MENAPAK SENJA

MENAPAK SENJA
Part 45


__ADS_3

"Da, kau masih belum mau ikut aku ke Kuantan?" Burhan menatap Ida yang baru saja meletakkan secangkir kopi panas dan sepiring singkong goreng di atas meja yang ada di hadapannya.


"Kau sendirian mengurus anak-anak, pasti nanti akan repot sekali kalau ku tinggal," lanjut Burhan.


Ida duduk di samping Burhan, menatap Burhan seolah memikirkan sesuatu.


"Fahmi masih belum bisa diberi kepercayaan mengurus pengiriman barang ke Kuantan, ya?" tanyanya kemudian.


"Iya, sebulan ini aku lebih banyak merugi. Padahal menurut perhitunganku, keuntungannya bisa dua kali lipat. Kasian juga petani yang menjual hasil kebunnya kalau terus-terusan begini."


"Aku hanya merasa tidak enak hati kalau tinggal bersama amak," ujar Ida mengutarakan alasannya.


"Ah kau masih seperti dengan orang lain saja. Bukankah kau sudah melihat sendiri, amak lebih sayang terhadapmu daripada aku, anaknya."


Ida memandang lekat wajah Burhan. Alasan sebenarnya ia selalu menolak untuk ikut Burhan ke Teluk Kuantan karena ia agak sungkan jika harus tinggal bersama mak Halimah, mertuanya. Di kampungnya, menantu perempuan tinggal bersama mertua bukan hal yang lumrah.


Dalam tradisi Minang yang menganut garis keturunan matrilineal, biasanya setelah menikah, menantu laki-laki yang tinggal bersama di rumah keluarga perempuan. Walaupun mak Halimah memperlakukannya dengan sangat baik selama ini, namun rasa sungkan jika harus tinggal bersama masih saja ada.


Kemudian terpikirkan olehnya kondisi Burhan yang juga harus mengurusi pekerjaannya. Bukankah seharusnya ia sebagai istri yang ikut membantu mengurangi beban suami, bukan sebaliknya seperti saat ini.


"Kita tunggu Salma umur tiga bulan saja, ya." Akhirnya Ida menyetujui permintaan Burhan.


"Iya. Nanti aku ke Payakumbuh hanya mengambil barang yang sudah ada di gudang. Untuk urusan menerima barangnya, orang yang di gudang sudah bisa dipercaya," terang Burhan.


"Anak-anak belum bangun, Da?" Burhan menyadari masih belum ada suara anak-anaknya yang terdengar. Biasanya rumah tak pernah sepi jika Laili dan Fatimah bangun.


"Belum, semalam Ima tidurnya sudah larut sekali. Laili jadi kesal karena dia sudah mengantuk, tapi Ima masih saja mengganggu."


"Haha ... Anak itu makin hari makin banyak saja tingkahnya," kekeh Burhan, "makanya aku agak sangsi meninggalkan kau mengurus anak-anak sendirian."


"Iya-ya ... Aku juga tidak terlalu memperhatikan, karena dia lebih sering bersama Laili dan Tuan ketika aku mengurus Salma."


Burhan menyesap habis kopi yang mulai dingin dari cangkir. Mengambil sepotong lagi singkong goreng yang masih tersisa beberapa potong di dalam piring. Tatapan matanya menerawang seolah memikirkan sesuatu.


"Tuan ...."


"Ya?"


"Ah tidak jadi ...." Ida tersenyum kikuk.


"Apa? Kau bicarakan saja."


"Hanya masalah omongan orang di warung saja." Ida memaksakan senyumnya.


"Apa yang kau risaukan?" Burhan menangkap ada sesuatu yang mengganggu pikiran Ida.


"Sudah, lupakan saja ...." tepis Ida.

__ADS_1


"Kau ceritakan saja, daripada kau terus-terusan berpikir yang tidak-tidak."


Ida menatap Burhan. Semenjak seminggu yang lalu ketika mendengar kasak-kusuk yang tersebar dari mulut ke mulut tetangga, perasaannya berasa tak tenang.


"Ana sudah menjadi janda." Ida akhirnya mengutarakan apa yang mengganggu pikirannya.


"Lalu?" Burhan heran, kenapa hal itu bisa mengganggu pikiran istrinya.


"Ini tak ada hubungannya dengan keinginan Tuan mengajakku ikut ke Kuantan kan?"


Tatapan Ida menyelidik.


"Apa maksudmu?" Burhan makin tidak mengerti kemana arah pembicaraan Ida.


"Menurut kabar yang aku dengar, Ana diceraikan suaminya karena suaminya tau Ana masih memikirkan Tuan."


"Lalu apa hubungannya denganku?" Kening Burhan berkerut, ia makin tak mengerti.


"Tuan mengajakku ke Kuantan, bukan karena ingin mendekati Ana, kan?" Akhirnya Ida mengemukakan langsung apa yang mengganggu pikirannya.


"Ahaha... Uhuk ... Uhuk ...." Burhan yang sedang mengunyah singkong tergelak sampai tersedak mendengar pertanyaan Ida.


"Ada-ada saja yang kau pikirkan, Da. Kenapa aku harus menunggunya jadi janda dulu, kalau aku memang berniat mendekatinya."


Burhan kembali terbatuk-batuk, berusaha mengeluarkan potongan singkong yang membuatnya tersedak.


" Kenapa? Kau masih belum percaya?" Burhan menatap balik.


