Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MASIH PERAWAN


__ADS_3

Satu tahun sebelumnya....


Claudia meneguk minuman di gelasnya hingga tandas saat rasa panas langsung terasa membakar tenggorokannya.


"Sial!"


"Kalian memberikan aku apa?" Omel Claudia pada teman-temannys uang malah tertarik cekikikan seolah tanpa dosa.


"Ayolah, Clau! Tidak usah jadi gadis manja!"


"Sebagai calon Nona direktur, kau harus membiasakan diri minum minuman seperti ini!" Celetuk teman-teman Claudia yang saling bersahutan. Semuanya berbicara sambil berteriak karena musik di dalam ruangan ini yang begitu memekakan telinga.


"Tapi rasanya lumayan. Berikan lagi!" Claudia menyodorkan gelasnya yang sudah kosong dan minta diisi lagi dengan cairan bening yang diteguk oleh teman-temannya.


Claudia terus minum tanpa tahu ia sudah menghabiskan berapa gelas malam ini. Papa Harun pasti akan marah jika Claudia pulang dalam keadaan mabuk.


"Carikan aku kamar hotel!" Ucap Claudia yang sudah mabuk berat pada salah satu temannya.


"Ide bagus! Aku menyewa sebuah kamar hotel di seberang jalan dan kebetulan malam ini pacarku malah mengajakku bercinta di apartemen barunya. Jadi untukmu saja kamarnya!" Ucap teman Claudia seraya mengangsurkan kunci kamar hotelnya pada Claudia.


"Kamar nomor berapa ini?" Tanya Claudia seraya melihat nomor kamarnya yang terlihat kabur karena Claudia yang terlalu mabuk.


"Nomor enam! Ck!".


"Sebaiknya aku mengantarmu, Nona mabuk!" Ucap teman Claudia sedikit kesal. Dua gadis itupun segera menuju ke hotel di seberang kelab malam.


****


Hoeeek!


Claudia langsung muntah dan mengotori bajunya sendiri saat gadis itu baru masuk ke kamar hotel.


"Astaga, Clau! Kau menjijikkan sekali!" Omel teman Claudia seraya melepaskan gaun mini hitam yang dikenakan Claudia, lalu membuangnya ke tempat sampah. Claudia langsung ambruk di atas tempat tidur dan hanya mengenakan sepasang underwear, saat ponsel teman Claudia berdering nyaring.


"Halo, Sayang!"


"Tidak! Aku masih di hotel mengantar Clau! Aku turun sebentar lagi."


"Kau di depan kamar? Baiklah aku keluar sekarang!"


Teman Claudia berjalan riang menuju ke pintu kamar.


"Clau, jangan lupa mengunci pintu. Aku pergi dulu!"


"Hmmmm!" Jawab Claudia sembari memejamkan mata. Kepala Claudia rasanya berat sekali seperti tertimpa batu besar. Claudia membalik tubuhnya menjadi posisi telentang, saat gadis itu merasakan sedikit sesak di dadanya.


"Bra sialan!" Gerutu Claudia seraya melepaskan pengait bra-nya dan membebaskan kedua bukit kembarnya dari tekanan sebelum keduanya meletus karena terlalu pengap.


Sementara di luar kamar, teman Claudia yang terlalu bersemangat mencium pacarnya, tak sengaja membuat nomor kamar yang tertempel di pintu terjatuh.

__ADS_1


"Astaga!" Teman Claudia tertawa terbahak-bahak dan mengambil plat angka enam yang terjatuh, lalu memasangnya dengan asal. Nomor langsung terbalik posisinya, saat teman Claudia membanting pintu, namun sepertinya ia tak peduli dan langsung menuju ke lift masih sambil berpagutan dengan pacarnya.


****


"Kata pemilik hotel, ia menyediakan hadiah kejutan untukku di kamar nomor sembilan."


"Tapi berhubung kau sudah menggantikan aku malam ini hadiah kejutannya untukmu saja!"


"Kau serius, Dean?" Aaron tertawa penuh kemenangan dan merasa penasaran dengan hadiah kejutan dari pemilik hotel yang merupakan rekan bisnis Dean.


"Ya! Bisakah eksperimu itu biasa saja?"


"Maaf! Aku terlalu bersemangat!" Aaron masih tertawa sekaligus merasa tak sabar. Pria itu melihat setiap nomor di pintu untuk mencari kamar nomor sembilan yang akan ia tempati malam ini.


"Baiklah, Aaron! Aku tutup dulu teleponnya!"


"Oke! Selamat bersenang-senang, Dean!" Ledek Aaron yang langsung dijawab umpatan oleh Dean sebelum kemudian telepon terputus.


Dasar Dean baper!


"Kamar nomor sembilan," Aaron bergumam dan masih menyusuri lorong hotel, saat kemudian kamar nomor sembilan berhasil ia temukan, meskipun angkanya sedikit miring.


