Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
BERTUKAR POSISI


__ADS_3

Claudia harus kembali garuk-garuk kepala saat mendapati tumis pare di dalam tudung saji pagi ini. Bulik Ani rajin sekali masak tumis pare karena katanya gratis dan tinggal petik di belakang rumah. Kata Bulik Ani dan Ibu itu juga adalah makanaan kesukaan Melody.


Ya ampun, Mel!


Sayur kesukaan kenapa harus yang pahit begitu?


"Kok cuma bengong dan garuk-garuk, Mbak?" Tanya Bagus yang tiba-tiba sudah muncul di dekat meja makan. Anak Bulik Ani itu langsung mengambil piring di rak, lalu mengisinya dengan nasi dan tumis pare pahit.


"Sarapan, Mbak! Jangan bengong saja!" Ucap Bagus sebelum pemuda itu mulai menyantap sarapannya. Terlihat lahap dan menikmati.


"Kok tumben kamu belum berangkat, Gus?" Tanya Claudia yang akhirnya terpaksa ikut sarapan dengan tumis pare meskipun wanita itu harus merem-merem saat mengunyahnya.


Pahit!


"Bagus libur hari ini. Nanti mau ke sawah juga, bantuin ibu ngusir burung biar nggak makanin padi yang bentar lagi panen," jelas Bagus pada Claudia.


"Burung apa? Kenapa nggak ditangkap aja burungnya trus di masak. Kan lumayan bisa makan burung goreng," ujar Claudia mencetuskan sebuah ide.


"Siapa yang mau nangkap, Mbak? Aneh-aneh aja!" Kekeh Bagus seraya geleng-geleng kepala. Claudia hanya meringis dan kembali menyendokkan nasi beserta tumis pare ke dalam mulut.


Masih pahit!


"Aya! Keluar kamu!"


Sebuah teriakan terdengar dari depan rumah Bulik Ani saat Claudia sedang menikmati pahitnya tumis pare.


Siapa juga orang kurang kerjaan yang berteriak pagi-pagi begini?


"Aya!" Teriak orang tak tahu sopan santun itu lagi.


"Pakdhe Seno," gumam Bagus seraya bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah pintu depan. Claudia bergegas mengekori Bagus untuk melihat wajah Pak Seno yang merupakan bapak tiri Melody itu. Claudia benar-benar penasaran.


"Budhe sedang tidak ada di rumah, Pakdhe!" Ucap Bagus pada Pakdhe Seno yang wajahnya terlihat marah.


"Kemana memangnya?" Tanya Pakdhe Seno seraya menggebrak pintu depan.


Claudia sampai terlonjak kaget karena gebrakan tersebut.


"Bagus tidak-" Bagus belum menyelesaikan kalimatnya saat tiba-tiba Bu Aya sudah sampai di rumah Bulik Ani.


"Mas ngapain lagi kesini?" Tanya Bu Aya galak pada Pak Seno.


"Minta uang!" Pak Seno menengadahkan tangannya ke arah Bu Aya.


"Aya tidak punya uang! Mas pergi jauh sana! Kita sudah bukan suami istri! Kita sudah pisah, Mas!" Cecar Bu Aya yang langsung berhadiah tamparan di pipi dari Pak Seno.

__ADS_1


"Budhe!"


"Ibu!"


Bagus dan Claudia buru-buru menghampiri Bu Aya dan melindungi wanita paruh baya tersebut dari tindakan brutal Pak Seno.


"Heh, Anak setan!" Pak Seno mencekal lengan Claudia, namun gadis itu menyentaknya dengan cepat. Claudia melotot berani pada Pak Seno.


"Pasti kamu yang sudah melapor macam-macam pada ibumu, sampai ibumu berani membangkang-"


"Jangan menuduh sembarangan!" Sentak Claudia galak dan berani.


"Pakdhe itu yang hampir memperkosa Mbak Mel!" Bagus ikut angkat suara.


"Diam kamu anak kecil!" Gertak Pak Seno melotot pada Bagus.


"Bapak tidak pernah berniat memperkosa kamu! Jangan mengada-ada kamu!" Pak Seno menuding ke arah Claudia namun segera disentak oleh gadis itu.


"Pergi atau kami panggil polisi!" Ancam Claudia pada Pak Seno.


"Berani kamu mengancam dan mengusirku? Dasar anak setan!" Pak Seno sudah melayangkan tangannya dan bersiap menampar Claudia.


