MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 41


__ADS_3

Sepulang dari pemakaman, Ida hanya duduk di sudut kamar tempat Mila biasa bermain. Ia tak menyentuh makanan yang disediakan buk Isah, pun menolak untuk disuapkan oleh Burhan.


"Da, sampai kapan kau mau berdiam seperti ini?" tanya Burhan dengan nada gusar.


Ida hanya termangu memandangi mainan Mila yang berserakan di sudut kamar. Tak pernah ia membayangkan Mila juga akan pergi meninggalkannya begitu cepat seperti Yasir.


"Da, aku berbicara padamu." Nada suara Burhan mulai meninggi.


Ida menoleh pada Burhan. Selama mereka menikah, baru kali itu Burhan berbicara padanya dengan nada tinggi. Ada kemarahan dari sorot mata suaminya. Perasaannya terluka.


"Tuan marah padaku?" Ida menatap Burhan dengan mata berkaca.


"Iya, selama kau masih seperti ini!"


"Aku masih belum mampu menerima semua ini, Tuan," sahut Ida lirih.


"Kau pikir aku bisa dengan mudah menerima ini?"


"Ini semua kesalahanku."


"Da, berhenti menganggap semua ini terjadi karena kesalahanmu. Urusan nyawa hanya kuasa Tuhan."


"Tuan, Tuhan menghukumku karena aku mengabaikan Mila, aku terlalu larut mengurus Laili," Ida kembali terisak.


"Kalaupun ini hukuman, seharusnya kau memperbaiki diri, bukan terus-terusan menyalahkan dirimu. Dari tadi Laili menangis, kau abaikan. Kau meratapi yang telah pergi, tapi kau sia-siakan yang masih tertinggal."


Kata-kata Burhan telak terasa seperti tamparan bagi Ida. Burhan pergi meninggalkan Ida. Membiarkan Ida mencerna kata-kata yang ia sampaikan. Mencoba sedikit mengobati kegusaran dalam hatinya.


Matahari mulai tenggelam, cahaya yang masuk ke dalam kamar mulai menghilang. Buk Isah masuk kamar, menutup jendela yang sedari tadi terbuka. Seketika suasana kamar hanya diterangi temaram cahaya dari lampu minyak yang dinyalakan buk Isah.


Buk Isah duduk di dekat Ida, meletakkan nampan yang berisi makanan. Aroma rempah dari sop yang dibawa buk Isah menggelitik indera penciuman Ida, memaksa perutnya untuk merespon dengan suara.


"Kau makan ya, Da. Perutmu tak bisa berbohong." Buk Isah tersenyum lembut pada Ida. Cahaya lampu minyak yang tak begitu terang membuat kerutan di wajah buk Isah makin terlihat jelas.


Ia memandangi wajah perempuan yang ada di hadapannya. Gurat khawatir tergambar jelas di mata itu. Ia menyesali sikapnya yang telah membuat susah orang lain.


"Iya, Buk." akhirnya Ida membuka suara.


"Tuan kemana?" tanyanya kemudian.


"Burhan sedang beristirahat di kamar mak Halimah."


"Apa Tuan sudah makan?"


"Sudah, tadi siang."


"Laili dimana, Buk?"


"Bersama Burhan. Kau makanlah, aku hendak menyiapkan tempat untuk pengajian nanti." Buk Isah meninggalkan Ida sendirian di kamar.


Hening menyergap. Ida merasa asing dengan suasana rumah yang tiba-tiba sepi. Tak ada suara celotehan Mila. Biasanya, menjelang magrib, gadis kecil itu bersiap untuk melaksanakan shalat magrib bersama, sibuk meminta dipakaikan sarung dan mukena.

__ADS_1


"Ya Allah ... Apa hamba tidak pantas menjaga titipan-Mu, hingga Engku kembali mengambilnya secepat ini," rintihnya, kembali cairan hangat mengaburkan padangan matanya.


Ida tercekat ketika menelan nasi yang ia suap. Ia memaksa agar perutnya mau menerima apa yang ia masukkan ke mulutnya. Mulai menyesapi kata-kata Burhan, mencoba kembali menata hati yang hancur. Entah apa maksud Tuhan dengan permainan takdir ini.


Suara azan magrib berkumandang, mendayu terdengar pilu di telinga Ida. Ia bangkit dari duduknya, melangkah keluar kamar untuk mengambil wudhu. Ketika ia membuka pintu kamar, Burhan telah berdiri di depan pintu. Wajahnya kusut masai, di matanya masih terjejak sisa airmata yang mengering.


"Ayo kita shalat, Da," ajaknya lirih.


"Iya." Ida mengangguk pelan.


Air wudhu yang menyapu anggota tubuhnya sedikit meluruhkan rasa perih yang Ida rasakan dalam hati. Air dingin yang menyentuh kulit terasa ikut mendinginkan isi kepalanya yang sedari tadi terasa panas.


Suara lantunan ayat suci yang dibaca Burhan sebagai imam shalat, membuat Ida makin menyadari tak ada gunanya ia bersedih. Allah hanya memberinya cobaan untuk melihat seberapa kuat ia bisa menerima ketetapan takdir. Sesungguhnya kematian adalah hal yang paling dekat dengan manusia.


