Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
BINGUNG


__ADS_3

Aaron baru tiba di bandara kota saat ponselnya berdering nyaring. Pria itu berdecak setelah tahu siapa yang menelepon.


Dean!


"Halo, Dean!" Sambut Aaron dengan nada malas.


"Kau dimana? Acaranya sore ini dan kau harus datang menggantikan aku!"


"Iya aku akan datang! Ini aku sudah di bandara dan aku akan pulang sebentar ke apartemen untuk mandi dan bersiap. Lalu aku akan pergi ke lokasi acara! Kau senang sekarang?" Jawab Aaron panjang lenar dengan nada berapi-api.


Nasib jadi bawahan ya seperti ini!


Apalagi kalau atasannya adalah Dean Alexander yang masih ngidam sekaligus PMS karena menghamili istri orang!


Terserah, Dean!


Terserah!


"Acaranya jam tujuh jangan lupa!"


"Iya! Aku akan datang sebelun jam tujuh, Tuan Dean Alexander!"


"Apa kau belum mendapat jatah dari Melanie?" Ledek Aaron pada sang atasan. Namun bukannya menjawab, Dean malah langsung menutup telepon tanpa basa-basi apalagi berpamitan.


Dasar Dean baper!


Aaron hanya mengendikkan dagu dan segera naik taksi lalu menuju ke apartemennya. Aaron akan pergi ke acara perusahaan sesuai perintah Dean Alexander.


"Tenang, Claudia! Besok aku sudah kembali lagi untuk menemuimu dan pedekate denganmu," gumam Aaron seraya tersenyum sendiri bersamaan dengan taksi yang sudah melaju pergi meninggalkan bandara kota.


****


Melody masih mendengarkan perbincangan antara Matthew dengan Erlan dan wanita itu sedikit merasa bosan karena tidak mengerti juga dengan pembahasan bisnis dua pria itu. Sesekali Melody akan menjawab pertanyaan yang kadang dilemparkan oleh Navya. Adik Matthew itu juga sibuk bertelepon ria entah dengan siapa sejak tadi.


Bukankah kata Papa Harun Melody akan menghadiri acara perusahaan? Tapi ini sama sekali tak seperti acara perusahaan dan seperti hanya acara berkumpul di restorant sejak tadi.


Melody mengeluarkan ponsek dari dalam tasnya untuk melihat ke dalam ponsel Nona Claudia, kalau-kalau ada pesan dari Sam.


Ternyata ada!


[Hai, acaranya sudah mulai?] -Sam-


Melody mengulas senyuman tipis setelah membaca pesan dari Sam. Hati Melody selalu bisa menghangat setiap ia bertukar pesan dengan asisten Papa Harun tersebut.


[Entahlah! Aku masih di restorant bersama adik dan adik ipar Matthew] -Melody-


[Matthew memaksamu untuk melakukan sesuatu tadi] -Sam-


[Tidak. Kami hanya mengobrol sebelum berangkat tadi] -Melody-


[Syukurlah! Semoga seperti itu hingga aku kembali] -Sam-


[Kau disana berapa hari?] -Melody-


[Belum tahu. Rencananya hanya tiga hari. Tapi kadang bisa molor kalau ada masalah] -Sam-


[Ya ampun!] -Melody-


[Jangan risau! Aku yakin kau bisa menghadapi Matthew, Mel! Jangan jadi wanita lemah!] -Sam-

__ADS_1


[Iya!] -Melody-


[Tapi kau benar-benar akan mengantarku pulang setelah kembali nanti, kan?] -Melody-


[Iya! Aku kan sudah janji. Aku akan mengantarmu pulang sampai ke rumah] -Sam-


"Sedang bertukar pesan dengan siapa?" Suara lembut Matthew membuat Melody berjenggit kaget. Melody yang baru saja akan mengetikkan balasan pesan pada Sam, akhirnya mengurungkan niatnya.


"Bukan siapa-siapa!" Jawab Melody tergagap seraya melesakkan ponselnya dengan cepat ke dalam tas. Kedua tangan Matthew masih melingkar di leher Melody dan kepala pria itu juga berada di ceruk leher Melody.


"Udah, Bang! Yang bucin-bucin! Ayo berangkat sekarang!" Ajak Navya seraya bangkit dari duduknya.


"Pergi kemana?" Tanya Melody bingung.


"Ke acara malam ini, Kak!" Jelas Navya yang langsung membuat Melody membulatkan bibirnya.


"Ayo, Clau!" Gantian Matthew yang mengajak Melody dan membimbingnya untuk bangkit berdiri. Melody dan Matthew berjalan beriringan mengikuti langkah Navya dan Erlan yang sudah terlebih dahulu keluar dari restorant.


****


Aaron datang sedikit terlambat karena ia memang harus ke apartemen dulu yadi dan sempat terjebak kemacetan juga. Setelah berbasa-basi pada tuan rumah, Aaron langsung berbaur dengan tamu lain. Pria itu juga mengambil segelas minuman yang dibawa oleh seorang pelayan.


