
Ida terkesiap ketika setetes embun jatuh tepat di pipinya. Ia membuka matanya, suasana hutan sudah mulai agak terang walaupun kabut masih saja menggantung menutupi sebagian hutan. Namun cahaya matahari sudah mulai terlihat, membentuk garis diagonal keemasan di sela-sela pepohonan. Suara burung balam bersahut-sahutan, membuat suasana hutan pagi itu terasa hidup.
"Sudah bangun?" sapa Syamsyir ketika melihat Ida mengerjap memperhatikan suasana hutan.
"Iya," jawabnya singkat.
"Kau mau mengisi perut dulu? Setelah Rizal dan Mak Dang mu bangun kita akan lanjutkan perjalanan," tawar Syamsyir menunjuk beberapa tusuk daging yang masih berada di atas api yang dibuat Rizal kemarin.
"Tidak usah," tolak Ida.
"Oh, baik. Aku hendak mengubur sisa daging ular yang masih tersisa supaya tidak membusuk," lanjut Syamsyir segera bangkit dari duduknya.
Ia membawa sisa daging ular yang masih agak banyak di tangannya dan memasukkannya ke dalam sebuah lubang yang ternyata sudah dipersiapkannya
Tak lama, Rizal dan Mak Dang pun terbangun.
"Sudah terang ya, kita berangkat sekarang?" tanya Mak Dang menoleh pada Syamsyir yang baru saja beres menutup lubang tempat ia mengubur sisa daging.
"Apa Engku mau makan dulu?" tanya Syamsyir sopan.
"Ah, tidak usah. Sepertinya perutku masih penuh," tolak Mak Dang.
Tanpa menunggu lama, mereka melanjutkan perjalanan. Seperti yang dikatakan Syamsyir kemarin, tak jauh dari tempat mereka beristirahat, jalan yang mereka lalui bersisian dengan tebing. Jalan yang sempit membuat mereka berhati- hati melangkah. Sedikit saja mereka lalai, mereka bisa meluncur jatuh ke jurang curam di bawahnya.
Ida berjalan perlahan. Merapatkan diri pada sisi jalan yang dipenuhi semak yang ada di sebelah kanannya. Beberapa ranting semak berduri melukai kulitnya, tapi ia tak menghiraukannya.
Jalanan yang mereka lalui mulai menurun. Suara air sungai yang tadi samar mulai terdengar jelas. Perlahan jalanan yang mereka lalui mulai semakin terang, pepohonan yang menutupi sisi kiri jalan mereka sudah mulai merenggang.
Ida terpana melihat pemandangan yang terpampang di bawah jurang tempat mereka berjalan. Jembatan jalur kereta api dengan besi penyangga berbentuk busur berdiri dengan angkuhnya membelah aliran sungai Batang Anai.
__ADS_1
Ida menatap takzim. Rel kereta yang membelah lembah itu tampak seperti liukan tubuh ular di tengah rimbunnya hutan. Di kejauhan terlihat air terjun lembah Anai. Airnya yang deras turun dari celah atas tebing yang berasal dari sungai Suluh, tampak seperti selendang putih yang menggantung.
"Kita sudah sampai di Lembah Anai, kalau tidak ada halangan lagi, insya Allah kita sampai tengah hari di Kubang Putiah, Ngku," terang Syamsyir.
"Alhamdulillah, semoga saja tidak ada halangan lagi." Mak Dang berhenti sejenak, memandang ke arah seberang tebing yang mereka lalui lalu menoleh ke arah Ida.
"Kakimu masih sakit Da?" tanya Mak Dang.
"Masih Mak. Tapi sudah tidak sesakit kemarin," sahut Ida.
"Kalau begitu, nanti kita tidak usah banyak istirahat di jalan ya, supaya cepat sampai di rumah."
"Baik Mak."
Suara Siamang bersaut-sautan di atas dahan pohon dan suara gemericik air sungai mengiringi perjalanan mereka pagi itu. Tak ada yang berniat untuk membuka percakapan di antara mereka berempat. Kalau saja perjalanan kali ini bukan karena ia digiring pulang oleh Mak Dang, Ida pasti menikmati setiap sajian alam yang terpampang di sepanjang perjalanan.
Semakin mendekati tujuan, perasaan Ida campur aduk. Antara cemas dan rindu. Cemas kalau saja nanti amai tidak menyambut baik kedatangannya. Namun, ia tak dapat memungkiri rasa rindu yang terselip di hatinya akan tanah kelahirannya itu.
