
"Ibu tinggal disini saja bersama Melody, ya!" Rengek Melody yang sejak tadi tak mau beranjak dari pelukan Bu Ayana.
"Tidak bisa, Mel! Ibu akan pulang ke desa setelah Claudia dan Aaron menikah nanti," jawab Bu Ayana seraya mengusap lembut kepala Melody.
"Claudia dan Aaron akan menikah?" Tanya Melody dengan raut wajah tak percaya.
"Belum tahu kapan. Tapi Nak Aaron sudah minta izin pada ibu untuk melamar Claudia," jelas Bu Ayana yang langsung membuat raut wajah Melody sedikit murung.
"Beruntung sekali Claudia bisa menikah dengan pria yang ia cintai," gumam Melody seolah merasa iri.
"Kau juga harus belajar mencintai suamimu kalau begitu!" Nasehat Bu Ayana bijak.
"Ibu lihat, Nak Matthew itu juga pria yang baik. Dia perhatian dan sepertinya sayang kepadamu," lanjut Bu Ayana lagi.
"Dia bukan pria yang baik, Bu! Dia tak mungkin memperkosa Melody jika memang dia pria yang baik!"
"Ssssttt!" Bu Ayana meletakkan telunjuknya di bibir sang putri.
"Setiap orang punya masalalu, Mel! Entah itu baik entah itu buruk. Tapi jika di kemudian hari orang tersebut sudah bangkit dari masalalunya dan berubah menjadi sosok yang lebih baik, kita juga harus menghargainya dan tidak perlu lagi mengungkit masalalunya."
"Nak Matthew sudah menyesali semua perbuatannya dan dia sudah berusaha untuk berubah, jadi kau harus memberikannya kesempatan!" Nasehat Bu Ayana bijak.
"Melody tidak bisa, Bu!"
"Melody tidak mencintai Matthew," cicit Melody seraya terisak.
"Bukan tidak! Tapi belum saja!" Pendapat Bu Ayana penuh keyakinan.
"Nak Matthew adalah ayah dari calon bayi kamu. Jadi kamu pasti akan bisa menerima dan mencintainya suatu hari nanti," lanjut Bu Ayana lagi tetap pada nasehat dan pemikiran bijaknya.
"Seperti saat Ibu menerima dan memaafkan Papa Harun?" Tanya Melody syangvsudah mendongakkan kepalanya dan menatap pada wajah sang ibu.
"Iya, seperti itu!" Jawab Bu Ayana lirih seraya mengangguk.
"Mulai besok kau harus menjadi istri yang baik untuk Nak Matthew, ya! Ibu tidak akan menginap disini lagi," ujar Bu Ayana lagi yang langsung membuat Melody merengut. Namun Melody tak protes lagi, dan hanya mengeratkan dekapannya pada Bu Ayana.
"Nanti, kalau kamu melahirkan, ibu akan kesini lagi menemani kamu. Trus kalau kamu kangen ibu, kan kamu juga bisa berkunjung ke rumah ibu kapan saja."
"Ibu akan berpesan pada Nak Matthew nanti agar ia mau mengantarmu ke rumah ibu kalau kamu kangen, ya!" Bujuk Bu Ayana panjang lebar yang hanya dijawab Melody dengan anggukan kepala.
"Ibu menyayangi kamu, Mel!"
"Melody juga sayang Ibu!" Balas Melody seraya menitikkan airmata.
****
"Aku lapar, Aaron! Kita belum hadi makan tadi," ucap Claudia yang masih terengah-engah, setelah pergelutannya bersama Aaron. Claudia membenamkan kepalanya ke dalam bantal dan membiarkan Aaron yang sepertinya masih asyik menyusuri punggungnya.
__ADS_1
"Makanannya pasti sudah dingin," jawab Aaron seraya menyempatkan banyak tanda kepemilikan di punggung Claudia.
"Aku pesankan yang baru, ya!" Lanjut Aaron lagi.
"Kau akan membuatku pingsan-" Claudia menggeliat karena cecapan demi cecapan Aaron di punggungnya yang sedikit membuat geli.
"Jika harus menunggu makanan yang baru," lanjut Claudia seraya terengah-engah.
"Kau punya microwave, kan?" Claudia sudah berganti posisi menjadi telentang, dan Aaron sudah kembali menindih tubuh Claudia.
"Ya, ada! Kita panaskan di microwave saja?" Tanya Aaron seraya menggesek-gesekkan miliknya di bawah sana dengan milik Claudia.
