
Waktu tidak akan pernah bisa menyembuhkan, ia hanya mengajarkan kita untuk terbiasa dengan rasa sakit.
***
Ida mencoba untuk berdamai dengan kenyataan, menyadari bahwa sekuat apapun ia menangisi kepergian Yasir, anaknya tak akan pernah kembali. Sekeras apapun ia berpikir kenapa semua itu terjadi, ia tetap tak akan menemukan jawabannya. Ia harus terus melanjutkan hidup, waktu tak akan pernah mau menunggunya berlama-lama terkubur dalam kesedihan.
"Da, kau tak apa-apa kalau ku tinggal?"
"Tidak apa-apa, Tuan." Ida menghentikan gerakannya mengemasi pakaian Burhan. Menoleh pada suaminya yang sedang duduk di tempat tidur.
"Kenapa Tuan tiba-tiba bertanya seperti itu?"
"Ah ... Aku hanya khawatir, mengingat seminggu kemarin melihat kau terus mengurung diri di kamar," sahut Burhan ragu-ragu.
"Aku sudah bisa menerima kepergian Yasir, Tuan." Ida termangu, kemudian melanjutkan kembali memasukkan pakaian Burhan ke dalam tas.
"Kau jangan keseringan sendirian ketika aku tak ada ya, Da." Burhan duduk di dekat Ida.
"Kenapa?"
"Kalau kita terlalu larut dalam pikiran sedih, syetan suka ikut membisiki hal jahat." Burhan menatap lekat mata istrinya. Kesedihan masih terlihat jelas menggantung di sana.
Ia pun masih belum bisa mempercayai kenyataan, putranya pergi secepat itu.
"Iya, Tuan."
"Aku tau sulit buatmu menerima kenyataan ini, aku juga sama. Kita sama-sama belajar menerima takdir."
Ida menunduk dalam. Mengerjap-ngerjapkan matanya agar cairan hangat yang mulai menggenang di matanya tak jatuh. Ia mengangkat wajahnya kembali, lalu tersenyum pada Burhan.
"Iya ...." sahutnya sambil menghembuskan nafas keras.
"Aku yakin kau perempuan kuat. Kau pasti bisa melewati semua ini." Burhan balas tersenyum.
***
Tiga bulan setelah kepergian Yasir, Ida melahirkan bayi perempuan. Bayi mungil dengan pipi merona, mereka memberi nama Kamila.
Seperti halnya Yasir, Kamila tumbuh menjadi gadis kecil ceria yang penuh energi. Rambutnya ikal, matanya bulat bening, pipi montok merona, serta bibir yang mungil membuatnya tampak seperti boneka yang menggemaskan.
Pagi itu Burhan mengajak Mila--panggilan Kamila-- berjalan-jalan di sekitar rumah. Menikmati pagi kota Payakumbuh yang selalu diselimuti embun. Matahari mengintip malu-malu di langit, sedikit demi sedikit menepikan embun yang menggantung.
"Abak ... Abak ... Endong," pintanya dengan wajah memelas.
"Haha, anak abak lelah?"
"Uhm ...." Mila mengangguk cepat.
"Sini abak gendong," sahut Burhan mengangkat gadis kecilnya.
Mila tertawa riang, mendendangkan lagu yang ia karang sendiri, dengan bahasa yang hanya ia mengerti sendiri. Burhan terbahak mendengar nyanyian ceria dari bibir mungil gadis kecil itu.
Memasuki jalan yang menuju rumahnya, Burhan berpapasan dengan tek Piah,
"Eh, Burhan ... Sedang jalan pagi ya?" sapanya.
"Iya, Tek," sahut Burhan singkat, memilih untuk tidak berbicara banyak dengan tetangganya itu.
"Istrimu tidak ikut?" Sepertinya tek Piah belum mau melepaskan Burhan begitu saja.
"Ida sedang tidak enak badan, Tek." Burhan berusaha untuk menyudahi basa-basinya.
"Sering sakit ya istrimu?"
"Dia sedang mengidam," sahut Burhan masih dengan jawab seadanya.
"Ooh, ...."
