MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 20


__ADS_3

"Tuan Syamsyir?" Ida terkejut mengetahui pemilik tangan yang menariknya adalah Syamsyir.


Wajah pemuda itu dipenuhi debu dan darah akibat luka di pelipis kirinya. Hampir saja Ida tak mengenali kalau saja ia tak mengenal suara Syamsyir.


"Iya, ini aku."


"Kenapa ada di sini?" tanya Ida masih keheranan.


"Tadi aku melihat kau keluar dari Kantor Kawat, tepat pada saat sebuah bom jatuh menimpa rumah dekat aku berdiri," terang Syamsyir.


"Lalu aku melihatmu berlari ke arah sini, aku dan Rizal mengikutimu," lanjut Syamsyir.


Ida melihat Rizal datang menyusul dengan terengah-engah. Rizal berjengit sambil memegangi perutnya.


"Cepat juga lari kau, Da," ujar Rizal sambil mengatur nafas.


Tampilan Rizal juga tak kalah kacau. Rambutnya penuh dengan debu, darah dari luka di lengannya membuat kemeja drill yang ia kenakan berubah warna. Wajahnya juga hampir tak dikenali Ida.


"Kalian kapan sampai di Bukittinggi?" tanya Ida masih belum percaya akan bertemu dengan kedua pemuda itu.


"Kemarin malam, kami dapat pesan kawat kalau Belanda akan menyerang Bukittinggi. Kantor Kawat Bukittinggi tidak memberi respon, kami hendak menyampaikan pesan yang diterima Kantor Kawat Padang," terang Syamsyir.


Ida tercenung.


"Kalian tau kabar mak dang ku kah?" Tiba-tiba ia teringat mak dang nya. Sudah lama ia tak mendengar kabar mak dangnya.


"Terakhir aku ketemu di Kayu Tanam," ujar Syamsyir.


"Kapan?"


"Kira-kira sebulan yang lalu."


"Bagaimana keadaan beliau?"


"Alhamdulillah sehat. Kau tidak pernah ketemu mamakmu lagi setelah kau diantar pulang waktu itu?"


"Terakhir kali aku bertemu ketika aku dan mak dang kebetulan pulang tiga bulan lalu," terang Ida.

__ADS_1


"Lukamu perlu dibersihkan," ucap Ida ketika menyadari luka yang di pelipis Syamsyir lebih lebar dari yang ia kira sebelumnya.


"Nanti saja, kita harus mencari tempat aman dulu," ujar Syamsyir. Matanya masih mengawasi langit.


Pesawat mustang Belanda masih saja berputar di langit Bukittinggi pagi itu. Warna biru langit tertutup asap. Bunyi ledakan dan raungan mesin pesawat memekakkan telinga.


"Bagaimana kondisi markas ya?" tanya Ida dengan tatapan nanar.


"Nanti kita lihat bagaimana kondisinya, sekarang ayo kita menepi dulu, jangan berdiri di sini," ajak Syamsyir.


Menjelang sore, penyerangan yang dilakukan Belanda melalui udara mulai mereda. Mereka bertiga berjalan kembali ke markas. Di perjalanan, mereka bertemu beberapa orang yang turut menyelamatkan diri.


Mereka berjalan beriringan kembali ke arah kota Bukittinggi. Namun, ketakutan masih saja tergambar dari wajah mereka. Perjalanan terasa sunyi, ketakutan membuat mereka seolah tak mampu untuk saling berbicara.


Sesampainya di markas, mereka bertiga mendapati kondisi markas yang sudah hancur. Ida mencoba mencari teman-temannya yang lain di antara reruntuhan. Beberapa di antaranya ia mendapati ada yang sudah tidak bernyawa. Ketika mereka masih menyisiri rentutuhan markas, seorang Tentara pelajar menghampiri mereka.


"Kalian sebaiknya cepat berkumpul di lapangan, rombongan Mobrig akan berangkat ke Jirek. Beberapa orang dari markas sudah berkumpul di lapangan," ujar pemuda tersebut.


"Lalu bagaimana dengan korban yang meninggal?" tanya Ida.


"Tidak perlu dipikirkan, nanti ada yang akan mengurus. Sekarang kita selamatkan yang masih hidup terlebih dahulu," balas pemuda itu dengan tergesa mengajak mereka bertiga untuk beranjak ke lapangan.


Dalam perjalanan mereka ke Jirek, Ida mendengar kabar bahwa para petinggi politik sedang mengadakan pertemuan untuk membentuk pemerintahan baru di Bukittinggi. Ida menyadari kondisi negaranya sedang dalam keadaan darurat. Namun ia mencoba menepiskan segala kekhawatirannya.


