Mendadak Jadi Nona Muda

Mendadak Jadi Nona Muda
ACARA


__ADS_3

"Selamat sore, Tuan Matthew!" Sapa Felichia yang baru keluar dari dapur membawa beberapa kudapan di tangannya.


"Sore! Melody dimana?" Tanya Matthew pada maid pribadi Melody tersebut.


"Sedang berenang tadi. Mungkin sudah selesai," jawab Felichia seraya berjalan menuju ke arah kolam renang untuk mengantarkan kudapan pada Melody. Sementara Matthew ikut menuju ke kolam renang untuk melihat Melody.


Matthew penasaran melihat istrinya itu yang hanya mengenakan pakaian renang. Pasti Melody terlihat sexy.


Melody masih asyik berenang saat Matthew tiba di tepi kolam renang. Sementara Felichia langsung undur diri setelah mengantarkan kudapan untuk Melody.


Matthew berjongkok di tepi kolam renang dan tersenyum sendiri saat melihat Melody dengan perut baby bump-nya sedang berenang bolak-balik di dalam kolam


"Fe, aku sudah selesai!" Ucap Melody akhirnya. Wanita itu sudah menuju ke tepi kolam dan mengusap air yang mengalir di wajahnya.


"Hah!" Melody hampir terjungkal ke belakang karena kaget melihat Matthew yang sudah berada di tepian kolam renang.


"Hati-hati!" Matthew sigap menangkap Melody dan membantu istrinya itu untuk naik ke atas. Tak lupa Matthew juga menyambar bathrobe dan segera membalutkannya ke tubuh Melody.


"Felichia mana? Kenapa kau sudah pulang?" Tanya Melody sedikit tergagap.


"Felichia aku suruh ke dalam tadi," jawab Matthew.


"Kata Felichia berenang bagus untuk persiapan persalinan. Jadi tadi aku berenang sebentar," ujar Melody sedikit salah tingkah. Wanita itu sudah duduk di kursi santai yang ada di dekat kolam, dan Matthew juga ikut duduk di dekatnya.


"Itu benar!" Timpal Matthew seraya mengangguk.


"Ngomong-ngomong, tumben kau sudah pulang?" Melody berbasa-basi pada Matthew dan sedikit merapatkan bathrobe-nya.


"Mau ada acara malam ini," Matthew sudah bangkit dari duduknya dan berjongkok di depan Melody.


"Acara?"


"Ya, acara anniversary pernikahan rekan kerjaku. Kau ikut aku malam ini, ya!" Jawab Matthew sekalian mengajak Melody.


"Aku? Ikut?" Melody menunjuk wajahnya sendiri dengan ragu.


"Kau istriku, ingat?"Matthew mengusap perut Melody yang masih tertutupi bathrobe.


"Jadi mulai sekarang, aku mau kau selalu mendampingiku saat ada acara seperti ini. Agar semua orang tahu kalau aku sudah menikah dan punya istri yang cantik," pujian dari Matthew sontak membuat wajah Melody bersemu merah.


"Pujianmu berlebihan," gumam Melody seraya tertunduk.


"Kau memang cantik, Mel!"


"Mungkin calon bayi kita perempuan dan dia pasti secantik dirimu," puji Matthew lagi.


"Apa kau sedang menggodaku?" Tebak Melody seraya meraih kue di atas meja di sampingnya dan mulai memakannya.


"Ya! Agar kau mau pergi bersamaku malam ini," jawab Matthew jujur.


"Baiklah, Tuan Orlando! Aku akan menemanimu malam ini," putus Melody akhirnya yang langsung membuat Matthew tersenyum lebar.


"Boleh minta kuenya?"


"No!" Melody menatap tegas pada Matthew yang malah tergelak.


Dasar aneh!


****

__ADS_1


"Selamat ulang tahun pernikahan, Nyonya Hadinata," ucap Melody seraya memberikan sebuket bunga pada tuan rumah malam ini, yaitu pasangan suami istri Tuan dan Nyonya Hadinata yang terlihat masih mesra dan harmonis


"Terima kasih, Clau-"


"Melody, Nyonya!"


"Istri saya Melody Safira," sela Matthew cepat mengoreksi Nyonya Hadinata yang hampir memanggil Melody dengan Claudia.


"Tapi bukankah sebelumnya kau bertunangan dengan Claudia Setyawan, Matthew?" Tanya Nyonya Hadinata bingung.


"Itu benar! Dan wajah istrimu juga mirip Claudia. Nyaris sama malahan." Timpal Tuan Hadinata ikut bingung


"Iya, itu benar." Matthew tertawa kecil.


"Tapi kemudian pertunangan kami batalkan, dan saya menikah dengan Melody yang merupakan saudara kembar Claudia," Matthew merangkul pundak Melody dengan rapat.


"Oh, jadi mereka kembar? Pantas mirip sekali!" Ujar Nyonya Hadinata seraya tersenyum ramah.


"Terima kasih sudah datang ke acara malam ini, Melody! Apa kau sedang mengandung?" Nyonya Hadinata mengusap perut Melody.


"Iya, kebetulan baru enam bulan, Nyonya." Jawab Melody malu-malu.


"Wah wah! Calon ayah ternyata kamu, Matt!" Tuan Hadinata menepuk punggung Matthew yang hanya manggut-manggut.


Disaat bersamaan, seorang bodyguard Tuan Hadinata menghampiri sang majikan.


