MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 55


__ADS_3

Suara riuh penumpang yang baru turun ketika bis berhenti, membuat Ida terbangun. Ia masih berusaha mengumpulkan kesadarannya saat Laili menepuk pelan pundaknya, "Mak, sepertinya kita sudah sampai."


Ida mengerjapkan mata, melongok keluar jendela. Di luar belum terlalu terang, tetapi kesibukan terminal yang riuh, menandakan bahwa hari telah menjelang pagi. Mesin bis telah dimatikan, bau asap kenalpot yang masuk melalui jendela membuat Ida terbatuk.


"Sal, Ima ... Bangun," ujar Laili membangunkan kedua adiknya yang masih terlelap dengan penuh semangat. Seolah tak terganggu oleh suara riuh penumpang di terminal dan teriakan kernet yang sibuk menurunkan barang dari rak atas bis, mereka masih hanyut dalam lelapnya. Setelah Laili membangunkan beberapa kali, Ima terbangun terlebih dahulu, ia mengusap matanya kemudian tanpa banyak bicara, turun dari bis disusul Salma dengan muka masih terlihat mengantuk.


Udara pagi yang dingin di kota Bukittinggi menyambut, tatkala mereka turun dari bis. Ida memandangi sekeliling terminal. Telah banyak yang berubah dari kota itu. Tentu saja, waktu delapan tahun tak sebentar, banyak hal yang akan berubah. Namun kerinduan akan damai kota itu di hati Ida, tetaplah sama.


"Mak, kita mau kemana sekarang? Barang-barang sudah diturunkan." Suara Laili membuyarkan lamunan Ida.


"Oh ... Kita langsung ke stasiun saja, Li. Naik kereta pagi ini ke Payakumbuh," sahut Ida. "Mari kita cari bendi," ajaknya.


"Lalu ke kampungnya kapan, Mak?" tanya Laili kembali.


"Kita temui maktuomu dulu, tanya pendapatnya. Dia itu bako[1] mu, saudara terdekat yang kita punya sekarang. Sabar sedikit, kalau jodohmu memang si Basri, jalannya akan lancar," kekeh Ida menggoda Laili.


"Ah, amak ... Bukan begitu maksudku," sahut Laili tersipu.


Bendi meluncur meninggalkan terminal. Bunyi kelotak ladam dan kerincingan besi pada tali kendali kuda, membelah kesunyian pagi, meninggalkan riuh suara penumpang yang ada di terminal, membawa mereka menuju stasiun.


Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, stasiun hari itu tampak sepi. "Kebanyakan penumpang sudah banyak beralih naik Oto [2] karena lebih cepat sampainya," ujar penjaga stasiun ketika Ida menanyakan kenapa stasiun tidak seramai yang ia ingat.


Terlalu banyak yang berubah dari kota itu. Tepi rel yang dulu sepi, sudah mulai banyak dibangun rumah-rumah yang berjejer. Tak lama setelah mereka duduk di dalam gerbong, lokomotif tua itu mulai bergerak pelan meninggalkan stasiun diiringi bunyi peluit yang memekik pilu. Laili, Fatimah dan Salma pun kembali tertidur ketika sepur tua itu bergerak menjauh.


Ida masih terjaga, memandangi wajah letih anak-anaknya yang sedang tertidur. Pikirannya sibuk memikirkan bagaimana reaksi ni Midah, kakak iparnya, setelah sekian tahun ia pergi meninggalkan Ranah Minang tanpa kabar. Ia baru menyadari, selama di Pematang Siantar, tak sekali pun ia memberi kabar pada kakak iparnya itu, bahkan ketika berangkat pun ia lupa berpamitan karena telah dibutakan harapan akan kehidupan yang lebih layak untuk anak-anaknya.


Perasaian hidup selama merantau membuat Ida tak mampu hanya untuk sekadar berkirim surat pada kakak iparnya itu. Rasa khawatir mulai menjalari perasaannya, bagaimana jika nanti kakak iparnya berubah karena kecewa terhadapnya. Apa yang harus ia katakan pada ni Midah nanti ketika bertemu, setelah sekian tahun menghilang.


Ida mencoba mengalihkan perhatiannya keluar jendela, memandang ke arah gunung Marapi yang tampak membiru, seakan memanggil untuk kembali ke tanah kelahirannya yang terletak di kaki gunung itu. Sebait nyanyian rindu seolah dialunkan oleh desisan mesin lokomotif dan roda yang menggesek rel. Teringat olehnya wajah amai memanggil di sana.


"Amai, Ida benar-benar rindu," rintihnya dalam lamunan.


Setelah melewati beberapa stasiun, kereta mulai melambat, rumah-rumah di pinggir rel yang tadinya tampak berkejar-kejaran terlihat makin jelas. Makin mendekati stasiun, jantung Ida mulai berdetak tak beraturan. Apakah gerangan nanti yang akan ia temui di kota itu setelah sekian lama tak menjejakkan kakinya di sana. Apakah ia akan mampu berdamai dengan segala kenangan yang telah ia tinggalkan sekian tahun itu, ataukah perasaannya masih akan tetap sama?