Biarlah para cendikiawan itu berembug mencari jalan terbaik bagi negaranya. Ia cukup mengerahkan tenaganya untuk membantu di medan perjuangan, pikirnya. Tiba-tiba ia teringat akan amai dan Tini di kampung. Apakah rumahnya aman, ataukah ikut menjadi sasaran Belanda. Seketika pikirannya tidak tenang.


Lalu, tiba-tiba pikirannya beralih.


"Tuan, bolehkah aku bertanya sesuatu?" Ida memberanikan diri untuk memulai percakapan dengan Syamsyir.


"Ya? Apa?" tanya Syamsyir heran, karena selama ini ia tau gadis itu tak pernah memulai percakapan terlebih dahulu. Jika ditanya pun, gadis itu selalu menjawab ala kadarnya. Bahkan Syamsyir mendengar kabar, gadis itu susah untuk didekati.


"Tahun lalu, setelah aku di bawa mak dang kembali ke kampung, apakah Tuan kembali lagi ke Sicincin?"


"Iya, kami membenahi surau itu kembali, walaupun surau sudah tidak kami tempati lagi," terang Syamsyir.


"Lalu ... Apakah Tuan tau bagaimana nasib Maryam?" Setiap kali mengenang Maryam, Ida tak mampu menahan emosinya.

__ADS_1


Bibirnya bergetar ketika mengucapkan nama sahabatnya itu.


"Maryam ...." Syamsyir tampak berpikir keras mengingat nama gadis yang disebut Ida.


"Petugas PMI yang bersamaku di surau itu. Gadis jangkung yang tewas terkena ledakan granat." Ida berusaha untuk menguatkan hatinya agar mampu membuat Syamsyir ingat akan sahabatnya itu.


"Oh! Iya, ketika aku sampai di surau, semua korban yang meninggal sudah dimakamkan. Aku tidak menyaksikan pemakamannya. Tapi mereka dimakamkan di tanah belakang surau."


"Oh! Terima kasih," balas Ida singkat.


"Sudah? Begitu saja?" Mata tajam Syamsyir menyelidik wajah Ida yang menunduk.


"Ya, sudah. Aku cuma ingin tahu bagaimana nasib jasad sahabat ku," jawab Ida sambil menerawang.


"Kau kenal Ros dan Amir?" Syamsyir mencoba memancing Ida untuk berbicara.


"Ya! Ada kabar apa dengan mereka? Semenjak aku dipindah ke Sicincin, aku sudah tidak bertemu mereka lagi." Ida bersemangat ketika Syamsyir menanyakan sahabatnya.


"Mereka menikah, haha!" gelak Syamsyir.


"Benarkah? Kapan?" Entah kenapa rasa bahagia menelusup dalam hati Ida.


Setidaknya dari sekian banyak berita sedih tentang kematian dan perpisahan, berita pernikahan sahabatnya sedikit menjadi penghibur dalam kondisi saat itu.


"Uhm ... Sekitar tiga bulan lalu. Tidak ada yang menyangka mereka akan menikah. Karena tidak ada yang melihat tanda-tanda mereka mempunyai hubungan." Syamsyir tersenyum lebar membuat matanya menjadi segaris.


"Ya seperti almarhum Rasyid mendekati kau dulu, Da. Hampir semarkas tau kalau Rasyid mengejar kau," sambar Rizal.


Seperti ada pisau yang tiba-tiba menghujam jantungnya. Senyum bahagia yang tadi menghiasi wajahnya mendadak hilang.


Syamsyir menyikut Rizal dengan keras.


"Kau peka sedikit lah," bisik Syamsyir.


"Ah maaf Da ... Aku tak bermaksud ..." Rizal salah tingkah.


"Ah sudah, tak perlu begitu. Sudah berlalu," tepis Ida. Namun, ia tetap tak mampu menutupi perubahan air mukanya.

__ADS_1


Ada rasa canggung yang mendadak tercipta di antara mereka. Ida memalingkan wajah nya ke arah luar.


Pemandangan senja itu mengingatkan nya pada senja-senja yang telah ia lewati di medan pertempuran. Senja-senja terakhir ketika Rasyid datang menemuinya setelah selesai berjaga. Senja-senja yang ia lalui bersama Maryam. Dan senja-senja yang ia lalui bersama rekannya yang lain ketika menyelamatkan diri.


__ADS_2