
Nindi melihat Selvi yang menagis sesenggukan dia tidak tega melihat sahabatnya, akhirnya dia mengumpulkan keberanian pergi menemui Hariz
Nindi mengetuk pintu kamar berulang-ulang tapi Hariz mengabaikannya,
"Sepertinya dia tidak ingin di ganggu baiklah aku memberitahunya besok saja."Ucap Nindi,dia mendekati Selvi yang masih menagis.
"Sel,maafkan aku,ini semua terjadi karna aku mengajakmu jumpa tadi sore."Ucap Nindi,dia mengelus punggung sahabat lamanya itu seakan menenangkannya tapi Selvi tidak bergeming sama sekali membuat Nindi merasa bersalah.
Malam semakin larut Nindi sudah tidur di samping Selvi,malam itu mereka tidur berdua dikamar tamu.Selvi merasa sangat gelisah,akhirnya dia bangkit dari ranjang dan kembali keruang tamu.Selvi memberanikan diri membuka kamar hariz dan ternyata pria itu tidak mengunci kamarnya,Selvi dengan pelan mengintip kedalam kamar Hariz dan ternyata pria itu sudah tidur dengan pakaian yang belum ganti dan bahkan sepatunya tidak di bukanya.Selvi bisa membuka pintu dengan leluasa karna Hariz membelakangi pintu.
"Dia tidur begitu pulas."Suara hati Selvi lalu pelan-pelan memasuki kamar dan mendekati Hariz.
Selvi meraih kaki Hariz lalu membuka sepatunya dengan pelan karna takut membangunkan Hariz yang tertidur dengan pulas.Lalu dia naik ke atas ranjang dan memeluk Hariz dari belakangnya.
"Sayang maafkan aku,ini tidak seperti yang kamu pikirkan."Ucap Selvi tepat ditelinga Hariz,tapi mungkin karna Hariz terlalu lelah dia sama sekali tidak merasakan kehadiran.
*****
Nindi bangun pagi dia m lihat Selvi masih tertidur pulas,dia tidak berani membangunkan Selvi karna dia tau semalam Selvi terus gelisah.Nindi keluar dari kamarnya dan dia sangat kaget saat melihat Hariz sudah duduk di sopa sambil menikmati segelas kopi.
"Apa dia membuat kopi sendiri?" Tanya Nindi,dia mendekati hariz.
"Selamat pagi tuan! maaf jika menganggu aku mau cerita tuan,sebenarnya semalam Selvi tidak melakukan kesalahan aku ada video nya Arya yang sudah memaksa Selvi dan mencium Selvi dengan paksa aku minta maaf karna kami ke cafe karna aku yang mengajaknya."Ucap Nindi.Dia sangat berharap Hariz memaafkan Selvi dan tidak membencinya.
__ADS_1
"Tuan ini video aslinya seseorang yang mengirim gambar itu kepada tuan mungkin Karna mereka iri dengan hubungan kalian."Ucap Nindi dan memperlihatkan video aslinya kepada Hariz.
"Menjauh dari ku,aku tidak butuh apa pun dari kalian jika kalian sudah bangun silahkan keluar."Ucap Hariz lalu dia menghabiskan kopinya dan meninggalkan apertemen nya.
Hariz menyetir dengan perasaan yang tidak bisa di ungkapkan sekilas dia dia percaya dengan ucapan Selvi dan juga Nindi,apalagi nindi yang punya bukti jika Selvi tidak bersalah tapi entah kenapa membayangkan Poto yang dikirim Alice membuat hati Hariz sangat kecewa.Dia memang tipe pria yang tidak rela bahkan tidak mau jika sesuatu yang dimilikinya harus berbagi dengan orang lain.
"Aarrgggg....Arya...aku harus memberimu pelajaran tidak kubiarkan kamu dengan mudah menyentuh milikku bajingan."Ucap Hariz,dia memukul stang mobilnya dia sangat kesal membayangkan Poto yang dikirim Alice.