Aaron mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan tempat pesta di adakan, sambil sesekali pria itu mengangguk dan tersenyum ramah saat tak sengaja bertatap pandang dengan beberapa klien dari Alexander Group.


Pandangan Aaron tiba-tiba terhenti pada seorang pria yang terlihat sedang berbincang serius bersama seorang tamu undangan. Seseorang yang sedang tak ingin Aaron lihat wajahnya. Pasti Matthew datang sendiri malam ini. Claudia sedang Aaron kurung di desa dan tak bisa kemana-mana.


Tapi wajah Matthew kenapa terlihat santai begitu. Apa dia belum tahu kalau Claudia menghilang? Apa Matthew juga tak mencari Claudia? Aaron belum melihat foto Claudia di reklame pinggir jalan maupun di surat kabar.


Ini sedikit aneh!


Seorang Matthew yang kaya raya pasti akan memasang pengumuman di mana-mana jika ia tahu tunangannya menghilang. Berita pertunangan Matthew dan Claudia saja kemarin dimuat di surat kabar selama tiga hari!


Aaron masih belum mengalihkan pandangannya dari Matthew saat pria itu melihat Matthew yang tiba-tiba sudah merangkul seorang gadis bergaun hitam nan elegan.


Tunggu!


Bukankah itu...


Claudia?


Aaron membelalakkan matanya dan memastikan sekali lagi wanita yang tengah dirangkul oleh Matthew.


Tidak mungkin!


Mustahil Claudia sudah sampai disini!


Claudia masih di desa saat Aaron pergi siang tadi.


Tapi itu memang Claudia dan Aaron sedang tak salah lihat.


Brengsek! Sialan!


Aaron mengumpat berulang-ulang karena rencananya untuk mengurung Claudia di desa sudah gagal total. Claudia sudah bermesraan lagi bersama Matthew malam ini dan Aaron hanya bisa gigit jari.


Aaron masih menggerutu dalam hati saat ponsel di saku pria itu bergetar menandakan ada telepon yang masuk.


Nama Bagus tertera di layar ponsel Aaron. Pasti sepupu Melody itu akan melaporkan Melody gadungan yang tiba-tiba menghilang dari rumah!


Ck!

__ADS_1


Jelas sudah!


Berarti itu memang Claudia.


Tapi Aaron masih penasaran bagaimana cara Claudia bisa tiba dengan cepat di kota ini?


Wanita itu sudah ingat nomor asistennya dan meneleponnya, lalu asisten Claudia atau mungkin Matthew langsung mengirimkan helikopter bermesin jet ke desa untuk menjemput Claudia?


Pasti di desa sedang heboh sekarang. Aaron akan mengangkat telepon Bagus kalau begitu dan mendengarkan cerita heboh pemuda itu.


Aaron keluar menuju ke arah balkon yang sedikit sepi. Pria itu menelepon ulang nomor Bagus. Tak butuh waktu lama dan panggilan sudah langsung tersambung. Terdengar suara berisik dari seberang telepon. Mungkin suara helikopter!


Tapi kenapa lebih mirip orang yang sedang berteriak dan ribut sekali?


"Bagus!"


Tak ada jawaban dari Bagus dan masih terdengar suara berisik.


"Halo, Bagus!" Panggil Aaron sekali lagi.


"Mas Andez dimana? Mbak Mel, Mas!" Suara Bagus terdengar panik.


Iyalah!


Melody gadungan baru saja kabur. Bagus dan Bu Ayana pasti sedang panik sekarang.


"Melody kenapa?" Tanya Aaron to the point.


"Pakdhe Seno kabur dari penjara dan sekarang sedang menodongkan pisau pada mbak Mel dan Budhe Aya, Mas!"


"Cepat kesini dan bantu Mbak Mel, Mas!" Suara Bagus terdengar ketakutan.


Tidak!


Bukan itu yang dipikirkan oleh Aaron. Tapi soal Pak Seno yang menodongkan pisau pada Melody gadungan qlias Claudia.


Tapi Claudia di sini, sedang menghadiri pesta bersama Matthew!


Lalu bagaimana ceritanya Claudia bisa ditodong pisau kalau wanita itu berada disini?


Aaron kembali masuk ke dalam ballroom untuk memastikan kalau yang tadi ia lihat bersama Matthew benar-benar adalah Claudia dan ia tak sedang salah lihat.


Aaron berjalam sedikit tergesa hingva ia tak sengaja menabrak seorang tamu bergaun hitam.


"Astaga! Maaf, Tuan!" Wanita itu bergegas minta maaf dan Aaron benar-benar dibuat bingung sekarang karena yang menabraknya barusan adalah....


Claudia!


.


.


.


Maaf lambat UP.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2