
"Benar ini rumahnya?" tanya Burhan ketika melihat Ida menatap ragu pada rumah kecil bercat putih di hadapan mereka. Pintu pagar terkunci rapat dan suasana rumah terlihat sepi.
"Kalau melihat alamat yang diberikan oleh perawat yang di rumah sakit tadi, ini alamat yang benar," sahut Ida membaca ulang alamat yang tertera di kertas yang ia pegang.
Ida membetulkan letak gendongan Yasir pada bahunya, lalu mengetetuk-ngetukkan gembok yang ada di pagar sambil mengucapkan salam, "Assalamualaikum ...."
Pada salam kedua, terlihat bayangan seorang perempuan mengintip di jendela, lalu membuka pintu.
"Ros!" pekik Ida ketika melihat perempuan itu keluar dari rumah.
Perempuan berwajah sendu itu mengernyit berusaha mengenali tamu yang datang.
"Ya ampun! Ida! Aku hampir tak mengenalimu," pekik Ros bergegas membuka pintu pagar.
"Baru juga berpisah sebentar, kau sudah melupakan aku," sungut Ida.
"Kau jauh berubah, Da!" ujar Ros dengan wajah berbinar.
"Oh iya, Ros ... kenalkan ini suamiku," ujar Ida ketika pintu pagar telah dibuka Ros.
"Halo," sapa Burhan mengulurkan tanyanya untuk menyalami Ros.
"Halo, Tuan." Ros menyambut uluran tangan Burhan.
"Mari ... Silahkan masuk," ajak Ros pada kedua orang tamunya.
"Lalu siapa ini, si kecil ini. ..." sapa Ros pada Yasir yang sudah terbangun dalam gendongan Ida.
"Aku Yasir, Tek," sahut Ida menirukan suara anak kecil.
"Lucu sekali anakmu, Da. Tak menyangka kau sudah jadi ibu saja," gelak Ros.
"Kau tau dari mana rumahku?" tanya Ros ketika mereka sudah berada di dalam rumah.
"Aku ke rumah sakit mencarimu, kepala perawat bilang hari ini kau sedang libur. Jadi aku minta alamatmu."
"Ah ... Aku pikir kau sudah lupa jalan ke Bukittinggi."
"Bagaimana mungkin aku bisa melupakan sahabat ku."
__ADS_1
"Assalamualaikum ...." Terdengar suara seorang pria mengucapkan salam di pintu.
Laki-laki itu Amir, wajahnya tak banyak berubah dari empat tahun lalu. Hanya saja penampilannya lebih rapi. Rambutnya yang dulu acak-acakan tak beraturan, sekarang dipangkas cepak. Pipi yang dulu tirus, sekarang lebih berisi. Badan yang dulu ceking tampak lebih tegap dan berotot. Kentara sekali potongan anggota militer dari penampilannya.
"Waalaikum salam ...." sahut mereka yang sedang berada di ruang depan.
"Oh, ada tamu," sapa Amir dengan senyum khasnya.
Matanya menatap lekat wajah Ida, seperti mencoba mengingat-ingat wajah yang ada di depannya.
"Kau lupa nyonya ini, Tuan?" gelak Ros.
Ida tersenyum pada Amir, memperlihatkan lesung pipi di kedua belah pipinya. Membuat Amir mengingat perempuan yang ada di hadapannya.
"Astaga! Ida?" ujarnya kemudian.
"Ya, Tuan. Kenapa lama sekali kau mengingatku," gelak Ida.
"Aku bilang apa, Da. Kau berubah jauh sekali. Benarkan, Tuan?" tanya Ros mencari dukungan suaminya.
"Ya, kau berubah jauh, Da ... Tuan ini suamimu?" tunjuk Amir pada Burhan yang sedari tadi hanya memperhatikan reuni kecil istrinya.
Setelah perkenalan singkat, Ros menarik Ida ke ruang belakang. Membiarkan para suami meneruskan perbincangan untuk saling mengenal.
"Bagaimana hidupmu setelah menikah? Apakah laki-laki itu memperlakukanmu dengan baik?" berondong Ros setelah mereka berdua berada di ruang belakang.
"Kalau kau melihat kondisiku seperti ini, bagaimana penilaianmu, Ros?" Ida balik bertanya.
"Sepertinya dia memperlakukanmu dengan baik," tebak Ros.
"Ya ... Alhamdulillah, Ros. Dia tak seperti sangkaanku dulu."
"Alhamdulillah ... Setelah kau menikah, aku benar-benar berharap kau bisa mendapatkan kebahagiaanmu, Da."
