Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
KAU BUKAN CLAUDIA!


__ADS_3

"Aku sedang datang bulan," ucap Melody sekali lagi seraya membenarkan lagi kancing blouse-nya yang baru terbuka bagian paling atas.


"Kau serius?" Raut wajah Matthew terlihat tak percaya. Pria itu berdecak berulang kali dan langsung menjauh dari Melody. Matthew juga berulang kali menyugar rambutnya dan terlihat frustasi.


Bagaiamana tidak frustasi, kalau gairah Matthew sudah naik ke ubun-ubun, namun pria itu malah tak bisa melampiaskannya sekarang.


"Sudah hari ke berapa?" Tamya Matthew yang langsung membuat Melody membelalakkan mata.


Apa pria ini sudah gila?


"Baru hari kedua," jawab Melody sedikit tergagap.


"Aaaargh!" Matthew berteriak kesal. Pria itu kembali menyugar rambutnya, lalu merogoh ponselnya yang berada di dalam saku.


"Halo!"


"Carikan aku wanita sekarang!" Matthew berbicara entah pada siapa di seberang telepon.


Tidak!


Bukan itu yang menjadi fokus Melody. Tapi kalimat yang baru saja diucapkan oleh Matthew.


Carikan wanita?


Maksudnya seorang jal*ng?


Apa itu artinya Matthew memang seorang pria brengsek?


"Jangan orang baru! Yang biasanya saja." Ujar Matthew lagi yang semakin membuat Melody merasa terhenyak.


Yang biasanya?


Dasar pria!


"Baiklah! Di hotel biasa juga. Aku akan ke sana lima belas menit lagi," Matthew melihat ke arlojinya dan masih bicara di telepon.


Sedangkan Melody memilih untuk menyingkir ke arah dapur dan mengambil minuman dingin dari dalam kulkas. Tunangan Nona Claudia ternyata adalah seorang pria brengsek yang suka tidur dengan banyak jal*ng. Apa Nona Claudia tahu hal itu?


Menjijikkan sekali!


"Cla!" Panggil Matthew yang sudah menyusul Melody ke arah dapur.


"Kau mau pergi?" Tebak Melody sudah tahu.


"Ya! Lakukan apa saja sesukamu disini. Aku akan ke hotel saja," Matthew hendak mencium bibir Melody, namun Melody segera memenuhi mulutnya dengan air dingin. Hal sepele yang sukses membuat Matthew merasa cukup illfeel.


"Baiklah! Aku pergi dulu!" Pamit Matthew seraya berlalu keluar dari dapur. Tak berselang lama, terdengar suara pintu depan apartemen yang sudah ditutup.


Melody segera menyalakan kran air dan berkumur berulang-ulang. Melody mendadak merasa jijik mengingat ciumannya bersama Matthew tadi. Entah sudah berapa banyak bibir yang sudah disentuh oleh pria brengsek itu.


Ya ampun!


Kenapa Melody harus terjebak sebagai Nona Claudia yang punya tunangan seorang pria brengsek?


Ting tong!


Suara bel dari pintu depan membuat Melody terlonjak kaget.


Siapa yang datang?


Tidak mungkin Matthew kembali lagi, kan?

__ADS_1


Ting tong!


Bel kembali berbunyi dan Melody segera meraih tisue untuk menyeka sisa air di wajahnya. Gadis itu bergegas membuka pintu depan untuk melihat siapa yang datang.


"Sam?" Kedua bola mata Melody membulat saat tahu ternyata Sam yang datang. Tapi hati Melody juga sedikit merasa lega karena bukan Matthew yang kembali.


"Tuan Matthew sudah pergi?" Tanya Sam seraya menyelinap masuk dan menutup pintu.


"Bukannya kau tadi ke kantor?" Tanya Melody bingung.


"Tidak jadi, karena mendadak ada hal penting yang ingin aku tanyakan tentang kejutan ulang tahun Tuan Harun. Kita membahasnya dia minggu yang lalu, kau ingat, kan?" Tutur Sam panjang lebar diakhiri dengan pertanyaan yang sama sekali tak Melody tahu.


Kejutan apa?


Dua minggu yang lalu Melody masih di desanya menerima gombalan Irwan yang ternyata malah mencampakkan Melody.


Dasar pria brengsek!


Dimana-maba sama saja.


"Cla! Kenapa kau melamun?" Tegur Sam yang langsung membuat Melody sedikit salah tingkah.


"Ah iya. Kejutan itu! Bukannya kita sudah selesai membahasnya dan kau yang mengurus semuanya?" Jawab Melody mengarang indah.


Semoga Sam dan Nona Claudia memang sudah selesai membahasnya. Namun raut wajah Sam sepertinya baru saja menunjukkan kalau jawaban Melody salah.


"Kita sama sekali belum membahasnya, Cla! Kau ingat ulang tahun papamu, kan?" Tanya Sam lagi menatap penuh selidik pada Melody yang sudah terlihat bingung.


Ulang tahun Papa Harun?


