Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
INGIN BERUBAH


__ADS_3

"Apa kau sedang mencari kesempatan?" Melody menatap sebal ke arah Matthew.


"Tidak! Bukan seperti itu!" Kilah Matthew cepat.


"Ini sungguh-sungguh ada semut!" Matthew masih berusaha mengusir semut dari celananya.


"Aku akan ganti celana sendiri," ujar Matthew lagi yang berusaha untuk bangkit berdiri. Melody yang merasa iba akhir kembali membantu Matthew dan memapah suaminya tersebut masuk ke rumah.


"Duduklah dulu!" Titah Melody seraya mendudukkan Matthew ke atas tempat tidur. Melody menarik nafas panjang demi menormalkan nafasnya yang sedikit ngos-ngosan. Wanita itu lanjut mengambil satu celana dari dalam lemari lalu membawanya pada Matthew.


"Terima kasih. Aku akan ganti sendiri," ucap Matthew tulus.


"Kakimu masih sakit? Aku panggilkan tukang urut, ya!" Tawar Melody yang masih berdiri di dekat Matthew.


"Terserah kau saja."


"Kau bisa keluar sebentar, aku mau ganti celana," ucap Matthew sedikit meringis.


"Ah, aku lupa mengambilkan underwear-mu." Melody kembali membuka lemari untuk mengambil satu underwear Matthew saat tiba-tiba Matthew meringis dan menggaruk-garuk pangkal pahanya yang masih tertutup celana.


"Ada apa?" Tanya Melody bingung.


"Semutnya menggigit," Matthew kembali meringis.


"Bisa kau cepat keluar, sebelum milikku bentol semua karena digigit semut?" Matthew sedikit mengusir Melody.


"Kau yakin bisa mengganti sendiri celanamu? Bukankah kakimu cedera?" Tanya Melody ragu.


"Iya, aku yakin!" Matthew setengah berteriak saat pria itu kembali merasakan semut yang merayap di dalam celananya.


Sial sekali Matthew pagi ini!


Matthew akhirnya tak mempedulikan keberadaan Melody lagi, dan pria itu cepat-cepat membuka celananya beserta underwear-nya sekalian, lalu melemparnya ke sembarang arah.


"Dasar semut sialan!" Umpat Matthew seraya menyingkirkan beberapa semut yang masih tersisa.


"Aku akan keluar!" Ucap Melody yang refleks menutup mata, saat Matthew melepas celananya tadi.


Melody berjalan menuju pintu kamar masih sambil menutup matanya,dan tangan wanita itu meraba-raba sekitarnya.


"Melody, awas!" Matthew bergerak secepat kilat meraih tubuh Melody yang hampir menabrak meja. Matthew dan Melody jatuh bersamaan dengan posisi Matthew dibawah dan Melody berada di atas menindih tubuh Matthew.

__ADS_1


Tunggu!


Bukankah tadi Matthew bilang kakinya sakit dan tak bisa berjalan?


Lalu kenapa sekarang pria itu bisa bergerak sigap menyelamatkan Melody?


"Kakimu tidak jadi keseleo?" Tanya Melody yang masih menindih tubuh Matthew.


"Aku rasa sudah sembuh," Matthew mengendikkan kedua bahunya.


"Hati-hati saat berjalan, dan jangan memejamkan mata seperti tadi!" Matthew merengkuh kedua pundak Melody, saat kemudian Melody sadar akan posisinya.


"Maaf!" Ucap Melody salah tingkah. Wanita itu sudah bangun dan kembali berdiri saat sekali lagi Melody menyadari Matthew yang ternyata belum memakai celana. Milik Matthew yang tidak bisa dibilang kecil seketika membuat wajah Melody bersemu merah.


"Cepat pakai celanamu sebelum semutnya kembali menyerang!" Ucap Melody ketus seraya berlalu keluar dari kamar dan membanting pintu. Matthew malah tertawa kecil melihat wajah merah padam Melody. Pria itu geleng-geleng kepala dan lanjut memakai celananya yang tadi diambilkan oleh Melody.


****


"Jadi petik rambutan?" Tanya Bu Ayana yang sudah pulang dari pasar. Tapi sepertinya ibu kandung Melody itu hanya mampir dan akan lanjut ke rumah Bulik Ani.


"Nggak jadi, Bu! Matthew jatuh tadi dari pohon, gara-gara sok-sokan manjat pohon rambutan," jawab Melody seraya merengut.


"Kok bisa? Lalu sekarang keadaannya Nak Matthew bagaiamana? Ada keseleo? Atau cedera lain?" Cecar Bu Ayana yang sepertinya khawatir sekali. Ibu kandung Melody itu hendak masuk ke dalam rumah dan melohat keadaan Matthew, saat ternyata suami Melody itu sudah berdiri di ambang pintu meskipun langkahnya sedikit terpincang.


