MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 21


__ADS_3

Langit mulai gelap, di beberapa tempat masih terlihat titik api yang berasal dari rumah penduduk yang terbakar. Sebagian bangunan yang terbakar masih mengepulkan asap. Jalanan dipenuhi penduduk yang mulai mengungsi menyelamatkan diri.


Truk berjalan lambat, ketika Ida memperhatikan mereka yang beriringan berjalan meninggalkan kota Bukittinggi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu.


"Tuan Syamsyir," panggil Ida.


"Ya?" Syamsyir yang telah menyandarkan kepalanya ke dinding truk terkejut dan menoleh pada Ida.


"Aku baru teringat sesuatu. Tadi katanya Tuan berdiri tak jauh dari rumah yang terkena bom. Bagaimana cara Tuan menyelamatkan diri?" tanya Ida menyelidik, mengingat fatalnya luka yang diakibatkan bom, namun luka yang di derita Syamsyir hanya di pelipis.


"Oh, tadi aku tidak bilang kalau bomnya tidak meledak ya?" tanya Syamsyir dengan senyum terkembang.


Ida menggeleng. Matanya tak lepas memandangi wajah pemuda yang ada di sampingnya. Masih heran kenapa pemuda itu bisa selamat dari ledakan bom.


"Bomnya jatuh mengenai bangunan rumah, tapi tidak meledak. Jadi aku hanya terkena reruntuhan bangunannya saja," lanjut Syamsyir.


"Ooh, syukur bomnya tidak meledak ya," ujar Ida sambil menghembuskan nafas lega.


"Iya. Kau senang aku melihat aku Selamat kan?" goda Syamsyir.


"Ya tentu saja aku senang, mana ada orang yang bahagia melihat temannya terluka sampai meninggal," sungut Ida.


"Haha iya ... Tapi bukan yang seperti itu yang aku maksud," tekan Syamsyir menggaruk kepalanya.


"Lalu yang seperti apa?" tanya Ida heran.


"Ah, kau memang tidak peka, Da!" sambar Rizal.


Ida mengernyitkan dahinya, tak paham apa yang dimaksud Rizal.


"Makanya aku bertanya. Bagian mana yang membuat aku kurang peka!" sungut Ida tak kalah sengit.


"Ah sudah, nanti kita mengganggu yang lain," lerai Syamsyir.


Ida akhirnya memilih untuk diam. Syamsyir dan Rizal pun kembali menyandarkan kepalanya ke dinding truk.


"Kemana tujuan kita?" tanya Ida kemudian.


"Ke Jirek," jawab salah seorang laskar yang duduk di seberang mereka.


"Lalu kenapa kita naik truk? Bukankah bisa jalan kaki saja ke Jirek?"


"Biar cepat saja, sekalian membawa barang-barang yang masih bisa dibawa dari markas," terang pria itu.


Ida mencoba melihat dengan jelas siapa yang ada di depan mereka. Cahaya matahari yang sudah sepenuhnya hilang membuat suasana di dalam truk gelap. Gagal mengenali wajah laskar yang duduk di depan mereka, Ida memilih diam dan menyandarkan tubuhnya ke dinding truk. Menenangkan sedikit ketegangan yang ia rasakan sedari pagi.


Tak lama berselang, mereka sampai di sebuah bangunan tua yang masih berdiri kokoh. Walaupun di sekitarnya terlihat porak poranda akibat serangan Belanda tadi pagi. Mereka yang berada di dalam truk langsung turun tanpa banyak komando.


"Ida!"


Ida menoleh, melihat siapa yang memanggilnya.


"Alhamdulillah, Yani! Kau selamat," pekik Ida berlari menyambut rekannya itu.


"Iya, tadi ada yang menarikku keluar dari markas ketika markas di Bom," ujar Yani.


"Kau terluka?" tanya Ida ketika melihat kemeja nya ada noda darah.

__ADS_1


"Tidak, ini darah bu Ima. Beliau tidak selamat." wajah Yani terlihat sedih.


"Innalillahi ...."


"Jasad beliau masih tertimpa reruntuhan markas, Da." Tangis Yani pecah.


Ida tak mampu berkata-kata. Saat seperti ini membuatnya teringat kembali peristiwa di Sicincin. Walaupun terbiasa menerima kabar kematian orang yang ia kenal, namun ia masih belum benar-benar mampu menyembuhkan hatinya akan kehilangan Maryam.


"Da, katanya kau hendak membersihkan lukaku," tegur Syamsyir.


"Ah ya. Kita ke sebelah sana saja ya," tunjuk Ida ke arah ruangan yang sudah ada penerangan.


"Yan, kau bawa peralatanmu? Tuan Rizal juga terluka. Sepertinya lukanya juga harus segera dibersihkan," ujar Ida pada Yani.


"Aku tidak bawa Da," balas Yani dengan wajah sedih.


"Oh, kalau begitu biar aku yang bersih kan nanti."


Dengan cekatan Ida membersihkan dan menjahit luka di pelipis Syamsyir.


"Terima kasih, Da," ujar Syamsyir.


Senyum terkembang dibibirnya, membuat matanya yang berbentuk almond menjadi sebentuk garis dengan lengkungan alis tebal yang menaunginya.


"Hei, sudah belum?" tegur Rizal.


"Sudah beres, Da?" tanya Syamsyir memastikan pada Ida.


"Sudah," jawab Ida singkat.


Ternyata luka Rizal cukup parah, ada luka menganga lebih besar di bahunya.


