MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 53


__ADS_3

"Amak hari ini tidak ke pasar?" tanya Laili saat melihat Ida masih sibuk di dapur.


"Tidak, mulai hari ini amak mau berjualan bubur saja di depan," sahut Ida menyembunyikan perasaan resahnya.


"Kenapa?" tanya Laili merasa ada yang ganjil dari sikap amaknya.


"Amak hanya ingin mencoba memulai usaha sendiri, siapa tau kita bisa lebih cepat mengumpulkan uang untuk pulang kampung." Ida berusaha menyembunyikan perasaan di balik senyumnya.


"Iya, aku rindu kampung, Mak." mata Laili menerawang.


"Kau hendak berangkat sekarang?" tanya Ida melihat Laili sudah berpakaian rapi.


"Iya, aku berangkat ya, Mak." Laili mencium tangan Ida.


"Iya, Hati-hati di jalan, jangan lupa berdoa."


"Iya, Mak." Laili berlalu dari hadapan Ida, tak lama Fatimah dan Salma juga datang menghampiri untuk berpamitan.


Setelah semua anak-anaknya berangkat sekolah. Sepi menyergap, Ida kembali merenung. Kesalahan apa yang telah ia perbuat sehingga Tuhan seolah tak bosan memberinya cobaan. Hantaman demi hantaman yang bertubi-tubi membuat hatinya mulai merapuh. Entah sampai kapan ia akan kuat bertahan melalui semua permasalahan hidupnya. Airmatanya seolah telah mengering, walau hatinya merasakan perih teramat sangat, ia sudah tidak sanggup lagi menangis.


Ida bergegas mempersiapkan dagangan yang akan ia jual. Tak ada waktu untuk meratapi nasib, waktu tak akan mau menunggunya berlama-lama berkemul duka. Begitu keluar rumah, ia berpapasan dengan tetangganya, "Uni, sampeyan mau kemana bawa-bawa panci besar begitu?" sapa Ningrum dengan logat Jawa yang masih kental.


"Aku mau berjualan bubur Ning," sahut Ida tersenyum tipis.


"Sampeyan mau berjualan kemana?" Ningrum menjejeri langkah Ida. Bakul jamu yang tersampir di punggung membuat Ningrum sedikit membungkuk menahan bebannya.


"Paling ke pasar, Ning."


"Ke Martoba saja, Uni. Di sana ramai pekerja proyek. Ini aku mau berjualan ke sana juga. Mau bareng?"


"Oh, mau Ning. Terima kasih ya," ucap Ida dengan wajah berbinar. Setitik harapan mulai ia rasakan. Semoga usahanya hari itu bisa membuahkan hasil yang tidak mengecewakan.


Sesampainya di tempat yang dimaksud Ningrum, terlihat para pekerja proyek telah merubungi beberapa orang penjual makanan.


"Jamu, Mas ...." teriak Ningrum dengan suara mendayu.


"Eh Ning, siapa itu bersamamu?" tegur salah seorang pekerja.


"Oh iya, ini tetanggaku, dia jualan bubur. Monggo yang mau sarapan," sahut Ningrum memperkenalkan Ida.


Lagi-lagi, Ida yang canggung di keramaian membuat lidahnya kelu. Ia tak pandai bermanis-manis menjajakan dagangan layaknya Ningrum.


"Uni, mbok ya pasang wajah manis meladeni pembeli," tegur Ningrum saat melihat Ida masih memasang wajah datar ketika menyendokkan bubur untuk pembelinya.


"Ah ... Iya Ning, aku kurang bisa seperti itu," bisik Ida setelah pembelinya menjauh.


"Senyum saja uni, seperti ini," ujar Ningrum memamerkan senyum manis.


"Iya ... Seperti ini, ya?" Ida menirukan.


"Aduh, Uni ini. Kalau dipaksakan seperti itu, jadinya malah seram," protes Ningrum.


"Aduh, Ning. Aku bingung," rutuk Ida.


"Ya ndak usah dipaksakanlah kalau begitu, nanti juga akan terbiasa." Ningrum menyerah.


Matahari mulai meninggi, dagangan Ida belum semuanya habis. Sementara para pekerja sudah mulai meninggalkan tempat mereka menjajakan dagangannya. Suasana sekitar sudah mulai sepi, hanya beberapa orang yang berlalu lalang, itu pun tak ada yang memperlihatkan minatnya untuk membeli dagangan Ida.


