MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 7


__ADS_3

Ida menyandarkan tubuhnya ke sebatang pohon pinus. Memperhatian luka di


kakinya. Tak hanya luka, ternyata sudah ada beberapa pacet dan lintah yang menggendut. Sepertinya hewan itu belum kenyang, karena hewan berlendir itu masih menempel kuat pada kulit Ida yang terbuka.


Ida berusaha menarik hewan tak bertulang itu dari kakinya, namun seketika ia meringis. Alih-alih lepas, hewan itu seperti makin menancapkan gigitannya pada kulit Ida seperti bayi yang masih kehausan, tak mau lepas, terus menyedot darah Ida.


"Pakai ini buat melepaskannya." Rasyid menyerahkan sebatang rokok lintingan.


"Hah? Kenapa pakai rokok?" Ida bertanya heran.


"Lintah mati kena tembakau, kau tidak tahu itu?" Rasyid merobek kertas pembukus tembakau. Menggosokkannya ke kaki Ida yang ditempeli lintah.


"Ah, biar aku saja." Ida menarik kakinya, meminta tembakau yang ada di tangan Rasyid.


"Oh, ini." Rasyid menyerahkan tembakau yang dipegangnya ke tangan Ida, lalu duduk tak jauh dari tempat Ida duduk, memperhatikan gadis itu menggosokkan tembakau yang ia berikan ke lintah yang ada di kakinya.


Rasyid merasa gadis itu tidak terlalu suka didekati, sehingga ia pun berusaha untuk menjaga jarak agar gadis itu tidak terlalu risih dengan kehadirannya.


Ida merasakan tatapan Rasyid yang memperhatikannya, ia menoleh ke arah tempat Rasyid duduk.


"Terima kasih ya," ucapnya datar. Ia sadar perlakuannya tadi pada Rasyid membuat pemuda itu menjaga jarak dari nya.


"Ya, sama-sama...Kakimu harus segera dibersihkan Da, lalu kalau bisa ditutup kain. Besok kita akan meneruskan perjalanan ke arah Solok, medan yang akan kita tempuh mungkin akan lebih berat dari yang tadi," lanjut Rasyid dari tempatnya duduk.


"Iya. Maaf ya, aku menghabiskan rokokmu. Pasti susah mendapatkan rokok dalam situasi seperti ini."


"Ah tidak, aku tidak merokok. Itu memang sengaja aku bawa untuk jaga-jaga. Ternyata memang berguna."


"Ya, terima kasih," ucap Ida lirih tanpa menoleh pada Rasyid.

__ADS_1


"Ya, sama-sama," balas Rasyid tersenyum, walaupun ia tahu Ida tak memperhatikan senyumnya.


"Bagaimana kaki mu Da?" Maryam menghampiri Ida yang masih sibuk menggosok bekas gigitan lintah di kakinya.


"Sudah tewas semua mereka," balas Ida sambil nyengir.


"Ini, bersihkanlah lukamu dan balut kakimu supaya tidak ada kulit yang terbuka." Maryam menyerahkan sebuah mangkuk dari batok kelapa kering yang berisi air dengan segulung kain kassa.


"Terima kasih Iyam." Ida mengambil mangkuk dan perban yang ada di tangan Maryam. Membasuh kakinya yang penuh dengan Noda lumpur dan darah.


"Kenapa tidak langsung ditutupi saja dengan kain kassa kakimu Da? Nanti kita masih melewati jalan dalam hutan."


"Nanti saja, ketika mau jalan. Nanti waktu wudhu susah aku harus membuka lagi."


"Ah ya ... Benar juga. Yasudah, kita istirahat dulu di dalam pondok, tadi pak Zain suruh istirahat bergantian," ajak Maryam.


"Kalau begitu aku temani di sini ya, tidak baik perempuan seperti kita duduk melamun di dalam hutan," Maryam kembali duduk di samping Ida.


"Boleh. ..."


"Da, dari awal kita berangkat, aku lihat kau banyak melamun. Apa kau menyesali keputusan ikut relawan PMI? Ah maaf bukan aku mau ikut campur, tapi tidak baik juga kalau terus - terusan membawa pikiran seperti itu, apalagi nanti kita akan melewati daerah-daerah hutan. Kau tahu sendiri kan orangtua kita bilang, tabu buat anak perempuan dengan beban pikiran masuk ke dalam hutan." Maryam mengutarakan rasa penasarannya terhadap Ida.


