
Melody bangkit dari duduknya saat melihat Claudia yang baru saja datang bersama Sam. Tadi Claudia memang langsung dijemput oleh Sam ke bandara kota, beberapa saat setelah saudara kembar Melody itu tiba.
Claudia langsung berlari untuk memeluk Melody yang hanya mematung.
"Maaf!" Gumam Claudia penuh sesal.
"Kau membawa yang tadi aku minta?" Melody malah mengajukan pertanyaan lain.
"Aku sudah mencarinya di rak yang kau katakan. Tapi tidak ada apapun. Tidak ada buku usang yang diikat tali rami ataupun foto lama di rak tersebut," jelas Claudia pada Melody.
Tadi Melody memang meminta pada Claudia untuk mencari buku yang tenoo hari ia temukan di perpustakaan rumah Papa Harun. Melody mengira kalau waktu itu mungkin Papa Harun mengembalikannya. Namun sepertinya tidak.
"Sepertinya sudah disembunyikan oleh Pak Harun," gumam Melody menerka-nerka.
"Itu foto dan buku apa memangnya?" Tanya Claudia penuh selidik.
"Foto Pak Harun bersama seorang wanita yang tengah hamil besar-"
"Ibu?" Claudia menyela dengan cepat.
"Bukan! Wajahnya berbeda," jawab Melody seraya menggeleng.
"Mungkin itu wanita bernama Marlina yang makamnya sering dikunjungi oleh papa," Claudia kembali menerka-nerka.
"Kau tahu isi bukunya?" Tanya Claudia lagi pada Melody.
"Belum sempat ku baca dan Pak Harun sudah merebutnya. Wajahnya terlihat marah."
"Kau tahu siapa itu Marlina?" Melody balik bertanya pada Claudia.
"Aku tidak tahu! Tapi ibu pasti tahu!" Jawab Claudia seraya menarik lengan Melody dan mengajak gadis itu masuk ke dalam kamar perawatan Bu Ayana.
"Mel, kau darima-" suara Bu Ayana tercekat di tenggorokan saat wanita paruh baya itu melihat dua Melody di hadapannya.
Apa?
Kenapa bisa ada dua Melody?
"Ibu!" Claudia yang terlebih dahulu menghampiri Bu Ayana dan memeluk wanita paruh baya tersebut. Sementara Melody masih diam di tempatnya dan tak berucap sepatah katapun.
"Senandung?" Gumam Bu Ayana setelah meraba punggung Claudia yang tertutupi baju terusan sederhana warna peach. Claudia mengernyit Dan menatap bingung pada Bu Ayana yang memanggilnya Senandung.
Siapa Senandung?
"Itu namamu saat lahir, Clau!" Ujar Melody menjawab kebingungan Claudia.
"Kau Senandung?" Tanya Bu Ayana lagi seraya menangkup wajah Claudia, memeriksa setiap jengkalnya.
"Kau masih hidup dan sehat, Nak!"
"Ibu benar-benar merindukanmu,"Bu Ayana kembali memeluk Claudia dengan penuh haru. Pun dengan Melody yang kini matanya berkaca-kaca menyaksikan Bu Ayana yang akhirnya bertemu lagi dengan Senandung setelah hampir dua puluh empat tahun terpisah.
"Kau bertemu Senandung dimana, Mel?" Tanya Bu Ayana selanjutnya pada Melody yang buru-buru menghapus airmatanya. Melody mendekat ke arah ibu sekaligus saudara kembarnya itu, lalu memeluk keduanya.
__ADS_1
"Namanya sekarang Claudia, Bu!" Ujar Melody menjelaskan pada sang ibu.
"Claudia?"
"Claudia Setyawan lebih tepatnya. Putri dari Harun Setyawan," lanjut Melody lagi yang tentu saja langsung membuat Bu Ayana tercengang.
"Harun Setyawan?" Suara Bu Ayana terdengar bergetar saat menyebut nama itu.
Satu-satunya orang di dunia ini yang tak ingin Bu Ayana lihat atau dengar namanya adalah Harun Setyawan. Pria baj*ngan yang sudah membuat hidup Bu Ayana menjadi hancur.
"Apa Pak Harun Setyawan adalah Papa kandung Melody dan Claudia, Bu?" Tanya Melody selanjutnya menuntut jawaban sekaligus penjelasan dari sang ibu.
"Dia tak pantas menjadi papa kandung kalian! Dia itu pria be-" Bu Ayana belum menyelesaikan kalimatnya, saat tiba-tiba pintu kamar perawatan sudah menjeblak terbuka. Ada Papa Harun yang sudah berdiri di sana dan menampilkan raut wajah marah.
"Papa!" Gumam Claudia kaget. Pun dengan Melody dan Bu Ayana yang ikut kaget, namun dua wanita itu hanya diam dan tak berucap sepatah katapun.
"Claudia, ayo pulang!" Perintah Papa Harun memaksa seraya menghampiri Claudia yang secepat kilat ditarik oleh Bu Ayana.
Pun dengan Melody yang langsung merapatkan posisinya mendekat ke arah sang Ibu.
"Jangan coba-coba membawa pergi anakku! Kau tidak ada hak!" Gertak Bu Ayana membalas tatapan marah Papa Harun.
"Aku yang sudah membesarkannya selama dua puluh empat tahun! Jadi Claudia adalah anakku!"
