MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 58


__ADS_3

Tak ada yang mampu menerka takdir, Ida kembali harus dihadapkan pada kehidupan yang masih saja belum memihak padanya. Menjalani hidup di Bukittinggi sama beratnya ketika ia menjalani hari-hari sulit di Siantar. Apalagi Salma, ia juga mengalami masa-masa berat beradaptasi dengan lingkungan barunya. Salma yang dibesarkan di tanah Batak, membuat logat dan bahasanya terasa asing bagi teman-teman barunya. Ia merasa seolah tak diterima di sekolahnya. Hampir setiap hari Salma mengalami perundundungan, membuat Fatimah yang selalu menjaga Salma, dengan sifatnya agak temperamental sering bertengkar dengan mereka yang suka melakukan perundundungan.


Tak jarang, ketika membela Salma, Fatimah membuat teman-teman Salma sampai terluka, akibatnya Ida sampai harus menanggung pengobatan untuk teman-teman Salma.


"Amak tau kau berniat baik membela adikmu, tapi kau ingat kondisi amak, Nak. Kalau kau terus-terusan membuat anak orang lain terluka, bisa-bisa uang amak hanya habis untuk membiayai pengobatan orang lain saja, habislah untuk hidup kita," omel Ida.


"Maafkan aku Mak ...." sesal Fatimah.


"Ada saja yang harus aku hadapi, Tuhan. Kuatkan aku agar mampu bertahan dengan situasi ini," desah Ida.


***


Pedagang di pasar bawah mulai mengemasi dagangannya karena matahari telah condong ke Barat, begitu pun dengan Ida, saat Midah datang mengunjungi lapak tempat ia menggelar dagangannya.


"Sudah mau pulang kau, Da?" sapanya.


"Eh Uni ... Uni hari ini tidak ke pakan Padang Luar?" sahut Ida terkejut mendapati Midah mengunjunginya.


"Aku baru pulang, ada Fikar ikut serta. Jadi aku ke sini."


Selesai mengemasi dagangannya, mereka berjalan beriringan ke tempat tinggal Ida. Midah terperangah melihat keadaan rumah yang ditempati Ida. Sebuah ruangan dengan ukuran tiga kali tiga, yang menempel ke sisi dinding rumah yang menyewakannya. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang tampak sudah sangat tua.


Pintunya berderit seolah berteriak tatkala Ida membukanya. Seketika udara pengap menguar begitu mereka masuk ke ruangan yang hampir tak bisa di katakan sebuah rumah itu. Tak ada ruangan lain, selain satu ruangan dengan tumpukan alat-alat masak pada bagian sisi kiri pintu, yang tampaknya juga berfungsi sebagai dapur. Di bagian sudut ruangan itu terdapat sebuah kasur tipis yang di hamparkan begitu saja diatas lantai yang terbuat dari bambu.


"Kenapa kau malah tinggal di tempat seperti ini, Da? Rumah di kampung kau biarkan kosong. Kau malah tinggal di tempat yang tak layak seperti ini," desah Midah.


"Aku masih belum bisa bersikap acuh terhadap omongan orang di kampung, Uni. Lagipula, susah juga aku kalau setiap hari harus bolak balik berjualan ke Bukittinggi dari sana."

__ADS_1


"Kau tinggal bersamaku saja, Da. Tak tahan hatiku melihat keadaanmu seperti ini."


"Aku juga tak tahan dengan mulut si Ana. Padahal aku sudah meminta Tuan membuatkan surat cerai untukku biar istri mudanya itu tidak meradang terus setiap kali aku mengunjungi Uni. Tapi Tuan masih saja belum mengurusnya."


"Sebenarnya Burhan sudah tak tahan bersama Ana, Da. Kau tak lihat perubahan Burhan sekarang, sudah seperti mayat berjalan saja. Sudah tak seceria dulu. Aku juga yang salah, kenapa dulu aku terima saja Ana datang ke rumah berkilah mengurus Burhan yang lagi sakit," kenang Midah.


"Tak perlu disesalkan lah Uni, nasi sudah jadi bubur. Kita jalani saja apa yang sudah digariskan."


Setitik rasa perih Ida rasakan saat mendengar cerita dari Midah. Betapa takdir telah memutar balikkan semua yang ada pada mereka. Walaupun masih ada sedikit rasa peduli di hatinya terhadap Burhan, akan tetapi mengingat perkataan pria itu yang pernah mengatakan berat untuk melepas Ana karena telah merasa berhutang budi, membuat ia lebih memilih untuk menjalani hari hanya bersama anak-anaknya.


***


Tiga tahun menjalani hidup di Bukittinggi, Fatimah pun akhirnya menemukan pria yang mampu mengikat hatinya.