"Aku pamit dulu, Tek," potong Burhan tatkala melihat tek Piah masih hendak melanjutkan pembicaraan.
Ia tau, pada akhirnya tek Piah akan kembali mengungkit perasaan anaknya--Ana-- padanya. Entah sampai kapan tek Piah akan menyerah untuk tidak membicarakan hal itu setiap kali bertemu. Padahal, Ana sendiri sudah menikah dan memiliki anak.
Burhan bergegas meninggalkan tek Piah yang masih diam di tempatnya berdiri. Wajahnya terlihat kesal karena Burhan meninggalkannya begitu saja.
"Assalamualaikum." Burhan membuka pintu, menurunkan Mila dari gendongannya.
"Waalaikum salam ... Eh, Mila sudah pulang," sambut Ida tersenyum hangat.
"Sudah makan, Da?" tanya Burhan melihat Ida yang masih terlihat lemas.
"Belum, ini aku baru mau makan. Buk Isah membuat kan bubur kacang hijau," tunjuk Ida pada mangkuk yang ada di atas meja.
"Kau juga sekalian makan Han." Buk Isah muncul dari arah dapur, meletakkan semangkuk bubur ke atas meja di hadapan Burhan.
"Mila, ayo sama nenek," ajak buk Isah pada gadis kecil itu.
"Nak mau," tolak Mila memeluk abaknya.
"Biar Mila aku suapkan makan di sini, Buk," ujar Ida.
"Ibuk sudah makan?" timpal Burhan.
"Sudah, tadi sekalian menemani bapak makan sebelum beliau ke sawah. Kalau begitu, aku mau menyusul bapak ke sawah, ya," pamit buk Isah.
"Iya, buk. Terima kasih," sahut Ida dan Burhan bersamaan.
__ADS_1
Mereka bertiga menghabiskan sarapan sambil mendengarkan celoteh riang dari Mila. Ida terpingkal-pingkal menyimak cerita anaknya yang penuh semangat. Kembali teringat akan keceriaan Yasir, namun kali ini Ida bisa mengingat Yasir dengan senyuman.
"Yasir juga pasti sudah bahagia di surga ya, Nak" lirih Ida dalam hati.
****
"Pekan depan kau mau jalan-jalan, Da?" tanya Burhan suatu sore.
"Kemana?"
"Hanya ke Arau, sudah lama sekali rasanya aku tak mengajakmu."
Wajah Ida berubah murung.
"Kenapa, Da? Kau tidak suka?"
"Bukan tidak suka, Tuan. Tempat itu, tempat yang paling disukai Yasir. Andai Yasir masih ada, dia pasti akan senang sekali diajak kesana," ujar Ida lirih.
"Iya, apa kita ke tempat lain saja?" tawar Burhan.
"Ke sana saja, aku juga menyukai tempat itu. Lagipula, Mila belum pernah diajak kesana."
"Iya."
"Mila, hari ahad mau tidak abak ajak jalan-jalan?" tanya Burhan pada Mila yang tengah asyik bermain boneka.
"Naik boyan kaliang, Bak?" tanya Mila dengan mata berbinar.
"Mila ingin naik boyan kaliang?"
"Iya," sahut gadis itu pindah duduk ke pangkuan Burhan.
"Bagaimana kalau abak ajak pergi berenang dulu?" tawar Burhan.
"Mau, Bak." Gadis itu mengangguk penuh semangat.
***
"Nenek, nenek tidak ikut?" tanya Mila mendekati buk Isah yang tengah menyiapkan rantang berisi makanan bersama amaknya.
"Tidak, kau pergi saja dengan abak dan amakmu, ya. Nenek tak kuat udara dingin. Di sana dingin sekali," kekeh buk Isah.
"Nenek tidak sedih ditinggal?" tanya gadis itu polos.
"Tidak, nenek lebih baik istirahat di rumah, kau pergi sajalah. Itu abakmu sudah memanggil," tunjuk buk Isah, melihat Burhan yang muncul di puncak tangga.
"Mila, ayo kita berangkat," ajak Burhan pada Mila.
"Sudah selesai bekalnya, Da?" tanyanya pada Ida.