"Mas!"


Bagus dan Bu Aya berteriak bersamaan. Bagus sudah dengan cepat menangkis tangan Pak Seno dan mendorongnya pria tua yang setengah mabuk itu hingga tersungkur sebelum ia sempat menampar Claudia.


Di saat bersamaan, Bulik Ani datang bersama Pak RT dan dua orang anggota polisi. Mereka langsung mengamankan Pak Seno dan menggelandangnya ke kantor polisi.


"Mel, kamu baik-baik saja?" Tanya Bu Aya khawatir yang langsung menghampiri Claudia, lalu memeriksa Claudia dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Mel baik-baik saja, Bu!" Jawab Claudia berusaha menenangkan Bu Aya.


"Ibu sendiri bagaimana?" Claubalik bertanya dan memeriksa pipi Bu Aya yang tadi ditampar Pak Seno. Ada bekas kemerahan disana.


"Sakit, Bu?" Tanya Claudia khawatir. Bu Aya hanya menggeleng dan langsung memeluk Claudia dengan erat. Kedua mata Claudia mendadak terasa panas hanya karena pelukan dari Bu Aya.


Claudia ingin menangis sekarang.


****


"Nona Claudia, anda mau pergi?" Sapa Sam saat Melody baru turun dari tangga.


"Hai, Sam! Kau sudah disini pagi-pagi?" Bukannya menjawab pertanyaan Sam, Melody malah balik bertanya pada asisten Papa Harun tersebut.


Melody sendiri masih bingung dengan pekerjaan Sam yang sebenarnya. Kata Papa Harun, pria ini adalah asisten sekaligus orang kepercayaan Papa Harun. Namun kadang Sam juga menjadi asisten Nona Claudia saat diperlukan. Mungkin Sam memang asisten semua orang.

__ADS_1


"Mengantarkan pekerjaan sekaligus mengambil yang semalam. Tuan Harun masih belum bisa ke kantor," terang Sam seraya mengulas senyuman hangat pada Melody.


"Oh!" Bibir Melody hanya membulat menandakan kalau gadis itu paham dengan penjelasan Sam.


"Jadi, anda mau kemana? Mau saya antar sekalian?" Tawar Sam selanjutnya pada Melody.


"Ah, iya! Aku ada janji bersama Matthew hari ini di apartemen," jawab Melody seraya membenarkan letak tas selempang di pundaknya yang sedari tadi menjadi perhatian Sam.


Seingat Sam, Nona Claudia tak pernah memakai tas selempang dengan tali panjang begitu. Nona Claudia selalu membawa tas di tangannya atau menentengnya saja alih-alih menyampirkan di pundak seperti itu.


Sedikit aneh!


"Ngomong-ngomong, apa kau bisa mengantarku ke apartemen?" Sambung Melody lagi bertanya pada Sam.


"Apartemen Tuan Matthew maksudnya? Tentu saja, Nona!" Jawab Sam seraya menganggukkan kepala.


"Tapi ngomong-ngomong apa Tuan Matthew sudah pulang dari luar negeri, Nona?" Sam ganti bertanya pada Melody.


"Sudah. Katanya dia sampai pagi ini dan langsung mengajakku bertemu di apartemen." Jawab Melody sedikit menjelaskan.


"Begitu, ya!" Sam manggut-manggut.


"Jangan lupa membawa pengaman. Tapi pasti anda lebih paham," sambung Sam lagi seraya tertawa renyah.


"Pengaman apa?" Tanya Melody bingung. Sam bukannya menjawab, malah hanya tertawa kecil dan keluar menuju ke teras.


"Mari, Nona Claudia!" Seru Sam dari arah teras yang langsung membuat Melody mengayunkan langkah ke teras rumah. Sam sudah membukakan pintu mobil untuk Melody.


"Aku duduk di depan?" Tanya Melody bingung. Bukankah biasanya Nona Muda duduknya di belakang supir?


"Biasanya seperti itu, Nona! Dan itu merupakan permintaan anda sendiri." Jelas Sam menjawab pertanyaan Melody.


"Amnesia anda kambuh?" Tanya Sam selanjutnya sedikit berkelakar. Sementara Melody hanya menanggapi kelakaran Sam dengan tawa kaku.


Mobil Sam segera melaju meninggalkan kediaman Setyawan dan menuju ke apartemen Matthew Orlando.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2