Hariz mengabaikan sapaan semua kariawan nya pagi ini,wajahnya terlihat masam dia langsung memasuki lift dan langsung ke ruangannya dia melonggarkan dasi yang ada di lehernya.
"Argghh sialan,kenapa harus seperti ini,aku sangat mencintai Selvi tapi kenapa,kenapa dia harus bertemu pria biadap itu."Sungut Hariz dia menaikkan kakinya keatas meja dia begitu frustasi dengan masalah yang ada.
"Sayang,kamu sudah melihat Poto wanita itu,dia hannya pura-pura polos,kamu tidak tau aku melihatnya langsung memasuki hotel mereka menikmati malam yang panjang dan mendesah dengan pria lain,apa kamu masih tertarik dengan wanita sok lugu itu."Ucap Alice yang tiba-tiba sudah memasuki ruangannya dan dia berusaha mengompori Hariz apalagi melihat wajah Hariz yang sangat tidak bersahabat.
"Walaupun dia wanita yang sudah menyerahkan perawan nya kepadamu,tetapi kamu tidak bisa menolak janin yang ada di rahim ku ini milik mu sayang,dan itu artinya aku ini jodohmu."Ucap Alice tampa rasa malu sedikit pun.Hariz kembali mendorong tubuh Alice lalu menatapnya dengan kasar
"Kamu benar-benar wanita tidak tau malu,jika milikmu sedang gatal aku bisa memanggil bara untuk memuaskan nafsu mu itu,dia dengan senang hati akan melayaniku."Ucap Hariz lalu beranjak meninggalkan Alice.
Sementara itu,Selvi terbangun sudah sangat siang,dia cukup kaget melihat jam yang sudah menunjukan pukul setengah sepulu.
"Sial,aku terlambat bangun ini semua karna masalah tadi malam,siapa yang sudah mengambil poto ku dan mengirim kepada Hariz."Selvi menggaruk kepalanya yang tidak gatal,hari ini lengkap sudah penderitaannya tidak masuk kantor dan juga Hariz yang tidak mau memaafkannya.
"Nindi....Nindi kamu dimana?" Selvi memanggil temannya lalu dia keluar kamar ternyata temannya sedang memasak di dapur hariz.
__ADS_1
"Kamu tidak membangunkan ku?"
"Maaf,aku melihatmu cukup pulas aku tidak tega membangunkan mu,apa Hariz sudah memaafkan mu?
"Sepertinya belum,aku tidak tau lagi,biarlah jika memang dia tidak mempercayaiku aku bisa apa?"Ucap Selvi terlihat pasrah,dia mengambil nasi goreng buatan Nindi lalu mereka menikmati sarapan pagi walaupun sebenarnya hari sudah lumayan siang.
"Pasti nanti aku mendapat surat teguran aku bolak-balik tidak masuk kantor!!"
"Apa yang harus kamu takutkan toh yang punya perusahan pacarmu sendiri."
"Iya tidak bisa gitu dong,kita juga harus saling menjaga pemilik perusahan saja taat aturan,lagian sebentar lagi pria itu pasti meninggalkan aku,aku tau dia pria yang sangat cemburuan."Ucap Selvi.
Selvi mengirim pesan kepada Hariz,dia masih sangat berharap Hariz memaafkannya
[ Sayang maafkan aku,] Setelah terkirim Selvi memasuki kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Sementara Hariz mengabaikan pesan yang dikirim Selvi,gambar Selvi masih terngiang dipikirannya.
Hariz mengambil kunci mobilnya lalu dia pergi menuju perusahan Arya,dia sangat marah kepada pria itu karna selalu menganggu kekasihnya.Dengan emosi dia memasuki perusahannya dan langsung menendang pintu ruangan Arya
"Brakkkkk.....,Arya bajingan kamu dimana?
****bersambung****
__ADS_1