MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 27


__ADS_3

Menjelang senja, bendi yang mereka tumpangi berhenti di depan stasiun Bukittinggi. Ida tercenung. Tempat ini membuatnya mengingat awal mula ia memulai petualangannya. Lucunya, hari ini ia kembali ke tempat itu bersama orang yang berusaha ia hindari dua tahun lalu.


"Ayo, Da." Suara Burhan menyentakkan Ida kembali ke masa kini.


Ida perlahan turun dari bendi, tangan kekar Burhan menyambutnya. Telapak tangannya tenggelam dalam genggaman tangan suaminya yang begitu besar.


Memasuki bangunan stasiun, sebuah sepur dengan rangkaian gerbongnya telah menunggu di rel kereta. Asap putih mengepul dari cerobong mesin uapnya, tampak kontras dengan warna langit sore kota Bukittinggi kala itu. Beberapa penumpang tampak sibuk menaikkan barang bawaannya ke gerbong kereta, membuat Ida beberapa kali harus menepi agar tidak terdorong oleh mereka yang membawa barang bawaan yang berukuran besar.


Ida dan Burhan bergegas menaiki gerbong kereta, mencari tempat duduk yang masih kosong. Hampir semua tempat duduk telah terisi. Wajah-wajah lelah tampak pada wajah penumpang kereta yang kebanyakan adalah pedagang yang hendak pulang.


Mereka mendapatkan tempat duduk yang masih kosong di tengah gerbong paling akhir. Burhan meletakkan tas berisi pakaian Ida di rak atas tempat duduk, lalu duduk di samping Ida.


"Kau mau minum, Da?" tawar Burhan menyodorkan sebuah botol.


"Nanti saja, Tuan," tolak Ida.


"Kau tidak lapar?" Burhan kembali bertanya.


"Tidak," jawab Ida singkat.


"Baiklah, kau beristirahat lah." Burhan menyerah mencoba untuk mengajak istrinya bicara.


Tak lama bunyi peluit kereta berbunyi nyaring. Perlahan kereta tua itu berjalan meninggalkan kota Bukittinggi. Pohon yang berada di pinggir rel tampak seperti berlari ketika kereta sudah melaju dengan cepat.


Angin yang masuk dari sela-sela jendela kereta membuat Ida mengigil. Ia merapatkan selendangnya dan mendekapkan tangannya ke dada untuk sedikit mengurangi rasa dingin.


"Kau pakai jaket ini, Da." Burhan menyelimutkan jaket yang ia pakai ke tubuh Ida.


Seketika indera penciuman Ida dipenuhi perpaduan aroma lembut kasturi dengan kelat tembakau yang menguar dari jaket Burhan. Ida menoleh pada Burhan, pria itu telah menyandarkan kepalanya ke sandaran tempat duduk. Matanya sudah terpejam. Bibirnya terkatup rapat, membuat garis rahangnya makin terlihat keras.


"Terima kasih, Tuan," ujarnya lirih.


Burhan membuka matanya, menoleh pada Ida dengan seulas senyum tipis mengembang dari bibirnya, lalu kembali memejamkan matanya.


Hampir tengah malam, ketika kereta berhenti di stasiun Payakumbuh. Bunyi decit rem kereta beradu dengan rel ditimpa bunyi lengkingan peluit kereta membuat suasana malam itu terasa begitu ramai. Ida membuka matanya. Di sampingnya, Burhan masih tertidur dengan kedua tangannya bersidekap.


"Tuan," ujar Ida menepuk pelan lengan Burhan.


Burhan mengerjap, mengusap matanya lalu menoleh pada Ida.

__ADS_1


"Kita sudah sampai ya?"


Ida hanya menjawab dengan anggukan.


"Ayo, kita turun," ajak Burhan setelah ia menurunkan tas dari rak atas.


Turun dari kereta, suasana stasiun sudah mulai sepi. Sebagian dari penumpang yang turun dari kereta sudah meninggalkan stasiun. Burhan menggandeng tangan Ida, menuntunnya menuju halaman depan stasiun. Ida agak tergesa mensejejeri langkah suaminya. Kain yang ia pakai membuatnya kesulitan mengiringi langkah Burhan yang panjang-panjang.


"Maaf, aku berjalan terlalu cepat ya?" tanya Burhan ketika ia merasakan sentakan dari tangan Ida yang hampir saja terjatuh.


"Iya, Tuan. Kain yang aku pakai membuat langkahku agak terhambat," sahut Ida.


"Kau tunggu di sini dulu, aku panggilkan bendi." Burhan berlalu, memanggil kusir bendi yang terkantuk-kantuk menunggu penumpang di bagian sudut stasiun yang agak gelap.


Setelah penumpangnya naik, bendi bergerak perlahan meninggalkan stasiun. Hanya desau angin yang meniup daun pohon mahoni dan suara derap sepatu kuda yang menjadi pemecah kesunyian malam. Melewati bangunan toko yang berjejer, sampai akhirnya bendi yang mereka tumpangi berhenti di sebuah halaman rumah mewah.


Bangunan bercat putih dengan gaya semi Eropa, seluas 200 meter, berdiri megah di hadapan mereka. Bagian sisi kanan pintu masuk terdapat ruangan berbentuk segi lima dengan jendela besar di setiap sisinya. Terdapat sebuah pintu dengan kaca di bagian teratas tangga.


