
"Kau memasak apa ini, Clau?" Tanya Aaron seraya menelisik masakan yang sudah tersaji di atas meja. Sebenarnya Aaron bukannya pelit dan enggan mencarikan maid untuk Claudia. Tapi Claudia sendiri yang tidak mau memakai maid sementara ini dan memilih untuk menikmati perannya sebagai istri Aaron serta ibu rumah tangga sepenuhnya.
Dan Aaron juga tahu kalau Claudia belum terlalu mahir memasak, jadi untuk urusan makan mereka berdua biasanya memesan dari luar. Namun tumben hari ini Claudia memasak makan malam dan sudah menyajikannya di atas meja makan saat Aaron pupang dari kantor. Meskipun bentuknya terlihat meragukan.
"Ini opor ayam," jawab Claudia seraya meringis.
"Opor ayam?" Aaron garuk-garuk kepala dan lembali mengamati sayur berkuah putih yang kata Claudia adalah opor ayam tersebut.
"Aku dapat resepnya dari youtube dan memasak sesuai video yang kutonton," cerita Claudia lagi yang hanya membuat Aaron manggut-manggut.
"Lalu yang hitam-hitam di atasnya ini?" Aaron mengambil sendok lalu menunjuk ke hitam-hitam di atas opor ayam.
"Itu bawang goreng. Aku tinggal ke kamar mandi sebentar untuk buang air dan dia sudah gosong," jawab Claudia jujur yang benar-benar ingin membuat Aaron tertawa terpingkal-pingkal. Namun Aaron memilih menahannya agar Claudia tidak ngambek dan menyuruh Aaron tidur di luar. Bisa suram malam Aaron jika harus tidur di sofa dan tak mendapat jatah dari Claudia.
"Aku icipi, ya!" Izin Aaron yang langsung dijawab Claudia dengan anggukan kepala.
Aaron mengambil sedikit kuah opor buatan Claudia dan mencicipinya.
"Bagaimana?" Claudia menunggu dengan tak sabar.
"Tunggu!" Aaron menyendok kuahnya lagi dan mencecapnya. Kedua alis suami Claudia itu kembali bertaut.
"Kok begini, ya?" Gumam Aaron seraya kembali menyendok kuah opor untuk memastikan rasanya.
"Bagaimana, Sayang? Enak tidak?" Claudia semakin tak sabar.
"Tadi sudah kau cicipi saat memasaknya?" Tanya Aaron memastikan.
"Belum," jawab Claudia seraya meringis.
"Kau sudah menambahkan garam dan gula?" Aaron memastikan lagi. Claudia diam sejenak dan langsung mengambil sendok dari tangan Aaron lalu mengicipi opor buatannya.
"Bleek bleek! Pahit!"
"Pahit dari bawangnya yang gosong, Sayang!" Ujar Aaron seraya menahan tawa.
"Kalau kuahnya hambar. Sepertinya kau lupa menambahkan gula dan garam," sambung Aaron lagi yang langsung membuat Claudia merengut.
"Maaf!" Cicit Claudia merasa bersalah.
"Tidak apa-apa! Jangan sedih! Kita makan di luar, ya!" Bujuk Aaron seraya merangkul pundak Claudia.
"Lalu kapan aku bisa memasak jika kita makan diluar terus," Claudia masih merengut.
"Kau tidak usah belajar memasak. Nanti kita cari maid saja kalau kita sudah pindah ke rumah yang baru."
"Rumah? Baru?" Claudia membulatkan kedua matanya dan menatap tak percaya pada Aaron.
"Dean membelikan kita rumah baru, dan aku sedikit merenovasinya kemarin. Maaf tak memberitahumu karena tadinya aku mau membuat kejutan-"
"Aaaaaa! Aaron, i love you, Sayang!" Claudia sudah meloncat ke dalam pelukan Aaron dan menciumi wajah suaminya tersebut.
"I love you too!"
