Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
PATAH HATI


__ADS_3

Suasana mendadak jadi hening setelah Sam memperkenalkan wanita yang bernama Kate tadi sebagai calon istrinya.


Secepat itukah Sam move on dari Melody?


Padahal tadinya Melody pikir, Sam masih menunggu Melody.


Tapi untuk apa juga Sam menunggu Melody?


Di hari saat Melody menyerahkan diri pada Matthew, mungkin perasaan Sam pada Melody juga sudah ikut menguap pergi.


"Ini benar-benar mengejutkan, Sam! Kau dan Nona Steinberg?" Matthew memastikan seraya menunjuk ke arah Kate.


"Kau mengenalku?"


"Ya, aku pernah melihat wajahmu sekali saat papa anda, Tuan Steinberg memperkenalkan anda ke hadapan publik sebagai pimpinan baru Steinberg Company," tutur Matthew yang rupanya tahu tentang calon istri Sam.


Tunggu!


Apa ini semacam permainan dari Matthew?


Matthew sengaja mengajak Melody ke rumah Sam agar Melody tahu kalau Sam sudah punya calon istri, lalu Melody merasa patah hati.


Melody memutar kepalanya dan menatap tak percaya pada Matthew. Tapi hati Melody tetap tak bisa berhenti untuk menuduh Matthew.


Atau mungkin Nona Steinberg hanya suruhan Matthew agar merayu Sam dan mengaku-ngaku sebagai calon istri Sam di depan Melody? Tapi apa maksud Matthew melakukan semua itu? Agar Melody benci pada Sam?


"Maaf, semuanya. Tapi aku ada urusan mendadak dan harus pergi sekarang," ucapan dari Kate membuyarkan lamunan Melody dengan cepat.


"Aku antar," ucap Sam seraya menggenggam lengan Kate.


"Aku pergi bersama supir. Kau masih ada tamu juga," jawab Kate seraya mengulas senyum. Kate mencium singkat bibir Sam, sebelum kemudian wanita itu berpamitan sekali lagi pada Matthew dan Melody, lalu keluar dari pintu utama rumah Sam.


"Jadi, kau akan menikah, Sam?" Tanya Melody menatap sedih ke arah Sam.


"Ya. Bukankah kau juga sudah menikah dengan Matthew dan kalian akan punya bayi sebentar lagi." Sam menatap lekat wajah Melody yang kian sendu.


"Tapi aku pikir-" suara Melody tercekat di tenggorokan bersamaan dengan ponsel Matthew yang tiba-tiba berbunyi.


"Aku angkat telepon dulu, permisi!" Pamit Matthew seraya keluar menuju ke teras rumah Sam untuk mengangkat telepon.


Sam berpindah tempat duduk menjadi di samping Melody. Pria itu meraih kedua tangan Melody dam menggenggamnya.


"Aku tidak pernah mencintai Matthew."


"Kemarin itu aku mau menikah dengannya hanya demi perusahaan Papa," Melody sudah berurai airmata sekarang.


"Tapi Matthew adalah suamimu, Mel!"


"Kau harus belajar untuk menerima serta mencintainya-"

__ADS_1


"Aku tidak bisa!" Melody menyela kalimat Sam dengan nada suara yang sudah meninggi.


"Aku hanya mencintaimu," ucap Melody lagi nyaris tanpa suara.


"Buang jauh perasaanmu yang itu!" Ucap Sam tegas.


"Kau tidak sungguh-sungguh ingin menikah dengan Nona Kate, kan? Kau hanya mencari pelarian! Kau tidak sungguh-sungguh mencintainya!" Cecar Melody yang semakin berlinang airmata.


"Aku mencintainya, Mel!" Ucap Sam tegas seraya menghapus airmata di kedua pipi Melody.


"Aku mencintai Kate. Dan lagi kami sudah kenal lama. Aku dan Kate teman saat dulu kami kuliah, sebelum kemudian Kate pindah ke luar negeri," Sam bercerita panjang lebar tentang hubungannya bersama Kate yang tentu saja membuat hati Melody kian terasa perih.


"Sudah saatnya kita menjalani takdir hidup kita masing-masing, Mel!"


"Matthew sudah banyak berubah dan dia pria yang baik sekarang. Cobalah untuk membuka hatimu dan memberikan kesempatan pada Matthew!" Nasehat Sam yang langsung membuat tangis Melody kembali pecah.


"Matthew akan membuatmu bahagia. Kau hanya perlu memberinya kesempatan," lanjut Sam lagi yang semakin mengeratkan genggaman tangannya pada Melody.


"Bagaimana jika ternyata Matthew belum berubah dan dia kembali jadi Matthew yang dulu?" Tanya Melody mengungkapkan ketakutannya.


Sam diam sejenak, lalu mengalihkan tatapannya ke arah Matthew yang sudah berdiri di ambang pintu.


"Itu tak akan mungkin terjadi," jawab Sam akhirnya seraya menyambar tisu di atas meja untuk menghapus airmata Melody yang terus jatuh bercucuran.


