
"Assalamualaikum, Uni."
Sapaan di depan pintu kamar membuat perhatian Ida yang sedang menyusui Yasir teralih.
"Tini!" pekiknya dengan suara tertahan.
Senyum bahagia terkembang di bibir Ida, melihat kehadiran adik perempuannya itu. Semenjak dua bulan yang lalu, Ida memang belum bertemu lagi dengan Tini.
"Dengan siapa kau ke sini?"
"Sama mak dang dan mak tuo. Mereka ada di depan sedang berbincang-bincang dengan mak Halimah," sahut Tini.
"Oh, mak dang juga ikut ke sini. Aku pikir hanya kau yang ke sini."
"Kebetulan mak dang sedang ada di kampung, ketika mak Halimah mengabarkan akan mengadakan acara turun mandi anak Uni. Sudah selesai Uni menyusui? Boleh aku gendong keponakanku?"
"Ah ... Iya. Namaku Yasir, tek. Yasir ... Ini etek kau, Tini," ujar Ida menyerahkan Yasir ke pangkuan Tini.
"Yasir ... Tampan sekali anak bujang etek." Tini menatap takjub wajah keponakannya.
Bayi kecil itu menggeliat dalam pangkuan Tini, lalu kembali tertidur.
"Aku temui mak dang dulu ya, Tin?" ujar Ida bangkit dari duduknya.
"Iya, sekalian Yasir aku bawa keluar, ya?"
"Ya."
Ida melangkah keluar menemui mak dang. Setelah ia menikah, ini kali pertama ia bertemu kembali dengan mamaknya itu.
"Ida," seru mak Halimah ketika melihat menantunya keluar dari kamar.
Mak dang dan mak tuo yang sedang berbincang dengan mak Halimah menoleh pada Ida. Mereka tersenyum menyambut kedatangan Ida.
"Mak," sapa Ida menyalami mamak dan istrinya.
"Alhamdulillah, sehat kau ya, Da. Bahagia hatiku melihatmu sekarang. Mana cucuku?"
Wajah mak dang yang biasa terlihat sangar di mata Ida, hari itu terlihat lebih teduh.
"Alhamdulillah, Mak. Terima kasih sudah mengunjungi Ida," sahut Ida dengan senyum terkembang.
"Ini dia anak bujang Uni, Mak." Tini muncul di belakang Ida dengan Yasir dalam gendongannya dan duduk di samping mak tuo.
"Tampan sekali cucu nenek, siapa ini namanya?" tanya mak tuo, istri mak dang mengambil Yasir dari gendongan Tini.
"Namanya Yasir, Mak Tuo," sahut Ida.
"Aku ke belakang dulu, ya. Kalian lanjutkanlah berbincang-bincangnya," pamit mak Halimah.
"Iya Uni," sahut mak tuo pada mak Halimah.
"Pintar kau menjaga kemenakanku, Sutan. Dulu kami dibuat potang-panting menghadapi anak perempuan yang satu ini," gelak mak dang pada Burhan.
"Haha ... Alhamdulillah kalau Mak etek melihatnya seperti itu," sahut Burhan.
Tawa Burhan hari itu tampak begitu lepas. Ada rasa sejuk di hati Ida ketika melihat tawa di wajah suaminya. Burhan tampak lebih gagah berbalut beskap warna biru tua, rambut ikalnya tersisir rapi. Seperti biasa, lesung pipi di sebelah kiri pipinya menambah pesona Burhan di matanya.
"Pantas saja Ana tak mau melepas pria ini," kekeh Ida dalam hati.
"Coba Sutan perhatikan, biasanya mana pernah kemanakanku ini mau tersenyum seperti itu ketika bersamaku," tunjuk mak dang.
Sadar kalau ia yang dibicarakan, Ida salah tingkah, matanya bersirobok dengan tatapan Burhan, membuat ia makin salah tingkah.
"Nah, silahkan makan Min, Engku ... Jauh-jauh dari Bukittinggi, pasti sudah lapar," Mak Halimah datang membawa sepiring penuh gulai cancang kambing, menyelamatkan Ida dari salah tingkahnya.
Mencoba menghilangkan rasa malunya, ia membantu mak Halimah meletakkan piring berisi gulai cancang yang dibawa mertuanya di antara deretan piring yang terhidang di ruang tengah.
"Ondeh! Ini masakan amak kau yang selalu di tunggu pelanggannya kalau di pakan, Sutan," seru mak dang penuh semangat pada Burhan.
__ADS_1
"Ah, terlalu berlebihan Engku ini," sahut mak Halimah.
"Aku tidak mengada-ada, semenjak kau sudah tidak berjualan di pakan Bukittinggi, tak ada lagi yang bisa menyamai masakanmu ini," puji mak dang.
"Iya Uni, apalagi gulai tambusu [1] Uni. Sudah aku coba membeli di tempat yang orang bilang paling enak, masih saja kalah rasa dari masakan Uni," timpal mak tuo istri mak dang.
"Haha ... Jadi besar kepala aku nanti disanjung seperti ini. Nah, makan lah."