"Wahai Rabb pemilik semesta, ampuni jiwa hamba-Mu yang rapuh. Ampuni hamba yang masih belum mampu menerima takdirmu dengan hati yang lapang, hamba hanya manusia biasa dengan segala kelemahan hati hamba," lirih Ida dalam hati.


"Tuan, maafkan aku," isak Ida bersimpuh di hadapan Burhan.


"Tak ada yang perlu dimaafkan, Da. Kau tak berbuat salah," sahut Burhan dengan suara tercekat.


"Tak ada orangtua yang mampu melepaskan buah hatinya dengan rela. Tapi kau harus tau, segala yang ada di diri kita semua hanya titipan, jadi tak perlu kau ratapi jika Pemiliknya meminta kembali," lanjut Burhan.


Ida makin terisak.


"Tak ada yang melarang kau bersedih, tapi kau jangan sampai menyiksa diri. Masih ada Laili yang membutuhkanmu."


Malam itu, Ida kembali belajar untuk mengikhlaskan. Melepas apa yang memang bukan miliknya, untuk diambil kembali oleh sang Pemilik sesungguhnya, dengan kerelaan hati.


***


"Amak, amak sakit?" tanya Laili ketika melihat Ida yang tertidur sehabis menyusui Fatimah, adik Laili.


"Uhm ... Tidak ... Kenapa, Nak?" Ida bangun dari tidur.


"Dari tadi amak tidur terus," sahut gadis itu dengan raut wajah penuh khawatir.


"Hehe ... Amak hanya mengantuk, karena malam sering terbangun mengganti popok adik. Laili sudah makan?" Ida mengusap lembut rambut ikal anaknya.


" Sudah, tadi disuapin nek Isah," sahut gadis itu merangkak naik ke pangkuan Ida.


Wajah Laili lebih mirip dengan abaknya. Rambut hitam lebat bergelombang. Kulit sawo matang, senyumnya juga persis seperti senyum Burhan dengan lesung pipi di sebelah kiri pipinya.


"Adik sudah tidur?" lanjutnya.


"Sudah, ayo kita main di luar. Biar adik tidak terbangun lagi."


"Iya! Laili mau diceritakan cerita Sabai Nan Aluih," pinta gadis itu dengan manja.


"Laili tidak bosan mendengar cerita itu?"


"Tidak ...." Laili menggeleng cepat.

__ADS_1


"Nah, Mari duduk sini."


Laili mengambil posisi membelakangi Ida, karena biasa Ida bercerita sambil menyisiri rambut Laili.


"Sabai nan Aluih adalah seorang gadis yang cantik baik hati, lemah lembut dalam bertutur kata, namun ia berani dalam membela kebenaran[1]...." Ida memulai ceritanya.


"Amak juga seperti Sabai nan Aluih, ya?" ujar gadis itu ketika Ida selesai bercerita.


"Haha ... Mana mungkin amak seperti Sabai nan Aluih. ..." gelak Ida mendengar penuturan polos anaknya.


"Kata abak, Amak dulu ikut berperang," sahut gadis itu.


"Iya, tapi amak tidak memegang senjata seperti Sabai."


"Lalu apa yang Amak lakukan ketika berperang?" Laili berbalik menatap wajah Ida penasaran.


"Amak dulu mengobati orang yang terluka."


"Seperti mantri?"


"Ya hampir sama."


"Amak mantri?"


"Haha ... Bukan, amak hanya membantu mantri merawat yang sakit," terang Ida.


Gadis kecil itu hanya mengangguk tanda mengerti.


"Abak kapan pulang, Mak?" tanya Laili kemudian.


"Mungkin besok? Kenapa? Laili rindu?"


"Iya ... Abak berjanji akan mengajak ke pasar malam," sahut Laili dengan mata berbinar.


"Oh iya?" Ida menanggapi dengan wajah antusias.


"Iya, abak akan membelikan Laili boneka dan mengajak naik boyan kaliang [2]."


Celoteh Laili memang tidak seceria kakak-kakaknya, namun Ida bersyukur setidaknya ia masih diberi kesempatan untuk merawat Laili dengan baik. Ia menepis rasa khawatir yang mulai bersarang dalam hatinya. Khawatir jika Laili bernasib sama dengan kakak-kakaknya.


Tak terasa mata Ida mulai menghangat. Teringat betapa ramainya suasana rumah jika Yasir dan Mila masih hidup. Suasana rumah tak pernah sama semenjak mereka tiada. Walaupun Laili mampu mengobati rasa kehilangannya yang dulu, namun masih ada ruang yang terasa kosong sepeninggal Yasir dan Mila yang masih belum mampu terganti.


"Amak kenapa menangis?" Laili menatap heran.


"Aah, amak tidak menangis, mata amak hanya perih." Ida memaksakan senyumnya.


"Tuhan, entah sampai kapan hati ini benar-benar mampu melepas dengan ikhlas kepergian Yasir dan Mila. ..."


*****


[1] Hikayat Sabai nan Aluih. Cerita ini menceritakan tentang aksi kepahlawanan Sabai Nun Aluih dalam membalaskan kematian ayahnya kepada musuhnya yaitu Rajo Nan Panjang.

__ADS_1


[2] Boyan kaliang \= sejenis bianglala terbuat dari kayu yang digerakan oleh sekumpulan orang yang mendorong salah satu tempat duduk.


__ADS_2