"Katanya tadi jatuh dari pohon? Ada yang sakit?" Tanya Bu Ayana memastikan. Wanita paruh baya itu memindai juga tubuh Matthew untuk memastikan.


"Kaki saja sedikit sakit, Bu! Tadi Matthew kira keseleo tapi sepertinya bukan. Hanya sakit saja kalau dipakai berjalan," jelas Matthew seraya menunjuk kaki kanannya.


"Mel, kamu periksa dulu kaki Matthew, barangkali ada memar. Kamu kompres es batu! Ibu carikan es batu dulu!" Perintah Bu Ayana pada Melody yang masih merengut di teras. Meskipun setengah hati, Melody tetap bangkit berdiri dan menghampiri Matthew yang sudah duduk di kursi teras. Melody memeriksa kaki Matthew sesuai perintah Bu Ayana. Setiap inchi kaki besar Matthew Melody periksa. Sedikit ada sensasi geli saat Melody menyentuh kaki Matthew yang dipenuhi bulu khas pria.


"Ada memar disini," ucap Melody menunjuk ke atas mata kaki Matthew.


"Iya yang nyeri memang bagian situ," ujar Matthew menimpali.


Melody menghela nafas dan segera mengambil es batu yang tadi di antar oleh anak pemilik warung. Melody membungkus es batu tadi dengan handuk kecil, lalu mulai mengompres kaki Matthew dengan telaten.


"Maaf, tidak jadi metikin rambutan buat kamu," ucap Matthew penuh sesal saat Melody masih sibuk mengompres kakinya.


"Tidak apa-apa!" Jawab Melody datar.


"Nanti aku petikin kalau kaki aku sudah mendingan, ya!" Janji Matthew yang hanya dijawab Melody dengan deheman malas

__ADS_1


Matthew lanjut menggaruk pangkal pahanya yang gatal karena gigitan semut sialan tadi. Dosa apa Matthew sampai senjata pusakanya kena gigit semut begini!


"Kenapa garuk-garuk bagian itu?" Tanya Melody yang merasa risih dengan apa yang dilakukan oleh suami brengseknya itu.


Kerap tidur dengan j*lang berarti kan brengsek!


Hati Melody mendadak meradang setiap ingat kalimat Matthew yang minta jal*ng pada asistennya waktu itu.


"Gatel, tadi digigit semut sampai bentol!" Jawab Matthew yang masih asyik menggaruk.


"Ck!"


"Bukan gatel karena sudah lama tidak ngobok-obok jal*ng?" Sindir Melody pedas yang langsung membuat raut wajah Matthew berubah.


"Itu hanya masalalu, Mel! Aku tak pernah menyentuh para jal*ng itu atau wanita manapun lagi sejak kejadian malam itu," ucap Matthew jujur dengan raut wajah sendu.


"Aku hanya ingin fokus padamu dan menyentuh kau saja." Kalimat Matthew hampir membuat Melody meledak.


"Setelah kau mengijinkan!" Lanjut Matthew berusaha meredam emosi Melody.


Melody tak jadi marah dan wanita itu menghela nafas berulang kali.


"Aku tahu ini hukuman untukku atas masalaluku yang begitu buruk. Sekarang bahkan aku belum bisa menyentuhmu sekalipun kau adalah istri sahku," Matthew tersenyum kecut dan Melody malah merasa tersindir. Tersindir karena sebagai istri Melody sudah berlaku kejam pada Matthew dan belum sekalipun mengizinkan pria ini menyentuhnya. Padahal jelas-jelas Matthew adalah suami sah Melody!


"Bukankah kau bisa mencari jal*ng di luaran sana jika kau ing-"


"Aku tak akan melakukannya lagi!" Sergah Matthew menatap Melody dengan tegas.


"Aku tak mau jadi pria brengsek! Aku akan setia menunggu sampai kau membuka hati dan mau menerimaku," lanjut Matthew lagi yang hanya membuat Melody terdiam.


"Bukankah setiap orang punya masalalu dan bisa berubah? Aku menyesali semua masalaluku, Mel! Tapi aku tak bisa melakukan apapun pada masalaluku yang buruk. Aku hanya ingin memperbaiki diri sekarang dan hanya mencintai kamu seorang." ucapan Matthew terdengar tulus.


Melody tak berucap sepatah katapun dan wanita itu masuk ke rumah, meninggalkan Matthew yang kini duduk sendirian di teras rumah Bu Ayana.


.


.


.


Telat UP lagi 😁

__ADS_1


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.


__ADS_2