
Setahun lamanya Ida hidup seorang diri semenjak Salma pindah ke Padang. Fatimah dan Laili bergantian mengajak Ida untuk tinggal bersama mereka. Namun Ida bersikukuh untuk tetap tinggal sendiri.
Memang terasa sunyi selalu menyergap ketika ia pulang, tak ada anak-anak yang menyambut seperti biasa. Kala seperti itu, ia selalu ingat akan hidupnya di Siantar, ketika pulang ke rumah ada anak-anak yang menyambutnya dengan wajah ceria. Tak peduli berapapun penatnya, seketika rasa itu sirna.
Suatu sore menjelang magrib, matahari masih terlihat engga untuk turun. Tak seperti sore sebelumnya, sore hari itu cukup terang ketika Ida sampai di rumahnya.
"Assalamualaikum, Mak."
Suara sapaan dari belakangnya membuat Ida terperanjat.
"Astaghfirullah, Sal! Kenapa kau tiba-tiba pulang?" tanya Ida heran melihat anak bungsunya telah berada di depan rumah.
"Nanti aku cerita ya, Mak. Kita siap-siap shalat magrib dulu," sahut Salma dengan senyum hangatnya.
"Mak, aku mau ikut tes pegawai negeri, pendaftarannya ditutup besok," terang Salma setelah mereka selesai melaksanakan shalat magrib di mesjid.
"Lalu, kau sudah mendaftar?" tanya Ida penuh minat.
"Belum ...." Salma mengambil minum dan meneguknya pelan.
"Kenapa kau pulang kalau belum mendaftar?" tanya Ida keheranan dengan tingkah anaknya.
"Aku mau minta doa dari Amak dulu, aku tak begitu yakin bisa lulus." Salma duduk dekat amaknya. "Yang mendaftar ribuan, Mak. Yang akan diterima satu orang," lanjutnya.
"Ya tidak apa-apa, kau coba saja mendaftar. Mana tau memang posisi itu disiapkan Allah buatmu," kekeh Ida.
Salma hanya mengangguk-anggukkan kepala, meresapi apa yang disampaikan amaknya. Malam itu mereka bercerita semua hal yang mereka alami ketika tak bersama. Rasa rindu terhadap Salma serasa terobati. Ternyata begini rasanya ketika anak-anak telah mempunyai kehidupannya sendiri-sendiri. Bercerita sebentar saja sudah cukup mengenyahkan rindu yang sering membuncah.
Keesokan paginya, Salma pamit untuk kembali ke Padang.
"Padahal tak perlu susah-susah kau pulang, Sal. Lumayan uang untuk ongkosnya bisa kau hemat," kekeh Ida saat Salma mencium tangannya. Namun, di dalam hati, Ida bahagia anaknya rela menempuh perjalanan dua jam hanya untuk meminta restunya.
"Ada yang terasa kurang kalau tidak meminta restu secara langsung, Mak." Salma ikut terkekeh kali ini menciumi pipi amaknya yang mulai kendur. Sisa-sisa kecantikan Ida telah termakan usia dan perjuangan hidup.
Ida merogoh kotak tempat ia meletakkan uang dagangannya. "Kau bawa lah, ini ... Tak banyak, setidaknya bisa untuk ongkosmu berangkat." Ida menyodorkan beberapa lembar uang pada Salma.
"Tidak usah mak, aku masih ada uang," tolak Salma, "Kalau nanti uang ini di pakai, besok amak tidak bisa berjualan."
"Tidak apa-apa, Sal ... Kau bawalah. Semoga jalanmu dimudahkan," paksa Ida.
Salma terdiam lama memandangi wajah amaknya. "Mak, aku sebenarnya masih tak yakin untuk diterima, takut nanti hanya menghabiskan uang buat modal amak berdagang," katanya kemudian.
"Kau tak boleh pesimis, Sal. Biar pun yang diterima cuma satu orang, kalau memang itu takdirmu, tak akan ada yang bisa merebutnya." Ida mencoba menyakinkan Salma. "Nah, kau berangkatlah, amak selalu mendoakan kau sukses."
Salma berjalan tergesa memberhentikan angkutan kota yang melintas di depan gang rumah dan melambaikan tangannya dari dalam angkot ke arah Ida.
Ida mengusap matanya tatkala Salma berlalu. Kembali menggumamkan berbait doa agar Salma dan kedua kakaknya tak perlu merasakan kembali kepahitan hidup yang ia alami.
