Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SAYANG


__ADS_3

Melody yang baru bangun meraba-raba tempat tidur di sampingnya. Matthew sudah tak berada di sana dan Melody masih tak mengenakan pakaian apapun. Tubuh polos Melody hanya terbalut selimut sekarang.


"Terima kasih, Fe!" Samar-samar Melody mendengar suara Matthew dari arah pintu kamar. Tak berselang lama, suami Melody itu sudah mendekat ke arah tempat tidur seraya membawa nampan di tangannya. Matthew juga sudah terlihat rapi dan sepertinya hendak pergi ke kantor.


"Pagi, kau sudah bangun?" Sapa Matthew dengan wajah sumringah dan senyuman hangatnya.


"Sekarang jam berapa? Kenapa kau sudah rapi?" Tanya Melody dengan suara serak khas bangun tidur.


"Masih jam tujuh. Aku ada jadwal meeting pagi," jawab Matthew yang sudah sigap membantu Melody untuk bangun dan duduk di atas tempat tidur. Matthew mengecup kening Melody cukup lama sebelum pria itu kembali tersenyum.


"Bajuku?" Melody mengedarkan pandangannya untuk mencari piyamanya. Tapi sepertinya Melody tak memakai piyama semalam. Matthew langsung menelanjangi Melody saat mereka baru sampai di rumah.


Ya ampun!


Wajah Melody seketika bersemu merah mengingat permainan Matthew semalam yang membuat Melody benar-benar merasa seperti terbang. Matthew juga memperlakukan Melody dengan sangat lembut tanpa paksaan, membuat Melody jadi ingin disentuh lagi oleh suaminya itu.


"Wajahmu merah. Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Matthew yang langsung membuyarkan lamunan Melody tentang kejadian semalam.


"Tidak ada!" Jawab Melody tergagap seraya menyelipkan rambutnya ke belakang telinga.


"Oh, ya ampun!" Matthew melihat beberapa tanda kepemilikan yang semalam ia sematkan di leher dan dada Melody. Pagi ini terlihat jelas sekali.


"Ada apa?" Tanya Melody bingung.


"Lihat sendiri!" Matthew meraih kaca kecil di atas meja rias dan menunjukkan hasil karyanya semalam pada Melody.


"Perbuatanmu?" Tebak Melody.


"Maaf, ya! Nanti bisa lau tutupi pakai concelear," saran Matthew yang langsung membuat Melody mengangguk.


"Aku lapar. Bisa tolong kau ambilkan baju untukku, Matthew!" Melody meminta tolong.


"Aku sudah membawakan sarapanmu. Sarapan saja disini, aku suapi," ucap Matthew cepat.


"Bajuku."

__ADS_1


"Nanti saja sekalian mandi. Aku sudah melihat semuanya juga," jawaban Matthew sontak membuat wajah Melody bersemu merah.


"Ayo buka mulut!" Titah Matthew yang sudah mulai menyodorkan sesendok nasi beserta lauk ke depan mulut Melody.


"Aku makan sendiri saja," izin Melody yang langsung ditolak oleh Matthew.


"Aku suapi sampai habis! Aku harus di kantor seharian nanti. Ada banyak pekerjaan."


"Aku boleh mengantar makan siangmu?" Cetus Melody tiba-tiba yang langsung membuat Matthew menatap tak percaya pada istrinya tersebut.


"Eh, tapi kalau kau mau makan siang bersama rekan kerjamu yasudah! Aku akan makan siang di rumah bersama Felichia," ujar Melody lagi yang langsung membuat Matthew tertawa kecil.


"Aku akan sangat senang jika kau datang ke kantor membawakan makan siangku," Matthew sudah mengusap wajah Melody.


"Aku akan masak untukmu. Kau sukanya apa?" Tanya Melody yang langsung membalas tatapan mata Matthew.


"Apa saja! Asal kau yang memasak aku akan menghabiskannya," janji Matthew yang langsung membuat Melody tersenyum.


"Baiklah. Nanti siang aku akan ke kantormu."


"Aku harus pergi sekarang." Matthew menyibak selimut Melody dan mengusap baby bump Melody yang sepertinya sudah lebih besar dari semalam. Efek pompaan dari Matthew semalam apa, ya?


"Hai, jagoan atau princess!" Matthew menyapa calon anaknya dan sedikit tertawa kecil. Jenis kelamin anak pertama Matthew dan Melody memang masih belum terlihat hingga detik ini.


"Papa akan ke kantor dulu. Bekerja mencari uang untuk membeli baju kamu dan baju mama kamu," Matthew sedikit menggelitiki oerut Melody hingga membuat wanita itu tertawa kegelian.


"Jangan nakal, oke!" Matthew mengecup perut Melody cukup lama.


"Tumbuh sehat di dalam sana, dan berikan papa tendangan satu kali!" Matthew meletakkan kepalanya di perut Melody dan saat itulah, satu tendangan yang kuat langsung bisa dirasakan oleh Matthew dan Melody.


"Ouh ouh ouh! Anaknya papa yang pintar!" Matthew mengecup perut Melody sekali lagi dan Melody balas mengusap lembut kepala Matthew.


"Aku ke kantor dulu!" Pamit Matthew yang sudah mengangkat kepalanya dan ganti mengusap lembut wajah Melody.


"Ya! Nanti siang aku akan mengantar makanan," jawab Melody seraya berjanji.

__ADS_1


"Aku tunggu," Matthew mendekatkan wajahnya pada Melody dan mengecup bibir istrinya tersebut. Cukup lama keduanya saling berpagutan.


"Mau aku gendong ke kamar mandi?" Tawar Matthew sebelum pria itu keluar dari kamar.


"Aku bisa berjalan sendiri, Sa-"


"Matthew, maksudku," Melody sedikit salah tingkah.


"Hmmmm, panggil Sayang saja biar romantis," pinta Matthew sedikit merayu.


"Matthew,"


"Sayang!"


"Sayang," ucap Melody malu-malu.


"Mau aku gendong, Sayang?" Tawar Matthew lagi.


"Iya, Sayang!" Jawab Melody tetap malu-malu.


Ya ampun! Matthew benar-benar gemas pada istrinya ini sekarang!


Matthew menggendong tubuh polos Melody dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Mereka berdua kembali berpagutan sebelum akhirnya Matthew benar-benar pergi dan membiarkan Melody mandi sendiri karena ponsel Matthew yang tak berhenti berdering sejak tadi.


Matthew sepertinya terlambat untuk meeting pagi!


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2