
"Ibu kamu memang melahirkan bayi kembar, Mel!"
"Kamu dan Senandung. Tapi saat usia kalian berdua baru satu bulan, Senandung diculik oleh orang-orang yang kami juga tak tahu mereka siapa. Ibu kamu langsung lapor polisi waktu itu. Tapi kemudian polisi malah membawa kabar duka dan mengatakan kalau Senandung ikut terlibat dalam kecelakaan yang menimpa para penculik itu. Senandung tidak selamat dan ibu kamu sangat sedih saat itu."
Bulik Ani bercerita panjang lebar tentang masa lalu Bu Ayana pada Melodi. Tadinya, adik satu-satunya dari Bu Ayana itu memang membantah saat Melody bertanya perihal saudata kembarnya. Namun setelah terus-terusan didesak oleh Melody, Bulik Ani akhirnya mau menceritakan semuanya.
"Bulik dan ibu kamu sudah sama-sama sepakat untuk tak memberitahu siapapun perihal kamu yang pernah punya saudara kembar. Waktu itu Bulik juga mengiyakan saja karena Bulik juga tidak mau melihat ibu kamu yang terus-terusan bersedih setiap kali ingat pada Senandung. Bahkan Paklik kamu, Bagus, lalu mantan suami ibu kamu, Pak Seno juga tak tahu menahu tentang hal ini," lanjut Bulik Ani lagi.
Paklik Melody sendiri alias suaminya Bulik Ani saat ini memang tengah merantau di luar pulau dan biasanya hanya pulang enam bulan sekali.
"Kalau Melody bilang Senandung masih hidup hingga sekarang, apa Bulik percaya?" Tanya Melody tiba-tiba yang tentu saja langsung membuat Bulik Ani kaget.
"Apa maksudmu, Mel! Senandung sudah pergi untuk selamanya-"
"Senandung masih hidup hingga sekarang, Bulik! Wajahnya mirip dengan Melody dan dia adalah seorang Nona Muda. Senandung dirawat oleh seorang pengusaha kaya bernama Harun Setyawan," jelas Melody panjang lebar yang tentu saja langsung membuat Bulik Ani kaget.
"Bulik kenal dengan Harun Setyawan? Apa dia pernah ada hubungan dengan Ibu?" Tanya Melody memastikan pada sang Bulik.
"Bulik tidak tahu, Mel! Tidak pernah dengar namanya juga." Jawab Bulik Ani penuh keyakinan.
"Kalau bapak kandung Melody apa Bulik tahu? Mungkin ibu pernah cerita," tanya Melody lagi penuh harap. Namun sekali lagi bulik Ani hanya menggeleng.
"Ibumu tak pernah sekalipun menceritakan siapa bapak kandungmu dan Senandung. Bulik juga nggak pernah berani untuk mendesak, karena sorot mata ibumu akan langsung tampak sedih setiap kali Bulik membahas hal itu."
"Jadi Bulik tak pernah bertanya ataupun mengorek perihal ayah kamu dan Senandung, Mel! Apalagi Mbak Aya juga selalu mengatakan kalau ayah kalian itu sudah meninggal dan tak usah dibahas-bahas lagi." Terang Bulik Ani panjang lebar.
"Yang jelas, Mbak Aya sudah hamil saat ia pulang dari kota dan resign dari pekerjaannya sebagai maid," pungkas Bulik Ani yang hanya membuat Melody terdiam.
Ibu bekerja sebagai maid?
Mungkinkah ibu pernah jadi maid di rumah Harun Setyawan, lalu ibu hamil dan memutuskan untuk resign?
Lalu yang menghamili Ibu?
Apa mungkin Papa Harun?
"Itu foto siapa, Pa?"
"Bukan siapa-siapa!"
"Apa itu foto Mama kandung Claudia?"
"Bukan! Dia sama sekali bukan mama kamu!"
Foto wanita hamil itu....
Apa mungkin itu adalah istri Papa Harun, lalu Ibu adalah...
Selingkuhan Papa Harun?
__ADS_1
Ibu menjalin hubungan terlarang dengan papa Harun, lalu hamil dan diusir dari kediaman Setyawan.
Melody terduduk lesu saat membayangkan Bu Ayana adalah selingkuhan Papa Harun.
