Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
TEMAN


__ADS_3

"Jadi, kesibukan Nona Claudia biasanya apa?" Tanya Melody pada Sam yang masih fokus mengemudi.  Tadi Melody memang memutuskan untuk langsung pulang saja dan meninggalkan  apartemen Matthew.


"Tidak ada!" Jawab Sam seraya terkekeh.


"Sebenarnya Tuan Harun selalu meminta Nona Claudia untuk belajar mengelola perusahaan, serelag gadis itu sekesai kuliah. Tapi Nona Claudia todak pernah mau dan hanya sekedar datang ke kantor lalu menyuruh aku yang mengerjakan semuanya."


"Nona Claudia sepertinya lebih tertarik pada dunia entertainment karena dia beberapa kali mengambil jon sebagau model, penyanyi, dan mencoba  berakting juga." Jelas Sam panjang lebar.


"Tapi aku tak pernah mendengar namanya kalau memang dia artis terkenal bukankah seharusnya namanya terkenal di seantero negeri dan wajahnya wira-wiri di layar televisi?" Tanya Melody tak paham. Namun bukannya langsung menjawab, Sam malah tertawa renyah dan pria itu geleng-geleng kepala seperti biasa.


"Nona Claudia bukan artis terkenal, Mel! Dia menjadi model dan penyanyi itu hanya sekedar hobi. Honornya saja tak ia gubris karena uang jajannya dari Tuan Harun lebih besar ketimbang honor menjadi model atau penyanyi."


"Itu hanya sekedar kepuasan batin," jelas Sam lagi yang kali ini langsung membuat Melody menganggu paham.


"Dan sebagai model serta penyanyi, Nona Claudia tak pernah memakai nama panjangnya. Ia punya mama panggung satu kata terdiri dari empat huruf."


"Clau!" Sambung Sam lagi yang kembali membuat Melody mengangguk.


"Aku juga suka bernyanyi. Selain wajah yang mirip, sepertinya hobi kami juga sama," gumam Melody seraya tertawa kecil.


"Benarkah itu? Aku boleh mendengar suaramu saat bernyanyi?" Tanya Sam antusias.


"Aku rasa tak akan semerdu suara Nona Claudia. Aku hanya penyanyi kamar mandi," jawab Melody sedikit tersipu.


"Coba saja dulu!"


"Ayo! Aku penasaran!" Sam terlihat antusias sekali.


"Enggak ah!" Melody menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.


"Malu!" Cicit Melody lagi.


"Ayolah, Mel! Aku penasaran!" Satu tangan Sam sudah terulur untuk menyingkirkan tangan Melody dari wajah gadis itu.


"Fokus mengemudi, Sam!" Melody mengingatkan.


"Iya ini aku fokus!" Jawab Sam cepat.


"Cepatlah bernyanyi, Mel! Suaramu pasti merdu," paksa Sam sekali lagi.


"Mau menyanyi apa?"


"Apa saja! Asal jangan lagi melow. Nanti aku nangis," jawab Sam berkelakar.


^^^"Awalnya ku tak mengerti apa yang sedang kurasakan^^^


^^^Segalanya berubah dan rasa rindu itupun ada"^^^


Melody menjeda sejenak lagu yang ia nyanyikan.


"Seperti pernah dengar, Mel! Itu lagu apa?" Sam terlihat mengingat-ingat.


^^^"Sejak kau hadir di setiap malam dan tidurku^^^


^^^Aku tahu sesuatu sedang terjadi padaku"^^^

__ADS_1


"Udah!" Melody tersipu malu.


^^^"Sudah sekian lama kualami pedih putus cinta^^^


^^^Dan mulai terbiasa hidup sendiri tanpa asmara^^^


^^^Dan hadirmu membawa cinta sembuhkan lukaku^^^


^^^Kau berbeda dari yang kukira"^^^


Sam melanjutkan lagu yang tadi dinyanyikan oleh Melody.


"Wow! Suaramu merdu, Sam!" Melody bertepuk tangan pada pria di sampingnya tersebut. Sementara Sam hanya tersenyum lebar menanggapi pujian Melody.


"Kau sedang jatuh cinta?" Tanya Sam tiba-tiba pada Melody.


"Hah? Enggak! Baru patah hati malahan-"


"Eh!" Melody membekap mulutnya sendiri dengan telapak tangan.


"Patah hati?" Sam mengerutkan kedua alisnya dan merasa penasaran.


"Lupakan saja! Itu hanya sebuah perasaan yang tak penting," jawab Melody seraya menatap lurus pada jalan di depannya. Mobil masih terus melaju dengan kecepatan sedang.


"Cerita saja! Aku bukan pria ember," ujar Sam menawarkan diri jadi tempat curhat.


"Tidak usah! Aku ingin melupakannya saja!" Jawab Melody cepat.


"Ngomong-ngomong, kau sudah menikah?" Melody balik bertanya dan mengalihkan bahan pembicaraan.


"Lihat sendiri!" Sam menunjukkan tangan kanannya pada Melody. Belum ada cincin kawin yang tersemat di sana. Masih bujang berarti.


"Nona Claudia tunangan Tuan Matthew!" Sam memotong dengan cepat dan raut pria itu hanya datar.


