
Melody menatap pada gedung tinggi di hadapannya, dimana mobil Sam berhenti.
"Kita sudah sampai, Nona!" Lapor Sam pada Melody yang wajahnya terlihat bingung.
"Kamar Matthew nomor berapa?" Tanya Melody yang masih duduk di kursinya dan belum turun.
"Kamar?" Sam mengernyit heran.
"Ini apartemen dan bukan hotel, Nona!" Ujar Sam lagi seraya tertawa seolah Melody baru saja melakukan hal lucu.
"Berhentilah bersandiwara, Cla! Apa kau tidak risih aku panggil Nona setiap detik? Biasanya kau akan langsung mencak-mencak," Sam berdecak berulang kali dan cara bicaranya tak lagi formal. Pria itu meletakkan punggung tangannya di dahi Melody.
"Kau sedang apa?" Tanya Melody seraya beringsut mundur.
"Hanya memastikan kalau kau tidak sedang demam atau mengigau," jawab Sam yang sudah menurunkan tangannya.
"Aku baik-baik saja!" Melody refleks memukul lengan Sam. Namun pria itu malah tergelak sekali lagi.
"Kalau begitu cepatlah turun dan temui tunanganmu sana!" Usir Sam pada Melody.
"Aku harus ke lantai berapa dan ke kamar nomor berapa?" Melody mengulangi pertanyaannya pada Sam.
"Kau punya ponsel, kan? Tanya saja pada Tuan Matthew kalau kau tak ingat," ujar Sam seraya mengendikkan dagunya ke arah tas selempang Melody.
Melody hanya merengut dan segera membuka tas selempangnya, lalu mengambil ponsel Nona Claudia di dalam tas. Melody mencari-cari kontak Matthew Orlando dan baru saja akan meneleponnya, saat tiba-tiba Sam sudah merebut ponsel dari tangan Melody.
"Apa kau sungguh tidak ingat nomor unit apartemen Tuan Matthew?" Tanya Sam penuh selidik.
"Bukan tak ingat! Aku memang tidak tahu!" Jawab Melody jujur.
"Tapi kau sudah sering kesana, Cla! Bagaimana bisa kau tidak ingat?" Tanya Sam bingung.
"Itu bukan aku! Itu Nona Claudia dan aku adalah Melody-" Melody buru-buru menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Apa katamu barusan?" Sam memicingkan sebelah matanya.
"Apa? Yang mana?" Melody pura-pura bingung.
"Kalimatmu yang terakhir!"
"Kau siapa tadi?" Tanya Sam penuh selidik.
"Aku-"
"Aku Nona Claudia," jawab Melody tergagap.
"Iya! Aku adalah Nona Claudia!" Melody mengulangi kalimatnya yang justru membuat Sam menjadi curiga. Disaat bersamaan, ponsel Melody malah berdering dan nama Matthew Orlando terpampang jelas di layar.
"Halo, Matthew!" Jawab Melody seraya mengangkat telepon.
__ADS_1
"Kau sudah dimana?"
"Aku di lobi depan. Baru sampai-"
Tuk tuk!
Ketukan di kaca mobil membuat Melody terlonjak kaget. Rupanya Matthew yang mengetuk kaca mobil Sam. Matthew memberikan kode pada Melody agar segera turun.
Melody menatap sejenak pada Sam yang hanya mengangguk, sebelum kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan turun.
"Terima kasih sudah mengantarku, Sam!" Ucap Melody tulus dan Sam hanya mengangguk. Sesaat setelah Melody turun, Sam langsung melajukan mobilnya meninggalkan gedung apartemen.
"Hai!" Sapa Matthew seraya memeluk Melody. Tubuh Melody langsung menegang seketika karena grogi.
"Kau sudah lama, Matt?" Tanya Melody berbasa-basi pada Matthew.
"Baru saja sampai saat aku meneleponmu tadi," jawab Matthew seraya memindai sejenak penampilan Melody. Mereka berdua masih menunggu pintu lift terbuka, dan Melody sedikit risih dengan cara Matthew memandanginya saat ini.
Apa hanya karena Matthew adalah tunangan Nona Claudia, lalu ia bisa memandangi Melody yang sedang menjadi Nona Claudia seperti itu?
Sudah seperti menatap pada jal*ng saja!
Ting!
Suara pintu lift yang akhirnya terbuka membuyarkan lamunan Melody.
"Ada apa denganmu? Sejak tadi kau terlihat grogi saat aku menyentuhmu," tanya Matthew heran, bersamaan dengan pintu lift yang sudah kembali tertutup. Lift mulai bergerak naik, dan hanya ada Matthew serta Melody di dalam lift.