***
Siang itu, Ida kembali ke lapaknya setelah melaksanakan shalat zuhur. Seperti hari-hari sebelumnya, hari itu pun lapak Ida tak begitu ramai pembeli. Baru saja ia duduk, Salma datang dengan ekspresi wajah yang tak dapat Ida tebak.
"Kau kenapa Sal? Baru datang? " berondong Ida heran.
__ADS_1
"Mak, percaya tidak? ...." Mata Salma mulai basah, akan tetapi bibirnya menyunggingkan senyum. Bibirnya bergetar tatkala mengucapkan kalimat berikutnya, "aku diterima jadi pegawai negeri," pekiknya kemudian melompat-lompat kegirangan.
"Masya Allah, Naak. Alhamdulillah Allah kabulkan doa kita," raung Ida, menarik perhatian pengunjung pasar dan para pedagang lainnya.
"Kau kenapa, Da?" tanya Lena, salah seorang pedagang yang lapaknya bersebelahan dengan Ida.
"Anakku diterima jadi pegawai negeri," sorak Ida.
"Ah, segitu senangnya kau. Hidup pegawai negeri itu susah," kekeh Lena.
"Setidaknya tak sesusah hidup amaknya," sela Ida.
"Kau tak usah dengarkan kata orang ya, Sal. Tak perlu kau berkecil hati. Semoga jalanmu nanti lebih baik dari amak," hibur Ida pada Salma yang tiba-tiba tampak patah semangat.
"Iya, Mak," sahut Salma pelan.
"Sudah tau ditugaskan dimana?"
"Di Payakumbuh, Mak. Jadi tenaga administrasi di sekolah."
"Aah, sepertinya kota itu memang selalu memanggil untuk kembali ya, Sal," kekeh Ida.
"Nanti biar aku saja yang ke rumah maktuo, tak perlu amak mengantarkan," ujar Salma tatkala melihat wajah amaknya terlihat sedikit murung ketika ia menyebutkan kota itu.
"Tidak apa-apa, amak juga ingin bertemu maktuomu. Sudah lama sekali amak tak ke Payakumbuh, sekaligus mau ke pusara Tuan dan Uni mu," sahut Ida dengan ekspresi yang tak mampu dibaca Salma.
Rindu. Itu yang Ida rasakan pada kota itu. Hampir dua tahun ia tak menjejakkan kakinya di kota tempat ia memulai kehidupannya berumah tangga. Hari itu ia dan Salma ke Payakumbuh menggunakan bis. Dari tempat turun bis, mereka cukup berjalan kaki ke rumah yang sekarang ditempati oleh Midah.
Perubahan mulai terlihat di beberapa titik kota itu. Payakumbuh sudah mulai ramai dibanding terakhir kali Ida mengunjunginya. Di sepanjang jalan yang ia tempuh menuju rumah Midah juga telah banyak rumah yang baru didirikan, sudah mulai terlihat padat.
"Kau kah itu, Da?" sapa seseorang dari belakang Ida.
"Ni Jum!" pekik Ida tatkala melihat tetangganya yang dulu pernah membantunya saat persalinan Salma.
"Aah, kemana saja kau. Sudah tak pernah aku melihatmu kesini."
"Ini siapa?" tanya Jum menunjuk Salma.
"Ini Salma, yang Uni bantu panggilkan bidan ketika dia lahir di tengah rumah," gelak Ida.
"Masya Allah, sudah besar. Baru kemarin rasanya aku berlari ke rumah bidan Nita karena panik kau melahirkan."
"Maktuo ini yang membantu amak pas melahirkan kau, Sal," kekeh Ida.
Saat mereka tengah asyik bernostalgia, tiba-tiba pintu rumah terbuka, "Ida?" sapa suara berat di ujung tangga atas.
Sosok Burhan berdiri di ambang pintu, mengenakan kaos putih dan sarung coklat. Kulit sawo matangnya telah mengendur. Separuh rambutnya telah berwarna putih. Kesan necis yang dulu selalu melekat pada pria itu benar-benar telah hilang, hanya menyisakan sesosok pria tua yang tampak kehilangan gairah hidup.
"Ya ... Uni ada, Tuan?"
"Ada, uni sedang shalat, kau masuk lah," ajak Burhan. "Salma, mari masuk," lanjutnya.
"Ni Jum mampir dulu?" tawar Ida.
