Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
GALAU


__ADS_3

"Aku pulang sore ini. Kondisi Tuan Harun bagaimana? Sudah ada perkembangan?" Sam sedang bicara dengan seseorang di telepon, dan Claudia turut mendengarkan pembicaraan Sam tersebut.


"Masih sama? Baiklah! Tetap berjaga di sana sampai aku kembali!" Pungkas Sam sebelum menutup panggilan. Pria itu terlihat menarik nafas panjang berulang kali sembari menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.


Sementara Melody masih mengurung diri di dalam kamar dan Claudia maupun Sam sudah kehilangan akal untuk membujuk gadis itu. Melody benci pada Matthew, sangat wajar jika gadis itu merasa sedih dan terpukul sekarang karena harus mengandung anak Matthew.


"Kau pulang sore ini?" Claudia berbasa-basi pada Sam. Dua orang itu sudah duduk kembali di kursi teras. Sedangkan Aaron sudah langsung pamit pulang karena Dean yang tak berhenti meneleponnya sejak tadi.


"Ikutlah pulang, Clau! Barangkali Tuan Harun akan sedikit membaik setelah melihatmu," mohon Sam sekali lagi pada Claudia.


"Tidak!" Jawab Claudia tegas.


"Berapa kali aku harus mengatakannya? Aku tidak akan pulang ataupun menemui pria tua itu!" Claudia bersedekap dan memalingkan wajahnya dari Sam.


"Dia papamu, Clau! Papa Melody juga!"


"Kau, Melody, dan Ibu Ayana ikutlah pulang bersamaku, bertemu Tuan Harun, lalu kita bicarakan semua masalah dengan kepala dingin," nasehat Sam bijak.


"Tidak!"


"Apa kau tak ingat bagaimana Papa menghina Ibu kemarin? Mencaci dan menuduhnya dengan begitu keham dan menyakitkan!" Cecar Claudia yang langsung membuat Sam terdiam.


Sam memang tak membenarkan sikap Tuan Harun tempo hari pada Bu Ayana. Tapi apa salahnya memaafkan dan memberikan kesempatan pada seseorang? Bukankah setiap orang bisa berubah?


"Jadi, kau sungguh tidak mau pulang ataupun menemui Tuan Harun, Clau?" Tanya Sam yang sepertinya masih berharap.


"Tidak! Pergi sana jika kau masih membahas apa aku mau pulang atau tidak!" Usir Claudia seraya meninggalkan Sam di teras. Claudia masuk ke rumah dan menutup pintu. Sementara Sam hanya bisa memijit pelipisnya yang sekarang benar-benar pening. Masalah Tuan Harun dan Claudia belum selesai, sekarang malah Melody hamil anak Matthew.


Sam bukan siapa-siapa mereka sebenarnya, tapi entah kenapa Sam yang paling pusing disini. Hutang budi Sam pada Tuan Harunlah yang membuat Sam terjebak dalam posisi ini.


Sam beranjak dari duduknya dan menyusul Claudia masuk ke dalam rumah. Sam hanya ingin pamit pada Melody. Semoga gadis itu sudah mau keluar dari kamar.


"Mel!" Sam mengetuk pintu kamar Melody dengan hati-hati.


"Mel, aku mau pamit," ucap Sam lagi. Meskipun masih tidak ada jawaban.


"Mel, aku pulang dulu. Nanti aku akan menel-" Sam belum menyelesaikan kalimatnya saat pintu kamar tiba-tiba sudah dibuka dari dalam. Melody yang masih bersimbah airmata langsung menghambur ke pelukan Sam dan langsung menangis tersedu-sedu.


Sam tak berucap sepatah katapun dan hanya mengusap lembut punggung Melody, seolah mengatakan semuanya akan baik-baik saja, meskipun hati Sam juga tidak sedang baik-baik saja.


"Kau akan meninggalkanku dan menyuruhku menikah dengan Matthew?" Cicit Melody tiba-tiba yang tentu saja membuat Sam kaget.


Sam masih memikirkan jawaban yang tepat atas pertanyaan Melody. Matthew adalah ayah kandung calon bayi Melody. Tapi jika pria itu masih brengsek dan baj*ngan, Sam tidak akan membiarkan Melody menjadi miliknya. Sam tak keberatan menjadi ayah sambung untuk calon bayi Melody kelak, asal Melody bahagia dan tidak tekanan batin.