Peluh mulai membanjiri kening Ida, beruntung tempat ia menunggu pembeli, berada di bawah pohon yang rindang, sehingga teriknya matahari tak terasa begitu membakar.


"Uni, aku mau berkeliling. Uni mau ikut?" tanya Ningrum sambil mengemasi gelas-gelas bekas minuman pembelinya.


"Boleh, Ning?"


"Ya tentu saja boleh, dagangan sampeyan belum habis semua, toh?"


"Iya, masih banyak sisa."


"Tapi sampeyan kuat ndak bawa panci segitu besar keliling?"


"Ya sampai mana kuatnya saja Ning. Kalau sudah tidak kuat, aku istirahat dulu."

__ADS_1


"Ayo kalau begitu, nanti terlalu panas," ajak Ningrum sambil mengikatkannya jarik penahan bakul jamunya di dada.


Sepanjang hari itu Ida berkeliling menjajakan dagangannya, berharap masih ada yang tertarik hendak membeli. Namun, sampai azan zuhur berkumandang, sisa dagangannya tak mengalami perubahan.


"Uni, sampeyan istirahat dulu saja, mukanya sudah pucat," tegur Ningrum.


"Aku mau ke masjid saja Ning, mau shalat dulu. Kau duluan saja jalan."


"Ndak apa-apa aku tinggal?" tanya perempuan berkulit hitam manis itu.


"Tidak apa-apa Ning, aku belum terbiasa berjalan jauh dengan beban seperti ini."


"Ya sudah, uni ndak usah maksa jalan kalau belum terlalu segar ya. Maaf aku ndak bisa temenin, daganganku juga belum habis," ujar Ningrum dengan wajah khawatir.


"Iya, Ning. Terima kasih sudah mengajakku ke sini."


"Iya, jangan patah semangat ya. Dagangan ndak habis itu hal yang biasa kalau kita jualan," bubur Ningrum menepuk bahu Ida pelan.


Ida hanya mengangguk dan tersenyum tipis, lalu berpisah dengan Ningrum yang melanjutkan menjajakan jamunya.


Setelah sedikit merasa segar, Ida melanjutkan langkahnya berkeliling. Sampai menjelang ashar, hanya beberapa orang saja yang membeli dagangannya. Akhirnya Ida memutuskan untuk pulang, ia khawatir terlalu sore sampai di rumah.


Salma kembali menyambut Ida di ujung gang, berlari-lari kecil dengan wajah gembira.


"Amak sudah kembali?"


"Iya, Salma sudah lama menunggu amak?"


"Tidak juga, aku baru saja beres mandi lalu keluar menunggu Amak pulang."


"Unimu ada di rumah?"


"Uni Laili tadi siang pergi ke rumah Ibu Tiur untuk menyetrika. Uni Ima juga tadi sebelum ashar pergi, tapi aku tak tau kemana."


"Jadi Salma sendirian saja dari tadi?"


"Iya ... Amak lelah?"


Badan Ida terasa remuk begitu ia sampai di rumah. Kaki yang berjalan sepanjang hari seperti digantungkan beban berat, tapi ia tak boleh menyerah, ini baru awal dari perjuangan sesungguhnya.


***


Tiga bulan berlalu, kondisi ekonomi mereka masih belum membaik, malah sebaliknya makin memburuk. Uang sekolah anak-anak mulai tak mampu Ida bayar.


"Mak, aku berhenti saja sekolah biar bisa membantu Amak mencari uang, biar kita bisa cepat kembali ke kampung," ujar Laili ketika ia membantu Ida di dapur.


Ida tersentak, memandangi wajah Laili lama. Tak sampai hatinya kalau anak-anak harus berhenti sekolah. Tapi kenyataannya ia juga tak mampu membiayai sekolah ketiga anak-anaknya.


"Sebentar lagi sudah mau ujian kelulusan, apa tak sayang kalau berhenti sekarang?" tanya Ida.


"Uang sekolahku sudah tiga bulan tidak dibayar, Mak. Aku juga tidak bisa ikut ujian kalau belum bayar uang sekolah. Fatimah dan Salma juga butuh biaya," sahut Laili dengan wajah sedih.


