Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
USAHA MATTHEW (2)


__ADS_3

Melody masih duduk di ruang tunggu bandara kota, saat Matthew yang tadi pamit pergi sebentar sudah kembali lagi menghampiri Melody.


"Kau lapar, Mel?" Tanya Matthew seraya membuka bungkusan plastik di tangannya dan mengeluarkan aneka jenis kue dari dalam sana.


"Lihat! Ada brownies alpukat kesukaanmu," ujar Matthew lagi seraya membuka thinwall berisi brownies alpukat, lalu menyodorkannya pada Melody yang masih diam.


"Ayo, kau harus makan!" Ujar Matthew sedikit memaksa Melody.


"Aku kenyang," jawab Melody lirih.


"Kau belum makan apapun sejak tadi. Aku suapi, ya!" Bujuk Matthew lagi yang mulai menyendok brownies di dalam thinwall, lalu menyodorkannya ke depan mulut Melody.


"Ak! Buka mulut!" Titah Matthew lembut yang akhirnya membuat Melody menyerah dan membuka mulut.


"Aku makan sendiri saja!" Pinta Melody seraya mengambil alih thinwall dari tangan Matthew. Wanita itu mulai menyendoki sendiri browniesnya. Sementara Matthew ikut memakan kue yang lain yang tadi ia beli.


Tepat saat Melody dan Matthew hampir menghabiskan kue mereka, panggilan keberangkatan untuk para penumpang pesawat akhirnya terdengar dari pengeras suara.


"Hati-hati!" Matthew sigap membimbing Melody yang hendak berdiri, namun ditolak cepat oleh istrinya tersebut.


"Aku bisa sendiri,"


"Baiklah! Hati-hati!" Ucap Matthew akhirnya yang tak jadi membantu Melody. Matthew mengekori Melody untuk masuk ke terminal keberangkatan.


****


Langit sudah berubah gelap, saat Matthew dan Melody toba di rumah Bu Ayana. Rumah itu masih kecil, hanya saja sekarang terlihat lebih rapi dan bagus karena memang sudah direnovasi di beberapa bagian.


"Kenapa datang malam-malam begini?" Tanya Bu Ayana seraya memeluk Melody.


"Melosy kangen sama Ibu. Bukankah ini juga masih rumah Melody?" Jawab Melody yang langsung membuat Bu Ayana mengulas senyum.


"Tentu saja ini rumah kamu, rumah Claudia juga."


"Claudia disini juga, Bu?" Tanya Melody sedikit khawatir.


"Tidak! Dia dan Aaron berkunjung pekan lalu dan hanya menginap satu malam. Katanya karena ada pekerjaan saja di kota ini. Pekerjaan selesai, mereka pulang," cerita Bu Ayana panjang lebar.


"Kau sendiri? Nak Matthew ada pekerjaan disini juga?" Tanya Bu Ayana selanjutnya dan Melody langsung menggeleng.


"Mel kangen sama ibu dan mungkin akan menginap disini agak lama," jawab Melody seraya merangkul Bu Ayana.


"Nak Matthew ikut menginap juga?"


"Tidak sepertinya. Tidak tahu. Tadi katanya hanya mengantar," jawab Melody acuh.


"Kenapa seperti itu? Kalau Nak Matthew pulang, kau juga harus ikut pulang, Mel!"


"Tapi Mel masih kangen ibu," Melody merengek manja.


"Menginap seminggu tidak lama juga. Nanti Melody yang akan bicara pada Matthew," ujar Melody lagi yang masih belum berhenti bergelayut pada Bu Ayana.


"Iya, iya! Seminggu saja. Tadi sudah makan?" Tanya Bu Ayana selanjutnya.

__ADS_1


"Ibu memasak apa?" Melody balik bertanya.


"Tumis pare. Tapi apa Nak Matthew doyan, ya?" Bu Ayana terlihat ragu.


"Kalau tidak doyan ya biar puasa dan tidak usah makan," jawab Melody ketus.


"Kamu ajak makan dulu sana! Jangan diabaikan begitu!" Nasehat Bu Ayana seraya menunjuk ke arah Matthew yang hanya duduk diam sendirian di teras sejak tadi.


Melody merengut, tapi wanita itu tetap menghampiri Matthew dan menawarinya untuk makan.


"Matt," panggil Melody sedikit canggung. Sudah beberapa bulan menikah padahal, tapi memanggil namanya saja masih canggung.


"Ya. Kau butuh sesuatu?" Tanya Matthew lembut pada Melody yang langsung menggeleng.


"Kau mau makan? Tapi kata ibu hanya ada sayur pare."


"Sayur apa itu?" Tanya Matthew seraya mengernyitkan kedua alisnya.


"Bisa kau lihat dulu ke dapur," ujar Melody menunjuk ke arah dapur dan sedikit salah tingkah.


