
Aaron buru-buru melepaskan pagutannya pada bibir Claudia saat mendengar teriakan seorang warga dari kejauhan.
Mati kau, Aaron!
Sebentar lagi mungkin kau akan diarak keliling desa oleh warga.
"Woy!" Seru seorang warga lagi yang sudah mendekat ke arah saung.
"Sedang apa kalian berdua disini malam-malam?" Tanya salah seorang daribduavwarga yang mendekat tersebut. Tadinya Aaron pikir ada serombongan warga atau mungkin satu desa. Ternyata cuma dua orang.
"Cari jangkrik, Pak!" Jawab Aaron seraya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara Claudia memilih untuk diam dan menundukkan wajahnya dan tak ikut-ikutan bersuara.
"Ini Mbak Melody anaknya Bu Ayana, kan?" Tanya seorang warga setelah memperhatikan wajah Claudia dengan seksama di bawah sorot lampu senter.
"Iya, Pak! Kebetulan tadi iseng saja cari jangkrik," jawab Claudia ikut-ikutan memakai alasan seperti yang dikemukakan oleh Aaron alias Andez.
"Cari jangkrik!" Dua warga tadi mencibir bersamaan.
"Anak muda jaman sekarang! Kawin dulu di saung, nanti udah tekdung tralala baru nikah. Tahu-tahu lima bulan udah lahiran aja alasan bayinya premature." Dua warga tadi mengomel sekaligus mungkin menyindir Aaron dan Claudia.
"Kami tidak seperti itu, Pak!" Sanggah Aaron membela diri.
"Belum saja!" Sahut warga lagi.
"Ayo pulang, Mbak Mel! Kami antar!" ucap kedua warga tadi seraya menjauhkan Claudia dari Aaron.
"Biar saya yang mengantar Melody pulang, Pak!" Ujar Aaron cepat.
"Nggak usah! Nanti kamu belokin ke saung yang lain! Anak gadis orang ini, Mas! Nikahin dulu sebelum dinaikin!" Ucap salah satu warga itu lagi yang langsung membuat Claudia menahan tawa. Sementara Aaron kembali garuk-garuk kepala.
"Yaudah, saya pulang bareng bapak-bapak saja!" Ucap Claudia akhirnya yang sudah melangkah meninggalkan saung. Dua warga tadi dan Aaron mengikuti langkah Claudia.
"Mas Andez! Anda itu sebagai warga baru seharusnya jangan berbuat hal seperti ini!" Nasehat bapak paruh baya yang berjalan beriringan dengan Aaron alias Andez.
__ADS_1
"Andez bukannya warga lama disini, Pak?" Tanya Claudia sedikit bingung pada bapak lain yang berjalan bersamanya.
"Dia warga baru, Mbak! Baru beberapa hari yang lalu pindah dari kota ke sini."
"Hah? Serius? Tapi katanya dia warga asli sini yang lama merantau," Claudia masih merasa tak percaya.
"Warga asli? Dia itu pendatang, Mbak!" Jelas bapak paruh baya itu lagi yang tentu saja langsung membuat Claudia menganga dan menoleh ke arah belakang dimana Andez masih berjalan mengekori Claudia namun jaraknya sedikit jauh.
Andez bukan warga asli sini?
Lalu siapa sebenarnya pria itu?
****
Melody baru keluar dari kamar, saat gadis itu melihat seorang maid yang membawa setumpuk buku masuk ke sebuah ruangan.
Ruangan apa itu?
Melody segera menyusul langkah maid tadi untuk mencari tahu. Namun baru saja Melody hendak mengintip, maid tadi sudah kembali keluar dan membuat Melody kaget.
"Perpustakaan?" Kedua alis Melody langsung tertaut.
"Iya, ini perpustakaan. Nona Claudia mau mengambil buku? Perlu saya bantu?" Tawar maid lagi.
"Eee. Tidak usah! Aku akan mencarinya sendiri," jawab Melody cepat.
"Baiklah. Silahkan masuk, Nona!" Maid menggeser posisinya dan memberikan jalan untuk Melody agar bisa masuk ke dalam perpustakaan.
"Perlu saya ambilkan sesuatu sebagai teman membaca, Nona?" Tanya maid lagi.
"Tidak usah! Nanti saja aku akan memanggilmu kalau butuh sesuatu," jawab Melody seraya mengulas senyum.
"Baiklah! Saya permisi kalau begitu. Selamat siang Nona Claudia!" Maid menganggukkan kepalanya sebelum undur diri dan meninggalkan Melody sendirian di perpustakaan yang cukup luas tersebut.
__ADS_1
Melody berkeliling menyusuri rak demi rak untuk mencari tahu buku apa saja yang ada di perpustakaan pribadi ini. Mayoritas memang berisi buku tentang bisnis dan motivasi hidup.
Namun ada satu buku bergambar not balok yang mendadak membuat Melody sedikit penasaran. Melody mengambil buku itu dari dalam rak dan segera membawanya ke sofa yang berada di sudut ruangan. Melody membuka tali rami yang mengikat buku di tangannya tersebut.
Aneh sekali!
Kenapa buku ini harus diikat dan diletakkan di tempat tersembunyi? Kondisinya juga sudah usang dan sepertinya sudah lama tak dibuka.
Melody membuka ikatan tali rami di buku bersampul coklat tersebut dan baru membuka halaman pertama, saat kemudian gadis dua puluh empat tersebut menemukan sebuah foto di dalamnya.
Foto siapa ini?
Melody memperhatikan dengan seksama foto di tangannya dan terlihat seorang pria yang mirip Papa Harun.
Tunggu!
Itu memang Papa Harun!
Lalu wanita yang disebelah Papa Harun sepertinya sedang hamil karena perutnya yang terlihat membulat.
Tapi wajah wanita itu terlihat asing dan Melody tak mengenalinya.
Siapa wanita hamil itu?
Mungkinkah itu adalah mama kandung Nona Claudia?
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.