"Dasar pembunuh!" Papa Harun menatap sengit pada Bu Ayana.
"Aku bukan pembunuh!" Bantah Bu Ayana dengan suara keras!
Setelah puluhan tahun memendam semuanya, Bu Ayana akan membela diri hari ini dan detik ini. Bu Ayana akan menceritakan yang sebenarnya agar ia tak terus-terusan dituduh pembunuh oleh Harun baj*ngan.
"Mas, besok mumpung hari Minggu, kita makan di warung depan jalan itu, ya!"
"Aku ada janji bermain golf bersama kolegaku. Lain kali saja kita makannya, ya! Nanti kamu suruh Ayana saja membelikannya besok."
"Ck! Aku maunya makan di tempat dan nggak mau dibungkus!"
"Aku akan mengajak Ayana saja kalau begitu! Kau selalu saja sibuk dan lebih mementingkan pekerjaanmu!" Rengut Marlina seraya bersedekap kesal.
"Jangan marah begitu! Ini terakhir kali aku bertemu kolega saat hari Minggu."
"Bagaimana kalau minggu depan saja kita makan bubur ayamnya," Harun mengajukan usul lain.
"Aku maunya besok! Kenapa disuruh minggu depan? Nanti kalau putri kita ileran bagaimana?"
Harun terkekeh mendengar teori Marlina.
"Pokoknya aku mau beli besok, bersama Ayana, titik!" Ucap Marlina lagi tetap keras kepala.
Papa Harun masih membisu dan menatap pada Bu Ayana yang kini wajahnya semakin menua. Rambut wanita itu bahkan sudah memutih di beberapa bagian sama seperti halnya Papa Harun.
Sudah puluhan tahun berlalu dan Papa Harun masih saja dibutakan oleh semua tuduhannya pada Bu Ayana. Papa Harun ganti menatap bergantian pada kedua putrinya yang wajahnya begitu mirip dan nyaris sama.
Bu Ayana sudah melahirkan dua putri yang cantik untuk Papa Harun, tapi kebencian Papa Harun pada wanita ini seolah masih mendarah daging. Papa Harun tidak tahu kenapa.
__ADS_1
"Kau pikir aku akan percaya pada cerita bohongmu itu?" Papa Harun kembali menatap sengit pada Bu Ayana.
"Kau itu tetaplah seorang pembu-"
"Kau menyebutku pembunuh! Lalu kau sendiri apa? Pria bejat yang sudah merenggut kehormatan seorang gadis, memperkosanya dengan tanpa perasaan, tak pernah mempedulikannya saat ia berjuang selama sembilan bulan mengandung kedua putrimu!"
"Lalu dengan mudahnya kau mengambil Senandung tanpa memikirkan bagaimana aku bertaruh nyawa untuk melahirkannya! Bagaimana aku menanggung sebuah aib karena hamil tanpa suami!"
"Kau bahkan lebih buruk dari seorang pembunuh!"
"Kau itu pria bejat dan baj*ngan, Harun!" Teriak Bu Ayana mengeluarkan semua emosi yang ia pendam selama dua puluh empat tahun ini.
Hati Papa Harun seakan tertusuk belati saat mendengarkan cercaan Bu Ayana.
"Papa benar-benar sudah keterlaluan!" Ucap Claudia menatap penuh kebencian pada Papa Harun. Pun dengan Melody yang meskipun tak berucap apapun, namun sorot mata gadis itu sama seperti Claudia.
"Pergi kau dari hidupku dan dari hidup kedua putriku!" Usir Bu Ayana mengusir Papa Harun seraya memeluk Claudia dan juga Melody.
"Mereka juga putriku!" Jawab Papa Harun seraya menarik tangan Claudia.
"Clau tidak mau!"
"Lepaskan tangan Claudia!" Sentak Claudia meronta-ronta dan berusaha melepaskan tarikan tangan Papa Harun.
"Claudia mau disini bersama ibu!" Teriak Claudia lagi yang terus meronta-ronta.
"Jangan keras kepala, Clau!" Bentak Papa Harun galak.
"Lepas!"
"Sam!" Claudia berteriak memanggil Sam yang sejak tadi hanya diam menyaksikan perdebatan Bu Ayana dan Papa Harun.
"Sam! Jangan coba-coba ikut campur!" Gertak Papa Harun memperingatkan Sam dengan galak. Sam tak jadi membantu Claudia dan tetap berdiri di tempatnya.
"Lepas, Pa!" Claudia terus meronta hingga Papa Harun kewalahan dan akhirnya melepaskan cengkeramannya pada lengan Claudia.
"Papa jahat!" Maki Claudia sebelum wanita itu kembali mendekat pada Bu Ayana dan Melody.
"Pergi dari sini!" Usir Bu Ayana sekali lagi pada Papa Harun yang wajahnya sudah terlihat frustasi.
"Papa tidak akan tinggal diam, Clau!" Ancam Papa Harun pada Claudia.
"Clau tidak takut!" balas Claudia berani.
"Dan batalkan sekalian pertunangan Clau dengan Matthew! Pria itu sama baj*ngannya dengan Papa!" Kalimat terakhir yang dilontarkan Claudia langsung berhadiah delikan dari Papa Harun.
"Apa katamu barusan?"
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.