
Suara riuh binatang hutan membuat Ida terbangun dari tidurnya, namun netranya masih belum mampu menangkap benda apapun di sekitarnya. Suasana di dalam pondok masih teramat gelap.
"Para gadis, bangun... Kita akan melaksanakan shalat subuh berjamaah." Tiba-tiba pendengaran Ida dikagetkan oleh suara bariton pak Zain.
Ida beringsut meraba-raba arah celah yang dijadikan sebagai pintu pondok.
"Da, kau kah itu?" suara Maryam membuyarkan keheningan dalam pondok.
"Iya.. Yang lain sudah bangunkah? Kenapa tidak ada suara yang lain?" Ida bertanya heran pada Maryam, karena ia merasa hanya ia dan Maryam yang ada di dalam pondok itu.
"Sepertinya begitu Da, kita telat bangun. Ayo." Ida merasakan tangan Maryam menarik tangannya.
"Haha malu aku Yam, di sini aku selalu paling terakhir bangun. Padahal kalau di rumah, aku sudah bangun sebelum ayam berkokok," gelak Ida.
"Ah namanya juga capek Da. ..."
Diluar pondok, netra Ida mulai bisa mengenali benda-benda yang ada di depannya, walaupun masih belum terlalu jelas. Keadaan di luar agak lebih terang dibandingkan di dalam pondok.
"Hei kalian, capek sekali ya? Yang lain sudah turun ke air untuk membersihkan diri. Kalian masih lelap saja." gelak pak Zain.
"Haha iya pak, maafkan kami." Maryam pun membalas sapaan pak Zain dengan gelak tawanya.
"Yasudah, masih ada Amir yang akan menemani kalian turun. Berhati-hatilah, jalannya masih terlalu gelap."
Ida, Maryam dan Amir berjalan beriringan menuju sungai. Amir yang memimpin.
"Kalian peganglah tali ini, aku khawatir kalian tidak memperhatikan kemana arah saya berjalan."
Amir menyerahkan tali tambang yang cukup tebal ke arah Maryam. Tali itu sudah ia ikatkan ke pinggangnya, untuk berjaga-jaga agar para gadis yang berada di belakangnya tidak mengambil jalur yang salah.
Jalanan masih terlalu gelap, mereka hanya mengandalkan suluh dari sabut kelapa kering yang diikat ke sebuah tongkat bambu. Cahayanya tidak terlalu terang, hanya cukup untuk menerangi jarak pandang yang hanya satu meter saja. Tanah yang basah dan licin membuat mereka makin berhati-hati berjalan menuju arah sungai.
"Masih jauhkah tuan?" tanya Maryam sopan.
"Ah panggil Amir saja. Tidak begitu jauh, hanya seratus meter. Cuma jalannya agak licin. Berpegangan yang kuat ya," balas Amir agak sungkan dengan panggilan sopan Maryam.
"Oh, syukurlah. Agak susah juga menyeimbangkan badan dalam kondisi jalan gelap dan licin seperti ini."
"Iya ... Makanya kita jalan pelan-pelan saja."
"Da, kau masih di belakang kan Da?" Maryam memastikan keberadaan Ida di belakang nya.
"Masih Yam."
"Alhamdulillah, kau jangan melamun ya ... Baca ayat kursi"
"Iya."
Di tengah perjalanan, mereka berpapasan dengan rombongan yang sudah terlebih dahulu turun ke sungai.
"Hei, baru turun." Rasyid menyapa rombongan kecil Ida.
"Ya ... Dua gadis ini menikmati sekali tidurnya sehingga kesiangan," gelak Amir.
"Ah kau ini. ..." Maryam menepuk bahu Amir.
"Yasudah, kalian bergegaslah membersihkan diri, nanti keburu waktu subuh habis. Cahaya fajar sudah mulai menyingsing." Rasyid menunjuk ke arah belakangnya.
__ADS_1
Ida melihat ke arah yang ditunjuk Rasyid. Semburat jingga mulai tampak di langit yang terlihat di antara pepohonan. Terlihat kontras dengan warna langit yang sebagian besar masih gelap. Sayup-sayup mereka mendengar suara gemericik air sungai. Setengah bergegas, rombongan itu mulai menyusuri jalan yang menuju sungai.
Selesai membasuh muka dan berwudhu, Ida seperti mendengar suara rintihan anak kecil. Tangisan itu terdengar tumpang tindih dengan suara air sungai yang mengalir menghantam batu.
