Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
SETELAH TIGA TAHUN


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


Claudia turun dari mobil dan masuk ke kediaman Alexander yang sekarang auranya sedikit suram. Mungkin karena penghuninya, Dean Alexander sedang depresi berat akibat kabar duka yang terus saja menghampirinya.


Hhh!


Dean yang malang.


"Aaron!" Panggil Claudia pada Aaron yang sedang duduk di ruang tengah bersama Dean yang penampilannya terlihat tak karuan. Claudia hampir tak mengenali atasan Aaron itu karena kumis dan jambang yang kini memenuhi wajahnya serta rambutnya yang jadi gondrong tak terawat.


"Hai, Sayang! Kau membawakan pesananku?" Tanya Aaron yang langsung menyambut Claudia dan mengambil bungkusan di tangan istrinya tersebut.


"Apa tuan depresi itu ngidam lagi?" Tebak Claudia sedikit berbisik pada Aaron. Tuan depresi adalah panggilan Claudia dan Aaron pada Dean yang memang sedang dilanda depresi berat. Bahkan Dean mulai hilang kewarasan beberapa bulan lalu dan beberapa kali mencoba untuk bunuh diri dengan membenturkan kepalanya tanpa henti ke dinding rumah. Namun sekarang kondisi Dean sedikit membaik setelah terapi dari psikiater yang mendampinginya.


"Katanya begitu. Ini bahkan sudah hampir satu tahun sejak kepergian Chia dan Richard, tapi Dean masih saja menganggap Chia sedang mengandung anaknya."


"Mana ada orang hamil selama setahun?" Tutur Aaron yang langsung membuat Claudia tertawa kecil.


"Rujakku mana, Aman!" Gertak Dean pada Aaron yang masih cekikikan bersama Claudia.


"Aaron!" Koreksi Aaron cepat. Bukan sekali dua kali Dean salah memanggil nama Aaron.


Kadang Aman, kadang Ajay, kadang Roni. Entahlah! Sepertinya otak Dean ikut eror karena depresinya.


"Itu pacar barumu?" Tanya Dean seraya mengendikkan dagunya ke arah Claudia.


"Istriku lebih tepatnya, Pak Dean!" Jawab Aaron seraya merangkul Claudia dengan mesra.


"Kau sudah menikah? Aneh sekali!" Gumam Dean sebelum kembali memeriksa kertas berkas di hadapannya sembari memakan rujak bangkok yang tadi dibawakan Claudia.


"Apa kepala Dean baru saja terbentur gerobak rujak?" Bisik Claudia pada Aaron yang langsung membuat suaminya itu tertawa terbahak-bahak.


"Aku juga tidak tahu! Tapi sepertinya otak Dean sedikit eror karena terbentur tembok kemarin," timpal Aaron ikut berkelakar.


"Otaknya eror tapi masih bisa memeriksa berkas," cibir Claudia menatap heran pada Dean yang hanya diam dan tak peduli pada Aaron dan Claudia yang sedang membicarakannya.


"Hanya Dean Alexander yang bisa melakukannya! Aku rasa saat lahir otak Dean memang sudah disetting untuk bekerja dan menjadi tuan direktur. Jadi meskipun kewarasannya hilang, dia masih bisa menjadi tuan direktur," pendapat Aaron yang lagi-lagi membuat Claudia menahan tawanya.


"Kau jadi ke rumah ibu hari ini?" Tanya Aaron selanjutnya pada Claudia.


"Ya! Aku akan pergi sendiri jika kau-"


"Aku akan ikut denganmu." Aaron memotong kalimat Claudia.


"Bagaimana dengan tuan depresi ini?" Tanya Claudia seraya mengendikkan dagunya ke arah Dean.


"Ada psikiater dan maid di rumah ini yang akan mengawasinya. Jadi tak perlu risau!" Jawab Aaron santai.

__ADS_1


"Lagipula aku bukan istrinya, jadi aku tak perlu berada di sampingnya sepanjang hari," sambung Aaron seraya terkekeh.


"Mungkin sebaiknya kita mencarikan Dean istri. Mungkin depresinya bisa sembuh jika dia punya istri." Usul Claudia.


"Ide bagus. Tapi siapa wanita yang mau menjadi istri pria depresi dan buruk rupa ini? Lagipula, Dean masih berhalusinasi kalau istrinya itu adalah Chia dan Chia sedang mengandung bayi kembar mereka sekarang. Konyol sekali bukan?" Jawab Aaron yang kembali tertawa kecil.


"Imajinasinya luar biasa," timpal Claudia ikut tertawa saat kemudia Dean berdecak dan menatap marah pada Aaron dan Claudia.


"Pergi ke hotel sana dan jangan cekikikan berdua di rumahku! Dasar sinting!" Usir Dean pada Aaron dan Claudia.


