
"Da ... Apa kau tak mau memikirkan kembali permintaanku?" tanya Syamsyir ketika mereka telah sampai di depan gang sebelah makam yang menuju tempat tinggal Ida.
"Maaf Tuan, itu sudah keputusan terakhirku. Saat ini aku hanya ingin memikirkan anak-anak."
"Tapi kita masih bisa bertemu kan?" Syamsyir menatap lekat perempuan yang duduk di sebelahnya yang masih saja menunduk.
"Kalau bisa, tidak usah Tuan menemuiku lagi. Orang lain taunya aku ini janda, aku tak mau jadi bahan gunjingan," sahut Ida pelan. Ada getir yang ia rasakan kala mengucapkan kalimat itu.
Syamsyir mengusap wajahnya, mengusir kegusaran yang menggantung di sana. Menatap nanar ke arah depan. Langit sore mulai memerah, udaranya yang hangat tak mampu menghangatkan hati Syamsyir sedikit pun.
"Terima kasih sudah mengantarkanku, Tuan." Suara Ida menyentakkan Syamsyir. Ia menoleh pada Ida dengan wajah terluka.
Ida meluncur turun dari mobil tanpa menghiraukan tatapan Syamsyir. Syamsyir ikut turun, mengambilkan keranjang dagangan Ida yang ia letakkan di bangku penumpang bagian belakang. Menatap lekat wajah Ida yang mulai termakan usia dan penuh beban. Ingin rasa hatinya untuk melindungi perempuan itu, tapi hatinya telah mengeras layaknya batu, tak mau menerima kembali kehadirannya.
"Kita terima saja jalan hidup kita yang seperti ini. Tak semuanya apa yang kita harapkan itu harus terwujud. Mungkin suatu waktu Tuan akan menemukan perempuan yang mampu mengalihkan hati Tuan dariku," hibur Ida ketika melihat wajah Syamsyir seperti orang patah semangat. Matanya yang biasa selalu berbinar tampak suram seolah kehilangan cahaya.
"Ya, semoga saja begitu," sahut Syamsyir lirih.
"Selamat tinggal," pamit Ida, meninggalkan Syamsyir yang masih tak bergeming dari tempat semula. Sebetulnya, hatinya juga ikut terluka ketika mengutarakan penolakannya. Kemudian seribu andai kembali bergema di hatinya. Andai saja keadaannya tak seperti ini ketika bertemu kembali dengan Syamsyir, namun segera ia tepiskan. Hatinya sudah tak sanggup lagi menerima harapan yang berulang kali hancur. Ia sudah tak mampu lagi menggantungkan harapan kebahagiaannya pada siapapun selain kepada anak-anaknya, sumber kekuatannya untuk bisa terus bertahan ditengah cobaan yang silih berganti mendera.
***
"Uni ... Sampeyan mau tidak kerja di rumah orang? Pekerjaan rumah tangga begitu," tanya Ningrum suatu pagi mendekati Ida yang sedang menjemur pakaian di depan tempat tinggalnya.
"Jadi khadimat maksudmu, Ning?" tanya Ida.
"Iya maksudnya begitu. Sampeyan mau tidak?"
"Pekerjaan apa saja asal halal, aku mau Ning. Memangnya ada yang sedang mencari khadimat?"
"Ada, pelanggan jamuku. Keluarga dokter. Kalau sampeyan mau, ayo ikut aku sekarang. Ibunya mau secepatnya."
"Sebentar ya, Ning. Aku mandi dulu."
__ADS_1
"Iya, jangan lama-lama ya, nanti aku kesiangan kelilingnya."
"Iya," sahut Ida bergegas kembali ke dalam rumah.
Ningrum telah menunggu di depan pintu ketika Ida selesai berkemas. Ia mengenakan kebaya ungu yang masih terlihat agak baru dengan motif kembang Lili. Rambutnya yang telah di gelung rapi, ia tutup dengan selendang merah jambu.
"Cantik juga Uni kalau sudah rapi begini," puji Ningrum tersenyum cerah.
"Ah, bisa saja kamu Ning," kekeh Ida.
Mereka sampai di sebuah rumah dengan halaman yang sangat luas. Rumah dengan cat berwarna salem itu mempunyai atap tinggi menyerupai piramida dan pilar-pilar dari kayu menyangga beranda yang beratap lebih rendah. Halamannya yang luas, ditumbuhi beberapa pohon besar menambah kesan sejuk pada rumah itu.
Jarak antara pintu pagar dengan rumah cukup jauh, sehingga Ningrum harus membunyikan lonceng kecil yang digantungkan di pagar. Tak lama seorang perempuan cantik yang sudah agak berumur keluar dari rumah. Berjalan dengan anggun dan senyum hangat terkembang ramah di bibirnya. Perempuan yang ternyata nyonya rumah itu mempersilahkan mereka masuk.
"Bu, saya tinggal tidak apa-apa ya Bu? Saya harus keliling," pamit Ningrum setelah mengenalkan Ida pada bu Rastri pemilik rumah.
"Oh iya, Ning. Terima kasih. Semoga daganganmu laris semua hari ini ya," sahut bu Rastri.
Setelah berbincang cukup lama dan mengajukan beberapa pertanyaan, bu Rastri memutuskan menerima Ida untuk bekerja dan meminta untuk pindah ke rumahnya. Walaupun pekerjaan hanya sebagai khadimat, Ida bersyukur setidaknya ia tak perlu mengeluarkan biaya sewa rumah dan tak perlu berpanas-panasan menjajakan dagangannya. Tempat tinggal yang disediakan bu Rastri juga sangat nyaman.