Ida tercenung mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan Maryam. Ia membenarkan nasehat Maryam. Dulu ketika amai mengajaknya mencari kayu bakar kehutan, amai juga selalu berpesan agar perbanyak membaca ayat suci, jangan melamun. Karena pikiran yang kosong adalah tempatnya setan.


"Kalau kau butuh teman cerita, cerita lah Da. Aku akan mendengarkan. Mungkin nanti bisa melepaskan sedikit beban yang ada di pikiranmu itu." Maryam menatap mata Ida.


Ida menatap Maryam, menimbang-nimbang apa yang disampaikan Maryam.


"Iya Yam, aku memang lagi banyak pikiran. Tapi aku tidak tahu harus dari mana memulai cerita." Seketika pertahanan Ida runtuh. Ia yang selama ini tak pernah memperlihatkan air matanya pada orang lain, hari ini tidak berlaku. Entah kenapa perkataan Maryam seolah membuka semua sakit yang ia simpan rapat dalam hatinya.

__ADS_1


"Mulai saja dari apa yang membuat kau memutuskan untuk ikut jadi relawan."


"Aah ... Iya ... Sebenarnya aku kabur dari rumah," jawab Ida lirih.


"Astagfirullah Ida ... Berarti tidak ada keluargamu yang tahu kalau kau sekarang sedang bersama kami?" Maryam terbelalak mendengar jawaban singkat Ida.


"Iya Yam. Aku sudah tidak tahu harus kemana. Aku dijodohkan nenekku dengan parewa [1] hanya karena pemuda itu anak saudagar kaya di kampung kami." Ida mulai terisak.


Entah dari mana kekuatan untuk mengeluarkan isi hatinya itu berasal. Ia merasa Maryam mampu membuat orang lain merasa nyaman dan mengungkapkan apa yang mereka rasakan.


Maryam tidak memberikan komentar apa-apa, ia hanya mendengarkan Ida mengisahkan kisahnya.


"Terima kasih Da, kau sudah percaya padaku. Aku tau, berat pasti buatmu untuk bercerita. Apalagi aku juga baru kau kenal."


"Aku yang terima kasih Yam, berasa ada beban yang terangkat setelah cerita. Benar kau bilang tadi."


"Itu gunanya teman, Da," balas Maryam sambil nyengir.


Beberapa meter dari tempat mereka duduk, diam-diam Rasyid ikut mendengarkan kisah Ida. Kini ia tau kenapa jiwa gadis itu tampak tidak berada di raganya. Terlalu banyak beban yang ia simpan dalam pikirannya.


Setelah semalaman saling bertukar cerita, Ida jadi tau kalau Maryam anak salah seorang pemuka adat di kampungnya. Pantas saja penampilan Maryam cukup necis untuk ukuran masa itu. Bahan pakaiannya pun tergolong bahan yang cukup mahal. Celana yang diberikannya pada Ida pun terbuat dari bahan drill yang sangat jarang dipakai rakyat biasa.


Pada awalnya orangtua Maryam menentang anaknya untuk ikut jadi relawan PMI. Mereka belum rela melepas anaknya yang dirawat dengan baik untuk mempertaruhkan nyawanya. Tapi Maryam bersikeras untuk ikut mendaftar, meyakinkan orangtuanya kalau menjadi relawan adalah tugas mulia. Orangtua Maryam akhirnya luluh dengan segala bujuk rayu anak gadisnya itu. Oleh karena itulah Maryam dibekali pakaian dan makanan yang memadai oleh orangtuanya.


Puas saling bertukar cerita, mereka dikalahkan juga oleh rasa penat dan kantuk. Ida pada akhirnya mengikuti ajakan Maryam untuk beristirahat di dalam gubuk karena tidak kuat juga menahan hawa dingin yang mulai menusuk tulang. Malam itu, untuk pertama kalinya Ida bisa tertidur dengan perasaan yang ringan.


*****


[1]Parewa \= pemuda yang tidak mematuhi tata krama, suka main Judi, main perempuan, dan mabuk-mabukan.

__ADS_1


__ADS_2