Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
MENCARI KEBENARAN


__ADS_3

Melody memeluk  Bu Ayana yang masih terbaring di atas bed perawatan. Gadis itu langsung menangis tergugu bukan karena rindu pada sang ibu, tapi karena hati Melody yang kini sudah hancur dan porak poranda. Melody sudah kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita. Melody merasa kotor.


"Kamu darimana, Mel?" Tanya Bu Ayana dengan suara lirih. Tangan Bu Ayana masih meraba-raba punggung Melody dan seperti mencari sesuatu.


"Mel pergi sebentar untuk-" Melody jaris memberikan alasan apa?


"Untuk mencari biaya rumah sakit ibu," lanjut Melody akhirnya setelah menemukan alasan yang tepat.


"Bersama Andez?" Tebak Bu Ayana dengan raut wajah tidak suka.


Andez?


Siapa Andez?


Bukannya langsung menjawab, Melody malah menampakkan ekspresi wajah bingung.


"Andez siapa, Bu?" Tanya Melody bingung.


Bu Ayana belum jadi menjawab,saat tiba-tiba Bagus masuk ke dalam.kamar perawatan bersama Sam.


"Mbak Mel! Ini memang temannya Mbak Melody?" Tanya Bagus memastikan seraya menunjuk pada Sam.


"Iya! Itu temanku. Namanya Sam!" Jawab Melody cepat.


"Sam siapa lagi, Mel?" Tanya Bu Ayana masih dengan raut tak sukanya. Sepertinya Bu Ayana memang kurang suka jika sang putri bergaul dengan pria apalagi yang baru di kenal.


"Sam yang sudah menolong Melody, Bu!" Jawab Melody seraya memberikan kode pada Sam agar mendekat ke arah bu Ayana. Sam langsung mencium punggung tangan Bu Ayana dan menyapa dengan sopan.


"Menolong dari apa? Apa yang sebenarnya terjadi kepadamu, Mel?  Wajahmu juga terlihat sembab," cecar Bu Ayana penuh selidik pada Melody.


"Melody hanya sempat tersesat beberapa waktu lalu."


"Ibu ingat saat Melody sempat kabur setelah hampir diperkosa oleh Bapak itu, kan! Saat itu Melody tersesat, lalu Sam ini yang menolong Melody dan kebetulan tadi Melody ketemu lagi sama Sam," tutur Melody panjang lebar menjelaskan pada Bu Ayana.


"Lalu kamu masih menjalin hubungan dengan Andez?" Tanya Bu Ayana lagi.


Andez  siapa?


Melody masih tak mengerti.


Melody menggeleng.


"Melody sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Andez, Bu!"


Bu Ayana langsung bernafas lega dan kembali mengusap punggung Melody mencari-cari tanda lahir yang kemarin ada di sana.


Sudah tidak ada!


Ini sedikit aneh. Apa kemarin itu Bu Ayana sedang berhalusinasi saking rindunya ia pada saudara kembar Melody?


Senandung!


Ayana membuka pintu depan rumahnya dan langsung terkejut saat mendapati beberapa polisi yang sudah berdiri di depan rumah.


"Dengan Bu Ayana?" Tanya salah seorang polisi.


"Iya, saya sendiri! Apa sudah ada kabar tentang putri saya, Pak?" Tanya Ayana penuh harap.


"Kami sudah berhasil menemukan kendaraan yang dipakai untuk menculik putri anda, Bu!"

__ADS_1


"Lalu dimana putri saya?" Tanya Ayana tak sabar.


"Dimana Senandung, Pak Polisi?" Tanya Ayana lagi.


"Kami mohon maaf sebelumnya, Bu! Tapi mobil kami temukan dalm kondisi mengenaskan di dasar jurang."


"Senandung!" Jerit Ayana saat mendengar berita yang disampaikan pihak kepolisian.


"Kami rasa mobil mengalami kecelakaan dan jatuh ke jurang. Hanya ada beberapa perlengkapan bayi dan ini." Pak Polisi menunjukkan baju bayi warna kuning yang dipakai oleh Senandung saat bayi itu diambil oleh penculik. Baju bayi itu sudah koyak.


"Tidak ada tanda-tanda keberadaan putri anda, Bu! Daerah di sekitar tempat kejadian juga masih berupa hutan lebat dan banyak binatang buas."


Ayana sudah jatuh terduduk di lantai seraya memeluk baju Senandung yang sudah koyak. Hati Ayana terasa tercabik membayangkan sang putri yang mungkin sudah dimakan oleh binatang buas.


"Senandung!"


"Maafkan ibu, Nak!"


"Maafkan ibu!"


"Bu!" Teguran Melody menyentak lamunan Bu Ayana tentang kejadian puluhan tahun silam saat ia kehilangan Senandung.


"Ibu melamun apa? Kenapa ibu menangis?" Tanya Melody khawatir setaya menyeka butir bening yang jatuh di kedua pipi sang ibu.


"Tidak ada! Ibu hanya seraya merindukan seseorang," jawab Bu Ayana seraya berusaha mengulas senyum.


"Merindukan siapa?" Tanya Melody penuh selidik.


"Bukan siapa-siapa," jawab Bu Ayana lagi sedikit tergagap.


