
Sam tiba di rumah sakit saat langit sudah berubah gelap. Baru saja Sam akan masuk ke dalam kamar perawatan Papa Harun, pria itu sudah dikejutkan oleh Matthew yang ternyata baru saja keluar dari dalam kamar perawatan.
Apa?
Matthew sama-sama terkejut saat melihat Sam yang baru datang.
"Malam, Sam!" Sapa Matthew datar sebelum kemudian pria itu berlalu pergi bahkan sebelum Sam menjawab sapaannya.
Aneh!
Matthew juga terlihat berantakan dan tidak seperti Matthew yang biasanya. Pria itu terlihat kacau serta tak bersemangat. Entah apa yang terjadi pada hidupnya.
"Selamat malam, Tuan Sam!" Sapa seorang bodyguard yang menjaga kamar perawatan Papa Harun.
"Malam!"
"Matthew Orlando disini sejak kapan?" Tanya Sam pada bodyguard Papa Harun.
"Sejak tadi pagi, Tuan! Tadi datang kesini sendiri, lalu duduk diam menjaga Tuan Harun."
Sejak pagi?
Tumben sekali!
Dulu saat Matthew masih bertunangan dengan Claudia saja, pria itu bahkan tak terlalu dekat dengan Tuan Harun.
Lalu kenapa sekarang setelah Matthew putus dari Claudia, pria itu malah mendekati Tuan Harun?
Aneh sekali!
Apa ini ada hubungannya dengan perbuatan Matthew pada Melody beberapa bulan lalu?
"Tadi Tuan Matthew juga terlihat sakit, Tuan Sam! Beberapa kali Tuan Matthew semoat mual dan muntah-muntah. Tapi tetap saja, ia tidak beranjak dari sisi Tuan Harun dan terus menjaganya," lapor bodyguard Tuan Harun lagi.
"Benarkah itu?" Sam semakin penasaran sekarang.
Apa Matthew benar-benar sudah berubah dan menyesali perbuatannya pada Melody? Sam akan menyelidikinya!
****
Tok tok tok!
Suara ketukan pintu disusul dengan pintu kamar Matthew yang dibuka dari luar, membuat Matthew yang belakangan ini terlihat murung mengangkat wajahnya.
"Abang baik-baik saja? Kata maid tadi abang muntah-muntah terus," tanya Navya seraya duduk di tepi tempat tidur dan memeriksa Matthew yang masih berkutat dengan laptop di pangkuannya.
"Aku baik-baik saja. Hanya mual dan muntah-muntah beberapa minggu terakhir," jawab Matthew lesu.
"Sudah ke dokter?" Tanya Navya memastikan.
__ADS_1
"Sudah!" Jawab Matthew sambil tangannya yang tetap aktif mengetik di laptopnya.
"Istirahat dan berhentilah memikirkan pekerjaan, Bang!" Nasehat Navya yang hendak menutup laptop Matthew. Namun Matthew mencegah dengan cepat.
"Tidak bisa!" Jawab Matthew dengan tatapan kosong.
Matthew memang tidak bisa tidur nyenyak belakangan ini, lebih tepatnya setelah ia menyakiti Melody. Mimpi buruk serta bayangan wajah Melody yang bersimbah airmata selalu menghantui mimpi-mimpi Matthew.
Matthew butuh minum alkohol atau obat tidur agar bisa tidur nyenyak, tapi Matthew sangat tahu kalau itu tidak bagus untuk kesehatannya. Jadi Matthew berusaha mengalihkan rasa bersalahnya dengan bekerja melebihi porsi dan agar pikirannya tak terus-terusan memikirkan Melody. Tapi rasanya semua itu hanya sia-sia.
Entah pesona apa yang sebenarnya dimiliki oleh Melody sampai gadis itu bisa membuat Matthew sehancur ini.
"Abang sedang memikirkan apa sebenarnya? Pertunangan Abang yang batal dengan Kak Claudia?" Tebak Navya menerka-nerka.
"Bukan!" Jawab Matthew cepat dan tegas.
"Aku tak pernah ada perasaan apapun pada Claudia!" Lanjut Matthew penuh keyakinan.
"Lalu? Ada wanita lain yang membuat Abang patah hati?" Tanya Navya penuh selidik.
"Aku sudah menyakitinya," ucap Matthew lirih yang sorot matanya sudah berubah sendu.
"Setiap orang pernah berbuat salah, Bang! Abang sudah minta maaf padanya?"
"Dia sudah pergi!"