Sial sekali!
Aaron sepertinya sengaja.
"Aaron, aku lapar!" Claudia yang ingin membebaskan diri malah refleks membuka kedua pahanya dan secara otomatis, Aaron sudah kembali memasukinya sekarang.
"Sudah terlanjur!" Aaron tertawa penuh kemenangan dan mulai menggerakkan bokongnya.
"Dasar gila! Maniak!" Claudia memukul-mukul dada Aaron, namun wanita itu juga menggerakkan bokongnya mengikuti gerakan Aaron.
"Kau harus menyuapiku makan nanti!" Ucap Claudia yang nafasnya sudah kembali terengah.
"Baiklah! Dengan bibir atau dengan mulut?" Jawab Aaron santai seraya mencecap bibir Claudia yang semakin sexy menggiurkan. Claudia tentu saja tak tinggal diam dan balik melahap bibir Aaron.
"Aku hampir sampai,"
"Hitung sampai tiga!" Claudia memberikan aba-aba sambil menarik kepala Aaron.
"Satu! Dua!"
"Tiga!" Claudia dan Aaron berteriak bersama saat akhirnya mereka kembali mencapai pelepasan mereka bersama. Cairan hangat seketika memenuhi rahim Claudia untuk yang kesekian kalinya.
"Sudah empat kali. Kau akan segera hamil nanti," Ucap Aaron penuh harap dan Claudia hanya menjawabnya dengan endikan bahu.
"Tapi sebaiknya kita menikah dulu," lanjut Aaron lagi.
"Nanti kita cari WO dulu dan mengurus semuanya-"
"Kita menikah saja dulu, resepsi dan WO nya belakangan," sela Aaron yang ternyata memiliki ide lain.
"Aku tidak bisa untuk tidak menerjangmu setiap malam," lanjut Aaron lagi penuh kejujuran.
"Aku tak keberatan!" Claudia sudah bangun dan tersenyum nakal pada Aaron, lalu mengecup bibir pria itu.
"Silahkan lakukan setiap malam, karena aku juga menikmatinya," lanjut Claudia lagi sebelum kemudian wanita itu berlari ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
__ADS_1
"Kita tetap akan menikah esok hari, Sayang!" Seru Aaron seraya tertawa bahagia.
Aaron bahagia karena akhirnya Claudia akan menjadi istri Aaron!
****
Seperti halnya Melody kemarin, pernikahan Claudia dan Aaron juga hanya digelar secara sederhana di kantor agama setempat. Tak ada tamu undangan. Semua yang hadir hanyalah keluarga dekat. Bu Ayana, Bulik Ani, Bagus, Melody dan Matthew.
Namun Aaron tetap bertekad dalam hati kalau ia akan membuat pesta pernikahan yang mewah untuk Claudia, setelah suasana berkabung atas meninggalnya Papa Harun sudah selesai.
"Selamat untuk kalian berdua," ucap Matthew sedikit canggung pada Claudia dan Aaron. Sementara Melody hanya memeluk singkat Claudia, lalu menyalami Aaron.
"Ibu masih akan tinggal bersamamu setelah ini?" Tanya Claudia berbasa-basi pada Melody.
Melody langsung menggeleng.
"Ibu sudah bilang kalau ia akan pulang ke desa setelah kau menikah. Nanti ibu ke sini lagi saat aku melahirkan," jawab Melody dengan raut wajah sedih.
"Sudah tahu jenis kelamin calon bayimu?" Tanya Claudia lagi seraya mengusap perut Melody yang sudah sedikit membentuk baby bump.
"Belum. Mungkin dua atau tiga bulan lagi," jawab Melody seraya menundukkan wajahnya.
"Semoga diberikan kelancaran dan kesehatan untuk kamu dan calon bayi kamu, Mel!" Ucap Claudia tulus. Melody hanya mengangguk-angguk dan kembali memeluk Claudia.
"Doa yang sama untukmu," ujar Melody lirih.
"Aku belum hamil," jawab Claudia seraya tertawa kecil.
"Semoga disegerakan kalau begitu."
"Aamiin!"
.
.
.
Claudia langsung hamil juga, thor?
Baca lagi Dean-Felichia, coba!
Tujuh bulanannya Claudia kapan itu?
Yang Aaron marah-marah karena ada yang mendadak pikun 😆😆😆😆
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.