
Sam masih memperhatikan Melody yang sedang memakan gado-gadonya dan terlihat kurang berselera. Melody juga terlihat menyingkirkan beberapa sayur di salam gado-gadonya.
"Biasanya gado-gado Budhe Tituk rasanya enak. Kok yang ini nggak ada rasanya, ya?" Gumam Melody bingung seraya mengaduk-aduk gado-gadonya.
"Nggak ada rasa bagaiamana?" Tanya Sam yang langsung berinisiatif untuk mencicipi gado-gado Melody.
"Enak! Pas rasanya," pendapat Sam seraya manggut-manggut.
"Yaudah! Buat kamu aja! Aku idah nggak pengen makan gado-gado," ujar Melody seraya menggeser piring berisi gado-gado ke hadapan Sam. Melody terlihat mual lagi.
"Aku ke kamar mandi sebentar," pamit Melody pada Sam seraya melesat pergi meninggalkan Sam yang membisu. Sam mengusap wajahnya dengan kasar bersamaan dengan ponsel pria itu yang berdering nyaring.
****
"Sudah dapat?" Tanya Aaron pada Claudia yang barubkeluar dari sebuah apotik.
"Ya, aku belikan dua," jawab Claudia seraya menunjukkan bungkusan plastik di tangannya pada Aaron. Tadi Sam memang menyuruh Claudia untuk membeli testpack ke apotik. Sepertinya Sam ingin membuktikan ucapan Aaron yang tadi berspekulasi kalau mual-mual yang dialami Melody adalah tanda-tanda kehamilan.
"Yaudah! Naik!" Titah Aaron pada Claudia.
Claudia mengendikkan kedua bahunya dan segera naik ke jok belakang.
"Ini motor siapa yang kamu rampas?" Tanya Claudia yang sudah melingkarkan lengannya di pinggang Aaron.
Bukan apa-apa.
Claudia hanya tak mau terjatuh atau menjeblak ke belakang saat Aaron menarik gas motor seperti saat mereka berangkat tadi. Masih bagus tadi Claudia tidak sampai jatuh dari atas motor dan hanya kaget saja.
"Motor akulah!" Jawab Aaron sombong.
"Ck! Nggak percaya! Kalau motor kamu pasti masih baru," cibir Claudia yang langsung membuat Aaron tergelak.
"Iya, iya! Ini motor rental!" jawab Aaron yang akhirnya berkata jujur.
Baru saja Aaron menyalakan mesin motor, ponsel pria itu tiba-tiba bergetar daii dalam saku.
"Ck! Siapa, sih?" Gerutu Aaron seraya kembali mematikan mesin motor. Sementara Claudia masih melingkarkan lengannya di pinggang Aaron sembari menunggu pria itu mengangkat telepon.
"Halo, De-"
"Kau dimana?"
Aaron refleks menjauhkan ponselnya dari telinga setelah mendengar teriakan Dean dari ujung telepon.
__ADS_1
Dasar speaker konslet!
"Aku belum tuli, Dean!" Aaron balik berteriak pada Dean. Claudia sampai mengernyit heran dengan kelakuan pria di depannya tersebut.
Dasar Aaron sinting!
"Lalu kau dimana? Felichia hilang!"
"Hilang bagaimana maksudnya?" Tanya Aaron bingung.
"Hilang, kabur, melarikan diri!" Suara Dean terdengar frustasi.
"Suruh anak buahmu mencari. Pasti langsung ketemu," jawab Aaron enteng.
"Ck! Tidak usah kau ajari aku juga sudah tahu!"
"Lalu? Kenapa masih mengganggu aku yang sedang pacaran dan memperjuangkan jodohku?" Aaron merensahkan nada bicaranya dan sedikit berbisik pada Dean.
"Kau sedang dimana memangnya? Cepat pulang sekarang karena aku butuh kau untuk menyelesaikan pekerjaan di kantor!"
"Kau mau kemana memangnya? Aku masih sibuk!" Ujar Aaron mencari alasan.
"Sebenarnya bosnya disini aku atau kau? Kau mau sibuk atau apapun aku tak peduli! Pulang sekarang atau kuledakkan rumah pacarmu!"
"Pulang sekarang dan jangan membantah lagi! Aku sedang emosi sekarang!"
"Baiklah! Aku akan segera pulang dan mengerjakan pekerjaanmu! Sekalian aku minta naik gaji, paket pernikahan lengkap, tiket honeymoon-"
Tuuut! Tuut!
Dean menutup telepon secara sepihak, sebelum Aaron menyelesaikan kalimatnya.
Dasar tidak sopan! Semoga mabuk dan mualmu semakin parah, Dean! Perpaduan mabuknya Felichia dan Melody!
Aaron tak berhenti menggerutu dalam hati.
"Kau mau menikah, Aaron?" Tanya Claudia yang langsung membuyarkan sumpah serapah Aaron pada Dean.
"Siapa?" Aaron balik bertanya bingung. Sepertinya masih kurang connect.
"Kau mau menikah?" Claudia mengulangi pertanyaannya.
"Bisa iya bisa tidak," jawab Aaron seraya meringis.
__ADS_1
Iya kalau Claudia menerima lamaran Aaron maksudnya.
Tapi kalau Claudia menolak?
Hohoho! Aaron tak menerima penolakan! Claudia harus menjadi milik Aaron!
"Maksudnya?" Claudia mengernyit bingung. Ada perasaan aneh yang menddak menggelitik hati Claudia saat mendengar Aaron yang katanya akan menikah.
Ah, tapi Aaron mungkin memang sudah punya pacar. Lagipula, pria sebaik Aaron memang pantas mebdapat wanita yang baik.
Claudia tersenyum kecut dan buru-buru melepaskan kedua lengannya dari pinggang Aaron. Sebaiknya Claudia memang menjaga jarak dari calon suami wanita lain!
"Kok dilepas pegangannya?" Bukannya menjawab pertanyaan Claudia, Aaron malah balik bertanya hal lain sembari menarik lagi lengan Claudia agar kembali melingkar di pinggangnya.
"Iya,aku kan nggak mau di cap pelakor," jaeab Claudia seraya melepaskan lagi lengannya.
"Hah? Pelakor?" Aaron memutar kepalanya dan menatap bingung pada Claudia.
"Katamu tadi kau akan menikah? Bukankah itu artinya kau sudah punya seorang wanita di luaran sana sebagai calon istri?" Claudia menatap sendu ke arah Aaron.
"Aku tidak bilang begitu," jawab Aaron bersungguh-sungguh.
"Tapi katamu tadi kau akan menikah dan sudah menodong paket pernikahan serta tiket bulan madu pada bossmu."
"Iya, itu memang benar!" Aaron semakin menatap lekat pada Claudia.
"Jadi, kau mau menikah dengan siapa?" Tanya Claudia penuh selidik.
"Denganmu!"
"Kau mau menikah denganku, Claudia Setyawan?" Tanya Aaron yang langsung membuat Claudia kaget bukan kepalang.
Demi dewa dewi kahyangan. Apa Aaron sedang mengajak Claudia bergurau?
.
.
.
Maaf lambat UP.
Terima kasih yang sudah mampir.
__ADS_1
Jangan lupa like biar othornya bahagia.