"Kamarnya ada empat di rumah yang baru. Jadi nanti kau tak perlu pusing memikirkan kamar untuk anak-anak kita," ujar Aaron lagi yang malah membuat Claudia kembali merengut.
"Ada apa?" Tanya Aaron bingung.
"Aku masih mendapat tamu bulanan bulan ini dan belum terlambat. Maaf!" Ujar Claudia seraya menundukkan wajahnya.
"Tidak apa-apa! Kita bisa honeymoon dulu sementara ini dan tak usah terlalu kau pikirkan!" Jawab Aaron bijak.
__ADS_1
"Honeymoon seperti ini maksudnya?" Claudia mengecup bibir Aaron dan seolah tak menyia-nyiakan kesempatan, Aaron langsung membalas kecupan Claudia.
"Iya seperti itu. Berikan lagi!" Pinta Aaron seraya menangkup wajah Claudia dan kembali mencecap bibir sang istri. Claudia segera mengalungkan kedua lengannya di leher Aaron dan semakin memperdalam pagutan mereka.
"Kau sudah mandi tadi?" Tanya Aaron di sela-sela pagutannya bersama Claudia.
"Belum!" Claudia sudah membuka kancing kemeja Aaron dan mengusap dada bidang suaminya tersebut.
"Ayo mandi dan bercinta sebentar, lalu-"
Ting tong!
Suara bel dari pintu depan membuat Claudia dan Aaron terlonjak bersamaan.
"Sial! Siapa yang bertamu jam segini?" Umpat Aaron seraya membenarkan kembali kancing kemejanya.
"Biar aku yang buka!" Claudia mencium bibir Aaron sekilas, lalu berlari ke pintu depan untuk membukanya. Ada Matthew yang berdiri di depan pintu.
"Malam," sapa Matthew sedikit canggung pada Claudia.
"Malam, Matt! Kau bersama Melody?" Tanya Claudia seraya celingukan menvari Melody yang tak terlihat datang bersama Matthew.
"Tidak! Aku sendiri dan baru pulang dari kantor tadi. Ada satu hal yang ingin aku tanyakan, jadi aku mampir sebentar," jawab Matthew berbasa-basi.
Claudia mengangguk paham.
"Masuklah kalau begitu!" Ujar Claudia mempersilahkan.
"Siapa, Sayang?" Tanya Aaron yang sudah menyusul ke ruamg tamu.
"Matthew. Katanya ada hal penting yang ingin ia tanyakan," jawab Claudia yang sudah duduk di sofa yang berhadapan dengan Matthew. Aaron ikut duduk di samping Claudia dan merangkul istrinya tersebut.
"Tentang Sam," jawab Matthew to the point.
"Sam? Ada apa dengan Sam?" Claudia malah balik bertanya dan terlihat bingung.
"Kau tahu alamat rumah atau mungkin apartemen Sam?" Tanya Matthew lagi.
"Ya, aku tahu! Tapi untuk apa kau mencari Sam? Dia sudah menyelesaikan semua urusannya di perusahaan Setyawan sebelum resign," ujar Claudia yang masih terlihat bingung.
Sejak perusahaan milik papa Harun itu bermasalah, Matthew memang langsung mengambil alihnya dan kini perusahaan sudah berpindah di bawah naungan Orlando Group. Claudia juga tak minta bagian apapun dan menyerahkan sepenuhnya urusan tentang perusahaan pada Matthew dan Melody. Bagian yang seharusnya untuk Claudia, kata Aaron diberikan pada Bu Ayana sekarang agar ibu kandung Claudia dan Melody itu tak perlu banting tulang lagi di kampung dan bisa hidup sejahtera.
"Tidak! Ini buka tentang perusahaan. Ini hanya persoalan pribadi dan aku ingin bertemu dengannya. Itu saja," jawab Matthew menjelaskan.
"Kau tak ingin melakukan hal buruk pada Sam, kan?" Claudia sedikit curiga.
