
Beberapa jam sebelumnya....
Melody duduk di salah satu kursi yang berada di dalam ballroom hotel. Malam semakin merangkak naik dan Melody mulai bosan dengan acara yang dipenuhi oleh orang-orang kaya ini. Ternyata tidak selamanya menjadi Nona kaya itu menyenangkan. Melody sudah bosan menjadi Nona Claudia yang kaya dan punya segalanya. Melody hanya ingin pulang ke desa sekarang, berlari di tengah sawah, dan merasakan sejuknya udara desa.
"Clau, kau melamun?" Teguran Matthew dengan cepat membuyarkan lamunan Melody. Pria itu menyodorkan segelas minuman berwarna putih pada Melody.
Ah, kebetulan Melody memang sedang haus. Jadi Melody langsung menyambarnya,lalu meneguk minuman tersebut dengan rakus.
"Uhuuk! Uhuuk!" Melody langsung terbatuk-batuk saat merasakan tenggorokannya yang seperti terbakar akibat minuman yang tadi disodorkan oleh Matthew.
Minuman apa itu tadi?
"Slow, Sayang!" Matthew terkekeh dan menepuk lembut punggung Melody beberapa kali.
"Itu tadi apa?" Tanya Melody yang masih batuk-batuk. Tenggorokannya Melody rasanya perih sekali sekarang dan kepala Melody juga mendadak terasa berputar.
"Minuman," jawab Matthew santai seraya menenggak minuman di gelasnya.
"Kau biasanya menyukainya dan bisa minum dua atau tiga gelas," lanjut Matthew lagi seraya memberikan gelas baru yang berisi minuman yang sama pada Melody.
"Aku mau air putih saja," ucap Melody seraya beranjak berdiri, namun pandangan Melody langsing berputar-putar dan gadis itu kembali terduduk di kursinya.
"Ada apa?" Tanya Matthew heran.
"Kepalaku sakit dan sedikit pusing," jawab Melody seraya memegangi kepalanya.
"Aneh," gumam Matthew yang sudah mendekatkan kursinya ke arah Melody.
"Bisa kita pulang sekarang?" Tanya Melody memohon. Gadis itu sudah meletakkan kepalanya ke atas meja.
"Bagaimana kalau kita bersenang-senang sebentar? Mungkin sakit kepalamu akan sedikit reda," tawar Matthew yang hanya terdengar samar-samar di telinga Melody.
Kepala Melody rasanya ingin meledak sekarang saking sakitnya.
"Terserah kau saja," jawab Melody lirih tanpa sepenuhnya sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
"Bang, Kak Clau kenapa?" Tanya Navya yang sudah menghampiri Matthew dan Melody.
"Sedikit pusing katanya. Tolong sampaikan pada tuan rumah aku pulang duluan," jawab Matthew seraya berpesan pada Navya.
"Baiklah! Perlu Navya bantu?" Tawar Navya seraya membantu Matthew memapah Melody. Gadis itu sudah sempoyongan sekarang.
"Padahal hanya satu gelas yang diteguk, tapi kenapa Claudia sudah mabuk berat begini?" Matthew bergumam dalam hati dan sedikit heran.
"Akan kugendong saja," ucap Matthew seraya menggendong tubuh Melody yang tak bisa lagi berdiri dengan benar.
"Hati-hati, Bang!" Pesan Navya fan Matthew hanya mengangguk. Masih sambil membopong Melody, Matthew segera meninggalkan ballroom hotel, lalu memacu mobilnya ke gedung apartemen miliknya.
__ADS_1
****
Matthew masih mengetikkan password apartemennya, saat Melody kembali menyandarkan kepalanya di pundak pria tersebut. Tali gaun Melody juga sudah melorot sebelah dan dada gadis itu sedikit menyembul keluar membuat Matthew semakin tak sabar untuk segera mencecapnya. Sudah hampir satu bulan Melody yang Matthew pikir adalah Claudia ini selalu menolak ajakan Matthew untuk bercinta. Namun malam ini sepertinya pergelutan panas Matthew dan Melody tak akan terbendung lagi.
Matthew menjatuhkan tubuh Melody di sofa depan dan tanpa basa-basi, pria itu langsung mencecap bibir Melody yang malam ini begitu menggiurkan.
"Eeeerrgh!" Melody hanya mengerang dan tak membalas ciuman Matthew. Namun Matthew seolah tak peduli dan terus saja melancarkan ciuman bertubi-tubi di bibir Melody, lalu turun ke leher dan tengkuk gadis itu sambil menghirup aroma tubuh Melody yang menurut Matthew lebih membuatnya bergairah ketimbang yang sebelum-sebelumnya.
Cukup lama Matthew menciumi leher dan tengkuk Melody serta meninggalkan beberapa tanda kepemilikan di sana.
"Eeeerrrgh!" Melody kembali mengerang dan menggeliat, saat tangan Matthew sudah menyusup melalui atas gaunnya dan merem*s gundukan kenyal Melody yang masih ranum dan kenyal.
"Sedikit berbeda," gumam Matthew yang masih aktif menggerakkan tangannya di dalam bra Melody.