Seperti halnya Laili, Ida memilih membiarkan Fatimah menjalani kehidupan berumah tangga berdua dengan suaminya. Ia tak mau ikut tinggal bersama Fatimah. Tinggallah Ida bersama Salma. Tempat tinggal mereka yang biasa selalu ramai dengan celoteh Salma dan Fatimah mulai terasa sepi.


***


"Mak, aku lulus!" teriak Salma yang berlari kecil menghampiri lapak tempat Ida berjualan di pasar bawah Bukittinggi.


Selembaran kertas diunjukkannya pada Ida. Tangis Ida pecah, ia mengucapkan syukur berkali-kali dan menyungkur bersujud setelah membaca tulisan yang tertera pada kertas itu. Salma lulus dengan nilai yang sangat memuaskan. Ia tau, perjuangan Salma tak mudah untuk menyelesaikan pendidikannya. Entah berapa kali Salma terancam dikeluarkan dari sekolah karena terlambat membayar uang sekolah. Pada akhirnya Midah yang selalu turun tangan untuk membantu.


Sementara abaknya—Burhan — tidak bisa membantu keuangan mereka sama sekali. Ana memegang kendali penuh terhadap keuangan keluarga mereka. Bahkan Ana juga seringkali tak mengizinkan anak-anaknya bertemu dengan Burhan. Ida merasa bersyukur anak-anaknya dulu tak membiarkan abaknya untuk kembali bersama mereka. Jika dulu ia kembali bersama mantan suaminya, sudah barang tentu Ana akan jadi mimpi terburuknya.


"Alhamdulillah, Nak. Semoga setelah ini kau bisa mendapatkan pekerjaan sesuai keinginanmu, ya," harap Ida.


"Aku minta restu ya, Mak. Aku hendak ke Padang mencari kerja. Di sini masih agak sulit lapangan pekerjaan," pinta Salma.

__ADS_1


"Amak hanya bisa memberi doa, Sal. Kau di Padang nanti tinggal dimana? Bagaimana biaya hidupmu?" tanya Ida khawatir.


"Tak perlu amak risaukan. Vivi mengajakku tinggal di rumah neneknya di Indarung."


Vivi, teman Salma semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah, anak keluarga berada yang kampungnya juga terletak di kaki gunung Marapi. Wajah mereka mirip, banyak yang menyangka mereka saudara. Vivi sering membantu Salma ketika ia kesulitan keuangan, sementara Salma sering membantu Vivi dalam hal pelajaran.


"Apa nanti tidak akan menyusahkan Sal? Tak enak menunmpang hidup dengan orang lain," tanya Ida khawatir. Ia tak ingin anaknya merasakan perihnya bergantung hidup dengan orang lain.


"Insya Allah tidak, Mak. Neneknya juga yang memintaku untuk tinggal di sana."


"Ah ... Ya, kau pandai-pandai membawa diri di tempat orang ya. Kapan kau berangkat?"


"Siang ini. Aku pamit sekarang ya." Salma menyalami amaknya.


"Kau berhati-hati ya Sal. Kalau kau belum bisa pulang, beri kabarlah amak dengan surat ya," pint Ida.


"Iya, Mak. Aku jalan dulu." Salma kembali berjalan tergesa meninggalkan lapak Ida.


Meninggalkan amaknya yang terpaku memandangi punggung Salma yang menjauh. Menyisakan segurat rasa yang membuat mata Ida memanas. Sampai juga masanya ia akan tinggal seorang diri, melepas anak-anaknya satu persatu menyongsong masa depan mereka. Rentetan perjuangannya ketika membesarkan anak-anak seketika muncul begitu saja, teringat bagaimana dulu ia sempat berputus asa dengan kehidupannya dan anak-anak.


"Neneek," teriak suara gadis kecil berpipi montok berlari ke arah lapak, membuyarkan lamunan Ida.


"Sesiil, hati-hati jalannya becek!" Terdengar teriakan Fatimah di belakang gadis kecil itu. Sesil anak pertama Fatimah, gadis bermata bulat dengan pipi montok. Membuat Ida teringat wajah Fatimah ketika kecil dulu.


Rasa sedih yang tadi sempat hinggap terhapus begitu saja saat Sesil cucunya datang menghambur ke tempatnya. Waktu benar-benar berlari begitu saja. Masih segar dalam ingatannya tatkala melihat Fatimah berlari-lari kecil bersama abaknya dulu, sekarang ia telah menjadi seorang ibu.


Rasa syukur kembali ia ucapkan dalam hati. Walaupun ia belum mampu mengantarkan anak-anaknya menjadi orang sukses setidaknya ia bisa melepas anak-anaknya sampai menemukan kehidupan barunya.

__ADS_1


Ia berharap, Salma juga akan mencapai cita-citanya. Entah bagaimana cara Tuhan akan mewujudkan. Ida hanya mampu mendoakan agar jalan anak-anaknya selalu menjadi lebih baik dari hidupnya dulu.


__ADS_2