"Ayo," Burhan membimbing tangan Ida menaiki tangga.


Ida terpana, bertanya-tanya dalam hati, apakah rumah besar yang ada di hadapannya itu yang akan menjadi tempat tinggalnya. Ia memperhatikan Burhan menarik anak kunci dari dalam kantong celana nya dan membuka pintu.


Bagai kerbau yang dicucuk hidung, Ida menurut saja ketika Burhan menuntunnya masuk rumah. Ruangan yang tadinya gelap, berubah terang ketika Burhan menyalakan lampu. Sebuah lampu yang menggantung di langit-langit rumah menyala. Ida menatap takjub pada lampu yang baru saja dinyalakan Burhan. Sebuah lampu gantung yang berbentuk kubah dari kaca berwarna putih tampak begitu Indah menggantung di tengah plafon ruangan rumah itu.


"Ayo, Da." Burhan berdiri di ambang pintu sebuah kamar yang terletak di lorong yang menuju belakang rumah.


"I-iya," sahut Ida tergagap.


"Ini kamar kita, yang itu kamar Amak," terang Burhan sambil menunjuk kedua kamar yang pintunya berseberangan.


"Amak tinggal di sini juga sekarang, Tuan?" tanya Ida. Ada sedikit rasa khawatir jika nanti ia akan serumah dengan mertuanya.


"Amak, hanya sesekali ke rumah ini. Amak lebih sering di Bukittinggi. Di belakang sana kamar buk Isah sama pak Ujang, mereka yang mengurus rumah ini ketika rumah ini kosong," lanjut Burhan menunjuk kamar yang berada di paling belakang lorong.


Ida hanya mengangguk. Tak pernah ia membayangkan akan tinggal di rumah yang terbilang mewah baginya itu.


"Sekarang mari kita istirahat. Besok aku kenalkan dengan mereka."


Masuk ke dalam kamar, Ida melihat terdapat sebuah tempat tidur besar dari kayu jati dengan kanopi dipasangi kelambu putih di tengah ruangan. Di seberang tempat tidur, terdapat sebuah lemari dengan cermin besar berbentuk oval pada pintunya.

__ADS_1


Burhan meletakkan tas yang sedari tadi ia bawa di lantai. Lalu menoleh pada istrinya.


"Kenapa masih di situ, Da?" tanyanya heran ketika mendapati Ida masih saja berdiri mematung di depan pintu.


"Aku hendak ke air dulu, Tuan. Kita belum shalat," sahut Ida ragu-ragu.


"Ah iya ... Ayo." Burhan mengajak Ida ke bagian belakang rumah.


Di ujung lorong terdapat sebuah tangga yang menuju sebuah ruangan. Cahaya ruangan itu tidak terlalu terang, namun Ida bisa melihat ruangan yang terdapat pada bagian bawah tangga merupakan sebuah dapur. Di seberang dapur, terdapat sebuah pintu kecil. Burhan membuka pintu yang terdapat di seberang dapur itu.


"Sebentar, aku lihat dulu. Apa ada air di dalam bak," ujar Burhan seraya masuk ke dalam ruangan yang ternyata bilik mandi.


Ida memperhatikan Burhan menimba air dari sumur menggunakan ember yang dipasang tali dan digantung pada tiang dengan katrol di tengahnya. Otot lengan Burhan terlihat samar dari balik lengan kemeja yang ia kenakan tatkala ia menarik ember yang berisi air dari dalam sumur.


"Nah, kau bisa membersihkan diri sekarang, air di dalam bak sudah terisi," ujar Burhan ketika selesai mengisi bak yang ada di samping sumur.


Keringat membanjiri keningnya, rambutnya yang tadi tersisir rapi, agak sedikit berantakan memperlihatkan rambut ikalnya.


" Terima kasih, Tuan. Saya jadi merepotkan," ucap Ida pelan.


"Kau seperti dengan orang lain saja, Da. Aku kan suamimu," ujar Burhan seperti menegaskan statusnya.


"Iya, Tuan," balas Ida tersenyum kikuk.


"Ayo, cepatlah. Apa perlu aku temani?" tanya Burhan dengan senyum jahil.


"Tidak usah, aku bisa sendiri." Ida lantas meninggalkan Burhan yang masih tersenyum menggoda istrinya itu.


Selesai melaksanakan shalat, mereka bersiap untuk istirahat. Seperti sebelum-sebelumnya, Ida masih saja sungkan untuk berada berdekatan dengan suaminya.


"Da .... " panggil Burhan ketika Ida hendak merebahkan tubuhnya.


"Ya?" sahut Ida mengurungkan niatnya, lalu berbalik menghadap Burhan.


"Kau suka ampiang dadiah* tidak?"


"Suka, tapi aku jarang memakannya. Karena di kampung susah untuk mendapatkan ampiang dadiah," sahut Ida.


"Besok kita makan ampiang dadiah ya. Sebelum aku berangkat lagi ke Teluk Kuantan." Burhan tersenyum lembut pada istrinya.

__ADS_1


Ida baru menyadari bahwa Burhan juga mempunyai lesung pipi di pipi sebelah kirinya. Diam-diam, Ida mulai mengagumi sosok pria yang telah menjadi suaminya itu.


* ampiang dadiah \= susu kerbau yang di fermentasi di dalam batang Bambu, biasa dimakan dengan emping Beras dan diberi kucuran gula aren.


__ADS_2