Bukan sebuah situasi yang bagus!
"Siapa yang grogi? Aku biasa saja," jawab Melody yang berusaha setengah mati mengatasi rasa gugupnya.
"Aku merindukanmu, Honey!" Matthew tiba-tiba sudah mengungkung tubuh Melody dengan kedua lengannya yang kekar. Pria itu tak berhenti menatap pada wajah Melody yang setengah menunduk. Matthew merasa ada yang berbeda dengan Claudia yang justru membuat Matthew penasaran.
Matthew sudah semakin mendekatkan wajahnya ke arah wajah Melody. Jantung Melody mungkin akan meledak sebentar lagi karena gugup. Matthew mau berbuat apa?
Ting!
Suara lift yang menandakan kalau mereka sudah sampai di lantai tujuan, seolah menjadi penyelamat bagi Melody dari situasi canggung tadi. Tapi setelah ini Melody dan Matthew akan masuk ke sebuah unit apartemen, dan itu artinya...
"Jangan lupa membawa pengaman. Tapi pasti anda lebih paham."
Kalimat Sam kembali terngiang di kepala Melody, bersamaan dengan pintu salah satu unit apartemen yang sudah dibuka oleh Matthew. Sebuah apartemen mewah langsung tampak di depan mata Melody. Tapi pikiran Melody masih belum sepenuhnya fokus dan masih memikirkan soal pesan Sam tadi.
Pengaman?
Pengaman apa?
Melody masih berkutat dengan pikirannya sendiri saat tiba-tiba bibir Matthew sudah mendarat di atas bibirnya yang refleks membuat Melody mendorong pria itu.
__ADS_1
Matthew yang tidak siap sedikit kaget dengan sikap penolakan dari Melody.
"Kau kenapa, Cla?" Tanya Matthew menatap heran ke arah Melody yang masih terlihat linglung.
"Maaf, Matt!" Jawab Melody sedikit tergagap tanpa berani membalas tatapan Matthew.
"Kau terlihat sedikit aneh dan seperti perawan kemarin sore saja," celetuk Matthew seraya tertawa kecil.
Matthew kembali menghampiri Melody yang masih berdiri dengan gugup, lalu pria itu melakukan hal yang sama sepertiku yang tadi ia lakukan. Menyatukan bibir sensualnya dengan bibir Melody.
Melody hanya diam mematung, saat bibir Matthew mulai mencecap bibirnya. Namun Melody tak membalasnya ciuman Matthew karena Melody merasa bingung.
"Jangan lupa membawa pengaman. Tapi pasti anda lebih paham."
Kalimat Sam lagi-lagi berkelebat di benak Melody.
Pengaman?
"Cla?" Matthew sudah melepaskan tautan bibirnya dengan bibir Melody dan sekali lagi, pria itu menatap bingung ke arah Melody.
"Ada apa?" Tanya Melody nyaris tanpa suara.
"Kau tidak membalas ciumanku barusan dan hanya diam seperti patung. Kau kenapa?" Tanya Matthew sedikit merasa kesal.
"Aku-"
"Aku..." Melody tak menemukan alasan yang pas. Otak Melody mendadak merasa blank!
"Kita ulangi lagi!" Ucap Matthew yang sudah kembali mencium Melody dengan tergesa. Melody lagi-lagi tak membalas ciuman Matthew, namun lidah Matthew yang menggelitiki bagian luar bibit Melody, membuat Melody merasakan senssai geli yang aneh, hingga Melody tak sengaja merenggangkan kedua bibirnya. Saat itulah tiba-tiba lidah Matthew sudah menyusup masuk lebih dalam untuk mengeksplor bagian dalam bibir Melody.
"Uhuuk! Uhuuk!" Melody terbatuk-batuk karena ciuman Matthew yang begitu memburu dan penuh n*fsu. Nafas Melody sedikit tersengal, karena ini benar-benar kali pertama Melody dicium oleh pria.
"Bibirmu lebih menggiurkan," puji Matthew seraya mengusap bibir Melody yang sedikit bengkak dengan ibu jarinya. Matthew kembali melancarkan ciuman keduanya tanpa segan pada Melody. Matthew juga langsung mendorong tubuh Melody ke atas sofa hingga gadis itu setengah berbaring, lalu Matthew kembali menciumi bibir Melody.
Tangan Matthew sudah bergerak untuk melepas kancing dari blouse yang dikenakan oleh Melody, saat tiba-tiba Melody mencegah dengan cepat.
"Matt, aku sedang datang bulan!"
.
.
.
Auto cenat cenut 😅😅
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1