"Uni tidak sekalian makan?" tanya mak tuo.
"Aku baru saja selesai makan. Kau temani mamak kau makan ya, Da. Kau kan belum makan dari pagi."
"Iya, Mak," sahut Ida.
Siang hari yang terik kala itu tak mempengaruhi perasaan Ida. Damai ia rasakan membuat hatinya terasa sejuk. Sudah lama ia tak merasa sedamai itu. Untuk pertama kalinya, ia benar-benar merasa mempunyai keluarga setelah ditinggal kedua orangtuanya.
"Alhamdulillah, terobati rasa rinduku pada masakan amakmu, Sutan," ujar mak dang setelah selesai makan.
"Alhamdulillah, masakan amak masih dirindukan," sahut Burhan.
"Oh iya, Da. Insya Allah bulan depan ninik mamak kita akan baretong [2] untuk pernikahan Tini. Dengan kondisi kau sekarang, tak perlu kau pulang ke kampung, kau doakan saja semua berjalan lancar," tutur mak dang beralih ke Ida.
"Alhamdulillah ... dengan siapa, Mak?" tanya Ida penuh semangat.
"Anak bungsunya Datuk Marajo yang merantau ke Sidempuan," terang mak dang.
"Kira-kira kapan baralek [3]nya, Mak? Semoga nanti aku sudah kuat untuk pulang kampung ketika acara baraleknya."
"Paling cepat setelah hari raya, semoga saja tidak ada yang bertikai pendapat ketika baretong nanti."
"Selamat ya, Tini. Semoga semua berjalan lancar," ucap Ida beralih pada Tini.
"Iya Uni, mohon doanya."
"Kau sudah bertemu dengan orangnya?" bisik Ida kemudian.
"Syukurlah, kau menikah dengan orang yang kau suka," goda Ida menebak isi hati adiknya.
Tini hanya membalas dengan anggukan dan seulas senyum.
Bahagia dan sedih bercampur di hati Ida. Bahagia sebentar lagi adik satu-satunya, akan menikah dan memulai kehidupan barunya. Sedih karena hanya mamak dan keluarga besar mereka yang akan mengurus semua persiapan pernikahannya.
Mereka yang yatim dan piatu, benar-benar bergantung pada belas kasihan keluarga besarnya saja. Walaupun selama ini amai selalu mengajarkan untuk tidak terlalu bergantung pada belas kasihan orang, namun kenyataannya disaat seperti ini, tiada yang bisa mereka harap selain kerelaan keluarga besar sepesukuan mereka untuk membantu menyelenggarakan segala prosesi adat sebelum pernikahan.
*****
Akhir Juli, hampir setahun meninggalkan Kubang Putih, hari ini Ida kembali menjejakkan kaki di tanah kelahirannya. Rasa rindu menguar dari hatinya ketika menghirup aroma jerami dari sawah yang baru saja dipanen, dan aroma gabah yang dibakar.
Waktu seperti berhenti di Kubang Putih. Tak ada yang berubah di sana, dari jalanan yang ia tempuh menuju rumah tua tempat selama ini ia bernaung, sampai dengan jejeran rumah di sepanjang perjalanannya. Kampungnya masih sama seperti tahun lalu, seperti terakhir ia meninggalkan tempat itu.
"Seperti baru kemarin kita melewati jalan ini ya, Da." Suara Burhan menyentakkan Ida dari lamunannya.
"Iya, Tuan."
"Tahun lalu, kita pergi berdua, kembali bertiga. Semoga tahun depan, kembali kesini berempat ya," seringai Burhan.
"Haha ... Semoga saja," gelak Ida tersipu.
Sampai di depan rumah amai, suasana rumah sudah ramai. Seperti tahun lalu, anggota keluarga besar sesukunya sudah mulai mempersiapkan segala keperluan untuk mengadakan pesta.
"Sutan Pamenan, baru sampai?" sapa salah seorang sepupu jauh Ida bergegas menyalami Burhan ketika mereka turun dari bendi.
"Iya, Engku. Apa kabar Engku?" sambut Burhan.
"Alhamdulillah baik ... Ah Ida! Hampir aku tak mengenalimu."
"Kepada suamiku Tuan ingat, kenapa padaku Tuan sampai lupa," kekeh Ida.
"Rupamu berubah jauh dari terakhir aku ingat, Da!" gelak sepupunya.
__ADS_1
"Uni! Alhamdulillah, Uni sudah sampai. Mari Uni masuk dulu," potong Tini.
"Aku masuk dulu, Tuan," pamit Ida pada sepupunya.
"Ya, mamak kau juga sudah datang dari tadi pagi."
"Sini Yasir aku gendong, Ni," tawar Tini pada Ida.
Ida memindahkan Yasir Hati-hati dari gendongannya. Bayi mungil itu masih saja terlelap walaupun telah berpindah tangan.
"Ya ampun, makin tampan saja anak bujang etek," pekik Tini setengah berbisik takut mengejutkan keponakan.
