
Setelah kepergian amai, Ida berusaha untuk menata hati kembali, walaupun kesedihan masih belum mampu ia tepiskan sepenuhnya. Ia menyibukkan diri dengan persiapan penyambutan anggota keluarga baru, membuatnya mampu sedikit melupakan segala sesal yang masih tersisa di hati.
"Buk, apalagi yang harus aku siapkan untuk melahirkan nanti?" Ida mendekati buk Isah yang tengah sibuk menjahit.
"Kau tak perlu risaukan itu, Da. Aku sudah menyiapkan untukmu. Ini, aku jahitkan popok dan gurita untuk anakmu."
Buk Isah menyodorkan beberapa lembar lipatan kain yang telah dipasangi tali pengikat di ujungnya.
"Terima kasih, Buk. Banyak sekali yang sudah Ibuk jahitkan," ujar Ida dengan wajah cerah.
"Ya, nanti aku cuci dulu. Baru bisa kau simpan, Da."
"Iya, Buk. Terima kasih."
Ida terharu dengan kebaikan buk Isah. Beliau bukan saudara yang mempunyai pertalian darah, tapi buk Isah begitu perhatian padanya. Kasih sayang yang beliau berikan begitu tulus. Sedikit demi sedikit hati Ida yang keras mulai melunak.
"Kenapa kau menangis, Da?" tanya buk Isah ketika Ida menatapnya dengan mata yang basah.
"Ida terharu atas kebaikan Ibuk," sahut Ida sambil mengusap kedua matanya.
"Haha ... Apalagi yang bisa aku lakukan, Da. Hanya itu yang aku bisa lakukan agar hidupku berguna."
Ida hanya mengangguk mengiyakan ucapkan buk Isah.
"Da, hari ini aku hendak membuat beras rendang [1]. Kau boleh membantuku kali ini."
"Iya, Buk," sahut Ida dengan wajah penuh semangat, karena semenjak ia mengandung, buk Isah selalu mengusirnya dari dapur. Ia bergegas mengikuti buk Isah ke dapur.
"Burhan kapan kembali, Da?" tanya buk Isah yang tengah membuat adonan gula di depan tungku.
"Sepertinya besok, Buk. Kenapa? Tidak biasanya Ibuk menanyakan?" Ida menghentikan gerakannya mengayak tepung yang baru ditumbuk buk Isah.
"Kemarin sebelum berangkat, Burhan memintaku membuatkan gulai ikan kincuang [2]."
"Oh, kenapa dia tidak meminta padaku ya, Buk?"
"Karena dia tidak mau kau turun ke dapur, dia kasihan melihat kau susah."
"Ah, kenapa dia terlalu memanjakanku," gumam Ida.
"Tandanya dia sayang kau, Da," kekeh buk Isah.
Ida hanya menjawab dengan wajah tersipu.
--------------°°°°°°°---------------
Menghitung hari menjelang persalinannya, Ida mulai merasakan segala ketidak-nyamanan di tubuhnya. Pagi itu menjelang subuh, ia bolak balik ke bilik air. Begitu kembali ke kamar, Ida sedikit meringis karena rasa nyeri yang ia rasakan.
"Kenapa, Da?" tanya Burhan, bangun dari tidurnya.
"Perutku nyeri," sahut Ida singkat, berusaha mengatur nafasnya.
"Aku panggilkan buk Isah, ya." Burhan turun dari tempat tidur.
__ADS_1
"Tidak usah, aku tidak mau mengganggu istirahat buk Isah," larangnya.
"Buk Isah biasa sudah bangun, coba aku panggil dulu," ujar Burhan tanpa menghiraukan larangan Ida.
Sepeninggal Burhan, nyeri yang Ida rasakan semakin hebat. Ia menyungkur karena tak kuat menahan sakit.
"Da, sudah mau melahirkan?" Buk Isah tergopoh masuk kamar.
Ida tak mampu menjawab, ia bergeming dalam posisi sujud. Keringat membanjiri keningnya.
Wajah Burhan khawatir melihat Ida yang tak bergerak, ia mendekati istrinya,
"Da, kau tidak apa-apa?"
Ida hanya menjawab dengan ringisan, makin membenamkan wajahnya di lantai.
"Kau lekas panggil mak Saroh, Han!" seru buk Isah.
"Aku siap kan air panas dulu, kau tahankan sebentar ya, Da."
"Aku temani dulu Ida sementara air panasnya disiapkan ya, Buk?" tawar Burhan pada buk Isah.
"Tak perlu, kau bergegaslah ke rumah mak Saroh!" seru buk Isah seraya meninggalkan kamar.
Burhan menatap khawatir istrinya, "Da, kau tidak apa-apa di tinggal sendiri?" tanyanya.
Ida hanya menjawab dengan anggukan tanpa merubah posisinya.
Tepat ketika Burhan datang bersama mak Saroh, buk Isah pun masuk kamar membawa baskom berisi air hangat. Dengan cekatan buk Isah mengalasi tempat tidur dengan perlak.
Ida bergeming. Rasa khawatir Burhan makin menjadi tatkala melihat Ida mulai tersengal. Mak Saroh mendekat, mengusap punggung Ida perlahan. Ida merasakan rasa sakitnya berkurang, ia mulai bisa menarik nafas dengan baik.
