Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SEMAKIN DEKAT


__ADS_3

"Aku mau martabak telur," cetus Melody tiba-tiba saat Matthew sudah selesai memarkirkan mobilnya di halaman rumah.


"Sekarang?" Tanya Matthew yang sebenarnya ingin mengomel tapi ia tahan. Susah payah Matthew membuay Melody nyaman di dekatnya dan Matthew tak mau mengacaukannya sekarang.


Tapi tetap saja,hati Matthew sedikit geram. Karena tadi saat perjalanan pulang, entah berapa gerobak penjual martabak yang mereka lalui, tapi kenapa saat sudah sampai di rumah Melody baru bilang kalau dia ngidam martabak?


Huh!


Sabar, Matthew!


Sabar!


"Iya, sekarang! Kau keberatan membelikannya? Aku akan menyuruh satpam atau-"


"Sama sekali tidak!" Sela Matthew cepat.


"Martabak telur, kan?" Matthew memastikan agar tak keliru.


"Iya." Melody sudah membuka sabuk pengamannya.


"Akan kubelikan sebentar," ujar Matthew seraya mengulas senyum pada Melody.


"Aku menunggu di rumah saja, ya! Bye!" Melody melambaikan tangannya pada Matthew dan gadis itu segera turun dari mobil lalu menuju ke teras rumah. Tak berselang lama, Matthew langsung memacu kembali mobilnya ke tukang martabak terdekat.


****


Tak sampai dua puluh menit, Matthew sudah sampai lagi di rumah seraya membawa martabak telur yang masih mengumpulkan asap. Matthew ke dapur sebentar untuk memindahkan martabak ke atas piring, sebelum membawanya ke kamar.


Tok tok tok!


"Mel, aku sudah pulang!" Matthew mendorong pintu kamar dan langsung melihat Melody yang sudah tidur nyenyak di atas tempat tidur.


"Ya ampun!" Matthew mengusap wajahnya sendiri dan segera meletakkan martabak yang tadi ia bawa ke atas meja. Matthew menghampiri Melody yang nafasnya sudah teratur.


"Apa kau sedang menguji kesabaranku?" Gumam Matthew seraya mengusap wajah Melody sambil menyingkirkan beberapa helai rambut Melody yang berserakan di wajah istrinya tersebut.


Matthew tersenyum sendiri dan segera pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih sebelum menyusul Melody ke alam mimpi.


****


"Mel!" Matthew terkejut saat ia masuk ke kamar dan mendapati Melody yang sedang berbaring miring di atas tempat tidur mengenakan kemeja Matthew tanpa memakai bra.


"Hai!" Des*h Melody dengan suara yang menggoda.


"Apa ini, Mel?" Tanya Matthew bingung saat Melody sudah bangkit berdiri, lalu menghampiri Matthew dan melonggarkan dasi pria itu. Tangan Melody mengusap dada bidang Matthew yang masih tertutup kemeja warna biru muda. Istri Matthew itu juga menggigit bibirnya sendiri dengan sensual, hingga membuat Matthew menelan salivanya.


"Kenapa baru pulang?" Tanya Melody yang tangannya sudah bergerak untuk membuka satu persatu kancing kemeja Matthew. Pun dengan Matthew yang tak tinggal diam dan balik membuka kancing kemeja yang dikenakan oleh Melody. Tangan Matthew mengusap sekilas gundukan kenyal milik Melody yang langsung membuat wanita itu melenguh.


"Emmmh! Matthew!"


"Iya, Sayangku!"


"Matthew!" Panggilan itu kini disertai sebuah guncangan. Apa sedang terjadi gempa bumi?

__ADS_1


"Matthew, bangun!" Suara itu terdengar semakin keras.


"Matthew!"


Matthew mengerjap-ngerjapkan kedua matanya saat akhirnya pria itu menyadari kalau ia tadi sedang bermimpi.


Bermimpi bercinta dengan Melody!


Konyol sekali!


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri begitu? Martabak telur pesananku di mana?" Cecar Melody yang langsung mengembalikan kesadaran Matthew.


"Ada di atas meja," suara Matthew masih terdengar serak khas orang bangun tidur.


"Kenapa tidak membangunkan aku?" Gerutu Melody seraya menyibak selimut dan turun dari tempat tidur. Melody menuju ke meja yang dimaksud Matthew untuk melihat martabak telurnya yang sudah dingin.


"Sudah dingin," gumam Matthew yang sudah berdiri di balik punggung Melody.


"Seharusnya kau tadi membangunkan aku," Melody ikut bergumam kecewa.


"Tidurmu nyenyak sekali, aku jadi tak tega membangunkanmu," Matthew sudah merengkuh kedua pundak Melody dari belakang.


"Maaf, ya! Kau mau makan yang lain?" Tawar Matthew lembut.


Melody melirik jam di kamar yang menunjukkan pukul dua belas lewat.


"Jam segini jajanan kaki lima yang masih buka apa, ya?"