Aneh!


Mungkin tadi tersenggel seorang pengunjung yang lewat!


Aaron membenarkan nomor yang tersemat di pintu tersebut lalu hendak membukanya dengan kunci di tangannya, saat ternyata pintu tersebut sama sekali tak terkunci.


"Kejutan ini pantasnya memang untuk aku!"


"Thank's, Dean!" Aaron tersenyum penuh kemenangan dan langsing menanggalkan sepatu, kemeja, serta celananya sendiri.


Wanita yang berada di atas tempat tidur itu terlihat diam. Namun lekuk indah tubuhnya yang hanya terbalut sepasang underwear, benar-benar membuat gairah Aaron menjadi bangkit seketika.


Wajahnya tidak terlalu jelas terlihat, karena tertutupi rambutnya yang berserakan kemana-mana.


"Emmmmmh!" Wanita itu melenguh dan langsung berganti posisi menjadi tengkurap, saat Aaron baru mengusap kaki jenjang nan mulusnya. Kini punggung mulus wanita yang entah bernama siapa itu terpampang nyata dan membuat Aaron merasa tak sabar untuk mencecapnya.


"Hai, Cantik!"


"Siapa namamu?" Tanya Aaron seraya mengecup pundak wanita tersebut cukup lama, hingga meninggalkan bekas kemerahan.


"Clau!" Jawab wanita itu sedikit bergumam.


"Clau?"


"Nama yang bagus! Aku Aaron, Clau! Des*hkan namaku nanti, oke!" Ucap Aaron sebelum pria itu menyusuri punggung mulus Claudia dengan bibir dan lidahnya.


Aroma harus yang menguar dari tubuh Claudia, semakin membuat Aaron bergairah. Aaron sudah tidur dengan banyak wanita, tapi baru Claudia yang aromanya Aaron sukai.

__ADS_1


"Eemmhh!" Claudia kembali melenguh dan sedikit menggeliat, saat tangan Aaron menyusup ke dalam bra-nya, lalu memainkan dua gundukan milik Claudia yang bagi Aaron masih terasa ranum.


"Aku penasaran dengan milikmu yang dibawah, Clau!" Gumam Aaron seraya membalik tubuh Claudia dan melemparkan bra yang sejak tadi menjadi penghalangnya.


"Ouh! Ujungnya masih pink kemerahan," Aaron langsung menjilat dengan rakus ujung dari gundukan kembar milik Claudia yang begitu menggiurkan.


Claudia terus menggeliat dan tak berhenti meracau saat Aaron tak berhenti bermain-main di dadanya.


"Kita akan bersenang-senang malam ini, Clau!" Aaron mengecup bibir Claudia yang merah merona. Claudia rupanya juga langsung membalas kecupan Aaron, meskipun terqsa sedikit berantakan.


Sementara tangan Aaron sudah mulai bergerilya dan masuk ke dalam underwear Claudia, lalu memainkan milik Claudia yang mulai terasa basah.


"Kau juga sudah bergairah, ya?" Goda Aaron seraya merenggangkan kedua paha Claudia.


"Aku akan mencicipinya sebentar," bisik Aaron sebelum kemudian pria itu menyusupkqn kepalanya ke tengah-tengah kedua paha Claudia, lalu lidahnya bermain-main di dalam milik Claudia yang masih berwarna pink menggiurkan.


"Aoouh!" Claudia mengerang dan tak berhenti meracau, saat lidah Aaron semakin aktif bermain-main di dalam miliknya yang sudah sangat basah.


"Baiklah! Kau mau ini, kan?" Aaron sudah ganti mengurut miliknyq sendiri yang sejak tadi sudah tegak menantang. Pria itu mengarahkan miliknya ke dalam milik Claudia, lalu dengan satu kali sentakan....


"Aaaah!" Claudia menjerit lumayan keras saat Aaron mendorong miliknya ke dalam milik Claudia yang entah kenapa terasa sempit sekali.


"Kau masih sempit, Clau!" Ujar Aaron seraya terus mendorong dan memaksa miliknya agar bisa masuk, saat Aaron merasakan miliknya yang baru saja menabrak dan merobek sesuatu di dalam sana.


Tunggu! Ini apa?


Aaron melihat ke bawah dimana miliknya yang akhirnya menyatu dengan milik Claudia, namun ada rembesan darah saat penyatuan tersebut.


Darah?


Ini darah....


"Tidak mungkin!" Aaron menatap tak percaya pada wajah Claudia yang terlihat kesakitan serta sudah dipenuhi oleh peluh.


"Kau masih virgin?"


.


.


.


Udah nggaklah!


Udah kamu jebol begitu, Ron, Aaron!


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


Pagi-pagi, hujan, baca adegan nganu, suami kerja 🤣🤣🤣


__ADS_2