
Hariz terdiam saat Selvi menanyakan tentang Alice dia juga bingung harus menjawab apa karna dia tidak pernah menganggap wanita itu ada,semenjak Selvi kembali ke dunianya.
"Baiklah aku tidak akan bertanya lagi aku mau tidur."Ucap Selvi mulai duduk dan berdiri,Hariz yang menyadari perubahan Selvi langsung meraih tangannya,
"Maafkan aku,dia bukan siapa-siapa."Ucap Hariz,Selvi mengabaikan ucapan Hariz dia langsung masuk kedalam kamar dan mulai menarik selimut lalu tidur.mereka baru tidur padahal jam sudah menunjukan jam tiga dini hari.
*****
Tidak terasa matahari sudah mulai menunjukkan cahayanya,orang-orang mulai bersiap-siap untuk berangkat kerja.Begitu juga dengan Alice dia buru-buru ingin berangkat kerja karna dari semalam dia menghubungi nomor Hariz tapi dari ratusan panggilan satu pun tidak ada di angkat bahkan pesannya pun tidak ada balasan.Alice semakin kesal saat mengingat dia pergi bersama Selvi wanita yang di anggap saingan oleh Alice.
Saat Alice memasuki ruangan direktur dia semakin emosi saat mengetahui Hariz belum juga datang,dia akhirnya mencari Selvi dia ingin tau apa wanita itu sudah datang tapi yang ada dia semakin kecewa karna ternyata wanita itu juga belum masuk kantor padahal hari sudah lumayan siang.
"Wah,mungkin semalam tuan Hariz sama Selvi pasti lagi wik...wik" Ucap seorang wanita dan semua orang tiba-tiba tertawa membuat Alice semakin emosi.
"huh aku akan menghajar kalian nanti."Ucap Alice lalu meninggalkan ruangan itu dengan emosi.
"Hajar saja sekarang kalau berani."Ucap salah seorang dari mereka Alice mengabaikan ucapan kariawan itu karma dia sangat tidak suka jika memasuki ruangan Selvi.
Alice menaiki lift dengan wajah merah padam dia akhirnya menemui bara,walaupun dia sangat tidak menyukai asisten yang belagu itu dengan terpaksa hari ini dia akan menemuinya.
"Kemana Hariz,kenapa Samapi sekarang dia tidak masuk kantor dan ponselnya juga di luar jangkauan."Tanya Alice saat memasuki ruangan bara seketika bara mengalihkan pandangannya dan melihat Alice sudah berdiri di hadapannya.
"Tidak bisakah kamu mengetuk terlebih dahulu,ini bukan ruangan mu yang bisa kamu masuki sesuka hatimu."Ucap bara dia sangat kesal dengan Alice karna terlalu mengejar Hariz padahal dia jelas-jelas tau jika Hariz tidak menyukainya bahkan dia hannya menyukai satu wanita yaitu Selvi dari beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
"Pertanyaan ku belum juga kamu jawab kemana Hariz,dan ponselnya tidak di luar jangkauan."Tanya Alice dengan nada meninggi dia sudah terlihat sangat emosi.
"Aku tidak tau,dia bukan anakku yang harus aku tau semua tentangnya.Mungkin dia sedang menginap di hotel dengan kekasihnya."Ucap bara yang membuat Alice semakin emosi.
"Entah kenapa semua orang hari ini terlihat sangat menyebalkan,kalian benar-benar membuatku emosi,kamu juga sebagai asisten tidak berguna banget.Bukan kah sebagai asisten kamu harus tau semua tentang tuan mu?"bentak Alice.Seketika emosi bara memuncak lalu menarik tangan Alice dan mendorongnya lewat pintu.
"Jangan coba-coba memasuki ruangan ku dengan sembarangan,kamu pikir kamu siapa kamu pikir tuan Hariz menyukaimu? mimpi!!!! tuan Hariz sudah mencintai Selvi dari empat tahun yang lalu."Ucap bara lalu menutup pintunya dengan kasar.