"Mila jalan, Nek. Nenek tidak boleh nangis di rumah, ya," ujar gadis itu dengan sorot mata jenaka.
"Iya, kau juga tidak boleh nakal di sana." Buk Isah membelai lembut rambut Mila.
"Buk, kami jalan, ya," pamit Burhan dan Ida.
"Ya, hati-hati di jalan."
Di sepanjang jalan menuju Arau, Mila tak henti-hentinya berceloteh, menatap takjub dinding terjal yang mengelilingi lembah yang akan mereka tuju.
"Tempat apa ini, Bak? Dingin. ..." Mila meringkuk ke dalam pelukan Ida.
"Tempat ini namanya Arau. Dulu ini tempat istirahat Belanda," terang Burhan.
"Mila takut, Bak."
"Kenapa Mila takut pada tempat seindah ini?" tanya Burhan.
Langit biru, bentangan sawah yang masih hijau, serta pepohonan di sepanjang sisi tebing membuat mata tak akan pernah jemu memandang lukisan alam itu.
"Takut nanti dinding itu runtuh" tunjuk Mila pada salah satu tebing yang ada di kiri jalan.
"Dinding itu tidak akan runtuh. Kau tau tidak, dahulu kala, tempat ini adalah laut. Tebing itu adalah batu karang yang kokoh, jadi tidak akan mudah runtuh."
"Laut itu apa?" tanya Mila dengan sorot mata kebingungan. Ia yang dari lahir tinggal di daerah pegunungan, tidak begitu mengenal apa itu laut.
"Laut itu seperti kolam, tapi ukurannya besar. Nanti abak ajak jalan-jalan ke laut, ya."
"Iya ... Mau!" pekik gadis itu kegirangan.
"Lalu, air lautnya kemana, Bak?" Mila kembali bertanya.
"Dahulu kala, di atas tebing itu ada kerajaan. Sang putri raja terjun ke laut karena tidak mau dipaksa menikah oleh raja. Lalu rajanya mengeringkan air lautnya untuk mencari sang putri, namun sampai air lautnya kering, sang putri masih tidak ditemukan."
"Tuan putrinya meninggal, Bak?"
"Tidak, dia menjadi batu."
"Seperti Malin Kundang?"
"Ya, seperti Malin Kundang."
"Sepengetahuanku, legenda lembah ini menceritakan kisah Putri Sari Banilai," protes Ida.
"Ya, ada juga yang mengatakan seperti itu," angguk Burhan.
__ADS_1
"Siapa itu Putri Sari Banilai, Mak?" tanya Mila menatap Ida.
"Dia itu putri dari kerjaan Hindustan, mereka berlayar ke lembah Arau ini ... Tuan putrinya jadi batu karena tidak menempati janji .... [1]"
Mila mendengarkan dengan penuh perhatian cerita amaknya, namun angin dingin yang bertiup di antara lembah, serta bunyi kerincingan kuda penarik bendi yang mereka tumpangi, membuat gadis kecil itu seperti dinyanyikan lagu penghantar tidur. Ia merebahkan kepalanya di pangkuan Ida dan terlelap.
"Ahaha ... Mudah sekali tidurnya, persis amaknya," gelak Burhan.
"Ya, setidaknya ada yang menurun dariku ya, Tuan," gelak Ida.
Mereka sampai di tempat tujuan, ketika matahari mulai meninggi, namun teriknya matahari, tak begitu terasa di lembah itu. Dinding terjal yang mengelilingi, membuat udara terasa sangat dingin.
Ida menatap air terjun di hadapannya. Airnya tidak terlalu deras, mengalir ke kolam yang ada di bawahnya.
"Abak, Mila tidak mau berenang. Dingin." Gadis itu mengeratkan pelukannya ke leher Burhan.
Ida menggelar tikar yang ia bawa. Menata rantang yang telah ia siapkan sedari pagi bersama buk Isah.
Lembah itu begitu sunyi. Tidak begitu banyak pengunjung yang datang. Ida menghirup dalam-dalam udara sekitar lembah. Begitu menenangkan. Terbayang olehnya Yasir berlari-lari penuh semangat ke kolam yang ada di bawah air terjun. Memaksa abaknya untuk ikut turun berenang bersamanya.
