Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
CEMBURU?


__ADS_3

Hari sudah menjelang siang saat Melody keluar lagi menuju ke teras untuk melihat Matthew karena sejak tadi pria itu belum masuk ke rumah entah sedang berbuat apa.


"Jangan lupa, ya, Mas Mamat! Nanti kalau ada lowongan pekerjaan untuk anak saya!" Melody menatap tidak senang ke arah Matthew yang sedang berbincang dengan salah satu tetangga Melody yang merupakan seorang janda yang punya anak seusia dengan Bagus. Meskipun sudah berumur, namun tetangga Melody itu memang terkenal genit terutama pada para lelaki muda seperti Matthew misalnya.


Melody masih bersedekap dan melempar tatapan tak sukapada Matthew yang tetap berbicara bersama tetangganya yang genit.


"Saya duluan, Mas Mamat."


"Duh, Mel! Lagi hamil kok wajahnya ditekuk begitu! Jangan galak-galak!" Tegur tetangga Melody tadi sebelum berlalu pergi.


Melody tak menyahut dan hanya memutar bola matanya malas.


"Mel, aku sudah petikin rambutannya," ucap Matthew menunjuk ke tumpukan rambutan di kursi teras.


"Siapa yang petik?" Tanya Melody seraya duduk di kursi teras dan mengambil satu buah rambutan lalu mengupasnya dengan cekatan.


"Aku."


"Pakai galah tadi, diajari Bu Surti," jawab Matthew seraya terkekeh.


"Jadi, suka menggoda ibu-ibu genit juga? Aku kira doyannya hanya yang muda-muda," Sindir Melody dengan nada sinis.


"Maksudnya?" Matthew mengernyit tak paham.


"Tadi, Bu Surti. Kelihatan genit dan sepertinya kamu suka juga. Udah kencan? Mau ketemuan? Check in di hotel?" Cecar Melody bertubi-tubi seolah sedang menyudutkan Matthew.


"Apa maksud kamu bicara seperti itu, Mel? Hanya karena aku berbincang dengan tetanggamu lalu kau mengungkit masa laluku! Mencap aku sebagai playboy, genit, gampangan!"


"Nyatanya memang kami seperti itu! Saat hasrat tak tersalurkan mudah saja kau minta jal*ng pada asistenmu!"


"Di depanku!" Nada bicara Melody sudah mulai meninggi


"Itu hanya masalalu! Aku tak pernah lagi melakukannya! Kau bisa tanya ke asistenku atau pada Erlan atau pada Navya jika tak percaya!" Matthew mulai jengah sekarang.


"Kau selalu saja menilaiku dari semua masalaluku! Tidak bisakah kau sedikit saja melihat usahaku selama beberapa bulan ini demi meluluhkan hatimu?" Pungkas Matthew seraya berjalan masuk ke rumah masih dengan langkah terpincang.

__ADS_1


Melody hanya diam dan kembali mengambil buah rambutan dari tangkainya, lalu mengupasnya secara kasar.


Melody sedang sebal sekarang!


****


"Iya, aku akan pulang malam ini!"


Melody baru selesai mandi saat wanita itu mendengar Matthew yang sepertinya sedang bicara dengan seseorang di telepon.


"Minta supir menjemputku di bandara jam delapan. lalu kumpulkan semua staf pukul delapan. Aku akan langsung mengadakan meeting!"


"Bergegaslah!" Pungkas Matthew sebelum pria itu memakai celana panjangnya dengan tergesa. Melody masuk ke kamar dan membuat Matthew sedikit kaget.


"Aku harus meeting penting malam ini. Mungkin besok siang atau sore aku kembali lagi kesini untuk menemanimu." Ujar Matthew melapor pada Melody.


"Kau masih mau menginap lama disini?" Tanya Matthew selanjutnya.


"Aku ingin ikut pulang," jawab Melody to the point. Rasa bersalah masih menggelayuti hati Melody karena kata-katanya pada Matthew siang tadi. Dan sepertinya Melody tak akan bisa tidur jika malam ini Matthew tak berada di sampingnya.


Meskipun Melody dan Matthew hanya saling memunggungi saat di atas ranjang, tapi Melody merasa aman saat Matthew berada di sampingnya. Pernah satu kali Matthew pergi ke luar kota karena ada urusan dan Melody terjaga semalaman karena Matthew tak berada di sebelahnya.


Aneh sekali!


"Kau yakin? Bukankah katamu mau menginap lama-


"Iya aku yakin! Kau mau mengajakku pulang tidak?" Sergah Melody dengan nada galak.


"Iya, maaf! Cepatlah ganti baju kalau begitu! Kau tidak akan naik pesawat pakai piyama, kan?" Matthew mengendikkan dagunya ke arah piyama Melody.


"Apa masalahnya? Aku bisa pakai jaket!" Sergah Melody masih galak.


"Lagipula, di kelas bisnis tak ada yang akan memperhatikan!" Ujar Melody lagi yang sepertinya sedang memberikan kode pada Matthew agar diajak naik pesawat kelas bisnis lagi seperti saat mereka berangkat kemarin.


"Iya, baiklah terserah kau saja!" Matthew memilih untuk mengalah dan segera membantu Melody memakai jaketnya.

__ADS_1


"Aku bisa sendiri!" Tolak Melody ketus. Matthew hanya mengangkat kedua tangannnya lalu keluar dari kamar Melody tetap dengan langkah terpincang.


"Matt!" Panggil Melody pada Matthew yang sudah sampai di ambang pintu kamar.


"Ya!"


"Aku mau membawa semua rambutan yang ada di teras tadi," ucap Melody yang langsung membuat Matthew mengangguk.


"Akan kumasukkan ke dalam tas," jawab Matthew seraya melanjutkan langkahnya menuju ke teras depan. Matthew mengemasi semua rambutan di kursi teras sesuai titah Melody. Termasuk beberapa semut yang ada di buah rambutan, Matthew masukkan juga ke dalam tas. Biar sekalian ikut naik pesawat!


****


Jam sudah menunjukkan pukul delapan lebih, saat mobil yang membawa Matthew dan Melody berhenti di depan gedung kantor Orlando Group.


"Supir akan mengantarmu pulang. Langsung istirahat saja!" Tangan Matthew refleks mengusap puncak kepala Melody.


"Maaf!" Ucap Matthew cepat sedikit salah tingkah. Melody tak melakukan reaksi penolakan.


"Kau pulang jam berapa nanti?" Tanya Melody saat Matthew sudah membuka pintu mobil.


"Belum tahu. Tapi nanti kalau meeting sudah selesai aku akan langsung pulang," jawab Matthew yang hanya membuat Melody mengangguk. Matthew lanjut keluar dari mobil dan berjalan masuk ke gedung kantornya. Sementara mobil yang membawa Melody sudah melaju pergi meninggalkan gedung kantor Matthew.


"Pak, bisa mampir beli terang bulan dulu?" Pesan Melody pada supir yang duduk di depan.


"Siap, Nona!"


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2