"Sudah!" Melody berusaha menyentak tangan Matthew, namun dentuman di kepalanya membuat Melody kehilangan fokus. Melody bahkan tak tahu sejak kapan gaunnya sudah melorot ke lantai dan kemeja Matthew yang juga sudah terbuka kancingnya.
"Kau mau apa?" Tanya Melody yang hanya terdengar seperti gumaman. Melody sudah antara sadar dan tidak saat tubuhnya terasa melayang karena lagi-lagi, Matthew sudah menggendongnya masuk ke dalam kamar.
"Kita akan bersenang-senang, Sayang! Kau sedikit jual mahal belakangan ini hingga aku terpaksa haris menyewa jal*ng," kekeh Matthew seraya mendaratkan tubuh Melody yang sudah setengah naked ke ayas tempat tidur. Hanya ada bra serta underwear yang kini menutupi tubuh Melody.
"Dasar playboy!" Gumam Melody lagi menghindari ciuman bibir Matthew yang hampir mendarat di bibirnya.
"Tidak usah mengataiku, jika kau saja juga seorang player.
"Kau bahkan sudah tak virgin saat aku menyentuhmu!" Lanjut Matthew lagi seraya menarik lepas bra Melody. Dua gundukan kenyal langsung terpampang di depan Matthew dan membuat pria itu menelan saliva berulang kali.
"Lagipula,bukankah sejak awal kita sudah sama-sama berjanji untuk tak saling ikut campur tentang urusan ini!"
Astaga!
Matthew merasakan kenikmatan yang benar-benar tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Milik Melody terasa lebih kencang dan menggiurkan hingga Matthew tak mau berhenti menikmatinya.
"Ouuuh!" Melody mengerang sekali lagi namun erangan gadis itu berbeda karena Matthew yakin kalau Melody tengah menikmati sentuhan jemari Matthew di pangkal paha wanita itu.
"Hentikan!"
"Ouuuh!" Melody melenguh sekaligus memberontak.
"Kau cepat sekali basah, Clau!" Kekeh Matthew yang langsung dengan cepat melucuti sisa baju yang masih mekekat di tubuhnya serta di tubuh Melody. Kini dua tubuh itu sudah sama-sama naked dan Matthew kembali memulai permainannya.
"Hentikan!"
"Pergi!" Melody terus menyentak tangan Matthew seolah gadis itu ingin menolak. Tapi Melody juga seperti sudah kehilangan kendali dirinya sendiri karena sentuhan demi sentuhan yang terus diberikan oleh Matthew.
Belum lagi kepala Melody yang semakin sakit membuat nafas gadis itu kian terengah dan semakin tak beraturan.
"Berhenti!" Suara Melody kian terdengar lirih saat tiba-tiba sebuah benda keras menyentak ke dalam milik Melody.
__ADS_1
Sakit!
Rasanya sakit dan perih sekali!
"Kenapa ini sempit sekali?" Gumam Matthew seraya terus mendorong miliknya untuk masuk ke dalam milik Melody hingga pekikan Melody membuat Matthew merasakan ada sesuatu yang salah.
Matthew melihat ke bawah dimana miliknya yang sudah bersatu dengan milik Melody, dan ada cairan merah yang mengalir di sela-sela keduanya.
Tunggu!
Ini apa?
Tidak mungkin ini darah, kan?
Matthew mengamati lebih detail untuk memastikan tapi itu memang darah. Matthew ganti menatap pada wajah Melody yang terlihat kesakitan.
"Kau sedang datang bulan, Clau?" Tanya Matthew memastikan. Melody menggeleng samar dan kembali merintih.
Matthew bergerak pelan saat merasakan miliknya yang seolah terjepit. Milik Claudia sebelumnya tak terasa seperti ini!
Tapi ini enak dan sudah kepalang tanggung. Jadi Matthew memilih untuk melanjutkannya.
"Sakit!" Melody kembali merintih seraya mencengkeram punggung Matthew yang masih bergerak di atasnya. Semakin lama, rintihan Melody berubah menjadi lenguhan hingga Matthew semakin bergerak dengan penuh semangat.
"Sudah!"
"Hentikan!" Racau Melody yang semakin erat mencengkeram punggung Matthew.
"Sedikit lagi!" Matthew mempercepat gerakannya hingga akhirnya tubuhnya dan tubuh Melody mengejang bersamaan dan mencapai pelepasan mereka.
Matthew menatap lekat wajah Melody untuk beberapa saat, sebelum kemudian pria itu berguling ke samping Melody dan menyadari sesuatu.
Matthew tak memakai pengaman!
Ah, tapi biasanya Claudia selalu minum pil kontrasepsi. Jadi sepertinya tak masalah. Matthew hanya masih penasaran dengan darah yang tadi keluar dari milik Melody yang Matthew kira adalah Claudia.
Itu darah apa?
.
.
.
Silakan yang mau mengumpat 😌😌
Komen auto hilang tapi kalo berisi umpatan. Aku juga nggak tahu kenapa 😁😁
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir.
Jangan lupa like biar othornya bahagia.