Matthew hanya mengangguk dan segera mengikuti langkah Melody menuju ke dapur sederhana di rumah Bu Ayana.


Matthew sudah duduk di kursi yang ada di pinggir meja makan, saat Melody membuka tudung saji dan menunjukkan tumis pare pada Matthew.


"Silahkan diicip dulu. Nanti kalau tidak doyan kau bisa beli makanan lain atau bikin mie instan saja," ujar Melody seraya memberikan sendok makan pada Matthew.


Matthew menyendok sedikit tumis pare di dalam mangkuk dan mencicipinya, saat kemudian pria itu terlihat meringis. Sepertinya kepahitan. Melody menutup mulutnya dengan telapak tangan dan sedikit menahan tawa melihat ekspresi aneh Matthew.


"Rasanya memang pahit begini?" Tanya Matthew yang kembali menyendok tumis pare dari mangkuk.


"Belum."


"Tapi ini enak meskipun pahit," ujar Matthew lagi seraya manggut-manggut.


"Ini nasi aku?" Tanya Matthew yang tiba-tiba sudah menggeser nasi Melody ke hadapannya.


"Eh, itu nasiku," gumam Melody saat Matthew sudah menuang beberapa sendok sayur pare ke atas nasinya.


"Aduh! Maaf-"


"Sudah, tidak apa-apa! Aku ambil nasi lagi," ucap Melody cepat seraya mengambil piring lagi, lalu mengisinya dengan nasi.


"Mau minum apa?" Tanya Melody selanjutnya pada Matthew yang sudah mulai menyantap makanannya.


"Adanya apa?"


"Air putih, teh, kopi." Melody menyebutkan pilihan minuman yang ada di dapur Bu Ayana.


"Air putih saja. Yang dingin ada?"


"Ibu tidak punya kulkas," jawab Melody seraya meringis.


"Oh, ya sudah. Yang biasa saja," ujar Matthew akhir dan Melody hanya mengangguk. Melody lanjut mengambilkan segelas air putih untuk Matthew.

__ADS_1


"Duduk sini!" Titah Matthew menepuk ruang kosong di bangku kayu panjang di sebelahnya. Melody menit dan ikut duduk di samping Matthew. Pasangan suami istri itupun lanjut menikmati makan malam sederhana mereka.


****


Tepat pukul sepuluh malam, Matthew akhirnya menyusul masuk ke dalam kamar Melody yang luasnya tak sampai separuh dari kamar Matthew.


"Belum tidur?" Sapa Matthew pada Melody yang masih duduk di atas tempat tidur, seraya bersandar pada kepala ranjang.


"Tidak bisa tidur," Jawab Melody lirih.


"Kenapa? Mual lagi?" Tanya Matthew yang langsung membuat Melody menggeleng.


Matthew ikut naik ke atas tempat tidur lalu duduk menghadap ke arah Melody.


"Mau sesuatu?" Tanya Matthew lagi dan Melody kembali menggeleng.


"Tidur saja jika kau mengantuk. Besok kau berangkat jam berapa?"


"Berangkat kemana?" Matthew mengernyitkan kedua alisnya.


"Ke rumahmu."


"Memang acaramu mengibap sudah selesai? Besok sudah mau kembali?" Matthew balik bertanya yang tentu saja malah membuat Melody ikut-ikutan bingung.


"Aku masih mau disini sampai minggu depan. Tapi kau kan harus kembali,bekerja, ke kantor. Kau kan orang sibuk," Melody tertawa kaku.


"Pekerjaanku bisa ku kerjakan dari sini," jawab Matthew santai.


"Lagipula, sudah menjadi kewajibanku untuk selalu berada di sisimu dan menjagamu-"


"Aku bisa menjaga diriku sendiri!" Sergah Melody memotong kalimat Matthew.


"Baiklah, sudah jadi kewajibanku untuk selalu menjaga calon anakku," ucap Matthew yang tangannya tiba-tiba sudah terulur untuk mengusap perut Melody. Wanita itu sedikit kaget, namun tak sedikitpun menyentak tangan Matthew.


"Apa dia sudah bergerak?" Tanya Matthew selanjutnya seraya menatap lekat wajah Melody.


"Kadang-kadang."


Matthew tersenyum lebar,


"Aku penasaran dengan pergerakannya," ucap Matthew lagi saat Melody tiba-tiba sudah menarik selimut untuk menutupi perutnya. Matthew yang seolah sadar diri, langsung menyingkirkan tangannya dari atas perut Melody.


"Aku sudah mengantuk. Aku tidur dulu," pamit Melody seraya menutupkan selimut hingga sebatas leher, lalu memunggungi Matthew.


"Ya, selamat malam, Melody!" Ucao Matthew tulus meskipun tak ada jawaban sama sekali dari Melody. Matthew hanya mengulas senyuman tipis dan akhirnya ikut berbaring serta memejamkan mata.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2