__ADS_1


Tapi bagaimana kalau Matthew sudah berubah?


"Aku tak pernah berkata seperti itu," Sam sudah menangkup wajah Melody dan menyeka airmata di wajah gadis itu dengan sapu tangan yang ia bawa.


"Jangan sedih lagi, Mel! Jangan banyak pikiran juga," nasehat Sam lagi.


"Semua itu tidak baik untuk perkembangan calon bayimu," lanjut Sam seraya mengusap perut Melody.


"Dengar," sam kembali menangkup wajah Melody.


"Aku harus kembali sekarang karena tidak ada yang menjaga Tuan Harun-"


"Papa kenapa?" Tanya Melody memotong kalimat Sam.


"Tuan Harun dirawat di rumah sakit dan belum sadarkan diri karena sakitnya kambuh dan sedikit mengalami serangan jantung ringan."


"Perusahaan juga sedang kacau dan tidak baik-baik saja," jelas Sam yang langsung membuat Melody menutup mulutnya dengan telapak tangan karena kaget.


"Tadinya aku kesini karena ingin menjemput Claudia agar dia maupulanh dan menemui Tuan Harun."


"Claudia mau?" Tanya Melody.


Sam menggeleng.


"Dia masih marah dan tidak mau menemui Tuan Harun."


"Aku pergi dulu," Sam mengusap wajah Melody sekali lagi.


"Bye!"


"Bye! Hati-hati!" Balas Melody yang sepertinya masih berat melepaskan genggaman tangan Sam. Namun Melody harus melepaskannya dan membiarkan Sam kembali pada pekerjaannya.


Sam baru keluar menuju ke teras saat Bagus sudah datang seraya membawa sekarung beras serta bahan sembako lain dan meletakkannya di teras.


"Eh, Abang Sam!" Sapa Bagus pada Sam.


"Sore, Gus! Dapat bantuan?" Tebak Sam seraya memindai ke jejeran bahan-bahan pokok yang Bagus tata di teras rumah Bu Ayana.


"Iya ini, Bang! Sudah dua bulan dapat kiriman sembako dari tuan misterius. Mana banyak sekali, sampai dibagi-bagiin ke tetangga juga sama Budhe," cerita Bagus pada Sam yang hanya manggut-manggut.


"Masih belum tahu siapa yang mengirim?" Tanya Sam.


Bagus menggeleng.

__ADS_1


"Masih jadi misteri! Mungkin harus menyewa detektif dulu untuk menyelidikinya," kelakar Bagus yang langsung membuat Sam tergelak.


"Semoga bisa cepat tahu, ya!" Sam menepuk punggung Bagus.


"Abang Sam mau kemana?" Bagus balik bertanya.


"Pulang! Sudah terlambat ini ke bandara!" Jawab Sam seraya menunjukkan arlojinya pada Bagus yang hanya manggut-manggut.


"Hati-hati, Bang!" Seru Bagus pada Sam yang sudah masuk ke mobilnya. Mobil segera melaju meninggalkan rumah Bu Ayana.


****


Sam masuk ke bandara dan sedikit terburu-buru saat ia tak sengaja menabrak seorang wanita.


"Ck! Pakai mata kalau jalan!" Omel wanita berpakaian modis tersebut.


"Bukannya pakai kaki kalau jalan. Melihat jalannya baru pakai mata," ujar Sam sedikit mengkoreksi omelan wanita yang ternyata Sam kenal tersebut.


Wanita itu membuka kacamata hitamnya dan menatap wajah Sam dengan ketus saat kemudian raut wajah wanita itu berubah kaget.


"Sam!"


"Kate!" Sam tergelak dan segera memeluk Kate Steinberg, teman kuliah Sam dulu.


"Sedang apa disini?" Tanya Kate penasaran.


"Kau sendiri sedang apa?" Sam malah balik bertanya.


"Ck! Orang ditanya malah balik bertanya!" Kate meninju pundak Sam dan berdecak sebal.


"Pesawat sedang transit tadi, aku kelaparan, jadi aku turun dan membeli makanan," cerita Kate selanjutnya pada Sam.


"Bagus! Temani aku dulu kalau begitu!" Sam sedikit menyeret Kate menuju ke loket check in di dalam bandara.


.


.


.


Kate siapa?


Nanti akan muncul di ceritanya Friska dan Gabriel "Gadis SMA Kesayangan Om Duda"

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2