__ADS_1
"Ah, tidak usah, nanti aku mengganggu," tolak Jum. "Kalau kau menginap di sini, kau mampir ke rumahku, ya."
"Iya, Uni. Nanti aku mampir."
Ada rasa canggung yang tercipta, sekian tahun tak bersua membuat Ida dan Burhan kembali seperti berhadapan dengan orang asing.
"Salma mau menikah, ya?" tanya Burhan menghilangkan kecanggungan.
"Tidak, Bak. Aku diterima jadi pegawai negeri di Labuah Basilang," sahut Salma.
"Wah, Alhamdulillah. Hebat kau Sal," puji Burhan takjub.
"Alhamdulillah, berkat doa amak."
"Ah, ya ... Hebat kau bisa membesarkannya sendirian ya, Da." Lapisan cair bening tampak menggantung di pelupuk mata Burhan.
"Mak, aku mau ke air dulu," pamit Salma untuk sedikit memberi ruang pada amak dan abaknya.
"Bagaimana kabar kau, Da? Maaf aku tak pernah berkunjung," tanya Burhan setelah hening beberapa saat.
"Alhamdulillah lumayan baik," sahut Ida mengangkat wajahnya menatap Burhan.
"Maaf aku malah membiarkanmu mengurusi anak-anak sendirian." Burhan tercekat.
"Tidak usah terus-terusan minta maaf, Tuan. Aku sudah terbiasa mengurusi mereka jauh sebelum Tuan kembali." Ida mencoba tersenyum.
Entah kenapa rasa perih itu kembali muncul tatkala berhadapan dengan pria itu.
"Bagaimana kabar Ana?" Ida tak ingin kebersamaannya kali ini dirusak oleh omelan sumbang Ana. Entah kenapa, kali ini Ida ingin sedikit menikmati kebersamaannya bersama Burhan. Hanya kali ini.
"Ah, dia masih seperti kemarin-kemarin, tak ada yang berubah," sahut Burhan getir, "Tapi kau tenang saja, dia sedang ke Padang," kekeh Burhan seolah menjawab kekhawatiran Ida.
Ida tertawa kikuk. Kecanggungan kembali tercipta.
"Laili dan Fatimah apa kabar?" Kembali Burhan bersuara.
"Alhamdulillah mereka sehat, anak-anak mereka sedang lasak-lasaknya," tutur Ida dengan wajah bahagia mengingat cucu-cucunya dari Laili dan Fatimah.
"Ah, kakek macam apa aku ini. Bahkan bertemu cucuku saja jarang," sesal Burhan. "Memang tak enak termakan budi ya, Da. Kita jadi seperti terikat. Tidak akan pernah ada kata cukup untuk membayarnya," lanjutnya, pikirannya seolah kembali tak di badan.
"Iya, memang berat," sahut Ida membenarkan.
Kembali ia pandangi wajah mantan suaminya, setumpuk beban seolah menggantung di sana.
Entah apa yang dilakukan Ana terhadap pria di hadapannya, hingga ia berubah menjadi orang lain. Ida seperti tak mengenal lagi sosok Burhan sekarang.
"Ternyata tak salah aku memilihmu dulu ya, Da. Kau memang perempuan kuat. Tak ku sangka kau akan bisa membesarkan anak-anak seorang diri."
"Anak-anak yang menjadi sumber kekuatan ku, Tuan. Entah berapa kali aku ingin menyerah, tetapi setiap kali aku berada pada titik terendahku, mereka seakan memberikanku tenaga untuk bangkit," kenang Ida.
"Ah ya ... Itulah mengapa aku seperti orang sakit jiwa, Da. Aku kehilangan seluruh jiwaku saat kalian tak ada."
"Ahaha ... Tuan terlalu berlebihan," gelak Ida seolah mengusir perih yang seketika muncul saat Burhan mengungkit lagi masa lalu mereka.
__ADS_1
"Aku tidak berlebihan, kau tanya Midah. Nasi ku makan rasa sekam, air ku minum rasa duri. Seolah padamlah pelitaku."
"Ya Tuhan, tolong kuatkan hatiku untuk tidak hancur mendengarkan kalimat yang pria ini ucapkan. Biarkan aku mengenang masa lalu itu hanya sebagai mimpi buruk yang telah terlewati. Kenapa aku harus mendengar kembali kegetiran masa lalu yang tak mungkin diputar ulang," batin Ida.