"Bisa kita berkeliling sebentar untuk mencari tahu?" Pinta Melody seraya berbalik untuk menatap wajah Matthew. Namun jarak Melody dan Matthew jadi dekat sekali dan hal itu seketika membuat wajah Melody bersemu merah.


"Kau juga pakai jaket!" Jawab Melody seraya mengusap tangan Matthew yang masih berada di wajahnya. Matthew mengulas senyum dan Melody ikut mengulas senyum. Pasangan suami istri itu memakai jaket mereka masing-masing sebelum kemudian keduanya berjalan beriringan keluar dari kamar.


****


Melody menguap lebar saat ia dan Matthew sudah tiba kembali di rumah. Tadi setelah berkeliling sebentar, keduanya memutuskan untuk duduk dan makan di sebuah gerobak angkringan yang masih buka.


"Terima kasih untuk malam ini dan hari ini," ucap Melody tulus sebelum kemudian Melody mencium pipi Matthew. Tentu saja hal kecil tak terduga itu membuat Matthew kaget. Namun sedetik kemudian pria itu susah mengulas senyum dan mengusap pipinya sendiri yang baru saja dicium oleh Melody.


Melody sendiri sudah menghilang ke dalam kamar mandi meninggalkan Matthew yang masih tersenyum dan mengusap-usap pipinya sendiri. Hingga Melody keluar dari kamar mandi, Matthew masih belum beranjak dari tempatnya semula.


"Kenapa senyum-senyum sendiri? Nggak gosok gigi sebelum tidur," Tegur Melody yang langsung membuat Matthew kembali tersadar.


"Iya!" Jawab Matthew singkat sebelum kemudian gantian pria itu yang menghilang masuk kamar mandi.


Melody sudah bersiap untuk tidur saat Matthew selesai melakukan ritual sebelum tidurnya.


"Bobok, Sayang! Mama ngantuk," gumam Melody seraya mengusap perutnya sendiri.


"Ada apa?" Tanya Matthew yang sudah menyusul naik le atas tempat tidur.


"Gerakannya aktif sekali, jadi aku sedikit tak nyaman saat berbaring," ujar Melody masih sambil mengusap perutnya.


"Boleh aku yang membujuk?" Izin Matthew seraya menatap lekat wajah Melody.

__ADS_1


"Ya!" Jawab Melody akhirnya.


"Aku harus posisi bagaimana?" Tanya Melody bingung.


"Coba bersandar dulu disini," Matthew menumpuk beberapa bantal untuk Melody. Setelah istrinya itu terlihat nyaman, Matthew menggosok-gosokkan kedua tangannya terlebih dahulu, lalu mengusap lembut perut Melody.


"Maaf, ya!" Ucap Matthew sopan.


"Kenapa minta maaf? Bukankah kau juga selalu mengusapnya setiap malam?"


Skakmat!


Kalimat Melody bagai tamparan untuk Matthew yang memang selalu mengusap perut Melody secara diam-diam setiap malam.


Apa ini artinya Melody pernah memergoki Matthew?


Lalu kenapa Melody tidak bangun dan memarahi Matthew?


"Yang itu...." Matthew sedikit salah tingkah.


"Bawaan bayi?" Tebak Melody yang malah membuat Matthew tertawa kecil.


"Iya," jawab Matthew disela-sela tawanya.


"Jadi, dia sudah tidur?" Matthew mengalihkan topik pembicaraan. Melody menggeleng.


"Kau belum mengusap dan mengajaknya ngobrol."


"Baiklah!"


Matthew akhirnya mengusap perut Melody yang sudah mulai membulat.


"Hai, Sayangnya Papa! Bobok, ya!" Matthew meletakkan kepalanya di perut Melody demi mendengarkan pergerakan sang calon anak.


"Mama sudah ngantuk itu. Kamu bobok juga, ya!" Bujuk Matthew lagi.


Sementara Melody hanya diam dan membiarkan Matthew yang masih terus mengusap perutnya sambil mengoceh sendiri.


"Udah nendangnya. Sekarang, Princess atau jagoan papa ini bobok dulu, ya!"


"Ayo bobok! Mmmmmmuuaaah!" Matthew mengecup perut Melody yang masih terbalut piyama dan Melody hanya mengulas senyum tipis, sebelum kemudian wanita itu memejamkan matanya yang sudah sangat mengantuk.


Matthew mengangkat wajahnya untuk melihat Melody yang sudah terlelap. Segera Matthew membenarkan posisi istrinya tersebut agar nyaman berbaring.


"Tetap disini!" Gumam Melody yang tiba-tiba sudah menggamit lengan besar Matthew dan memeluknya. Matthew tersenyum dan segera ikut berbaring, lalu mendekap tubuh Melody. Tak ada reaksi penolakan, Melody malah ganti meletakkan kepalanya di lengan Matthew dan menjadikannya sebagai bantal. Tapi Matthew tak keberatan dan mengusap-usap kepala serta perut Melody bergantian sebelum kemudian pria itu ikut terlelap bersama Melody.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.

__ADS_1


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2