"Entahlah ... Aku masih mencoba untuk percaya," sahut Ida kembali memaksakan senyumnya.


"Ah, kau jangan berpikiran yang tidak-tidak, Da."


Baru saja Ida hendak berbicara lagi, terdengar suara Salma menangis di kamar. Ida beranjak ke kamar, meninggalkan Burhan yang masih kebingungan dengan kecurigaan Ida.


***


"Kau Hati-hati saja, Da. Suamimu masih terlihat gagah seperti itu, tek Piah juga orangnya tak tau malu. Bisa-bisa suamimu di buat berpaling pada anaknya Ana," kata Bedar.


"Aku lihat tek Piah sering menyapa Burhan setiap kali Burhan mengajak anak-anakmu jalan-jalan," kata Titin


Semua perkataan tetangga serasa terngiang-ngiang di telinga Ida. Ada sedikit khawatir dan was-was.


"Kau masih memikirkan perkataan tetangga, Da?" tanya Burhan tatkala melihat Ida menatap nanar sayuran yang sedang disianginya.


Ida tersentak. Membuat sayuran yang ada di tangannya berserakan.


"Ah. Tuan mengagetkanku saja," sungut Ida sambil mengumpulkan sayuran yang berhamburan.

__ADS_1


"Dari tadi aku di sini, kau tak menyadarinya."


"Tuan sudah lapar, ya?" Ida berusaha mengabaikan pertanyaan Burhan.


"Tidak. Salma terbangun."


"Oh ... Iya." Ida meninggalkan Burhan yang masih menatapnya heran.


Sepanjang hari Ida tampak seperti orang yang hilang akal, sering melamun, ketika dipanggil ia terlonjak kaget.


***


"Da. Sudah lah jangan terlalu kau pikiran apa yang orang bicarakan. Sehari ini kerjamu lebih banyak melamun saja. Kadang seperti ayam sakit, aku lihat."


"Ah sekarang Tuan samakan aku seperti ayam. Dulu Tuan kejar-kejar," sungut Ida yang tengah menyusui Salma.


"Haha, bukan begitu maksudku. Kau terlalu memusingkan omongan orang, sampai-sampai hari ini kau terlihat tak berada disini. Pikiran mu kemana-mana," gelak Burhan melihat wajah kesal Ida.


"Iya, tapi tetap saja perasaanku masih tidak tenang."


"Sudah aku bilang kan sebelumnya ... Jika aku memang punya hati terhadap Ana, sudah dari dulu aku menikahinya. Tak perlu aku menunggumu berlama-lama. Apa lagi yang kau ragukan."


Ida menatap mata Burhan, ada kesungguhan yang ia dapatkan pada sorot mata yang menatapnya tajam. Memikirkan apa yang Burhan katakan, tapi ia hanya perempuan dengan segala kekhawatirannya membuat segala prasangka menjadi terasa memungkinkan untuk terjadi.


"Ya, namanya hati siapa yang tau. Bisa saja dulu Tuan tidak mempunyai perasaan terhadap Ana, tapi karena tek Piah yang terus menerus menyodorkan anaknya, mungkin saja kan hati Tuan jadi berpaling."


Ida menunggu reaksi Burhan. Burhan hanya menggaruk kepalanya. Rambut ikalnya jadi berantakan. Ia mengernyit mendengar perkataan Ida, bingung bagaimana cara meyakinkan istrinya untuk tak perlu merisaukan perkataan orang lain.


"Ternyata kalau kau cemburu susah juga diredakan ya," ujarnya kemudian.


"Aku tidak cemburu," sahut Ida cemberut.


"Ya, kau tidak cemburu, hanya takut kehilanganku kan?" goda Burhan dengan seringai jenaka.


Wajah Ida memanas. Benar kata Burhan, ia cemburu. Tapi apa yang harus membuatnya cemburu? Sudah jelas-jelas Burhan tampak tak menghiraukan Ana. Kenapa ia harus menaruh curiga pada suaminya.


"Aku minta maaf kalau semua hanya sangkaanku saja," ucapnya kemudian.


"Tak perlu minta maaf, Da. Aku senang kalau kau merasa cemburu. Aku jadi tau bagaimana perasaanmu sekarang padaku." Burhan tersenyum hangat, seperti biasa, lesung pipinya menjejak dalam di pipi kirinya ketika tersenyum.


"Ah, kenapa perasaanku seperti gadis yang baru jatuh cinta saja, padahal aku telah bersamanya sepuluh tahun," gumam Ida dalam hati.


***


Tepat usia Salma tiga bulan, Ida berangkat ke Teluk Kuantan bersama Burhan dan anak-anaknya. Meninggalkan rumah yang telah ia tempati satu dekade di kota kecil yang terletak di kaki gunung Sago itu. Rasa sedih menyeruak di hatinya, mengingat banyak kenangan tentang Yasir dan Mila yang telah tiada, tercipta di sana. Kenangan ketika ia memulai hidup barunya bersama Burhan, suaminya.


Mobil yang mereka tumpangi bergerak lambat ke arah utara, meninggalkan kota Payakumbuh yang mulai menggeliat bangun seiring merangkak naiknya sang mentari. Melewati jalan-jalan yang telah menjejakkan kenangan dalam hati mereka.

__ADS_1


Sekali lagi, Ida akan memulai lagi kehidupan baru di tempat yang belum pernah ia tau seperti apa tempat yang akan ia tuju.


__ADS_2