"Yam, kau dengar tidak suara itu?" Ida menarik tangan Maryam yang sudah bersiap untuk meninggalkan sungai.
"Ida, aku kan sudah bilang. Kau jangan melamun. Paling itu suara angin dan air sungai ini."
"Bukan Yam, suara anak kecil menangis." Ida masih berusaha untuk menajamkan telinganya sambil mencari asal suara.
"Ah Ida! Kau jangan berpikir macam-macam. Merinding aku." Maryam menggosok-gosok lengan jenjangnya yang putih.
"Aku tidak melamun Yam, itu suara tangis anak kecil." Ida bersikeras meyakinkan Maryam kalau ia tidak salah dengar.
"Nona-nona, kalau kita tidak bergegas, bisa-bisa kita shalat subuh lanjut shalat dhuha," tegur Amir yang sudah berjalan mendekati tepi hutan.
"Amir, aku mendengar suara tangisan anak kecil, coba kau kesini dulu." Ida mencari dukungan Amir.
Ketika Amir mendekati, suara yang didengar Ida pun didengar Amir. Suara anak kecil meminta tolong, suaranya tertimpa suara air sungai.
"Iya, benar seperti ada suara anak kecil." Amir membenarkan
"Kan aku bilang juga apa." Ida menatap Maryam.
"Tapi kalau kita di hutan, memang biasanya suka terdengar suara-suara begitu. Ayahku bilang tidak usah dihiraukan." Maryam membela diri.
"Kita pastikan dulu, mana tahu benar ada yang butuh pertolongan." Amir angkat bicara.
"Tadi suaranya dari arah mana ya?" Amir seperti berbicara sendiri.
"Apakah ada orang disana?" Amir yang diikuti Ida, mendekati batu besar yang ditunjuk Ida.
Dengan menggunakan suluh yang ada di tangannya, Amir berusaha menerangi tempat yang masih agak gelap itu. Ia sedikit was-was, mengingat mereka berada di pinggir sungai tengah hutan, bukan perkara tak mungkin mereka akan menemui makhluk selain manusia. Mengingat banyaknya cerita yang ia dengar dari orang-orang yang sering keluar masuk hutan, hutan itu adalah tempat segala makhluk bermukim.
"Tolooong...." suara itu akhirnya mulai terdengar jelas ketika Amir dan Ida mendekati batu besar itu.
"Ah benar, ada anak kecil," seru Amir ketika menyorongkan suluhnya kebalik batu.
"Coba, pegang dulu suluhnya, aku coba angkat anak itu." Amir menyerahkan suluh yang ia pegang kepada Ida. Ida mengambil suluh dari tangan Amir, membantu Amir untuk menerangi tempat yang ada di cekukan batu besar itu.
"Astaghfirullah...." Amir berseru kaget ketika tiba di balik batu itu. Seorang gadis kecil yang berusia sekitar enam tahun, tergeletak di bawah cekukan batu. Badannya penuh luka, bagian kaki ada luka robekan yang agak besar dan mengeluarkan bau.
"Kenapa?" tanya Ida cemas, langsung menyusul Amir ke arah cekukan batu itu.
"Sebentar, kau tunggu saja di situ. Kondisinya agak mengkhawatirkan. Kalau bisa kau pakai kain untuk menutupi hidungmu kalau tak tahan bau," terang Amir dari balik batu.
Tak berapa lama, ia sudah membawa anak kecil itu dalam gendongannya ke arah Ida menunggu.
Maryam berlari menyusul mereka. Sedari tadi ia hanya memperhatikan dari arah jalan setapak yang akan mereka lalui untuk kembali ke pondok. Ia tak berani membayangkan, kalau yang Ida dan Amir dengar itu ternyata bukan suara anak manusia.
Sesampainya di bibir sungai, Amir menurunkan anak kecil yang ada dalam gendongannya. Seketika penciuman Ida dan Maryam seakan dipaksa untuk mencium bau yang sangat menyengat. Baunya seperti bau bangkai. Seketika Maryam berjengit.
"Adik, Adik namanya siapa?" Ida berusaha mengabaikan perasaan yang kurang enak dari perutnya karena bau yang keluar dari luka di kaki gadis kecil itu tatkala melihat anak itu membuka matanya.
"Saya Emi, Tek[1]," sahut anak itu lemah.
Rambut gadis itu sudah mulai gimbal dikarenakan lengket oleh darah kering. Mukanya berlepotan lumpur.