"Nah, ayo pindah ke tempat tidur," ajak mak Saroh.
Ida tertatih mengangkat tubuhnya bangun dari sujud. Perlahan ia duduk di tepi tempat tidur, lalu kembali merebahkan tubuhnya karena rasa sakit yang ia rasakan kembali terasa.
"Kau tunggu lah diluar," usir mak Saroh pada Burhan.
Burhan melangkah keluar kamar tanpa membantah lalu menutup pintu. Tak lama suara azan subuh berkumandang. Burhan melangkah turun ke bilik air, membasuh wajahnya dengan air wudhu. Air dingin yang menyentuh kulitnya, memberikan sedikit rasa nyaman di hatinya.
Burhan melaksanakan shalat subuh dan berdoa dengan khusyuk. Selesai shalat, ia kembali ke depan kamar. Pintu kamar masih tertutup.
Burhan mencoba curi dengar pembicaraan di dalam kamar dengan menempelkan telinganya pada daun pintu. Hanya terdengar suara buk Isah dan mak Saroh seperti gumaman, tak ada suara Ida, perasaan tegang mulai menjalar I hatinya. Ia berjalan mondar-mandir di lorong, mencoba menenangkan diri.
Sementara itu di kamar, mak Saroh memijat lembut punggung Ida, bibirnya tak berhenti membaca doa.
"Mak, sakit ...." rintih Ida, nafasnya kembali tersengal.
"Kau berzikirlah, supaya rasa sakitnya berkurang," perintah mak Saroh.
Ida menarik nafas panjang, rasa sakit yang ia rasakan makin lama makin terasa merobek tubuhnya. Butiran keringat makin membanjiri.
Di luar kamar, Burhan masih saja mencoba menenangkan diri dengan berjalan mondar mandir di lorong depan kamar. Tak lama, ketika ia berada di ujung lorong, suara tangis bayi terdengar memecah pagi yang masih sepi.
__ADS_1
Burhan bergegas menghampiri pintu kamar, berharap pintu itu sudah terbuka untuknya, namun seperti sebelumnya, pintu itu masih tertutup rapat.
Ragu-ragu Burhan mengetuk pintu.
"Buk, aku sudah boleh masuk?" tanyanya dari luar kamar.
"Sebentar, Han. Kau tunggu dulu ya," sahut buk Isah melongokkan wajahnya dari pintu yang setengah tertutup.
"Anakku sudah lahir? Ida bagaimana? " tanya Burhan tak sabar ingin melihat istri dan buah hatinya.
"Ya, alhamdulillah ... Laki-laki, kau sabarlah menunggu sebentar, Ida masih dibersihkan mak Saroh."
"O-oh, baik, Buk." Burhan menyandarkan tubuhnya ke dinding samping pintu kamar.
Buk Isah kemudian membukakan pintu.
"Han, kau masuklah."
Tergesa ia masuk kamar, melihat Ida yang bersandar lemah di tempat tidur. Rasa lelah tergambar jelas di wajahnya. Disampingnya, tergolek sesosok tubuh mungil tanpa suara.
Burhan berjalan ke sisi tempat tidur, yang disambut senyuman lemah oleh Ida.
" Kau azankan lah anakmu, Han," seru buk Isah.
Mata Burhan beralih pada tubuh mungil yang terbungkus kain panjang di samping Ida. Pipinya yang montok kemerahan menyembul di pinggir kain yang menutup bagian kepalanya. Bibir mungilnya mengecap-ngecap. Matanya masih tertutup rapat. Burhan memandang takjub pada manusia kecil yang baru hadir ke dunia itu.
"Nah, kau azankan lah." Mak Saroh memindahkan bayi mungil itu ke tangan Burhan.
Burhan tergagap, mak Saroh membenarkan posisi tangan Burhan agar memeluk bayinya dengan benar. Ia menatap lekat wajah mungil yang ada di dekapannya.
"Alhamdulillah ...." ujarnya lirih.
Setelah mengazankan bayinya, Burhan menyerahkan kembali bayi itu ke tangan mak Saroh.
"Langsung kau kuburkan kakak anak [3]mu ya, Han," seru buk Isah.
"Iya buk." Burhan mengambil bungkusan yang diletakkan dalam baskom dari tangan buk Isah. Membawanya keluar kamar.
Pada saat Burhan kembali ke kamar, ia tak mendapati Ida di dalam kamar. Hanya ada buk Isah yang masih sibuk membereskan kamar.
"Ida kemana, Buk?"
"Sedang dimandiin mak Saroh. Kau mau kasih nama siapa anakmu, Han?" tanya buk Isah ketika melihat Burhan telah duduk di samping anaknya, menatap takjub pada makhluk mungil itu.
"Aku sudah menyiapkan nama Yasir untuk bayi ini," sahutnya menoleh dengan wajah sumringah ke arah buk Isah.
"Nama yang bagus." Buk Isah tersenyum lebar.
Bersambung......
[1] Beras rendang \= makanan khas Payakumbuh yang terbuat dari tepung Beras yang dicampur dengan gula cair lalu di padatkan.
[2] Kincuang \= kecombrang/ honje
__ADS_1
[3] Kakak anak \= plasenta bayi. Di Sumatera Barat, plasenta bayi disebut dengan kakaknya si bayi.