Yasir termasuk anak yang pemberani, tak ada yang ia takuti. Kemudian matanya memperhatikan Mila dan Burhan yang sedang duduk di pinggir kolam. Tangan gadis itu masih memeluk erat leher Burhan.
"Yasir, amak rindu. Kalau kau masih ada, mungkin kau akan mengajak adikmu untuk bermain air di kolam itu." Mata Ida mulai menghangat namun ia coba menepiskan sesak yang ia rasakan.
"Ternyata tak semudah mengobati sakitnya patah hati ketika ditinggal anak tercinta," gumamnya.
***
Usia Mila menjelang empat tahun ketika Ida melahirkan anak ketiganya. Di suatu senja, Burhan baru saja kembali dari perjalanannya, mendapati Ida sedang berjalan bolak-balik di dalam kamar sambil meringis menahan sakit. Mila tengah asyik bermain boneka di sudut kamar, tak merasa terganggu dengan amaknya yang berjalan mondar-mandir.
"Kau mau melahirkan, Da?" tanya Burhan dengan nada khawatir.
"Iya, Tuan. Buk Isah sedang menjemput mak Saroh ke rumahnya," sahut Ida dengan suara tersengal.
"Abaak ...." pekik Mila ketika melihat Burhan masuk kamar.
"Apa yang harus aku bantu, Da?" Burhan bertanya khawatir.
"Temani Mila saja, Tuan."
"Mila, kita main diluar saja, ya."
"Iya, amak sedang sakit," tunjuk gadis itu.
"Iya ... Sebentar lagi Mila akan jadi kakak," terang Burhan.
"Adik mau keluar dari perut amak?" tanya nya dengan wajah berbinar.
"Iya, Mari kita berdoa supaya adik dan amak sehat," ajak Burhan.
Azan magrib berkumandang, mak Saroh datang tergopoh bersama buk Isah. Di tangan buk Isah sudah ada baskom berisi air hangat.
"Nah, itu nenek sudah masuk. Kita shalat dulu, minta sama Allah biar amak dan adik selamat," ajak Burhan.
"Tapi, Mila mau lihat adik keluar dari perut amak," rengek gadis itu.
"Tidak usah, nanti adik malu kalau dilihat Mila. Mila tunggu saja sama abak, ya."
Tatkala Burhan melangkah ke ujung lorong, terdengar suara tangisan bayi memecah kesunyian senja di rumah itu.
"Itu suara adik, Bak?" Mila menarik tangan Burhan untuk kembali ke kamar.
"Iya, nanti kita tunggu nek Isah memanggil kita masuk, ya."
"Mila ingin lihat adik sekarang," paksa gadis kecil itu.
Buk Isah membuka pintu kamar ketika Burhan mulai merasa kewalahan membujuk anaknya yang memaksa untuk masuk.
"Nenek! Mila ingin lihat adik," teriaknya.
Mila menghambur ke kamar diiringi Burhan.
"Perempuan, Han," ujar buk Isah tanpa ditanya Burhan.
"Alhamdulillah ... terima kasih, Buk," ucap Burhan melangkah masuk kamar.
"Abak ... Mila jadi kakak," teriak gadis itu dengan semangat.
Mata bulatnya bersinar memandangi wajah bayi mungil yang ada di hadapannya.
"Mila, baik-baik sama adik, ya." Ida mengusap lembut rambut Mila yang dikucir dua.
"Iya ... Namanya siapa, Mak?"
"Kita panggil Laili, ya," sahut Burhan yang sudah berada di samping Mila.
"Iya." Senyum terkembang di wajah Mila.
Rasa letih setelah melahirkan tak lagi Ida rasakan. Hatinya dipenuhi rasa bahagia, menghilangkan semua lelah.
"Ya Allah, aku tak menginginkan apa-apa lagi. Mempunyai keluarga seperti ini sudah cukup bagiku. Bahagiaku terasa lengkap sudah," bisik Ida.
Bersambung....
[1] Legenda lembah Harau. Lembah yang terletak di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatera Barat.
__ADS_1