__ADS_1
"Kita shalat subuh di sini dulu saja, aku duluan shalat ya. Karena tidak mungkin kita membawa anak ini ke pondok dengan kondisi seperti ini. Kita bersihkan saja dulu disini, baru kita bawa ke pondok," usul Amir.
"Iya, benar juga" Maryam membenarkan usul Amir.
Amir dan Maryam, menuju batu besar yang berada di bibir Sungai, bagian atasnya yang rata dan luas, bisa mereka gunakan untuk tempat menunaikan shalat.
Saat Amir dan Maryam menunaikan shalat subuh subuh, Ida berusaha membersihkan badan Emi. Masih ada beberapa pecahan granat tertancap pada luka yang mulai membusuk di kaki gadis kecil itu. Ida tidak bisa menariknya, karena ia khawatir akan menyakiti gadis itu. Sementara ia juga melihat ada beberapa belatung yang mulai bersarang di luka gadis itu.
"Sakit, Tek, " rengek Emi.
"Tahan sebentar ya gadis cantik," hibur Ida.
Dengan cekatan Ida membasuh rambut Emi yang sudah terlihat gimbal dengan jeruk nipis yang ia ambil dari pohonnya yang tumbuh di pinggir Sungai.
Selesai Amir dan Maryam menunaikan shalat subuh, mereka terkejut melihat perubahan wajah gadis kecil itu. Pipinya yang bulat tampak bersih, walaupun mata besarnya yang bening masih terlihat sayu dan cekung, serta bibir mungilnya masih pucat kebiruan menandakan gadis kecil itu kedinginan.
"Waah, kau cantik sekali," puji Maryam dengan mata berbinar melihat gadis itu.
"Aku tinggalkan dengan kalian dulu ya, aku mau shalat, sudah mulai terang." Ida meninggalkan Amir dan Maryam bersama Emi.
Bertepatan dengan selesainya Ida menunaikan shalat subuh, dari arah jalan setapak tampak Rasyid dan beberapa orang pemuda lainnya datang dengan wajah yang cemas.
"Hei, kalian kenapa lama sekali? Apa yang terjadi," selidik Rasyid ketika sampai di tempat mereka membersihkan tubuh Emi.
"Waah ada yang khawatir nih, Ida," goda Maryam ketika melihat Rasyid datang tergopoh.
"Kita menemukan anak kecil yang terluka," jawab Ida tanpa menghiraukan godaan Maryam.
"Ah, berarti suara anak kecil menangis yang aku dengar tadi benar anak manusia. Aku tadi sempat merinding ketika mendengar suara anak kecil menangis."
"Kenapa tidak dilihat terlebih dahulu. Andai kami tadi juga sepertimu, mengabaikan suara anak ini, mungkin anak ini akan meregang nyawanya sendirian di bawah batu itu" suara Ida meninggi.
"Ya, aku juga masih agak takut. Kita pendatang baru di tempat ini. Mana berani aku," ucap Rasyid membela diri.
"Sudah ... Sudah, kalian seperti pengantin baru yang bertengkar saja," gelak Maryam.
"Yang penting anak ini sudah tertolong, tapi lukanya harus segera diobati, karena sudah ada belatungnya," lanjut Maryam.
"Hei Ida, rokok yang kemarin aku berikan masih ada sisa tidak?"
"Ya, masih ada. ... Ini." Ida mengeluarkan sisa rokok yang Rasyid berikan padanya kemarin.
Dengan cekatan, Rasyid mengambil daun yang agak lebar dari pinggir jalan setapak, membentuknya seperti wadah, mengisi dengan air dan mencelupkan tembakau yang ada di tangannya ke dalam air.
"Buat apa itu?" Ida penasaran dengan yang dikerjakan Rasyid.
"Buat membunuh belatung yang ada di luka anak itu." Rasyid menjelaskan.
"Oh...." jawab Ida singkat.
Ia memperhatikan Rasyid menuangkan air tembakau itu ke luka Emi. Dalam hitungan menit, makhluk kecil yang bergerak lincah di luka gadis itu diam tak bergerak.
"Nah, tinggal kita kasih obat dan dibalut saja nanti. Ayo lekas kita kembali, kasian juga anak ini sepertinya kelaparan dan kedinginan," ajak Rasyid.
Tanpa menunggu lama, rombongan itu mulai bergerak lagi menuju pondok dengan Emi berada dalam gendongan Amir.
[1] Tek/ Etek \= bibi/tante
__ADS_1