan meninggalkan rumah tua amai di Kubang Putih. Perasaan cemas akan kehidupan barunya membuatnya gugup. Ia tatap lekat sosok amai yang makin mengecil seiring bendi bergerak menjauh.
*Carano \=wadah tempat menyimpan sirih, biasa terbuat dari kuningan atau tembaga
__ADS_1