"Ini undangan pernikahanku dan Kate. Aku harap kau akan bisa datang bersama Matthew nanti," pungkas Sam seraya bangkit dari duduknya dan meninggalkan Melody yang masih menangis tergugu di ruang tamu rumahnya.


"Sam!" Matthew meraih kasar pundak Sam dan sepertinya hendak mengajak pria itu bicara serius.


"Bawa pulang istrimu, Matt!" Usir Sam pada Matthew.


"Tidak!"


"Aku kesini karena ingin mengantar Melody kepadamu! Tidak bisakah lau batalkan pernikahanmu dengan Kate dan kembali pada Melody?"


"Melody mencintaimu!" Ucap Matthew tegas yang malah membuat Sam tertawa tak percaya.


"Apa kau sudah gila, Matt?"


"Kau mengantar istrimu sendiri pada pria lain, dan dengan gampangnya menyuruh pria itu untuk menerima istrimu?" Tawa Sam semakin keras sekarang.


"Iya! Aku memang gila! Aku hanya tidak bisa melihat Melody yang terus-terusan bersedih karena terpaksa harus berpisah darimu!"


"Jika bahagianya Melody hanya bersamamu, maka aku akan merelakan Melody bersamamu dan aku tak akan lagi mengganggu hubungan kalian berdua."


"Tapi tolong batalkan pernikahanmu dan jangan tinggalkan Melody!" Matthew memohon pada Sam.


"Tidak bisa! Maaf!" Sam menolak permintaan Matthew dengan cepat.


"Sam, tolong jangan egois! Pikirkan perasaan Melody!" Matthew mulai hilang kesabaran.

__ADS_1


"Kau yang seharusnya memikirkan perasaan Melody!" Sam balik menuding pada Matthew.


"Kau suaminya, Matthew! Cobalah untuk menjadi suami yang bertanggung jawab!"


"Aku bertanggung jawab!" Sergah Matthew cepat.


"Aku mencintai Melody. Aku menyayanginya. Tapi jika Melody hanya teetekan saat bersamaku, bukankah lebih baik aku melepaskannya dan membiarkan dia bahagia bersama pria yang dicintainya, yaitu kau!" Tutur Matthew panjang lebar yang langsung membuat Sam tertawa sinis.


"Munafik sekali jika pemikiranmu seperti itu!"


"Jika memang kau mencintai Melodi dan sungguh-sungguh menyayanginya, kau seharusnya membuktikan itu semua pada Melody!"


"Jangan hanya mau menikmati keperawanan Melody saja, berusahalah juga untuk menaklukkan hatinya, Matt!"


"Jika seperti ini saja kau sudah menyerah, apa aku masih pantas menyebutmu pria jantan?" Cecar Sam panjang lebar yang tentu saja langsung membuat hati Matthew merasa tersentil.


"Kau sudah mengambil milik Melody yang paling berharga secara paksa, jadi wajar jika Melody sekarang masih marah kepadamu."


"Dan jika memang kau pria yang bertanggung jawab, sudah sehari kau juga berusaha untuk bisa membuat Melody berhenti marah kepadamu, lalu menerimamu sebagai suaminya, Matt!"


"Kau harus berusaha!" Ujar Sam sekali lagi menasihati Matthew secara panjang lebar.


"Kau sungguh-sungguh tidak mau membatalkam pernikahanmu dengan Kate dan akan membiarkan Melody patah hati?" Tanya Matthew masih dengan raut tak percaya.


"Ada kau yang akan menyembuhkan luka hati Melody. Jadi apa yang harus aku khawatirkan?" Jawab Sam santai.


"Lagipula, di hari saat aku mengantar Melody pulang ke rumahmu, perasaanku pada Melody juga sudah aku lepaskan dan aku kubur dalam." Sam melantangkan suaranya karena pria iti tahu Melody sedang menguping pembicaraannya dengan Matthew.


"Dan lagi, Kate sedang mengandung anakki sekarang. Jadi aku tak akan membatalkan pernikahan kami," pungkas Sam sebelum pria itu keluar dari dapur rumahnya dan meninggalkan Matthew.


Mendengar Sam yang hendak keluar dari dapur, Melody cepat-cepat meninggalkan tempatnya menguping dan segera keluar dari rumah Sam. Wanita itu langsung masuk ke dalam mobil Matthew dan kembali menangis tergugu.


Matthew menyusul masuk ke mobil setelah beberapa saat. Pria itu tak berucap sepatah katapun dan hanya menyodorkan tisu ke arah Melody, seraya menatap lekat pada Melody yang belum berhenti menangis.


"Aku-" Melody berucap dengan terbata-bata.


"Aku mau bertemu ibu," lanjut Melody masih dengan suara yang terbata.


"Aku akan mengantarmu," jawab Matthew yang tangannya sudah terulur untuk membantu menyeka airmata Melody. Matthew menghubungi Erlan sebentar, sebelum kemudian pria itu melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sam.


.


.


.


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2