"Maaf, Tuan! Tuan Muda datang malam ini," bodyguard itu menunjuk ke arah seorang pria berkemeja rapi di kejauhan yang datang bersama seorang wanita.


Matthew tebak itu adalah putra tunggal Tuan dan Nyonya Hadinata yang menurut kabar yang beredar sedang perang dingin dengan Tuan Hadinata hingga putranya tersebut keluar dari rumah dan lama tak pulang.


"Datang bersama siapa?" Tuan Hadinata bertanya menyelidik.


Tuan dan Nyonya Hadinata segera berbasa-basi sedikit pada Matthew dan Melody sebelum kemudian keduanya meninggalkan Matthew dan Melody, lalu mendekat ke arah anaknya.


"Kau lapar?" Tanya Matthew pada Melody yang masih diam.


"Sedikit. Boleh makan kue saja?" Melody balik bertanya pada Matthew.


"Ya! Ayo! Kau pilih sendiri mau kue yang mana," Matthew masih merangkul Melody dan membimbing istrinya tersebut menuju ke meja perjamuan. Melody mengambil beberapa potong kue, lalu duduk bersama Matthew di salah satu kursi yang sudah disediakan dan menikmati kue di piringnya.


"Nanti kita dansa sehabis ini, ya!" Ajak Matthew yang sejak tadi tak berhenti menatap pada Melody yang sedang asyik menikmati kuenya.


"Aku tidak bisa dansa," jawab Melody sedikit berbisik.


"Nanti aku ajari," ujar Matthew santai.


"Kau tidak makan kue?" Gantian Melody yang bertanya.


"Masih kenyang. Tapi kalau kau suapi aku juga mau," jawab Matthew yang seolah sedang merayu Melody.


"Baiklah! Habiskan kueku, ya! Aku kenyang," Melody menyodorkan piring kuenya ke hadapan Matthew.


"Tidak sekalian kau suapi?" Tanya Matthew yang lebih ke arah merayu.


"Apa ini bagian dari bawaan bayi?" Melody akhirnya menyuapi Matthew.


"Aku rasa begitu," jawab Matthew seraya tertawa kecil.


Melody hanya berdecak kecil dan terus lanjut menyuapi Matthew. Tepat saat kue tandas, lampu ruangan tiba-tiba berubah redup.

__ADS_1


"Acara dansa sudah dimulai," Matthew bangkit dari duduknya dan segera meraih tangan Melody.


"Matt, aku tidak bisa."


"Tidak apa-apa! Ikuti saja gerakanku nanti. Aku akan membimbingmu," janji Matthew.


Melody akhirnya ikut berdiri dan mengikuti langkah Matthew menuju ke lantai dansa. Pasangan lain sudah mulai berdansa mengikuti alunan musik yang mengalun dengan lembut.


"Jangan kaku!" Matthew membimbing tangan Melody agar mengalung di lehernya. Tangan Matthew sendiri kini sudah melingkar di pinggang Melody, dan jarak mereka berdua semakin dekat.


"Ikuti gerakanku, ya!" Titah Matthew lembut yang mulai menggerakkan kakinya ke kaman dan ke kiri dengan lembut dan perlahan.


"Seperti ini?" Tanya Melody yang terus berusaha mengikuti tempo gerakan Matthew.


"Iya!"


"Kau langsung jadi ahli dansa," puji Matthew yang sudah menyatukan keningnya dengan kening Melody.


"Aku masih gugup," ucap Melody seraya beberapa kali menggigit bibir bawahnya. Membuat Matthew merasa gemas dan ingin mencecap bibir istrinya tersebut.


"Kau akan terbiasa nanti. Kita akan sering menghadiri acara-acara seperti ini."


"Dan aku mau kau selalu mendampingiku," ucap Matthew penuh harap yang langsung dijawab Melody dengan anggukan kepala.


"Kau cantik malam ini, Mel!" Puji Matthew lagi yang semakin memangkas jarak antara dirinya dan Melody.


Melody hanya diam saat tangan Matthew sudah meraih dagunya dengan lembut dan sedikit mengangkat wajah Melody yang tertunduk.


"Kita sedang di tempat umum, Matt," cicit Melody mengingatkan.


"Lalu apa masalahnya? Kita suami istri, ingat?" Matthew mencium sekilas bibir Melody.


Tak ada penolakan!


Matthew kembali mencium bibir Melody dan istrinya itu refleks memiringkan kepalanya serta membuka sedikit bibirnya seolah memberikan akses. Matthew mencecap dengan lembut bibir Melody, mengabaikan mereka yang kini sedang berada di tengah-tengah tamu lain yang juga sedang sibuk dengan pasangan masing-masing.


Nafas Melody sedikit terengah, saat Matthew selesai menciumnya. Wanita itu sudah ganti meletakkan tangannya di dada Matthew dan mengusap lembut dada bidang tersebut.


"Wajahmu merah," goda Matthew yang malah membuat wajah Melody semakin memerah.


"Diamlah!" Melody memukul kecil dada Matthew. Pasangannya suami istri itu melanjutkan dansa mereka dan Matthew masih sesekali mengecup bibir Melody karena tidak ada penolakan juga dari istrinya tersebut.


Ya ampun!


Sepertinya Matthew sudah kecanduan pada bibirnya Melody.


.


.


.


Itu baru bibir atas Mas Matt!


Nanti ngrasain bibir yang lain auto nggak mau berhenti kamu 😆😆😆


Terima kasih yang sudah mampir.


Jangan lupa like biar othornya bahagia.

__ADS_1


__ADS_2