Tepat ketika matahari berada di tengah, pemandangan gunung Marapi mulai terlihat di hadapan mereka. Warna biru tua gunung dilatar belakangi langit biru yang cerah terlihat anggun diselimuti awan putih bersih pada puncaknya.
"Engku, kita berpisah disini saja ya," ujar Syamsyir ketika mereka sampai di Sungai Pua.
"Terima kasih ya, mungkin saya akan ikut kembali ke Padang setelah mengantarkan kemenakan saya ini pulang. Semoga nanti kita bisa bertemu lagi." Mak Dang menyalami Syamsyir dan Rizal.
"Terima kasih," ucap Ida singkat ketika Syamsyir dan Rizal menyalaminya.
Mereka saling berpamitan. Syamsyir dan Rizal melanjutkan perjalanan ke arah Bukittinggi, Ida dan Mak Dang melanjutkan perjalanan melalui Sungai Pua.
Tujuh bulan pergi meninggalkan rumah menghadapi medan pertempuran, membuat Ida merasa mendatangi belahan bumi yang lain. Di kampungnya terasa damai. Tak terlihat adanya tanda penyerangan Belanda di tanah kelahirannya itu.
__ADS_1
Sesampainya di halaman depan rumahnya, Ida tertegun memandangi rumah panggung yang masih terlihat sama seperti terakhir kali ia tinggalkan. Rumput halus yang ditanam di halaman rumah itu masih tumbuh rapi seperti hamparan karet hijau. Pohon mangga yang tumbuh di sisi kanan mulai berbunga. Beberapa ekor kumbang hinggap dan menghisap nektar bunga mangga yang mekar.
"Cepatlah kau masuk, Da. Kau tengoklah kondisi amai," tegur Mak Dang membuyarkan lamunan Ida.
"I-iya Mak."
"Kenapa kau seperti mau dibawa ke tempat pembantaian saja, ini kan rumah kau Da?" Mak Dang keheranan melihat wajah Ida pucat.
"Aku takut dihukum amai, Mak." Ida mengutarakan apa yang ia rasakan.
"Kan sudah aku bilang, amai kau sakit. Beliau tidak akan menghukum kau." Kali ini suara Mak Dang tidak segalak biasanya.
Ida melihat wajah Mak Dang. Memastikan bahwa mamaknya itu tidak berbohong. Melihat raut muka Mak Dang yang tampak letih serta sorot matanya yang sayu, membuat Ida yakin Mak Dang nya tidak berbohong. Ia mencuci kakinya dengan air di guci yang terletak di dasar tangga.
Setelah kaki nya bersih, Ida perlahan menaiki anak tangga yang menuju rumah. Ia melihat jendela kamar amai yang terletak di sebelah kiri pintu masuk, terbuka. Terdengar suara amai dan Tini bercakap-cakap, namun Ida tak dapat menangkap apa yang mereka bicarakan.
"Assalamualaikum. ..." Ida memasuki rumah.
"Waalaikum salam, kau kah itu Da?" Suara amai terdengar serak.
"Iya Mai." Ida melongokkan badannya di pintu kamar amai.
"Onde Daaa, ... Alhamdulillah aku masih bisa melihat kau hidup Da." Tangis amai pecah tatkala melihat wajah Ida di depan pintu kamarnya.
"Ke sini lah kau, aku rindu kau Da." Amai menjulurkan tangannya yang keriput ke arah Ida. Tangan yang dulu masih berisi, sekarang tampak seperti kulit yang hanya membungkus tulang.
Ida terisak, sedikit ada rasa sesal ketika ia melihat kondisi amainya terbaring seperti itu. Sementara itu Mak Dang hanya mematung di depan pintu menyaksikan nenek dan cucu itu bertangis-tangisan. Tini pun tak mampu menahan air matanya, betapa selama tujuh bulan ini ia menyaksikan sendiri bagaimana amai selalu mencari-cari Ida sampai jatuh sakit.
"Tapi badan Ida kotor Mai, Ida mau bersih kan diri dulu," sahut Ida.
__ADS_1
"Aku tak peduli, ke sini lah kau," perintah amai.
Ida berjalan perlahan ke tempat pembaringan amai. Seolah tak percaya menatap amai mengulurkan tangan hendak memeluknya. Amai memeluknya erat ketika ia sampai di tempat amai terbaring. Isak tangis amai membuat tangis Ida pecah. Antara bahagia ia bisa berkumpul kembali dengan keluarganya dan rasa bersalah karena selama ini ia selalu berprasangka buruk pada keluarganya.