Menjalani hari-hari bekerja di rumah bu Rastri, membuat Ida merasa seolah Tuhan menjawab doanya selama ini. Ia tak lagi harus menahan perih rasa lapar ketika mereka tak punya apa-apa untuk dimakan. Terlebih Laili dan Fatimah juga telah bekerja di pabrik roti, membuat kondisi ekonomi mereka mulai membaik.
Keinginan untuk kembali ke kampung sempat terlupakan karena ia merasakan telah menemukan kehidupan barunya di tempat itu. Sampai pada suatu malam Laili memberitahukan bahwa ada laki-laki yang akan meminangnya.
"Namanya bang Basri, Mak. Dia orang Bukittinggi juga. Kalau Amak mengizinkan, dia akan menemui Amak akhir pekan ini."
"Aah, cepat sekali waktu berlalu. Baru kemarin rasanya amak melahirkan kau, Li." Ida memandang sendu wajah Laili. Tak ada lagi wajah polos gadis kecilnya dulu. Wajah itu telah digantikan wajah perempuan muda yang telah siap untuk menikah. Memang usia Laili masih tergolong masih muda, masih tujuh belas tahun, namun cobaan hidup yang menderanya semenjak kecil, membuat gadis itu telah dewasa melebihi umurnya.
"Apa sudah mantap benar hatimu dengan laki-laki ini?" Hati Ida sedikit khawatir, jika Laili hanya merasakan perasaan cinta sesaat. Usianya masih muda, masa-masa masih merasakan indahnya perhatian dari lawan jenis.
"Hatiku telah mantap, Mak. Makanya dia mau menemui Amak, untuk menyatakan kalau dia serius denganku. Tidak mungkin laki-laki yang hanya main-main akan seperti itu kan, Mak?"
"Ya, semoga saja dia memang jodoh yang Tuhan pilihkan untukmu, Li."
__ADS_1
"Iya, aku minta restu Amak." Rona bahagia terpampang jelas di wajah Laili. Ida tak tega menolak permintaan anaknya.
"Tapi amak tidak bisa memutuskan sendiri, Li. Kalau masalah pernikahan seperti ini, kita harus melibatkan ninik mamak di kampung. Nanti amak coba minta izin sama bu Rastri untuk pulang. Lagipula, sebentar lagi Salma akan ujian kelulusan, kau mau bersabar sebentar, Li?"
"Iya, Mak. Tapi setidaknya bang Basri berkenalan dulu dengan Amak, boleh ya?" pinta Laili dengan wajah merona.
"Iya, nanti kita coba cari hari yang tepat untuk bertemu, ya."
Bu Rastri tampak berat hendak melepas, ketika Ida meminta berhenti untuk pulang kampung. Rasa sayang bu Rastri pada Salma menambah berat rasa hatinya untuk melepas mereka.
"Kalau Salma tinggal bersama saya saja, bagaimana, Da? Insya Allah, saya akan menyayangi Salma seperti anak saya sendiri," pinta bu Rastri.
"Mohon maaf Bu, bukan saya hendak mengecewakan Ibu ... Tapi tak sampai hati saya meninggalkan Salma. Anak-anak ini penyemangat hidup saya. Mungkin orang menganggap saya egois karena mempertahankan mereka dalam kehidupan saya yang susah ... Hanya saja, hati saya tak sanggup jika harus berpisah dengan anak-anak saya Bu."
Ada perasaan bimbang yang Ida rasakan. Seolah ia berada pada posisi amainya dulu, ingin rasanya ia memberikan kesempatan buat Salma mendapatkan kehidupan yang lebih layak, agar Salma bisa mencapai cita-citanya menjadi seorang guru. Akan tetapi sisi lain hatinya tak ingin Salma nanti beranggapan kalau ia ibu yang lemah, ibu yang gampang menyerah akan kehidupannya dan menyerahkannya begitu saja pada orang lain.
"Aah ... Iya, saya mengerti perasaanmu, Da," sahut bu Rastri, "Kalau nanti kalian punya kesempatan kembali ke sini, jangan lupa kunjungi saya, ya. Saya pasti akan sangat rindu dengan kalian," lanjut bu Rastri.
"Iya, Bu. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan Ibu selama saya bekerja di sini."
"Saya juga berterima kasih padamu, Da. Kamu juga sudah bekerja dengan baik di sini."
***
Hari kelulusan Salma tiba, Ida meninggalkan Pematang Siantar dilepas tangis haru oleh bu Rastri.
"Salma, nanti kalau sudah di kampung tulis surat buat Ibu ya, Nak. Ibu pasti rindu Salma," isak bu Rastri menciumi pipi Salma yang mulai montok semenjak mereka tinggal di rumah bu Rastri.
"Iya, Bu. Terima kasih," balas Salma.
"Ibu, saya pamit. Mohon maaf jika selama bekerja dengan ibu saya banyak melakukan kesalahan." Ida menyalami bu Rastri yang kemudian dipeluk penuh haru oleh majikannya itu.
Mereka beranjak meninggalkan Pematang Siantar, kota terbesar kedua di Sumatera Utara. Kota tempat para perantau mencoba untuk mengadu nasib dan peruntungan mereka. Kota yang menjadi saksi bagaimana perihnya perjuangan seorang ibu untuk membesarkan anak-anaknya sendirian, menjadi saksi akan kesetiaan seorang perempuan pada laki-laki yang ia cintai.
__ADS_1
Bis Sibualbuali yang mereka tumpangi bergerak perlahan, meninggalkan metropolitan Sumatera. Membawa mereka kembali ke tanah asal mereka. Meninggalkan segala harapan yang pernah mereka gantungkan ketika dulu mendatangi kota itu. Meninggalkan satu kisah sepasang hati yang telah berakhir.