Melody mana tahu.


"Bukankah satu pekan lagi? Lima belas Februari," tebak Melody ragu.


"Lima belas Januari lebih tepatnya dan itu sudah lewat."


"Kau bukan Nona Claudia!"


"Siapa sebenarnya kau?" Sam sudah menatap tajam pada Melody seolah menuntut penjelasan.


"Aku-"


"Aku Melody! Bukankah sudah ku katakan sejak awal?" Melody balik menatap marah pada Sam dan wanita itu juga bersedekap kesal.


"Sejak awal aku sudah mengatakan kepadamu kalau aku adalah Melody dan bukan Nona Claudia!"


"Tapi kau terus saja menganggap aku sedang berakting dan bersandiwara!" Melody menuding ke arah Sam.


"Aku memang bukan Nona Claudia! Aku Melody!" Ulang Melody lagi dengan nada tegas.


"Lalu apa motifmu menyamar-nyamar sebagai Nona Claudia? Dan dimana Nona Claudia tang asli?"


"Apa kau memakai topeng sampak wajahmu sama persis dengan Nona Claudia?" Cecar Sam seraya meraih dagu Melody dan meraba-raba pinggiran topeng yang mungkin dikenakan oleh Melody. Dam juga menarik-narik kulit leher Melody hingga gadis itu menjerit.


"Auw! Sakit, Sam!" Keluh Melody seraya menyentak tangan Sam dari wajahnya.


"Aku tidak memakai topeng! Ini wajahku asli dan ori!"


"Aku juga tidak tahu kenapa wajahku bisa mirip dengan Nona Claudia." Terang Melody bersungut-sungut pada Sam.


"Lalu Nona Claudia yang asli kemana?" Tanya Sam sekali lagi.

__ADS_1


"Mana aku tahu? Bertemu dengannya saja tak pernah!"


"Kau itu yang asistennya masa iya tidak tahu!" Sungut Melody lagi.


"Dia hanya pamit berlibur dan tak membawa ponselnya. Aku juga tak tahu dia berlibur kemana," sam mendengus frustasi.


"Mungkin sedang menghindarkan tunangannya yang brengsek dan playboy," pendapat Melody sedikit bergumam.


"Maksudmu Matthew? Kau tadi sudah diapakan oleh Matthew? Dia menidurimu juga?" Cecar Sam kepo sekali.


"Aku tak semurahan itu!" Jawab Melody kesal. Melody sudah duduk di sofa dan Sam ikut duduk di samping Melody.


"Jadi, namamu Melody?" Tanya Sam lagi.


"Iya!"


"Bagaimana akhirnya kau bisa sadar dan tahu kalau aku bukan Nona Claudia?" Gantian Melody yang bertanya pada Sam.


"Sikap, penampilan, gestur tubuh, lalu cara bicaramu berbeda dari Nona Claudia. Kau terlihat lebih...."


Sam menatap sejenak pada Melody sebelum kemudian pria itu tertawa kecil.


"Polos!" Sam melanjutkan kalimatnya dan masih tertawa kecil.


"Dan tadi setelah aku mengantarmu aku semakin merasa curiga karena kau tiba-tiba menanyakan nomor unit apartemen Matthew serta letak lantainya. Jadi aku langsung kembali untuk memastikan apa kau benar-benar Nona Claudia atau bukan," tutur Sam panjang lebar.


"Ternyata tebakanku benar!" Sam menepuk dadanya sendiri dengan sombong.


"Jadi, apa kau bisa mengantarku pulang sekarang?" Tanya Melody penuh harap. Melody sudah sangat ingin bertemu sang ibu yang pasti sangat khawatir sekarang karena Melody tiba-tiba menghilang.


"Maaf tidak bisa!" Jawab Sam tegas yang langsung membuat Melody merengut.


"Kau akan jadi Nona Claudia sampai Nona Claudia yang asli pulang, agar Tuan Harun tidak jatuh sakit lagi," ujar Sam lagi.


"Tapi aku tidak bisa!" Sergah Melody menolak.


"Aku akan membantumu menjadi Nona Claudia! Jadi tenang saja!" Sam berusaha untuk membujuk Melody.


"Lalu bagaimana dengan Matthew? Kau juga akan menyuruhku untuk menyerahkan kehormatanku pada Matthew?" Sergah Melody lagi penuh amarah.


"Akan kupastikan kalau Matthew tak akan menyentuhmu sampai Nona Claudia kembali," janji Sam menatap bersungguh-sungguh pada Melody.


"Kau tak perlu khawatir, Melody!" sambung Sam lagi seraya mengusap lembut kepala Melody. Entah itu gerakan yang disengaja atau hanya refleks semata,namun sesaat Melody merasakan perasaan aneh pada Sam yang masih tak berhenti menatapnya.


Aneh!


.


.


.


Karakter Matthew emang begitu, ya!


Makanya pas waktu itu pada minta dijodohon sama Felichia nggak aku kabulkan 😅😅


Felichia sama Dean ajalah!


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2