Menjelang sore, setelah reuni singkat dengan sahabat lamanya itu, Ida dan Burhan pamit.
"Sebentar sekali kau di sini, Da. Padahal aku masih rindu," keluh Ros.
"Nanti kapan-kapan aku kesini lagi, Ros. Besok suamiku ada urusan yang tidak bisa ditinggal."
__ADS_1
"Bulan depan aku pindah ke Bandung, Da. Amir dipindah tugaskan," terang Ros.
"Ah ... Kalau begitu, ini pertemuan terakhir kita sebelum kau berangkat?" tanya Ida dengan raut muka sedih.
"Iya ... Aku boleh minta alamatmu? Nanti kita saling berkabar lewat surat. Sebentar, aku ambil kan kertas dan pulpen." Ros berlalu ke dalam rumah dan kembali dengan kertas serta pulpen di tangannya.
Setelah menuliskan alamatnya, Ida dan Burhan meninggalkan rumah Ros. Setitik sedih Ida rasakan, mengingat Ros adalah satu-satunya teman yang dekat dengannya, sebentar lagi akan pergi ke seberang.
Matahari kota Bukittinggi sudah mulai meredup tertutup awan tatkala Ida meninggalkan rumah Ros. Angin berhembus cukup kencang, membuat udara kota Bukittinggi yang dingin makin mencucuk tulang.
"Tutupi Yasir dengan selimut, Da. Anginnya kencang sekali, aku takut dia masuk angin," tukas Burhan menyerahkan selembar selimut kecil kepada Ida.
Bayi mungil itu menggeliat pelan dalam gendongan Ida tanpa terbangun sedikitpun ketika Ida menutupinya dengan selimut.
Bendi yang mereka tumpangi melewati kawasan jam gadang tepat ketika lonceng jam berdentang lima kali. Ida menatap jam yang menjadi kebanggaan kota itu. Bagian atap ujung menara jam itu telah diganti dengan atap yang berbentuk gonjong rumah gadang.
Teringat oleh Ida, pertama kali ia di ajak amai ke Bukittinggi ketika ia berumur tujuh tahun, setahun setelah amaknya meninggal. Ia begitu terpesona melihat jam yang dipasang pada menara setinggi dua puluh enam meter itu. Bagian atas atap menara jam gadang kala itu masih berbentuk kubah dengan patung ayam jago bertengger di atasnya.
"Kau tau, Da? Jam itu selesai di buat bersamaan dengan kelahiranmu," ujar amai kala itu.
Tatapannya tak lepas dari menara yang berdiri angkuh di tengah kota itu, jam itu ia anggap sebagai simbol tahun kelahirannya dan sebagai saksi bisu dari perjuangan bangsanya mengusir penjajahan dari kota Bukittinggi.
Masih terngiang jelas di telinga Ida, kala mendengar bunyi sirine yang meraung dari menara jam gadang, memberi tanda kala itu Belanda telah menyerahkan kembali kota Bukittinggi pada pemerintahan Indonesia.
"Apa yang kau lihat, Da?" tanya Burhan ketika melihat Ida tak melepas pandangannya dari jam gadang.
"Aku hanya teringat dua tahun lalu di sana menunggu Presiden Soekarno, katanya akan datang, tapi ternyata tidak jadi," tunjuk Ida pada bangunan yang berdiri tak jauh dari jam gadang.
"Sehari sebelum Belanda kembali menduduki, Bukittinggi, ya?"
"Iya." Ida mengalihkan pandangannya pada Burhan, menepis sekelebat bayangan pria jangkung bermata almond yang tiba-tiba muncul dalam ingatannya.
"Kau tak boleh memikirkannya lagi, Da," rutuknya dalam hati.
Mereka bergerak menjauh meninggalkan jam gadang, mengaburkan setiap kenangan yang sempat menari dalam pikiran Ida.
Sesampainya di stasiun, gerimis mulai turun. Hari itu stasiun tidak terlalu ramai. Hanya beberapa orang saja yang sudah menunggu di bangku yang ada di peron. Mereka bergegas masuk ke gerbong penumpang. Lokomotif yang akan menarik gerbong mereka telah mengepulkan asap tebalnya, pertanda mesin kereta uap tua itu telah siap untuk melakukan perjalanan.
Tepat ketika mereka telah mendapatkan tempat untuk duduk, bunyi peluit penanda kereta akan berjalan berbunyi. Tak menunggu lama, kereta uap tua itu bergerak perlahan, meninggalkan kota Bukittinggi yang mulai diguyur hujan.
__ADS_1