"Benar-benar sialan itu wanita,kalau bukan karna wanita sudah ku lempar dia dari jendela." Ucap bara dia kembali memeriksa semua pekerjaannya sebelum menyerahkannya kepada tuannya.
Hingga jam sudah menunjukkan pukul sepuluh Hariz baru saja tiba di perusahannya,dia tidak mengijinkan Selvi hari ini kekantor Karna dia merasa kasihan kepada Selvi yang terlihat masih ngantuk dan lelah.
Saat memasuki ruangannya dia sudah melihat alice yang sedang duduk di sopa dengan wajah ditekuk,dia mengabaikan wanita itu.
"Ada perlu apa katakan saja,aku sibuk."Jawab Hariz,Alice terlihat menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya dia masih terus berusaha agar emosinya tidak memuncak.
"Apa kamu tidak peduli dengan janin yang ada dikandungan ku,aku akan malu jika nanti kariawan tau aku hamil diluar nikah dan ayah biologisnya kamu."Ucap Alice berusaha untuk tetap tenang.
"Aku tidak yakin jika dia anakku,aku bukan pria polos yang gampang kamu tipu,aku masih ingat jelas waktu itu aku membuangnya keluar bukan di dalam rahimmu."Ucap hariz,dia menjadi jijik saat mengingat permainan nya dulu bersama Alice.
"Baiklah,jika kamu tidak mau tanggung jawab lebih baik aku mati dari pada menanggung malu di kantor ini."Ucap Alice lalu dia keluar dari ruangannya lalu kembali keruangan nya.
Hariz mengabaikan semua ucapan Alice dia terlihat mulai membuka lembaran demi lembaran dokumen di hadapannya tapi sedikit pun dia tidak bisa pokus karna pikirannya melayang ke apertemen nya.
__ADS_1
"Ngapain dia sekarang ya? apa dia sudah bangun dan mandi pasti dia sudah cantik dengan ligeriya yang sangat seksi itu."Suara hati Hariz dia tampak tersenyum-senyum membayangkan Selvi mendesah di bawah kukungannya.
"Tubuhnya selalu membuatku ketagihan,dan lihatlah celanaku semakin sempit mungkin si kecil di bawa sana ketagihan dengan lubang kecil milik Selvi.
Brakkkk
"Lihatlah aku akan bunuh diri jika kamu tidak mau bertanggung jawab dengan bayi ini."Ucap Alice dan ditangannya sudah terlihat pisau yang sangat tajam.
"Hentikan Alice,kita bisa bicarakan ini dengan tenang jangan gegabah."Ucap Hariz,dia berdiri dan mulai keluar dari kursinya Alice yang melihat kepanikan di wajah Hariz merasa terbang di atas angin akhirnya dia bisa mencari kelemahan pria itu.
"Biarkan aku mati mas,biar kamu puas,biarkan aku pergi bersama janin dalam kandunganku,"Ucap Alice berusaha terus mencoba pura-pura ingin menyayat pergelangan tangannya dan dia sambil menagis.
Hariz langsung berlari ke arahnya,lalu merebut pisau dari tangan Alice dan melemparnya jauh.
"Kita bisa membicarakan ini dengan hati tenang ,kamu jangan gegabah maafkan aku."Ucap Hariz membuat Alice semakin bangga akhirnya pria itu luluh juga kepadanya.Alice lalu memeluk tubuh Hariz dengan erat sambil pura-pura menagis.
"Aku sangat takut hamil di luar nikah sayang hiks....hiks...hiks."Ucap Alice sementara itu Hariz terdiam dia sangat takut jika Selvi mengetahui semuanya sementara dia sangat yakin jika kehamilan wanita itu bukan miliknya.
"Ya sudah kau kembali ke ruangan mu,aku akan memikirkan semuanya."Ucap Hariz,dia begitu frustasi dengan masalah yang dia hadapi sekarang.
"Aku pengen disini,anak kita ingin bersama ayahnya."Ucap Alice dengan manja sambil mengelus perut ratanya hingga membuat Hariz bergidik ngeri.
**bersambung**
__ADS_1