"Sedikit, tapi aku sudah terbiasa. Jadi tidak terlalu aku rasa-rasakan," balas Rizal.


Ida mulai menjahit luka Rizal, namun seketika terhenti ketika Rizal menjerit.


"Kau bilang tadi sudah terbiasa," seru Ida.


"Tapi ini sakit sekali!" jerit Rizal.


"Kau seperti gadis terluka saja, Zal," gelak Syamsyir.


"Iya, tadi Tuan Syamsyir aku jahit tidak seperti ini. Kau terlalu berlebihan," ejek Ida.


"Ya, karena Syamsyir ada penawarnya," balas Rizal.


"Oh iya? Apa?" tanya Ida heran.


"Ah susah memang bicara dengan orang yang tidak peka," gerutu Rizal.


"Aku bingung, dari tadi kau bilang aku tak peka. Bagian mana?" sungut Ida.


"Ah sudah! Mau sampai kapan lukamu itu akan dijahit," lerai Syamsyir.


"Nah, kau gigit ini saja ketika Ida menjahit lukamu!" Syamsyir memberikan sepotong kayu kecil pada Rizal.


Walaupun dengan sedikit menggerutu, Rizal menerima pemberian Syamsyir, menggigit potongan kayu itu. Beberapa kali ia memejamkan mata menahan sakit ketika jarum yang Ida gunakan untuk menjahit luka menusuk kulitnya.

__ADS_1


"Nah! Selesai! Kau coba cari pakaian yang bersih di dalam. Siapa tau ada yang masih punya pakaian bersih. Kemejamu sudah penuh darah," tutur Ida.


"Baik. Terima kasih Nona perawat," tukas Rizal tersenyum jenaka.


Malam itu petugas PMI yang hanya tinggal empat orang dibuat sibuk mengurus korban yang terluka.


"Kau istirahat dulu lah, Da," tegur Syamsyir ketika melihat Ida masih sibuk mengurus Tentara yang terluka.


"Belum selesai pekerjaan ku," tukas Ida.


"Tapi kau jangan memaksakan diri."


"Ya, nanti kalau semua sudah beres aku pasti istirahat."


Syamsyir pergi meninggalkan Ida. Melanjutkan tugasnya membenahi barang-barang yang mereka bawa dari Birugo.


Dua hari setelah mereka memindahkan markas, mereka diinstruksikan kembali untuk memindahkan markas ke arah pinggiran kota Bukittinggi karena Belanda telah berhasil menguasai Bukittinggi.


Pagi itu, ketika fajar mulai menyingsing. Mereka memulai mengangkut beberapa persediaan senjata yang masih tersisa ke dalam truk. Udara kota Bukittinggi yang dingin menusuk kulit, membuat Ida yang hanya mengenakan kemeja katun tipis, menggigil.


"Kau pakailah ini," ujar Syamsyir menyerahkan sebuah jaket berbahan wol tebal berwarna coklat.


Ida ragu-ragu mengambil jaket itu.


"Pakailah," paksa Syamsyir menyerahkan jaket itu ke tangan Ida.


Jaket dengan model seragam Tentara itu terasa berat di tangan Ida. Ketika ia mengenakannya, ia terkekeh.


"Kenapa?" tanya Syamsyir heran melihat Ida yang terkekeh setelah mengenakan jaket pemberiannya.


"Aku seperti toak-toak*," gelak Ida merentangkan tangannya.


Syamsyir terkesima melihat gadis yang jarang tersenyum itu memperlihatkan senyumnya. Dua lesung pipi menghias pipinya yang bulat. Dan mata sipitnya seperti menghilang ketika ia tersenyum. Syamsyir salah tingkah.


"Kau mirip boneka Jepang," kekehnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ida melongo.


"Apanya yang mirip boneka Jepang," protesnya lalu meninggalkan Syamsyir yang masih salah tingkah.


Proses pemindahan markas hari itu berjalan lancar walaupun di tengah gencarnya serangan pesawat Belanda. Truk yang mereka tumpangi berjalan perlahan ke arah Utara Bukittinggi.


Ida terkantuk-kantuk akibat sapuan udara pagi menerpa wajahnya. Perut yang belum diisi membuat rasa kantuk tak dapat ia tahankan lagi. Kepalanya terayun-ayun tatkala truk yang mereka tumpangi melewati jalan yang tidak rata.


Ia tersentak kaget, tatkala ban truk melindas lubang yang agak dalam. Kepalanya membentur kepala orang yang berada di sampingnya. Ia meringis mengusap keningnya yang terbentur.


"Maaf sakit ya?" Seringai Syamsyir.


"Kenapa kau yang ada di sini?" tanya Ida heran melihat Syamsyir yang ada di sampingnya. Padahal ketika berangkat, Yani lah yang ada di sampingnya.


"Yani pindah ke ujung, di sini terlalu dingin." Syamsyir menunjuk dengan dagunya ke bagian dalam truk.


Ida melihat Yani meringkuk di ujung dalam truk di antara tumpukan selimut.


"Kita dibawa kemana?" tanya Ida mengalahkan kecanggungan.


"Ke Palupuh," jawab Syamsyir singkat.

__ADS_1


Ida hanya mengangguk. Mencari bahan pembicaraan bukan keahliannya. Ia memilih untuk diam, menumpukan kepalanya kembali pada kotak perkakas besar yang ada di sampingnya, sampai akhirnya ia tertidur kembali.


*toak-toak \=orang-orangan sawah.


__ADS_2