Payakumbuh tak begitu banyak berubah, hanya beberapa bangunan yang terlihat baru berdiri di beberapa tempat menuju jalan ke arah rumah yang ia tempati dulu. Cuacanya juga masih sama, udaranya menguarkan kembali kenangan yang hampir terkubur dalam hati Ida.


Ketika mereka sampai, rumah dan sekelilingnya tampak sepi. Ragu-ragu Ida hendak mengetuk pintu.


"Apakah maktuo masih tinggal di sini, Mak?" tanya Laili yang tampak sama tak yakinnya dengan Ida, "rumahnya sepi sekali, seperti tak berpenghuni. Bagaimana kalau maktuo sudah tidak di sini?"


"Coba kau ketuk saja, Li. Siapa tau maktuo-mu sedang di belakang," ujar Ida. Ia lalu duduk di anak tangga kedua dari bawah bersama Salma. Baru terasa penatnya setelah sekian jam berkendara. Ia selonjorkan kakinya untuk sekedar melemaskan ototnya yang terasa kaku.

__ADS_1


Ida masih memperhatikan keadaan sekitar rumah yang tampak sepi ketika pintu rumah dibuka. Sekonyong-konyong Laili dan Fatimah berteriak diiringi tangis mereka yang pecah.


"Abaaak!!!" teriak mereka menghambur pada sosok yang membukakan pintu.


Seolah tak mempercayai pendengarannya, Ida memalingkan wajahnya ke arah atas tangga. Di sana, di ujung tangga itu, berdiri sesosok pria yang juga tengah menangis bersama anak-anaknya. Pria yang selama ini selalu ia harapkan untuk bertemu kembali. Namun, kenyataan yang terpampang di depan matanya seolah sukar untuk ia cerna. Ia dan Salma masih bergeming di ujung tangga bawah. Salma yang tak begitu mengingat sosok abaknya, ikut berdiri mematung bersama Ida.


"Da, kenapa kau masih diam saja di sana?" sapa Burhan di sela isak tangisnya.


Salma mendongak menunggu reaksi Ida.


"Itu Salma kah?" tanya Burhan menyongsong dua perempuan yang masih diam di ujung tangga bawah.


Tampilan Burhan telah banyak berubah, rambut ikal tebalnya yang dulu hitam dan selalu tersisir rapi tampak mulai ditumbuhi rambut putih berantakan. Wajahnya yang dulu selalu ceria dan tersenyum jenaka, berubah kuyu. Kulit wajahnya mulai kendur, lesung pipi yang dulu menjejak dalam di pipi kirinya ketika ia tersenyum, hanya tampak seperti garis panjang yang menambah kerut di pipinya yang telah tirus. Matanya yang dulu selalu menatap Ida tajam, tampak cekung penuh beban.


"Tuan dari mana saja?" Akhirnya Ida mampu mengeluarkan suaranya yang sedari tadi tercekat.


"Kau juga dari mana saja, Da? Lelah sudah aku mencarimu." Burhan balik bertanya. "Marilah masuk dulu," ajak Burhan menarik tangan Ida menaiki tangga.


Seperti kerbau dicucuk hidung, Ida mengikuti saja ketika Burhan menggiringnya ke dalam rumah, otaknya masih saja belum mampu mencerna pertemuan itu.


"Salma lupa sama abak ya, Nak?" tanya Burhan dengan suara sengau bergetar.


"Jadi Tuan selama ini kemana?" tanya ida ketika sedu sedan kedua anaknya sudah mulai reda.


Entah kenapa ada rasa canggung yang tercipta. Walaupun Burhan masih mengisi ruang di hatinya, namun waktu seakan membuat jarak diantara mereka. Ruang kosong yang diciptakan oleh rentang waktu, seakan membuat mereka menjadi dua orang asing yang baru saja bertemu.


"Ceritakanlah, Tuan. Apa yang terjadi pada Tuan selama ini. Kenapa. Tuan sampai tak tau jalan pulang," pinta Ida.


"Ah, bukan aku tak tau jalan pulang, Da. Perasaian hidupku setelah perahu terbalik itu membuatku terpisah dengan kalian ... Aku ikut hanyut terbawa arus. Ada yang menyelamatkan ku ketika terseret arus ... Membawa ku ke Bengkalis ...." Tatapan Burhan menerawang.


"Ternyata orang yang membawaku sedang dicari polisi. Ketika mereka tertangkap, aku pun ikut terbawa. Dua tahun aku menjalani jadi pesakitan di dalam bui. Tak ada kesempatan membela diri ... Begitu dibebaskan, aku tak punya sepeserpun uang untuk kembali, terpaksalah aku harus terlunta-lunta di sana mencari pekerjaan agar bisa mendapatkan biaya untuk pulang."