"Aku sudah mencarinya selama dua bulan ini tapi aku tidak tahu dia pergi kemana," cerita Matthew sedih. Dua bulan memendam masalahnya sendiri, Matthew akhirnya tidak tahan untuk tak menceritakan semuanya pada Navya.
Bahkan saat dulu Abang Matthew terobsesi pada Melanie, lalu wanita itu malah menikah dengan Dean Alexander, abang Matthew tidak sampai sehancur ini.
"Dia membenciku dan tidak mau lagi melihatku, karena aku sudah melakukan hal yang tidak bisa dimaafkan," gumam Matthew penuh sesal. Navya segera memeluk sang Abang demi meringankan beban masalah yang tengah ditanggung olrh Matthew. Meskipun saat ini Navya sendiri juga sedang menghadapi masalah yang rumit.
"Kau jadi berpisah dari Erlan?" Tanya Matthew mengalihkan bahan pembicaraan.
"Ya. Navya sudah mengurus surat perpisahan kami hari ini, dan besok Navya hanya tinggal memberikannya pada Erlan agar ditandatangani," jelas Navya setegar mungkin. Navya ternyata sedang sama hancurnya dengan Matthew.
Apa ini yang disebut karma?
Matthew yang berbuat, tapi Navya yang harus ikut menanggungnya. Matthew ganti memeluk Navya dengan erat.
"Abang harus terus mencari dan memperjuangkan cinta Abang," nasehat Navya pada Matthew lagi.
"Jangan menyerah!"
"Kau juga harus meraih bahagiamu kalau begitu," Matthew mengajukan syarat.
"Navya akan mendapatkannya sebentar lagi," jawab Navya seraya membenamkan kepalanya di pelukan Matthew, lalu mengusap perutnya sendiri.
"Kau sedang hamil?" Tanya Matthew yang sepertinya tanggap sekali.
__ADS_1
"Tolong jangan beritahu Erlan!" Mohon Navya nyaris tanpa suara.
"Erlan sudah bahagia bersama Feli dan calon anak mereka."
Matthew hanya menghela nafas dan kembali memeluk Navya yang keras kepala.
"Abang yang akan menjagamu kalau begitu!"
****
Matthew kembali datang menjenguk Papa Harun siang ini. Pria itu datang setelah makan siang dan kebetulan sekali Sam juga sedang berada di rumah sakit memantau kondisi Papa Harun.
"Aku akan membantu perusahaan Setyawan agar bisa bangkit dari masalah ini." Ujar Matthew menyampaikan niatnya pada Sam.
"Kau akan mengajukan syarat?" Tebak Sam cepat. Tidak ada yang gratis di dunia ini, apalagi untuk seorang Matthew Orlando yang belakangan ini terlihat semakin kacau.
"Tidak ada syarat apa-apa, karena aku tahu perusahaan itu sangat berarti bagi Om Harun yang merintisnya dari nol. Aku benar-benar ikhlas membantu," tutur Matthew penuh kesungguhan.
"Lagipula, bukankah Om Harun adalah papa kandung Melody. Jadi...." suara Matthew tercekat di tenggorokan saat mengingat perbuatannya pada Melody. Matthew tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Ngomong-ngomong, aku tak pernah melihat Claudia menjaga Om Harun," Matthew mengalihkan bahan pembicaraan.
"Claudia sedang di luar kota," jawab Sam jujur.
"Dia tidak tahu papanya sakit?" Tanya Matthew penuh selidik.
"Sudah kuberitahu. Hanya saja dia sedang tidak bisa pulang," ujar Sam sedikit berdusta.
"Apa Claudia sedang bersama Melody?" Tanya Matthew tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Sam sedikit salah tingkah.
"Aku tidak tahu!" Sam sedikit tergagap.
"Tolong beritahu aku jika kau tahu sesuatu tentang Melody, Sam!" Pinta Matthew penuh harap. Pria itu bahkan sudah menangkupkan kedua tangannya di depan dada
"Aku hanya ingin minta maaf pada Melody dan menebus semua kesalahanku andai itu bisa," lanjut Matthew lagi.
Sam jadi tak sampai hati pada pria ini. Sepertinya Matthew benar-benar hancur sekarang dan pria ini sudah benar-benar menyesali perbuatannya pada Melody.
"Baiklah," jawab Sam seraya mengangguk samar.
Matthew tak berlama-lama di rumah sakit karena ia masih ada meeting penting. Pria itu langsung berpamitan pada Sam, setelah Erlan menelepon dan mengingatkan tentang jadwal meeting Matthew.
.
.
.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.