"Apa ibu merahasiakan sesuatu dari Melody?'


"Mbak, sudah baikan?" Tanya Bulik Ani yang sudah ikut masuk ke dalam.kamar perawatan. Bulik Ani adalah adik kandung Bu Ayana. Sejak masih SMA, Bulik dan Ibu hanya tinggal berdua karena mereka memang yatim piatu. Jadi pasti Bulik tahu rahasia apapun yang disembunyikan oleh Bu Ayana, seperti misalnya apa Melody memang punya saudara kembar.


Melody masih penasaran apa ia dan Claudia adalah saudara kembar karena wajah mereka begitu mirip dan nyaris sama. Melody akan bertanya pada Bulik Ani nanti dan mencari informasinya secara detail.


****


"Selamat malam, Tuan!" Ucap seorang pria berbaju serba hitam seraya menghampiri Harun yang sudah menunggu di dalam mobil. Pria itu memberikan dengan hati-hati bayi mungil perempuan yang sudah terlelap.


"Sudah kami gantikan baju, Tuan! Siap anda bawa pergi," ujar pria itu lagi.


Harun mengusap  wajah bayi perempuan mungil yang berada di pangkuannya tersebuy, lalu bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman.


"Claudia."


"Ya,namamu sekarang adalah Claudia,  Sayang!" Harun memeluk bayi mungil itu lalu menciumi wajahnya berulangkali.


"Papa akan merawatmu mulai detik ini dan memberikan segalanya untukmu. Kau adalah putri papa!" Harun mencium bayi mungil yang baru saja ia berikan nama Claudia tersebut, sebelum memberikannya pada seorang baby sitter yang duduk di sampingnya.


Harun lanjut mengambil tas dari bawah kursi dan memberikannya pada pria yang tadi membawa bayi Claudia.


"Ini bayaran kalian!"


"Jangan pernah sekalipun menyebut namaku jika kalian tertangkap!" Harun menuding sekaligus memperingatkan.


"Siap, Tuan! Kita tidak saling kenal setelah ini! Selamat malam!" Ucap pria berbaju hitam itu sebelum berlalu dan kembali ke mobilnya. Harun juga segera memerintahkan sang supir untuk pergi dari tempat tersebut.


"Ke bandara sekarang!"

__ADS_1


"Apa Claudia punya saudara kembar, Pa?" Tanya Claudia sekali lagi pada Papa Harun yang terlihat melamun.


"Tidak!" Jawab Papa Harun tegas.


"Kau putri papa satu-satunya dan kau tak punya saudara kembar, Claudia!" Ujar Papa  Harun lagi dengan nada tegas.


"Lalu siapa itu Bu Ayana?" Tanya Claudia lagi menatap sang papa dengan berapi-api.


"Papa tidak tahu!" Jawab Papa Harun seraya berlalu dari hadapan Claudia.


"Tidak mungkin Papa tidak tahu! Wajah Papa mengatakan kalau Papa sedang berbohong!" Tuduh Claudia yang langsung membuat Papa Harun menghentikan langkahnya.


"Sudah papa bilang kalau papa tidak tahu!" Ucap Papa Harun lagi tetap keras kepala.


"Kenapa Papa tidak jujur saja dan mengatakan kalau bu Ayana adalah mama kandung Claudia?" Claudia ikut-ikutan keras  kepala sekarang.


"Ayana bukan mama kandungmu!" Papa Harun sudah berteriak pada Claudia.


"Lalu bagaimana ceritanya kami bisa punya golongan darah yang sama?"


"Bagaimana ceritanya juga Bu Ayana bisa punya seorang putri yang wajahnya mirip Claudia bahkan nyaris sama!"


Kalimat terakhir yang dilontarkan oleh Claudia seketika membuat Papa Harun mematung.


"Apa maksudmu, Claudia?" Tanya Papa Harun yang hanya terdengar seperti sebuah gumaman.


"Bu Ayana punya seorang putri yang wajahnya mirip dengan Claudia, Pa! Namanya Melody!  Bahkan saat kemarin kami bertukar posisi, Papa juga tak menyadarinya." Claudia tertawa sinis sedangkan Papa Harun langsung membelalakkan kedua matanya.


"Bertukar posisi?"


"Gadis yang sebulan kemarin tinggal bersama Papa, yang wajahnya mirip Claudia, itu bukanlah Claudia! Itu adalah Melody, Pa!"


"Mustahil!" Sergah Papa Harun tak percaya.


"Jangan mengarang  cerita kamu, Clau!" Gertak Papa Harun lagi pada sang putri. Papa Harun menatap tajam pada wajah Claudia yang memang tak seperti Claudia sebulan terakhir.


Raut wajah putri Papa Harun ini sudah kembali ke Claudia yang lama. Claudia yang selalu melawan dan keras kepala!


Tidak!


Ini mustahil!


Apa itu artinya Ayana melahirkan dua bayi kembar perempuan waktu itu?


"Bu Ayana mama  kandung Claudia, kan, Pa?" Tanya Claudia lagi menuntut jawaban sekaligus penjelasan.


"Ayana tidak pantas menjadi ibu kandungmu! Dia itu seorang pembunuh!"


.


.


.


Mabok.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2