Jeda, airmata Burhan kembali menggenang, bibirnya bergetar. Dipandanginya satu-satu wajah anak-anak yang telah berpisah dengannya selama sepuluh tahun itu, bergantian memandangi wajah perempuan yang telah melahirkan anak-anaknya.


Ida pun tak mampu berkata-kata. Ternyata kehidupan Burhan juga tak jauh beda dengannya, terpaksa harus menanggung hidup sengsara.


"Tiap hari pikiranku tak lepas dari kalian, berat terasa di hatiku menanggung rindu. Apalah lagi ingat akan amak, risau hatiku. Aku tak bisa menyelamatkan beliau, setiap hari aku berdoa agar amak selamat. Tapi ternyata, baru aku tau, hanya aku sendiri yang selamat .... "


Dada Ida kembali sesak, teringat wajah mak Halimah terakhir kali. Teringat bagaimana dulu ia menunggu kabar berita suaminya yang tak kunjung datang. Kini orang yang dinanti sekian tahun telah ada di hadapannya. Namun jarak yang ia rasakan entah kenapa tiba-tiba begitu jauh.


"Siapa yang datang, Tuan?" suara perempuan dari lorong arah dapur mengejutkan mereka.

__ADS_1


Darah Ida mendadak terasa beku dan bibirnya terasa kelu ketika melihat wajah perempuan yang baru saja masuk.


"Ana?" tanya Ida seolah meminta penjelasan pada Burhan.


"Darimana kau datang?" tuding Ana pada Ida. "Kenapa kau kembali lagi?"


"Tuan, kenapa ada Ana di rumah ini? Apakah sangkaanku dulu terjadi?" tanya Ida lirih seolah tak mempercayai apa yang ia lihat.


Belum sempat Burhan membuka suara, Ana kembali bersuara, "Aku dan Tuan Burhan sudah menikah, tolong jangan ganggu kami dengan cerita masa lalumu itu," ketus Ana. Wajahnya tampak tak bersahabat, jelas hawa permusuhan terjejak di wajahnya.


"Ana, aku minta waktu sebentar. Kau tidak usah ikut campur dulu," bentak Burhan.


"Oh, sekarang Tuan bisa berkata demikian. Kemarin Tuan seperti orang hilang akal, aku yang mengurusi." Nada suara Ana makin meninggi, mukanya merah padam.


"Ana, aku minta sedikit pengertianmu ... Mereka ini anak-anakku, darah dagingku," gerung Burhan gusar.


Ida dan anak-anaknya hanya terpaku menatap pertengkaran Burhan dan Ana. Jelas tergurat rasa kecewa di wajah-wajah letih mereka. Apalagi Ida, pria yang selama ini tak pernah lepas dari hatinya, ternyata telah mendapatkan pengganti dirinya.


"Ya! Perbuat lah sesuka hati Tuan!" Ana meninggalkan mereka dengan wajah penuh amarah.


"Kau tak perlu risau, Na. Aku ke sini tak hendak merebut suamimu. Aku bukan perempuan yang senang mengganggu rumah tangga orang. Maksud hatiku datang ke sini hanya ingin memberi tahu maktuonya kalau Laili akan menikah. Tak pernah aku menyangkakan abaknya telah kembali," ujar Ida menatap Ana dingin.


"Kau hendak menyindirku?" Ana berbalik menatap Ida, mukanya makin merah.


"Itu kan hanya sangkakan mu saja," sahut Ida tak acuh.


"Ana, tolong kau mengerti sedikit saja," pinta Burhan menengahi pertengkaran kedua istrinya.


Hati Ida seolah tercabik dalam ke tidak berdayaan. Disaat hatinya mulai menghangat ketika pelita yang dulu pernah padam kembali menyala, disaat itu pula pelita itu harus kembali padam. Pun Laili dan Fatimah yang menyaksikan adegan pertengkaran tiga orang dewasa di hadapan mereka, seolah berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.


Ingin rasanya Ida berlalu dari pertengkaran dua insan yang kini telah menjadi suami istri itu. Pikirannya terasa kosong, tetapi ia berusaha menguatkan hati untuk menyampaikan maksudnya pada Midah, Ida harus menunggu sampai bertemu dengan ni Midah.


Wahai waktu, kenapa kau menciptakan ruang kosong dalam hati yang memaksa untuk diisi. Kenapa tak kau biarkan saja ruang itu kosong hingga pemiliknya kembali. Wahai hati, kenapa kau membiarkan pintumu terbuka untuk di tempati oleh hati yang lain. Tak ingatkah kau satu hati yang nantinya akan terluka jika ia meminta tempatnya kembali?


___________________________________________


Catatan :


[1] Bako \=keluarga ayah.


[2] Oto \= Mobil

__ADS_1


__ADS_2