"Eh, iya." Melody bergumam sendiri.


"Lagipula, Nona Claudia bukan tipeku. Jadi aku juga tak tertarik kepadanya sejak awal," sambung Sam lagi seraya tertawa renyah.


Sesekali Sam akan menoleh ke arah Melody dan melemparkan tatapan anehnya yang hanya sekilas-sekilas itu.


"Sudah lama kerja pada Nona Claudia?" Tanya Melody lagu seraya memainkan hiasan yang ada di atas dashboard mobil.


"Aku asisten Tuan Harun. Menjadi asisten Nona Claudia hanya sampingan saja," ujar Sam menjelaskan pekerjaannya pada Melody.


"Iya."


"Sudah lama?" Melody bertanya sekali lagi.


"Baru sekitar lima tahun. Sebelumnya aku bekerja paruh waktu di perusahaan Setyawan sebagai cleaning service sambil kuliah. Lalu tiba-tiba Tuan Harun memintaku menjadi asistennya karena katanya aku rajin dan berdedikasi."


"Aku diajari banyak hal dan inilah aku sekarang!" Cerita Sam panjang lebar bersamaan dengan mobil yang sudah berbelok ke halaman rumah Papa Harun yang megah dan mewah.


"Sudah sampai, Nona Claudia," ucap Sam seraya terkekeh.


"Terima kasih karena sudah menemaniku mengobrol banyak hal, Sam!" Melody mengusap lengan Sam yang masih berada di atas persneling.

__ADS_1


"Dan terima kasih juga karena sudah mengantar Nona Claudia gadungan ini pulang," imbuh Melody lagi seraya tertawa kecil. Sam ikut-ikutan  tertawa.


"Tapi aku masih penasaran, apa kau dan Claudia benar-benar bukan saudara kembar?" Sam bertanya sekali lagi sebelum Melody membuka pintu mobil.


"Aku rasa bukan! Ibu pasti cerita jika memang aku punya saudara kembar," jawab Melody seraya mengendikkan bahu. Sementara Sam hanya mengangguk paham.


"Ngomong-ngomong soal Matthew, bagaimana kalau dia mengajakku melakukan itu lagi?" Kedua telunjuk Melody membentuk tanda kutip.


"Aku tak mungkin memakai alasan datang bulan terus-menerus," lanjut Melody lagi.


"Kau bisa langsung mengirimiku pesan kalau Matthew menemuimu lagi. Aku akan langsung datang dan siaga," janji Sam pada Melody.


"Baiklah," Melody mengangguk-angguk.


"Aku turun sekarang." Melody akhirnya membuka pintu mobil dan turun. Sementara Sam langsung melaju pergi meninggalkan kediaman Setyawan setelah melambaikan tangan pada Melody.


****


Claudia masih duduk termenung sendirian di saung tengah sawah. Sesekali Claudia akan menggerakkan tali yang terhubung dengan beberapa orang-orangan sawah untuk mengusir burung-burung kecil yang memakan biji padi yang hampir siap panen.


"Sendirian saja, Mbak?" Sapa seorang pria yang tiba-tiba menghampiri Claudia dan membuat gadis itu kaget bukan kepalang.


"Siapa kamu?" Tanya Claudia menatap awas pada pria yang berpenampilan seperti warga desa pada umumnya. Pria itu memakai topi dan sepertinya sedang menyembunyikan wajahnya.


Mencurigakan sekali!


"Saya Andez, Mbak! Warga baru disini," jawab pria yang ternyata bernama Andez itu seraya membuka topi di kepalanya. Wajahnya terlihat sedikit tak asing dan sekilas mirip Aaron Aaron yang kemarin.


Eh, tapi berbeda sepertinya. Pria ini juga berkacamata dan Aaron sialan kemarin itu tak berkacamata serta wajahnya mengesalkan. Sepertinya memang benar pria ini warga desa dan bukan Aaron. Jadi biarkan saja!


"Disini magang? Atau sedang KKN?" Cecar  Claudia penuh selidik.


"Enggaklah, Mbak! Saya bukan mahasiswa."


"Saya warga asli sini sebenarnya. Tapi sudah lama merantau sebagai TKI dan sekarang baru kembali lagi," terang Andez panjang lebar.


Claudia hanya membulatkan  bibirnya.


"Lalu sekarang tinggal dimana?" Tanya Claudia lagi berbasa-basi.


"Di dekat rumah Mbak..." Andez mengernyit seolah sedang bertanya nama Claudia.


"Mel!" Claudia mengulurkan tangannya dan memilih memperkenalkan diri sebagai Melody saja. Toh warga desa juga tahunya Claudia adalah Melody. Jika nanti Claudia mengaku sebagai Claudia, yang ada malah bikin kisruh.


"Oh, iya! Mbak Mel! Biar saya bantu, Mbak!" Andez meraih tali yang sejak tadi dipegang Claudia dan menggoyangkannya dengan keras. Belasan burung langsung beterbangan karena kaget.


"Panggil Mel saja dan jangan Mbak! Usia kita sepertinya sepantaran," ucap Claudia pada Andez yang masih mengusir burung.


"Baiklah, Mel! Kita teman sekarang."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2