"Tidak! Aku bersumpah!" Matthew mengangkat satu tangannya dan berucap dengan sungguh-sungguh.
"Aku hanya ingin bicara dengan Sam." Lanjut Matthew lagi.
Meskipun ragu, Claudia akhirnya tetap mengambil secarik kertas dan menuliskan alamat Sam, lalu memberikannya pada Matthew.
"Aku akan menelepon Sam dan memastikan!" Claudia menuding ke arah Matthew yang hanya mengangguk.
"Aku langsung pamit kalau begitu. Maaf mengganggu malam-malam begini," pamit Matthew selanjutnya seraya beranjak dari duduk.
"Ya, kami memang sedang sibuk tadi, Bung!" Ujar Aaron menatap malas pada Matthew.
"Terima kasih sekali lagi. Selamat malam!" Pamit Matthew seraya keluar dari apartemen Aaron.
Claudia langsung menutup pintu dan kembali berpikir. Untuk apa Matthew minta alamat rumah Sam?
__ADS_1
****
Mobil Matthew berhenti di depan sebuah rumah yang berada di dalam kompleks perumahan elite. Melody tidak tahu ini rumah siapa dan kenapa Matthew mengajaknya kemari. Tadi Matthew hanya bilang kalau ia akan mengajak Melody ke rumah seorang temannya.
"Ayo turun!" Ajak Matthew seraya membukakan pintu mobil untuk Melody.
Melody tak berucap sepatah katapun dan langsung turun dari mobil, lalu mengikuti langkah Matthew dan masuk ke teras rumah bergaya skandinavian tersebut. Matthew menekan bel di samping pintu masuk,dan tak berselang lama, pintu sudah di buka dari dalam oleh seorang wanita cantik yang sepertinya adalah pemilik rumah.
Entahlah!
"Selamat siang. Mencari siapa?" Sapa wanita itu seraya tersenyum ramah.
"Apa benar ini rumah Abrisam?" Tanya Matthew memastikan dan tentu saja Melody langsung terkejut saat Matthew menyebut nama itu.
"Iya. Ini rumah Sam! Kebetulan dia sedang mandi. Masuklah dulu!" Wanita tadi mempersilahkan Melody dan Matthew untuk masuk ke ruang tamu.
"Silahkan duduk!" Ucap wanita tadi lagi.
"Kau siapanya Sam?" Tanya Melodi to the point yang sepertinya penasaran sekali dengan status wanita yang memiliki postur tubuh bak model tersebut.
"Oh, aku Kate!"
"Aku-'
"Kate, siapa yang datang?" Suara Sam membuat Kate tak jadi melanjutkan kalimatnya.
"Itu Sam sudah selesai mandi." Ujar Kate seraya bangkit dari duduknya.
"Mereka temanmu, Sam? Merrka mencarimu tadi," lapor Kate pada Sam.
Sam langsung terkejut saat mendapati Matthew dan Melody di ruang tamu rumahnya. Namum beberapa saat kemudian, Sam langsung menyapa Melody dan Matthew dengan hangat.
"Kebetulan sekali kalian datang. Padahal aku baru saja akan berkunjung ke rumah kalian untuk mengantar undangan," ujar Sam seraya tertawa kecil.
"Undangan?" Melody mengerutkan kedua alisnya dan menatap penuh selidik pada Sam.
"Undangan apa?" tanya Matthew penasaran.
"Ah, iya aku lupa! Ini Kate calon istriku. Kami akan menikah pekan depan," ujar Sam lagi seraya merangkul pundak Kate dengan mesra.
Namun kalimat yang baru saja disampaikan oleh Sam benar-benar terdengar seperti petir yang menyambar hati Melody.
Sam akan menikah?
Pekan depan?
.
.
.
Dua lebih baik dari satu.
Udah dua, ya!
Jangan minta tiga atau empat atau lima atau atau atau
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.
__ADS_1