Ida menarik nafas berat, ini merupakan keputusan sulit baginya. Ada sesal yang membuncah di hatinya. Andai dulu ia tak menyetujui usulan mamaknya untuk datang ke Pematang Siantar, apa mungkin kehidupannya akan lebih baik dari sekarang. Tapi sesal tak akan mengubah hidupnya. Ia tetap harus berhadapan dengan kenyataan sulit untuk membiarkan Laili putus sekolah.


"Aku juga tidak terlalu menyukai sekolah, nanti malah hanya membuang-buang uang. Biar Salma saja yang sekolah," lanjut Laili.


"Sebenarnya berat hati amak Li. Amak ingin kalian bisa terus bersekolah. Ketika dulu memutuskan untuk pindah ke sini, amak pikir kehidupan kita bisa lebih baik dari di kampung ...." Ida mengusap ujung matanya.


"Maafkan ... Amak malah membuat kalian makin menderita ...." Ida berusaha sekuat tenaga menahan cairan hangat yang mulai mendesak keluar dari matanya.


"Iya Mak, mungkin memang sudah begini jalannya, Mak."


"Mak ...." Salma memeluk Ida dengan airmata yang telah membasahi pipinya, disusul Fatimah.


"Kalian kenapa?" tanya Ida.


"Kalau biaya sekolah kami membuat Amak susah, biar kami berhenti saja sekolah, Mak," kata Fatimah.


"Biar aku dan uni membantu Amak mencari uang. Aku ingin kembali ke Payakumbuh," isak Fatimah.


"Kau lanjut saja sekolah Sal, sayang kalau kau berhenti, nilai sekolahmu selalu bagus," ujar Laili di sela isak tangisnya.

__ADS_1


"Iya, biar kami yang membantu amak. Lagipula kau masih kecil," timpal Fatimah.


"Aku nanti ikut membantu berjualan sepulang sekolah saja, aku memang tetap ingin sekolah," sahut Salma lirih.


"Lagipula, Ibu Mauli sudah membantu membayarkan uang sekolahku. Amak tak perlu risau," lanjut Salma.


Karena tak ada jalan lain, akhirnya Ida dengan berat hati menerima keputusan Laili dan Fatimah untuk berhenti sekolah. Perasaan bersalah yang ia rasakan makin menghimpit, namun ia juga tak mampu memaksakan diri untuk terus menyekolahkan anak-anaknya.


Setelah mendengarkan keinginan anak-anaknya untuk kembali ke kampung, Ida mulai mengumpulkan sedikit demi sedikit untuk biaya mereka pulang.


***


Sore hari ketika Ida baru pulang berjualan, langit sudah terlihat gelap, awan berat telah bergerak malas ketika angin bertiup dengan sangat kencangnya. Ida berjalan pulang menenteng keranjang besar tempat ia memuat dagangannya. Hari itu ia sangat bersyukur, dagangannya habis semua, ia bisa menyisihkan sedikit keuntungan untuk biaya keberangkatan mereka pulang kampung.


Baru setengah perjalanan pulang, sebuah mobil jeep putih berhenti di sisi jalan di hadapan Ida.


"Da! Ayo aku antar pulang," teriak pria yang sedang berada di belakang kemudi. Pria itu turun tergesa dari mobil dan mendekati Ida.


"Ah tidak usah Tuan, aku pulang sendiri saja," tolak Ida. Tidak seperti sebelumnya, kali ini Ida mulai mampu menguasai perasaannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan, jika kau tak keberatan kita bicara sambil jalan," ujar Syamsyir.


"Tidak bisakah dibicarakan di sini saja?"


"Tidak. Sekali ini saja, ya," pinta Syamsyir.


Ida menatap Syamsyir, wajahnya tak seperti biasa. Ada kerutan dalam di keningnya seperti memikirkan sesuatu. Rasa penasaran membuatnya mengikuti Syamsyir untuk masuk ke mobil. Syamsyir meletakkan keranjang besar tempat Ida memuat dagangannya ke bagian belakang mobil.


Hening menguasai perjalanan mereka, Ida hanya memainkan jarinya untuk menghilangkan kecanggungan. Sementara Syamsyir mengetuk-ngetukkan jarinya pada kemudi.


"Tuan hendak bicara apa?" Akhirnya Ida memulai pembicaraan, ia mulai jengah dengan hening yang tercipta.


Syamsyir menoleh pada Ida, lalu memalingkan kembali pandangannya ke arah jalanan. Setelah menarik napas panjang, akhirnya ia bersuara, "Kau mau menikah denganku tidak, Da?"