Tapi kalau istri Papa Harun hamil, bukankah seharusnya Papa Harun punya anak lain selain Claudia? Lalu kenapa Papa Harun selalu mengatakan kalau Claudia adalah putri satu-satunya?
Kenapa ini begitu membingungkan?
"Mel, kau baik-baik saja?" Tanya Sam khawatir. Pria itu merangkul pundak Melody yang kini duduk termenung di ruang tunggu.
"Aku baik-baik saja, Sam!" Jawab Melody seraya mengusap lembut tangan Sam.
"Sedang memikirkan apa? Kau terlihat cemas sejak tadi," tanya Sam lagi penuh selidik.
Melody menggeleng.
"Hanya merasa bingung saja dengan hubungan di antara Ibu dan Pak Harun."
"Ibumu tak pernah cerita siapa bapak kandungmu?" Tanya Sam lagi dan sekali lagi Melody hanya menggeleng.
"Ibu selalu mengatakan kalau Bapak sudah meninggal dan memintaku untuk tak menanyakannya lagi. Meskipun hingga kini ibu tak pernah mengajakku ke makam bapak."
"Bukankah itu aneh?"
"Claudia pun sama. Setiap dia menanyakan tentang siapa ibu kandungnya, Tuan Harun akan langsung marah," terang Sam yang semakin membuat Melody yakin kalau pernah ada suatu masalah di masa lalu yang membuat Ibu Ayana dan Papa Harun bertikai.
Tapi masalah apa?
"Tidak ada! Claudia adalah seorang putri tunggal selama ini." Jawab Sam yakin.
"Tapi aku pernah menemukan foto Papa Harun bersama seorang wanita yang sedang hamil besar, dan aku sangat yakin kalau itu bukanlah Ibu. Itu wanita lain," cerita Melody yang tentu saja malah membuat Sam menjadi bingung.
"Mungkin itu istri Tuan Harun," gumam Sam menerka-nerka.
"Istri? Kau pernah bertemu dengannya?" Tanya Melody penuh selidik
"Tidak! Kata Nyonya Setyawan, istri Tuan Harun sudah lama meninggal." Terang Sam lagi bersamaan dengan ponsel pria itu yang tiba-tiba berdering.
"Claudia," gumam Sam sebelum mengangkat telepon dari Claudia.
"Halo, Clau!"
"Sam, kau masih bersama Melody?"
"Iya, kebetulan aku sedang duduk bersamanya di ruang tunggu rumah sakit. Ada apa?"
"Pesankan aku tiket ke sana!"
"Untuk?
__ADS_1
"Mengungkap sebuah kebenaran!"
"Kau yakin akan datang kesini, Clau?" Tanya Sam lagi memastikan sekaligus memberitahu Melody sebenarnya.
"Iya aku yakin! Cepat pesankan tiket!"
"Baiklah, nanti aku kabari lagi!" Pungkas Sam sebelum menutup telepon.
"Nona Claudia akan kesini?" Tanya Melody memastikan.
"Ya, katanya dia ingin mengungkap sebuah kebenaran," jawab Sam seraya mengendikkan bahu.
"Kau sudah makan tadi?" Tanya Sam selanjutnya seraya merangkulkan lengannya ke pundak Melody.
"Aku tidak lapar."
"Kau harus tetap makan, Mel! Agar tid-"
"Mel!" Panggil Bulik Ani yang baru jeluar dari kamar perawatan ibu Ayana.
"Iya, Bulik!"
"Ibu nyariin kamu!" Ujar Bulik Ani yang langsing membuat Melody beranjak berdiri dan masuk ke dalam kamar perawatan.
****
"Tuan, Nona Claudia pergi ke bandara kota sore ini." Lapor seorang bodyguard Papa Harun.
"Bersama siapa?"
"Sendirian, Tuan!"
Papa Harun terdiam sejenak. Tadi pagi setelah perdebatan Papa Harun dengan Claudia perihal Ibu kandung Claudia, Papa Harun memang langsung pergi dari rumah meninggalkan Claudia yang terus saja keras kepala dan bertanya apa Ayana adalah ibu kandung Claudia atau bukan.
Mungkinkah Claudia akan menemui Ayana yang berada di kota lain?
"Siapkan mobil! Kita ke bandara sekarang!" Perintah Papa Harun pada sang bodyguard.
"Baik, Tuan!"
.
.
.
Maaf baru UP.
Aku dari semalam tepar.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.