"Baiklah, Pak Dean! Aku juga baru saja akan pergi bersama istriku-"


"Cepat pergi!" Usir Dean lagi semakin galak.


Aaron tak menyahut lagi dan segera menarik tangan Claudia lalu membawa istrinya itu keluar dari rumah Dean Alexander.


"Ayo pulang ke rumah Ibu!" Ajak Aaron seraya merangkul Claudia dan pasangan suami istri tersebut masuk ke dalam mobil lalu langsung meluncur menuju ke arah bandara kota.


****


Tahun berganti.


Claudia membereskan sisa makan malamnya bersama Aaron. Makan malam kali ini sedikit istimewa karena pasangan suami istri itu sedang merayakan anniversary pernikahan mereka yang ketiga.


"Aku mau bicara," ucap Claudia yang sudah duduk di pangkuan Aaron. Claudia memberikan sebuah brosur pada Aaron.


"Ini apa?" Tanya Aaron seraya membaca brosur di tangannya. Brosur itu memberikan informasi tentang program bayi tabung.


"Kita program bayi tabung saja, ya!" Bujuk Claudia pada Aaron.


"Kau yakin?" Aaron merasa ragu.


"Kita coba dulu!" Rayu Claudia yang sudah merangkulkan kedua lengannya ke leher Aaron.


"Baiklah. Besok kita bertemu dokter kandungan dulu!" Aaron akhirnya mengiyakan permintaan Claudia yang sejak tiga tahun lalu sudah sangat ingin hamil dan menimang bayi.


Claudia langsung mengulas senyum sumringah. Wanita itu hendak mencium bibir Aaron saat tiba-tiba Claudia merasakan mual di perutnya.


"Ada apa? Kenapa wajahmu pucat pa-" Aaron belum menyelesaikan kalimatnya saat Claudia sudah turun dari pangkuannya dengan cepat lalu melesat ke kamar mandi dan muntah-muntah.


"Clau! Kau sakit?" Tanya Aaron yang cepat menyusul Claudia ke kamar mandi.


"Aku tidak tahu. Perutku mual sejak siang." Jawab Claudia sebelum kembali muntah-muntah.


"Kau salah makan? Tadi saat makan malam kau juga hanya makan sedikit," cecar Aaron yang hanya membuat Claudia menggeleng.


Claudia kembali muntah-muntah dan Aaron mengusap lembut punggung istrinya tersebut.

__ADS_1


"Kau sudah datang bulan?" Tanya Aaron tiba-tiba.


"Apa?"


"Kapan terakhir kau datang bulan?" Aaron sudah merengkuh kedua pundak Claudia dan tatapan mata pria itu terlihat berbinar.


"Aku lupa," jawab Claudia dengan tatapan bingung.


Aaron tak membuang waktu dan segera berlari menuju ke kamar. Pria itu kembali dengan cepat seraya membawa sebuah testpack di tangannya.


"Ayo kita tes!" ucap Aaron penuh semangat.


"Tapi bagaimana kalau negatif lagi, Aaron?" Claudia merasa ragu.


"Kita tidak akan tahu jika tidak mencobanya!" Aaron mendorong Claudia ke dalam kamar mandi dan menyodorkan sebuah gelas plastik pada istrinya tersebut.


"Cepat! Aku tunggu!" Titah Aaron tak sabar. Claudia yang masih sedikit linglung akhirnya menutup pintu kamar mandi dan segera menuruti ucapan Aaron.


Tak berselang lama, Claudia sudah keluar lagi seraya membawa air seninya. Claudia menyodorkannya pada Aaron.


"Kau saja yang melakukan tes!" Ucap Claudia tanpa semangat. Claudia berdiri di balik punggung Aaron dan tak berani melihat hasilnya. Claudia hanya tak mau kecewa lagi untuk kesekian kalinya.


Aaron sudah membuka plastik testpack dan mencelupkan benda putih panjang itu ke dalam gelas yang berisi air seni Claudia.


"Hasilnya satu garis?" Tanya Claudia yang masih bersembunyi di belakang punggung Aaron.


"Dua!" Jawab Aaron seraya mengangkat benda putih panjang tadi.


"Apa katamu?"


"Hasilnya dua garis! Lihatlah!" Aaron berbalik dan menunjukkan testpack di tangannya pada Claudia.


Claudia menatap tak percaya pada testpack yang benar-benar menunjukkan dua garis merah.


Claudia hamil! Claudia benar-benar hamil sekarang!


"Kau hamil, Sayang!"


"Kau hamil dan kita akan punya bayi!" Seru Aaron yang langsung mengangkat tubuh Claudia demi meluapkan kebahagiaannya.


"Akhirnya aku berhasil menghamilimu!" Aaron terus berteriak kegirangan. Pun dengan Claudia yang kini benar-benar bahagia karena akhirnya ia bisa hamil setelah penantian tiga tahun.


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2