Ida menoleh pada Syamsyir seolah tak mempercayai pendengarannya.


"Sekarang kau dan aku sudah sama-sama sendiri, apa tidak ada kesempatan untuk kita kembali menyambung hubungan kita ...."


"Maaf Tuan, aku tidak bisa," potong Ida.


"Saat ini sudah tidak ada tempat lagi di hatiku untuk menjalin hubungan baru. Lagipula, anak-anakku belum tentu setuju tempat ayah mereka digantikan," lanjut Ida.


"Kau masih belum berubah ya, Da. Sikapmu masih tegas seperti dulu," gelak Syamsyir seolah mengusir kegundahan hatinya.


Ida hanya diam. Ia juga tak mempercayai bahwa kalimat itu meluncur begitu saja dari bibirnya.


Kembali Syamsyir menarik napas berat.


"Tapi apa tak tepikir olehmu untuk memperbaiki hidup dengan menikah? Setidaknya ada yang bisa menanggung hidupmu."


Ida masih diam. Pernyataan Syamsyir yang tiba-tiba sedikit mengacaukan peredaran darahnya. Ia juga tak menyangka akan semudah itu ia menolak Syamsyir. Kenyataannya, ia memang tak pernah tepikir untuk mengganti kedudukan Burhan dalam hatinya. Walaupun harapan untuk kembali bertemu Burhan hanya tinggal angan-angannya saja.


"Aku tidak ingin menjadikan orang lain hanya sebagai sapi perah yang akan menanggung hidupku. Aku bisa berusaha sendiri. Mungkin sekarang Tuhan masih ingin melihat seberapa kuat aku menjalani takdir yang berat ini."


"Ah ... Ternyata suamimu mampu membuatmu mencintainya sekuat ini ya, Da," ujar Syamsyir lirih. Ada setitik luka yang menggantung di matanya.


"Awal menikah dulu, aku tak mencintainya. Kalaupun aku menerima keputusan keluarga untuk menikah, hanya karena aku merasa sudah tak mempunyai jalan lain. Namun setelah tau perjuangannya untuk mendapatkan hatiku, akhirnya aku luluh. Setelahnya aku berjanji, aku tak akan menggantikan kedudukannya dalam hati."


"Itu kesalahan terbesarku dulu, Da. Aku melepaskanmu begitu saja tanpa memperlihatkan perjuangan untuk mendapatkanmu. Hatiku terlalu lemah ...." sesal Syamsyir mengacak rambutnya.


"Atau mungkin memang bukan jalan kita untuk bersama. Tuan tak perlu menyesalkan lagi apa yang sudah terjadi di masa lampau. Tuan tidak usah terus menerus melihat ke belakang, kenangan itu hanya akan mengikat kita, membuat kita tak pernah mampu untuk berjalan ke depan."


"Ah, bijak sekali kata-katamu, Da. Andai semudah itu," sahut Syamsyir tersenyum lemah.


"Aku tak hendak mengatakan mudah. Andai Tuan tau bagaimana dulu aku berusaha untuk keluar dari bayang-bayang Tuan ...." kali ini Ida tercekat.


Seharusnya saat ini bisa menjadi saat yang membahagiakan baginya, pria yang dulu pernah menggenggam erat hatinya telah kembali dan memintanya untuk kembali bersama. Seharusnya kesempatan kali ini bisa membuat ia keluar dari kesulitan hidup. Namun cinta Burhan yang masih hidup di hatinya, membuat ia tak mampu lagi menerima hati yang lain.


"Sekali lagi aku minta maaf. Entah apa maksud Tuhan mempertemukan kita kembali dalam keadaan seperti ini, tapi aku yakin bukan untuk menyatukan kita."


"Ah padahal aku berpikir seperti itu, Da. Aku pikir Tuhan memberikan kesempatan kedua untukku bisa bersamamu lagi." Syamsyir tersenyum getir.

__ADS_1


Ida hanya tercenung. Waktu benar-benar telah mengikis setiap rasa yang dulu pernah hinggap di hatinya. Walaupun pada awal pertemuan kembali dengan Syamsyir sempat membuatnya gamang, namun kali ini hatinya telah mantap untuk tak lagi membiarkan Syamsyir masuk ke dalam hatinya. Ia lebih memilih menjalani hidup seperti saat ini daripada nantinya akan terluka lebih dalam ketika harapan baru ia hidup kan kembali.


__ADS_2