Menaiki tangga rumah, perasaan Ida makin berkecamuk. Berharap ada amai menyambut di pintu dengan tawa khasnya, menampilkan sederet gigi yang memerah karena kebiasaannya mengunyah sugi [4]. Langkah Ida terhenti di tengah tangga. Menghirup kuat udara yang ada di sekitarnya, berusaha melegakan parunya agar tak merasa sesak.
Burhan yang berada di belakang Ida, memperhatikan perubahan wajah istrinya. Seolah mengerti apa yang Ida rasakan, ia mengusap lembut punggung Ida.
"Ayo, Da," ajak Burhan setengah berbisik.
"Iya, Tuan," sahut Ida, berusaha menguatkan diri.
"Assalamualaikum ...." Burhan mengucapkan salam terlebih dahulu ketika sampai di pintu.
"Waalaikum salam ... Alhamdulillah sudah sampai kemenakan dan menantuku," sambut mak dang.
Setelah berbasa-basi dengan mak dang dan beberapa orang saudaranya yang lain, Ida turun ke dapur. Seperti pada saat acara pernikahannya dulu, bagian belakang dapur di pasangi tenda dengan dua tungku serta wajan besar untuk memasak.
Ida memandangi setiap sudut dapur, balai bambu tempat amai biasa menyiangi bahan masakan masih ada di sudut bawah tangga menuju dapur. Tak ada yang berubah dari suasana dapur itu, hanya ketiadaan amai yang membuat dapur itu terasa berbeda.
"Amai, maafkan Ida. Ida telah menyia-nyiakan kehadiran amai," lirih Ida dalam hati.
*****
Hari pernikahan Tini pun akhirnya tiba. Bunyi talempong dan saluang membuat meriah suasana rumah. Matahari mulai menjauh dari peraduannya. Embun yang masih setia bersemayam di atas daun memantulkan cahaya keemasan, menambah cerianya suasana pagi itu.
Rona bahagia jelas terpancar di wajah Tini. Tak ada gurat kekhawatiran sedikit pun menggantung di sana. Ida ikut tersenyum melihat wajah Tini yang begitu berseri. Seharusnya, setahun yang lalu ia juga seperti itu, menanti dengan bahagia kedatangan mempelai laki-laki yang akan mengikatnya dalam janji suci.
"Uni ... Masuk lah," tegur Tini tatkala melihat Ida memperhatikannya di ambang pintu.
"Bagaimana perasaanmu?" tanya Ida ketika ia duduk di samping Tini.
"Haha ... Entahlah, Ni. Aku gugup," gelak Tini mencoba menepiskan kegugupannya.
"Hehe ... Setidaknya kau menikahi laki-laki yang memang kau sukai."
"Apakah sampai saat ini hati Uni masih belum bisa menerima Tuan Burhan?" selidik Tini ketika mendengar penuturan Ida.
"Aku sudah menerimanya. Seperti yang kau bilang dulu, hatiku tertutup banyak prasangka, sehingga aku tak melihat kebaikan Tuan Burhan. Ternyata dia menyayangiku dengan segenap hatinya." Senyum Ida terkembang.
"Alhamdulillah, aku pikir Uni masih belum mampu menerima kenyataan," kekeh Tini.
Ida membalas perkataan adiknya dengan senyum tipis. Jika diberi kesempatan untuk kembali ke masa lampu, ingin rasanya ia kembali ke masa ia duduk di kamar tempat Tini sekarang berada. Menunggu kedatangan Burhan dengan perasaan bahagia, bukan dengan perasaan tertekan seperti yang ia rasakan dulu, namun Ida sadar tak ada gunanya menengok kebelakang jika hanya untuk menyesali apa yang sudah terjadi di masa lampau.
Ida beranjak ke pinggir jendela, ketika mendengar suara sambutan untuk kedatangan keluarga mempelai pria. Tatkala ia melongokkan wajahnya, matanya bersirobok dengan mata Burhan yang menatap lekat padanya, seulas senyum terkembang di bibirnya.
"Ya Tuhan, kenapa jantung ini masih saja berdedak tak beraturan setiap kali mata itu menatapku," pekik Ida dalam hati.
Ia membalas senyum Burhan, beranjak pergi dari pinggir jendela. Menetralkan detak jantung yang seakan berlomba memompa darahnya. Ida bak gadis yang sedang kasmaran, jatuh cinta pada laki-laki yang telah mengucapkan janji suci padanya setahun yang lalu.
"Terima kasih Tuhan, walaupun rasa ini terlambat datang, setidaknya kali aku diberi kesempatan untuk bahagia," ucap Ida dalam hati.
Bersambung.......
[1] Gulai tambusu \= gulai usus sapi yang diisi dengan kocokan telur berbumbu. Tampilan tambusu hampir mirip dengan sosis.
[2] Baretong \= salah satu tahapan dalam Prosesi lamaran. Pada Prosesi baretong ini keluarga kedua belah pihak mempelai merembukkan tata cara ketika melangsungkan pesta pernikahan.
[3] Baralek \= pesta pernikahan.
[4] Sugi \= daun sirih yang di gulung dengan pinang dan kapur sirih, ketika dikunyah akan menghasilkan warna merah.
__ADS_1